The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 113


__ADS_3

Zehan terlihat terlelap terduduk sembari memegangi tangan istrinya. Ia terlihat lelah begitupun Hasya yang juga terlihat lelah.


"Aiih meni lucu pisan incu nenek" mamanya Hasya menjawil gemas pipi cucunya. Zehan terkesiap dari tidurnya saat sayup-sayup mendengar suara berisik di kamarnya. Matanya mengerjap beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk ke netranya. Samar ia melihat beberapa orang sudah berdiri mengelilingi box bayinya.


"Mama,," tegur Zehan.


"Duh maaf nak, kamu keberisikan ya.." kata Mamanya Hasya merasa bersalah karena menantunya menjadi terbangun.


"Ngga apa-apa kok mah, barusan Zehan memang ketiduran." jawab Zehan sembari berdiri seraya perlahan ia melepaskan genggaman tangan Hasya, kemudian ia sedikit meregangkan tubuhnya sambil menguap.


"Kamu pasti lelah Ze, sudah tidur lagi aja sana" seru bibi Lyn, yang juga datang bersamaan dengan keluarga besannya.


"Ngga apa-apa mah, aku juga udah cukup tidurnya kok." bibi Lyn tersenyum sambil mengangguk lantas kembali fokus pada bayi Zehan dan Hasya.


Zehan yang nyawanya belum ngumpul 100% duduk kembali di sofa panjang ruangan tersebut,


"Bagaimana rasanya menemani istri melahirkan Ze?" tanya papa mertuanya.


"Kapok pah" kata Zehan terdengar lesu saat ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang empuk.


"Yakin kapok Ze?" goda Paman Yohan.


"Yakin pah," ucap Zehan seraya mengusek-ngusek wajahnnya frustasi mengingat semua kejadian saat Hasya akan hingga melahirkan. Benar-benar membuatnya trauma.


"Nanti malah nambah lagi"


"Ngga lah mah, kasian Hasya. Nanti biar Zehan aja yang melakukan vasektomi, sepertinya metode itu paling aman tanpa kebocoran" cetus Zehan seraya memalingkan kepalanya ke paman Yohan, gurat wajah lelah serta kekhawatirab tergambar disana.

__ADS_1


"Ya.. Kalau kami ini sebagai orang tua hanya mendukung saja nak Ze,, tapi komunikasikan dulu dengan Hasya, takutnya malah Hasya yang masih mau punya anak, vasektomi itu permanen masalahnya walaupun memang tidak akan terlalu berpangaruh aktifitas di atas ranjang, tapi yang harus kita singkapi itu adalah psykologi kalian berdua. Jika memang sudah sama-sama sepakat baru kalian konsultasikan dengan dokter" nasehat papanya Hasya, mungkin karena sudah terlalu lama tinggal di Bandung logat sundanya pun terasa kental saat ia mengobrol santai seperti sekarang.


"Iya pa, nanti Zehan obrolin dulu sama Hasya."


Sementara itu Hasya mulai terjaga dari tidurmya, samar-samar ia mendengar banyak suara dan nentranya juga menangkap beberapa sosok yang terlihat masih kabur. Bersamaan dengan itu dokter dan seorang perawat datang untuk memeriksa mereka.


" Selamat pagi, pak bu.." sapa dokter tersebut. Semua orang menyambutnya dengan hangat, Zehanpun ikut bangkit lantas segera mendekati tempat tidur istrinya.


"Mau dinaikin posisi tempat tidurnya" Hasya mengangguk seraya beringsut menyamankan dirinya.


"Besok lusa ibu dan dede bayi sudah boleh pulang,"


"Al hamdulillah," ungkap semua orang.


"Sebenarnya besok pagi juga jika bapak atau ibu mau sudah boleh pulang..."


"Ngga dok, nggak !!" tolak Zehan mentah-mentah.


"Nggak.. Dokter ngga lupakan istri saya tadi malam sudah berjuang diantara hidup dan mati !! Ngga pokoknya paling ngga sampai kondisi istri saya benar-benar pulih baru kami akan pulang," kata Zehan sedikit emosi.


"Tapi pak .."


"Kalo masih tapi tapian, saya akan pindahin istri saya ke rumah sakit yang lebih besar dari ini" potong Zehan. Sang dokter pun agak terkesiap namun pada akhirnya mengangguk sambil tersenyum ramah meski agak dipaksakan "dasar orang kaya gampang sekali mengeluarkan uang tanpa syarat demi kenyamanan" ucapnya dalam hati.


"Sayang.." Hasya menarik kaos yang dikenakan suaminya.


"Iya sayang, kamu mau apa, sayang" Hasya menggeleng pelan tanda agar Zehan berhenti berdebat dengan dokter tersebut. Zehan cepat memahami kemudian langsung terdiam gusar.

