
Hejun dan Melinda berdiri di depan kursi pelaminan dengan selalu tersenyum sumbringah saat menyambut satu persatu para tamu mulai mengantri untuk menyalami dan memberi berkat doa pada mereka, namun ada juga yang langsung menghampiri stand stand makanan sambil menunggu ant . Alunan musik menggema memenuhi seluruh ballrome area yang dihias dengan dekorasi modern minimalis dengan dominasi warna broken white dan warna-warna pastel yang elegant.
Para panitia acara dengan cekatan mengatur para tamu undangan yang ingin segera bersalaman dengan pengantin agar berbaris rapi supaya tertib dan tetap bisa sambil menikmati acara. Meja-meja bundar untuk para tamu VIP tertata apik dengan buket bunga terangkai indah di sana. Paman Yohan dan Bibi Lyn pun ikut bergabung menyalami para koleganya yang mulai berdatangan.
"Kasihan mama dan papa masih harus berdiri lama seperti itu untuk dua pernikahan lagi yang belum terselenggara" kata Zehan sambil menyesap Sampanye miliknya.
"Aku tidak mau menikah dengan acara sebesar ini, terlalu merepotkan" sahut Keni juga sambil meletakan gelas sampanye di atas meja.
"Cih Abang pikir keluarga ini akan membiarkannya begitu saja" Joon Woon meliriknya sambil tersenyum ngenyek pada Keni.
"Berisik bocil." Joon Woon makin terkekeh dengan sikap dingin Keni. Entahlah meski mereka tidak sedarah tapi sikap mereka yang dingin seperti sudah menjadi ciri khas mereka atau mungkin juga sifat itu malah terbentuk karena lingkungan mereka yang harus selalu menjaga etika dan sopan santun terlebih ketika bertemu lawan mereka.
"Coba lihat bang, karangan bunga yang berderet rapi itu juga tumpukan kado-kado di sana, aku sampai mengolo tadi pas kebetulan di suruh Tuan Yohan menjemput Hejun dari hotel."
"Makanya tadi gue bilang, kayaknya kalo aku nikah mending diem-diem aja, tau -tau bawa anak aja hahahahaa"
"Pck gini kalo laki-laki kurang ilmu!! Dengar ini baik-baik. nabi aja menganjurkan untuk mengadakan walimah Rasulullah SAW bersabda, “Adakanlah pesta perkawinan (walimatu al-‘ursy) dengan menyembelih walaupun seekor kambing, maka jika tidak mampu menyembelih seeokr kambing, bikinlah pesta dengan dua mud (sekitar 6 kg) makanan gandum.” (al-Hadis). Kalo masih berat kurma sebiji kurma untuk tamu juga ngga apa-apa kalo ngga malu sama jam tangan yang kamu kenakan itu. Karena walimah itu bertujuan untuk mengumumkan pernikahan kepada khalayak, bersyukur atas
pernikahan, dan berbagi kebahagiaan kepada para tamu undangan. Lebih dari itu, tujuan lainnya adalah untuk menguatkan kepekaan sosial di masyarakat. Juga sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga calon istri kalian, juga bisa sebagai bentuk penghargaan kepada calon istri kalian, jangan pelit-pelit
istri, istri bahagia rezeki kalian ngalir dengan barokah. Mengadakan resepsi seperti ini juga bukan ria itu ketika kita tidak memaksakan secara berlebihan, toh kita memang mampu." kata seorang gadis berhijab yang tiba-tiba ikur nimbrung entah datang dari mana. Semua yang ada di meja itu menatap gadis itu, terutama Keni yang menatap gadis itu dengan delik tajam. Begitu sadar gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
__ADS_1
"Maaf saya sudah ikut campur, permisi" ucap gadis itu lantas langsung membungkuk kemudian segera kabur dari meja tersebut.
"Buahahahahhahahahahaha" tawa Joon Woon pecah seketika begitu gadis itu berlalu pergi.
"Tuh bang, dengerin nasehat dari bidadari itu" kata Joon Woon masih terpingkal sambil memegangi perutnya. Sedang Zehan hanya mengekeh kecil sembari menikmati minumannya.
