The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 69


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu, namun Hasya masih belum menunjukan perubahan apapun. Zehan mengusap lembut wajah istrinya yang terlihat pucat, ia sudah tidak lagi merengek seperti kemarin kemarin, ia hanya menatap dengan tatapan sendu, apalagi setiap ia melihat keadaan Hasya perasaan sesal dan bersalah makin mendera dalam hatinya. Ia benar-benar menyesal karena dulu ia seakan menyia-nyiakan waktunya ketika mereka awal bersama.


Zehan kembali mengingat semua kenangannya ketika masih di Hongkong, ketika mereka suka bertengkar karena Zehan sering memperlakukan Hasya dengan kasar akibat depresi yang ia alami setelah kecelakaan ditambah ia dicampakan begitu saja oleh Alexa karena mengalami kelumpuhan setengah badan. Keadaan di mana Zehan benar-benar hancur secara mental.


"Nguuuuung... nguuuunnngg" ponsel Zehan bergetar,


"Alexa" itulah nama yang tertera di layar ponsel, buru-buru ia keluar dari ruangan ICU sebelum ia menerima sambungan telepon tersebut.


"Ya, Lex ada apa?"


"Bagaimana keadaan Hasya?" tanya Alexa dari seberang sana.


"Masih sama."


"Apa boleh kami menjenguknya, kebetulan aku dan Derren sedang ada urusan di Singapur?"


"Ya kalo kalian mau"


"Baiklah mungkin sekitar jam tiga sore kami ke sana, setelah Derren menyelesaikan meeting dengan klient"


"Baiklah, jika sudah sampai hubungi aku" Zehan pun memasukan kembali gawainya ke dalam saku celana. Tepat dihadapan Zehan mungkin hanya berjarak beberapa langkah saja, Kevin tengah berdiri memperhatikan dirinya dengan tatapan tajam. Kemudian dia berjalan mendekati Zehan tanpa mengeluarkan keduatangannya dari saku celananya. Ia berhenti tepat hanya berjarak tinggal satu langkah saja dengan Zehan.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Zehan datar


"Santai saja," Zehan menatap manik mata Kevin dalam-dalam.

__ADS_1


"Tapi jika kamu mengizinkan aku ingin melihat Hasya boleh?" Zehan menghela nafas begitu saja, lantas berbalik badan tanpa menjawab pertanyaan Kevin, begitu di depan pintu ruang ICU ia baru menghentikan langkahnya.


"Kau tidak jadi ingin menemui Hasya?" tanya Zehan ketus seraya sedikit menoleh sedikit ke sebelah kanan, hanya ekor matanya saja yang dapat melihat siluet Kevin. Kevin tersenyum saat mendengar hal itu dan segera menyusul Zehan memasuki ruang ICU tersebut.


...----------------...


Di gudang toko Reifan sibuk menata dus-dus stok barang-barang toko, lalu mengambil beberapanya untuk di tata dietalase yang kosong.


"BRUUK" Reifan menaruhnya begitu saja. Galuh sedikit terkejut namun kembali mengacuhkannya. Reifan yang sudah kesal dengan perangai Galuh beberapa waktu ini, tepatnya setelah Galuh menemui si pemilik dompet, gadis itu benar-benar berubah menjadi seorang yang pemurung, padahal sebelum-sebelumnya ia adalah gadis yang ceria.


"Heh!! ari maneh ku naon sih?" (Heh kamu sebenarnya kamu kenapa sih?) tegur Reifan. Galuh melirik sekilas kemudian kembali mengacuhkan Reifan.


"Heh !! urang nanya bener-bener !" (Heh!! Aku nanya bener-bener!) Reifan sedikit menaikan suaranya karena kesal terus menerus diacuhkan oleh Galuh.


"Emang urang kunaon?" (emang aku kenapa)


"Apa gara-gara anu boga dompet harita lain?" (Apa gara-gara yang punya dompet waktu bukan) kata Reifan asal tebak, namun ketika melihat reaksi Galuh yang menunjukan riak makin mendung diwajahnya. Reifanpun menyimpulkan tebakannya benar.


