
Erina segera bergegas menuju area parkir rumah sakit, di sana mobil Rizky sudah menunggunya.
"Lalu apa rencana mu sekarang, Er?" tanya Rizky berkerut dahi.
"Pertama kita harus segera meninggalkan rumah sakit ini secepatnya" kata Erina setelah secara tidak sengaja melihat salah satu pengawal Faruq berkelebat dari spion mobil.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang sedang hamil itu?"
"Untuk sementara kita percayakan pada Dokter Hendra, aku sudah memberitahukan situasi yang sebenarnya, namun ia juga tidak bisa terus menahan mereka di rumah sakit ini. Dokter Hendra hanya memberi waktu kita hanya tiga hari saja." Rizky yang mengerti situasinya saat melihat gerik mata Erina, iapun segera bergegas menyalakan mesin mobil dan meninggalkan rumah sakit.
Dugaan mereka tepat, ternyata mereka tetap diikuti oleh para pengawal Faruq. Namun sepertinya mereka hanya ditugaskan untuk mengikuti mereka saja.
"Halo," ucap Erina tergesa-gesa.
"Iya halo, maaf dengan siapa?"
" Maaf, bu sebelumnya jika saya kurang sopan. Nama saya Erina, saya mendapatkan nomor kontak ibu dari seseorang wanita yang sedang mengandung, saya kebetulan adalah bidan yang membantunya untuk dilarikan ke rumah sakit."
"Wanita hamil?" Zia masih belum mencerna apa yang dikatakan Erina diseberang sana.
"Apa ibu mengenal Hasya?"
"Hasya..?? Di mana kakak ipar saya?!! Apa kenapa kakak ipar saya ada di rumah sakit ??!! Tolong katakan dengan jelas!?" pekik Zia meninggikan suaranya hingga membuat Gibran yang sedang di toiletpun segera bergegas menghampirinya.
"Bu Hasya saat ini baik-baik saja. Dokter yang membantu kami hanya memberi waktu hingga besok saja untuk mengulur waktu menahan ibu Hasya tetap di rumah sakit yang sekarang"
"Kalau begitu dimana rumah sakitnya?" Namun yang terdengar oleh Zia adalah sebuah teriakan disertai dentuman dan decit rem mobil yang keras.
__ADS_1
"Halo halo.. " air mata Zia mengalir begitu saja, ia bisa membayangkan apa yang terjadi disana dengan suara semacam itu, perlahan ia menurunkan tangannya dengan lunglai dan menyandarkan dirinya dalam pelukan suaminya.
Sementara itu, Erina dan Rizky selamat berkat kantong udara mobil. Mereka bukan sengaja dibiarkan begitu saja namun orang-orang sudah lebih cepat membantu mereka. Mereka sudah memperhitungkan semua kejadian makanya mereka mengambil jalan yang tidak terlalu ramai tapi juga tidak terlalu sepi. Bukan cuma itu mungkin ini juga suatu keberuntungan mereka saat mereka sengaja ditabrak, tempat kejadiannya tidak terlalu jauh dengan damkar. Para petugas damkar itu dengan sigap langsung menolong Erina dan Rizky, sedang orang suruhan Faruq juga berhasil diamankan sebelum mereka melarikan diri.
...----------------...
Zehan baru saja selesai minum obatnya, meski ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri namun tetap saja kondisinya masih belum memungkinkan cidera di kepalanya cukup serius. Jika bukan atas permintaan Zesya dan rengekan Deliza ia sudah pasti sendiri.
"Jadi benar Faruq yang melakukan semua ini?" geram Zehan
"Benar tuan."jawab Keni.
"Papa tidak perlu turun tangan sendiri, baiknya papa fokus pada pemulihan saja, biar Aa saja yang menanganinya"
"Braakkk!! " tiba-tiba pintu dibuka begitu saja oleh Zia, nafasnya memburu seperti ada orang yang sedang mengejarnya.
"Kita harus cepat Kak, sebelum orang yang .." tanpa mendengar kalimat selanjutnya Zesya bersama Keni, Hejun dan Joon woon segera ke rumah sakit yang disebutkan oleh Zia.
Ditempat parkiran, "Tuan muda yakin akan tetap ikut? Saya rasa ini cukup berbahaya untuk dijadikan tempat latihan?" kata Keni sambil memasang Setbelt-nya.
