
"Pa, pokoknya Zesya pengen punya ade, titik, kalo ngga papa mending pulang aja ke Jakarta !!" ucap Zesya lalu berlari ke dalam rumah dengan membawa kantong berisi es krim dan sosis siap makan.
"Hah.. anak itu.. Gimana caranya coba ngasih dia adik, sedang si Steven-nya aja sama sekali berkunjung ke rumahnya." gumam Zehan, lantas berjalan gontay menuju rumah. Baru beberapa langkah terhenti karena ponselnya berdering, keningnya nampak mengernyit hingga kedua alisnya hampir bertautan saat melihat nomor baru tertera di sana.
"Halo.."Zehan kembali melihat layar ponselnya memastikan sambungan teleponenya memang sudah tersambung karena tidak ada jawaban dari seberang sana.
"Haloo" ucap Zehan sekali lagi.
" Ha.. halo pak,, apa benar ini dengan bapak Zehan Akhilendra Hirawan?" terdengar suara seorang perempuan namun suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang gugup.
"Ya saya sendiri? Maaf ini dengan siapa...?" alih-alih mendapat jawaban kembali, Zehan malah mendengar seorang sedang panik memanggil-manggil nama seseorang, dengan raut wajah bingung Zehan lalu menjauhkan ponselnya dari telinga, lantas bahunya menghedik heran, dan mengira itu hanya orang iseng saja kemudian iapun segera mematikan sambungannya dan melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumah. Sedang putranya sudah tidak terlihat batang hidungnya.
...----------------...
"Galuh !! Galuuh !! Sadar Luh! iissh kumaha sih make pingsan sagala!" seru Reifan panik karena Galuh tiba-tiba pingsan begitu saja. Reifan lalu mengangkat tubuh Galuh ke ruang lain tempat mereka beristirahat, lantas mencari kayu putih atau atau sejenisnya untuk segera menyadarkan Galuh, beberapa saat kemudian perlahan gadis itu pun tersadar dari pingsannya.
"Maneh kunaon sih? ujug-ujug pingsan?" kata Reifan dengan wajah serius. Tapi gadis itu hanya terdiam linglung, merengut.
"Yeuh yeuh nginum heula" Reifan lalu menbantu Galuh untuk duduk lantas menyodorkan segelas teh manis hangat dengan irisan jahe yang dibuatkan ibu warung nasi bersebelahan toko mereka.
Di rumah, sudah sekitar setengah Zehan berkeliling di sekitar mobil dan area halaman dan pekarangan seperti sedang mencari sesuatu di sana, Hasya yang baru saja dari toko ikut-ikutan merengut bingung dengan tingkah suaminya.
"Mas.. Mas cari ap?" tegurnya.
"Ehh sayang,.. ini mas lagi nyari dompet yang ada kartu ATm-nya. tapi mas cari-cari ngga ketemu."
"Emang mas dari mana? Dompet kok bisa kececer begitu?" semot Hasya.
"Tadi mas dari mini market, tadi habis beliin Zesya es krim sama jajanan"
"Jatuh itu pasti"
"Iya makanya mas cari Yang"
"iish,, isinya apa aja?"
__ADS_1
" Cuma beberapa uang dollar, black card, beberapa ATm doang sih, tapi yang penting itu di sana ada kartu nama dari Tuan Hoshino dari Jepang, rencananya hari ini mau mas kasih ke Gibran eh dompetnya malah jatoh entah di mana?" jelas Zehan dengan santai saja seolah benda-benda berharga yang tadi dia sebutkan bukan apa-apa. Sedang Hasya sama sekali tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya dengan apa yang dijelaskan suaminya.
"Cuma? Mas bilang cuma??!!"
"Ya iya.."
"Uangnya ngga seberapa, dirupiahkan juga ngga sampe satu juga, kalo black card dan ATm kan bisa di blokir dari akun mas langsung, terus bikin baru lagi. Cuma kartu nama Tuan Hoshino aja sih yang disayangkan kalo sampai hilang, buat ketemu dia laginya agak susah" Hasya menggeleng-gelengkan kepalanya, mau heran tapi suaminya memang benar, semua yang ada di dompet itu bisa ia dapatkan kembali dengan mudah, kecuali kartu nama klient penting, apalagi Tuan Hoshino terkenal sangat serius dan mendetail. Kehilangan kartu namanya, sama saja sama seperti menghilangkan amanahnya.
