
"Kelincriing" pintu toko terbuka.
"Hebaat ya keluarga cemara yang satu ini ! " pekik Zia sambil bertolak pinggang . Zehan, Zesya dan Hasya yang terkejut langsung berpaling ke arah sumber suara tersebut. Hasya tertawa kecil saat melihat Zia yang ngambek tapi malah terlihat menggemaskan olehnya
"Zia.." pekik Hasya berhambur memeluk adik iparnya itu.
"Iya ini aku ! hiks ! Napa ngga suka aku di sini ?!" ucap Zia marah-marah. Hasya menggeleng-geleng sambil tersenyum tapi juga menangis haru karena bisa bertemu kembali dengan Zia.
"Ah lepasin hiks" ucap Zia sok-sok-an menolak pelukan Hasya namun dia yang paling menyambut rangkulan kakak iparnya itu.
"Jadi kalian sudah berbaikan nak?" tanya bibi Lyn yang juga sudah berdiri di ambang pintu diikuti oleh paman Yohan. Hasya tersenyum hambar saat mendengar kata "berbaikan" dari perempuan paruhbaya itu.
Zesya lalu mendekati mamanya dengan sorot mata curiga.
"Eh siapa ini?" tanya Zia ramah dan sok imut didepan Zesya.
"Nama ku Zesya, aunty" jawab Zesya singkat sambil menyalami Zia, paman Yohan, dan Bibi Lyn.
"Mah, kayaknya dia beneran anaknya kak Zehan deh. Liat aja selain duplikat bapaknya, sikapnya juga sama dinginnya" gerutu Zia.
"Namanya juga anak kecil, Zi" sahut Bibi Lyn sambil membelai wajah Zesya lembut.
"Maa,, aku kok ngga dibangunin" teriak seorang gadis kecil yang usianya 2tahun lebih tua dari Zesya.
"Maaf sayang, kamu bobonya pules banget, lagian kan kaku sama papa, hmm?" sahut Zia menenangkan anaknya, Judis.
Zesya memperhatikan gadis itu dengan seksama, lantas ia menghela nafas juga memutar matanya malas setelah melihat sikap manja gadis itu.
"Kamu sehat-sehat nak?" tanya bibi Lyn pada Hasya.
"Al hamdulillah baik mah, Nathan sama Nathali gimana kabarnya, kok ngga ikut ke sini?" tanya Hasya sambil menghidangkan teh hangat dan beberapa cemilan untuk semua.
"Kita dadakan Sya. Tadinya mau nunggu Zehan bawa pulang kamu ke rumah dulu, tapi kok lama banget. Padahal mama udah ngga sabar pengen ketemu sama cucu mama"
"Ya gimana ngga lama, yang mau diajaknya juga sibuk mulu" gerutu Zehan, Hasya langsung melayangkan tatapan tajam pada Zehan yang duduk tak jauh dari kursinya.
"Kamu ngga mau pulang ke Jakarta gitu, Sya?" tanya Gibran.
"Bukan gitu Kak, tapi kalo ke Jakarta sekarang kasian Zesya bentar lagi UTS, rencananya pas libur UTS Zesya mau di sunat, jadi niatnya sebelum itu mau ke sana buat ngasih tau semua keluarga mah," terang Hasya.
"Tapi kan kalo bukan aku ngga ketemu sama Zesya duluan, kayaknya sampai kapanpun kamu bakal tetep sembunyi kan Sya?" kata Zehan sinis.
"Aaahh mulai lagi" gumam Zesya saat kedua orangtuanya mulai berdebat lagi.
__ADS_1
"Sudah sudah Ze, yang pentingkan sekarang kita udah bisa kumpul lagi kan?" kata bibi Lyn menengahi.