"Hei bang ! Apa kau meragukan kemampuan Tuaan muda selama ini, bahkan melihat fisik tuan Zesya sekilaspun sepertinya dia tidak akan mudah tumbang kalau hanya sekali pukul" sahut Joon Woon agak kesal karena hasil tempaannya selama ini seperti diremehkan oleh Keni.
"Tenang saja Om, aku tidak akan merepotkan" kata Zesya tersenyum tengil namun dengan tetapan tajam seperti papahnya. Hejun segera menyalakan mesin mobil dan bergerak ke alamat yang disebutkan oleh Zia.
Di rumah sakit, Zehan terlihat tertidur setelah terpaksa diberi suntikan penenang. Saat Zesya dan yang lainnya segera bergerak Zehanpun ikut turun dari tempat tidur namun karena kondisinya ynag memang belum stabil iapun malah terjatuh, atas permintaan Zia, dokter yang menangani Zehan pun diberi suntikan Alprazolam. obat penenang yang biasa digunakan untuk mengatasi gangguan panik, gangguan kecemasan, dan susah tidur.
Erina dan Rizky segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, mereka hanya mengalami luka ringan meski mengalami pingsan akibat syok. Sedang orang yang menambrak mobil mereka berhasil kabur. Rizky duduk disamping tempat tidur Ernia sambil memegangi tangan Ernia.
__ADS_1
"Kalo tau begini, aku tidak akan setuju untuk membantu perempuan itu !" kata Rizky terdengar lirih karena bercampur dengan isak tangisnya. Sebenarnya luka Ernia sudah sadar dari pingsannya, ia menggunakan kesempatan itu agar Rizky mau mengungkapkan perasaannya kepadanya.
"Er, aku mohon buka matamu..hikss" Ernia tersenyum kecil saat mendengar rengekan pria jangkung itu.
"Er, aku janji kalo kamu sadar nanti, aku akan langsung datang kepada orang tuamu untuk melamarmu."
"Dasar bocah gila !! Masa mau maen lamar aja, pacaran dulu kek,"kata Ernia dalam hati.
"Aku sayang kamu Er, hikss.. Aku tahu Er ini bukan waktu yang tepat tapi aku ngga mau terlambat dan menyesal"
"untung aku udah sadar, coba kalo belum, mana bisa aku mendengar semua kata-kata manis dari pria dingin seperti mu"
"Tapi hikss.. Er, sejujurnya dari pertama kali aku bertemu denganmu 4 tahun lalu, aku sudah menyukai senyum mu itu. Meski aku sering mengeluh karena harus bertugas di desa faktanya aku tidak menyesal Er, justru aku bersyukur aku ditugaskan disana, Karena aku bisa bertemu dengan mu pada akhirnya. Itulah alasannya aku tetap memilih untuk terus bertugas di desa mu meski aku sudah menerima panggilan dari beberapa rumah sakit besar, tapi aku belum rela tepatnya tidak rela jika harus jauh dari mu. Aku mohon Er, bangun lah !" ucap Rizky getir berurai air mata.
"Empat tahun lalu, hmm saat pertama kali dia ke puskesmas rupanya. Benar waktu itu untuk pertama kalinya kami bertemu. Artinya benar apa yang dikatakan dokter Vivi tempo hari"
"Er..." kalimat Rizky terhenti saat tanpa sengaja melihat riak di balik kelopak mata Ernia yang masih terpejam. "kamu berani mempermainkanku ya?" ucap Rizky dalam hati.
"Ernia Sarasvati, kalo kamu masihtidak mau bangun aku bersumpah besok aku akan menikahi bidan Vita" bisik Rizky disusul suara pintu dibanting, seketika Ernia langsung membuka matanya mencari sosok Rizky.
"KY,, " GEDEBRUK! Tubuh Ernia yang langsung ambruk efek kepalanya yang masih sedikit pusing karena mendadak bangun dari pembaringannya.
"Udah tau punya gejala anemia masih sok-sok mau langsung nyusul orang" ejek Rizky dan langsung membopong Ernia. Ernia yang malu langsung bersembunyi di dalam dada Rizky yang bidang.
"ahahahahhaaha,, ternyata ada untungnya juga anak buahnya orang itu menabrak kita.." ucap Rizky sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Ernia yang sudah merah merona karena malu dengan tingkahnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1