Ponsel Zehan kembali berdering, ia kembali mengernyit namun segera mengangkatnya, siapa tahu telepon ini dari orang yang berbaik hati menemukan dompetnya dan mau mengembalikannya.
"Halo,,"
"Ha.. halo Pak Zehan, sa..saya Galuh, penjaga minimarket Khasanah," wajah Zehan merengut, dalam pikirnya bagaimana gadis itu bisa mengetahui nomor teleponenya.
"Owh iya, mbak ada apa? Eh kok mbak bisa tau nomor telepon saya?"
"Ah.. ini Pak, sa.. saya.. tadi menemukan sebuah dompet tergeletak di parkiran, maaf tapi sebelumnya pak, tadi saya sudah lancang membuka dompet bapak, tapi kalo tidak begitu saya tidak bisa mengetahui pemilik dompet ini dan mengembalikannya pada pemiliknya."
" Ah.. ternyata benar jatuh di sana ya?"
"Hmm kalo begitu bisa tidak mbaknya antar ke resort, nanti saya shareloc, sekalian saya teraktir makan malam sebagai rasa terima kasih saya, bagaimana? bisa?"
"Ah.. tidak usah pak, tapi nanti dompetnya saya antar ke sana"
"Jangan begitu mbak, anggap aja ini teraktiran seorang teman"
"Hmm gimana ya?"
"Saya nanti marah lho mbak"
"Ah.. itu.. baiklah pak nanti saya ke sana, tapi tolong jangan belikan sesuatu yang mahal, maklum saya orang kampung"
"Santai saja. kalo begitu sampai ketemu nanti malam" tutup Zehan.
"Mau makan malem sama siapa mas?" selidik Hasya penuh curiga. Zehan yang mengerti gelagat istrinya meyembunyikan senyumannya.
__ADS_1
"Kenapa mau ikut?"
"Ngga" sahut Hasya ketus menyembunyikan kegelisahannya.
"Ya udah" ucap Zehan sembari masuk ke dalam mobilnya. Hasya yang melihat hal itu langsung melempar delik tajam disertai wajah cemberut.
"Oiya, Sya, Hari ini mas makan malam di luar, mungkin nginep di resort, jadi kalian ngga usah nunggu mas pulang ya" terang Zehan.
"Tumben?" Hasya makij curiga, karena sekilas tadi Hasya mendengar suara seorang wanita di seberang telepon sana.
"hmmm kalo mas jujur, bilang mau "jajan" gimana? Apa kamu akan marah?" netra Hasya menbulat sempurna dengan rongga dada yang mulai terlihat naik turun karena terbakar cemburu.
"Nah kan cemburu , dasar perempuan" batin Zehan
"Tenang aja sayang, mas jajan di tempat yang bersih kok, Ya usah mas pergi dulu ya,sampai ketemu besok" pamit Zehan lantas menyalakan mobilnya dan begitu saja meninggalkan Hasya yang masih mematung mencerna semua ucapan Zehan barusan. Beberapa saat kemudian setelah mobil Zehan tidak terlihat ia benar-benar emosi.
"Zehan Akhilendra Hirawan, awas saja kamu berani macam-macam aku sunnat kamu sampai ngga bersisa ya mas !!! teriak Hasya penuh amarah. Zesya mendekati ibunya yang sedang tersulut rasa cemburu, hanya karena kata "jajan".
"Ma, .." panggil Zesya.
"Apa, kamu juga belum makan udah makan es krim begitu??!" bentak Hasya.
"Iissshh kenapa Zesya jadi sasaran coba? Zesya udah makan tadi kok, makanya Zesya makan jajanan yang di beliin papa"
"Zesya masuk ke rumah nak, sebelum mama makin emosi"
"Emang papa mau jajan apa sih ma?" tanya Zesya bertingkah polos.
"masuk Zesya !!" bentak mamanya.
"Hmmm,, Zesya telepon papa ah, biar bawa jajanannya pulang"
"Berani dia bawa ke rumah ini habis masa depannya!!" ancam Hasya seraya menghentakan kakinya lalu meninggalkan Zesya seorang diri.
"RIP steven papa" ungkap Zesya tersenyum tengil.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...