__ADS_1


"Ah kebetulan ibu sudah bangun, mari kita lakukan pelekatan IMD, agar dede bayinya terbiasa dengan ****** ibu, serta agar merangsang kolostrum dan ASInya cepat keluar dengan lancar." perawat yang datang bersama bu Lita pun segera mengambil Zefanya dari box bayi lalu segera meletakannya dengan posisi yang nyaman untuk Hasya saat menyusui bayi Zefanya.


Rupanya insting bayi itu cukup kuat, ia segera menyesap kuat ****** s*su milik Hasya, Hasya sedikit meringis karena sepertinya kolostrum atau air susu yang berwarna kuning keemasan itu mulai keluar.


"Anak pintar, miminya udah ada ya de" kata Hasya gemas. Semua orang tersenyum melihatnya, merasa lega karena Zefanya tidak memerlukan sufor saat ASI Hasya belum keluar. Meski tadi subuh Hasya sempat gagal melakukan IMD karena kelelahan, namun pagi itu ia akhirnya berhasil memberikan asupan yang tinggi akan kandungan protein dan vitamin A. Kandungan yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan bayi yang baru dilahirkan. Selain itu, kolostrum juga mengandung imunoglobulin, sehingga kolostrum juga dapat membantu melindungi usus bayi yang baru lahir. Sedang bayinya menyusu dengan lahap, Hasya merasa jika ada yang menekannya. Ia menoleh pada Zehan yang menatapnya lekat-lekat.


"Kamu kenapa mas? Ngeliatin akunya segitunya banget?" tanya Hasya terheran, tatapan semua orang termasuk Zesya dan Deliza pun teralihkan pada Zehan.


"Hehe.." alih-alih menjawab pertanyaan Hasya, Zehan malah terlihat kikuk dan salah tingkah. Ia menggosok gosok tengkuknya sambil menegakan tubuhnya.


"kenapa?" tanya Hasya sekali lagi.


"Ngga ada apa-apa sih?"


"Papa ngga lagi mikir dede Zefanya lagi ngambil jatah papa kan?" cetus Deliza polos. Zehan yang ketahuan memalingkan wajahnya ke arah lain seraya menggigit bibirnya.


"Benaran Ze?" tanya Bibi Lyn meyakinkan.


"hmmm Gimana ya..hee" Zehan benar-benar bingung harus menjawab apa, semua orang tahu ia adalah orang yang cerdas tapi kenapa bisa berpikir sepolos itu.


"Ya Tuhan mas.. Kamu beneran mikir begitu?! " tanya Hasya tidak habis pikir.


"Gimana aku ngga mikir begitu, tuh lihat dia nyedotnya sampe ngga berenti gitu." ungkap Zehan sambil menusuk-nusuk gumpalan lemak di pipi putrinya yang baru lahir itu. Sontak membuat semua orang terkekeh benar-benar tidak habis pikir seorang Zehan bisa berpikir seperti itu. Zesya bahkan sampai menepuk jidatnya sendiri sambil menggelengkan kepalanya. "Sumpah mode bolot begitu bukan papa Zesya pemirsa" gerutu Zesya dalam hati.


Zefanya putri Akhilendra Hirawan, begitu lah nama putri ketiga Zehan dan Hasya, lahir dengan bobot 3.900gram, panjang 56cm, cukup besar untuk ukuran bayi normal lainnya. Meski begitu ia lahir dengan normal sehat dan tanpa kekurangan, padahal Hasya sudah khawatir jika harus menjalani caesar seperti rencana awal, karena Hasya pernah memiliki riwayat operasi myom dan kistra beberapa tahun lalu, setelah konsul beberapa kali dokter akhirnya mengijinkan Hasya untuk mencoba normal, dengan catatan jika sudah diambang batas maka meski Hasya harus mau melakukan caesar. Sebenarnya mau caesar mau normal tetap saja keduanya butuh perjuangan, tetap harus bertaruh dengan malaikat maut. Tapi Hasya bersikukuh ingin Zehan menemaninya saat ia melahirkan normal, meski agak jahat, tapi Hasya melakukan semua itu agar Zehan tidak terus menerus menyalahkan dirinya karena saat ia melahirkan Zesya, Zehan tidak menemaninya. Anggap saja itu kompensasi dari Hasya karena sudah pernah bersembunyi dari Zehan, padahal jika ia bisa berpikir sedikit lebih sabar mungkin Zesya tidak akan melalui masa kecilnya tanpa kehadiran sosok papanya.


Sambil menggendong putrinya yang masih menyusu, Hasya lalu mencium puncak kepala Zesya dan Deliza satu persatu dengan sayang. Zesya dan Deliza saling menoleh lantas keduanya mengulas senyum lalu berhambur memelukan sang mama, begitupun dengan Zehan yang tidak mau ketinggalan. Cepat-cepat Zia mengambil moment berharga tersebut dengan ponselnya, setelah melihat hasilnya iapun tersenyum puas saat melihat kebahagiaan keluarga kakaknya setelah begitu banyak masalah yang mereka hadapi.

__ADS_1


"Semoga selamanya kalian selalu bahagia kak" kata Zia seraya menyeka air matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2