"Ke sore balik bareng, tong balik sorangan, baturan urang heula meli baju ka distro si Adam" (nanti sore pulang bareng, jangan pulang sendiri, temenin aku dulu beli baju di distro si Adam) Galuh hanya mengangguk malas. Reifan yang makin kesal kembali ke dalam gudang karena pekerjaannya memang belum selesai.


Sekitar pukul lima sore lebih sedikit Reifan sudah bersiap diatas motornya menunggu Galuh yang belum keluar dari toko, "Luh, buru atuh, sore teuing yeuh" (Luh cepatan atuh, kesorean ini) seru Reifan, Galuhpun keluar dengan memakai jaket dan helmnya. Sedang motornya ia sudah simpan di ruangan lain sebelah gudang dengan kunci ganda. Galuh sedikit berjinjit saat menaiki motor sport Reifan. "Pegangan" seru Reifan sembari menarik tangan Galuh agar melingkar di perutnya. Galuh hanya menurut saja. Meski sebenarnya Galuh agak malas kalau berboncengan dengan motor Reifan yang yang posisinya harus merapatkan tubuhnya agar tidak sakit pinggang karena kondisi jok belakangnya menungging khas motor-motor sport lainnya.


Reifan mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata 50-60km/jam, cukup pelan untuk ukuran motor sport dengan CC 250. Tanpa Galuh sadari Reifan membawanya ke arah perkebunan teh sebelum Rancabali. Pemuda itu lalu mematikan mesin motornya di daerah yang cukup tinggi dari tempat lainnya hingga disepanjang mata melihat hanya terlihat hamparan perkebunan teh yang sedang menghijau.


__ADS_1


Galuh sedikit heran kenapa Reifan malah membawanya ke tempat seperti ini.


"Menangislah" kata Reifan tiba-tiba, kedua alis Galuh samar saling bertautan.


"Kenapa aku harus menangi?"


"Tanyakan saja pada hatimu?"


"Aku baik-baik saja" kata Galuh datar.


"Luh, kita udah temenan itu bukan sehari dua hari, kamu mungkin bisa membohongi semua orang, tapi kamu ngga akan bisa bohongin aku." ucap Reifan kembali menaikan oktaf suaranya disertai tatapan tajam pada Galuh yang terus menunduk masih berusaha menyembunyikan keresahan hatinya, "Katakan apa yang sudah dilakukan laki-laki itu? Apa dia kurang ajar pada mu" sambung Reifan sambil mencengkram kedua lengan Galuh.


"Sakit Rei " pekik gadis itu ketika kedua lengan atasnya terasa berdenyut oleh cengkraman Reifan yang cukup kuat.


"Tapi tidak sesakit hati mu kan? Katakan jujur apa yang terjadi baru aku melepaskanmu" ucap Reifan penuh emosi.


" Ngga ada apa-apa Rei, aku seperti ini bukan karena kesalahan siapa-siapa. Aku hanya sedang menata ulang hatiku."


"Maksudmu?"


"Dia ngga salah apa-apa, aku yang salah karena terlalu cepat jatuh cinta padanya hanya karena sosoknya yang nyaris sempurna. Aku yang salah karena terlalu mudah terpesona dengan wajahnya yang tampan, aku yang salah karena terlalu mudah terkesan dengan sikap ramah dan tuturkatanya yang lembut. Aku yang salah Rei hikss hikkss" tangis Galuhpun pecah saat diakhir kalimat.


"Hhiihkkss.. aku yang salah, karena ketika dia berkata jujur kepada ku aku malah makin mencintainya. Makin ingin memilikinya. Padahal kami hanya bertemu dan berbicara hanya sebentar saja. Sekarang ia sudah menghilangpun aku masih berharap untuk bisa bertemu dengannya lagi Rei. hhiiikkkssss... hwaa..aaaaaaa" Reifan lalu memeluk gadis itu, yang malah menbuat tangis Galuh makin kencang.


"Dasar gadis bodoh ! Padahal harusnya kamu katakan saja sejujurnya kenapa harus menahan diri hingga selama ini" ucap Reifan berbisik ditelinga Galuh yang sedang meraung dalam dekapannya.

__ADS_1


"Andai kamu bisa melihatnya sedikit saja Luh, meski aku tidak sesempurna pria itu, namun aku akan berusaha untuk selalu membuatmu tersenyum dan tidak akan pernah membuatmu terluka" ungkap Reifan dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2