Di sudut lain, sepasang mata tengah memperhatikan Hasya yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu yang ia kenal, sesekali ia mensesap minumannya namun matanya tak pernah lepas dari sosok Hasya.
"Mas ayo kita menyalami pengantinnyaa abis itu kita pulang, aku sedikit lelah hari ini" ajak perempuan yang duduk disampingnya. Laki-laki itu hanya menghela nafas dengan gusar karena kesenangannya seolah terganggu dengan rengekan perempuan itu.
"Selamat ya Jun, akhirnya melepas masa lajang juga"
"Terima kasih Pak Faruq dan istri karena sudah berkenan hadir dan turut mendoakan kami" ucap Hejun seraya menjabat tangan Faruq.
Flasback
"Jun, kamu yakin tidak apa-apa kalo aku turut mengundang warga di sini?" tanya Melinda pada suatu malam saat Hejun memberikan beberapa dus kartu undangan yang tinggal dibubuhkan nama pemerimanya saja.
"Kenapa ngga? Lagi pula ini Tuan Yohan yang nyuruh tapi kamu pilihin ya yang bener harus kamu undang, soalnya kartu undangannya cuma sisa tujuh ratusan kalo tidak salah atau malah mungkin enam ratus doang. Selebihnya sudah dipakai keluarga di sana, maaf ya? " kata Hejun dengan wajah sedikit kecewa.
"Masyaallah Jun, enam ratus undangan sih bisa buat satu kampung ini" kata Melinda dengan raut tidak percaya menatap nanar calon suaminya.
"Hah? Masa sih?" kata Hejun dengan wajah polos.
__ADS_1
"Ini tuh banyak Jun, terlalu banyak malahan, tadinya aku cuma mau undang saudara dan beberapa kerabat aja, dan jumlahnya juga ngga akan sampai seratus palingan" kata Melinda berkerut kening.
"Jangan begitu sayang, Tuan Zehan nanti bisa potong gaji aku. Jadi aku mohon kamu sebarin semua undangan ini untuk para tetangga dan warga ya. Please bantu aku" kali ini Hejun memasang wajah memelas sembari memegang kedua tangan Melinda.
"Tapi.."
"Ayolah sayang, bantu aku pleaseeee" Melinda menghela nafas memalingkan tatapannya ke sembarang arah, lalu ekor matanya kembali melirik Hejun yang masih memasang wajah memelas.
"Ya sudah, nanti aku minta tolong bapak dan ibu juga kak Akmal buat bantu sebar undangan ini"
"Nah gitu dong, baru calon istriku" ucap Hejun tersenyum lebar sumbringah.
"Oiya.. Masa adalagi, hampir lupa"
"Apa?" Melimda kembali mengerutkan keningnya.
"Kata Tuan Yohan satu kartu undangan itu tidak terbatas katanya, jadi misal satu rombongan keluarga mau dateng satu kampung juga boleh."
"Apa?!!" Melinda kembali dibuat terbelalak saat mendengar penuturan Hejun, meski ini bukan yang pertama kalinya ia mendapati kabar yang hampir tidak masuk akal itu namun tetap saja ia kaget begitu mendengarnya langsung.
"Ah.. kata Tuan Yohan satu undangan itu bisa untuk 1 keluarga atau lebih. Nah nanti sekalian data juga siapa yang ikut tapi tidak punya kendaraan nanti Tuan kirim bus ke sini" alih-alih menyahuti Hejun, Melinda malah tertunduk sambil menangis.
"Sayang kok kamu nangis? Aku salah ya? aku .. aku minta maaf tapi tolong berhenti nangis ya" Hejun sibuk meredakan tangis Melinda. Namun gadis itu malah makin keras menangis, untung saja hari itu keluarga Melinda sedang ada undangan di kampung sebelah, sedang Akaml ia sudah berkeluarga dan memilih tinggal mengontrak di daerah yang lebih dekat dengan kantornya. Melinda menggelengkan kepalanya sambil mengusap kasar air matanya dengan tangannya. Hejun menatapnya iba serta bingung.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...