"Oiya Sya, kamu suka ketemu orangtuamu kan? Kamu tidak mungkin tidak pernah menemui mereka sama sekali cuma demi menghindari Zehan kan?" Hasya terdiam, wajahnya mendadak mendung, karena selama ini, jika ia selalu melihat orangtuanya dari kejauhan. Meski ia sangat merindukan keluarganya, namun itu adalah satu syarat yang diberikan oleh Nayuwan agar persembunyiaannya tetap tidak terditekasi orang-orang suruhan Zehan. Melihat hal itu bibi Lyn segera menenangkan menantunya itu.
"Tidak apa-apa,kami mengerti, kamu juga pasti kesulitankan apalagi dalam keadaan begitu kamu malah hamil, tapi mama jadi sedikit menyayangkan karena melewatkan moment-momen berharga itu" ucap Bibi Lyn sambil terus mengusap lembut punggung Hasya serta menggenggam hangat tangan Hasya yang saling menekan guna menyembunyikan perasaan bersalahnya.
"Anak ganteng ini udah sekolah kelas berapa sayang?" tanya bibi Lyn mengalihkan perhatian agar bisa mencairkan suasana.
"Kelas 1 nek, 6 bulan lagi kelas dua" jawabnya singkat namun ada sedikit senyuman hangat kali ini mengulas di bibir mungilnya.
"Wah hebat, udah bisa baca?" tanya bibi Lyn lagi bersemagat.
"Jangankan membaca, pelajaran matematika untuk kelas tiga pun dia sudah bisa mengerjakannya." sahut Zehan menyombong.
"Benarkah? berarti cucu nenek ini sudah pintar perkalian dong?" Bibi Lyn kembali melihat ke arah Zesya sambil tersenyum dengan tangan yang membelai lembut pucuk kepala anak itu.
" hm,," Zesya hanya mengangguk singkat, namun binar mata rusanya makin bersinar, begitu pun dengan senyumannya kini makin mengembang.
"Coba 5 x 5 berapa? " tanya bibi Lyn mulai menguji
"Dua puluh lima" jawabnya cepat.
"kalo 12 x 13 ?"
"Wah.." bibi Lyn takjum dengan kecepatan perkalian Zesya.
"Oma kalo cuma seperti itu aku juga bisa" protes Judis karena merasa neneknya itu lebih memperhatikan Zesya, anak laki-laki yang baru saja dikenalkan sebagai kakak sesepupunya.
"Benarkah? kalo begitu bagaimana kalo kita buat kuis yang menang nanti Oma kasih hadiah laptop keluaran paling baru." mata kedua anak itu binar mata rusa kedua anak itu makin terang, senyum mereka sama memperlihatkan sikap kompetitif tidak mau kalah.
"Tapi pertanyaannya bukan soal matematika, Oma mau menguji wawasan kalian sejauh mana kalian mempelajari sejarah dunia" kedua anak itu lagi-lagi mengangguk kompak dengan semangat.
" Ada lima pertanyaan, jawaban hanya dijawab satu kali, salah menjawab tidak bisa di rubah kembali, paham?" Judis dan Zesya mengangguk lantas langsung duduk tegap agar bisa menyimak pertanyaan dari neneknya itu. Sedang yang lain juga memperhatikan tingkah menggemaskan kedua anak itu.
"Pertanyaan pertama, siapa Presiden Republik Indonesia ?"
"Judis Judis Judis Omaa" ucap Judis seraya mengangkat tangannya cepat tinggi-tinggi.
"Iya sayang,"
"Presiden RI yang pertama Pak Presiden Soekarno" jawab Judis penuh keyakinan
"Ya benar !" Judis langsung bersikap songong pada Zesya yang duduk tenang.
__ADS_1
"Baiklah pertanyaan kedua.. Siapa orang terkaya selain nabi Sulaiman AS. ?" raut wajah kedua anak itu berubah serius mencoba mengingat kisah-kisah raja jaman dulu.
"Ah Zesya tau nek " Zesya mengacung tangan meski terlihat ragu.
"Ya sayang" bibi Lyn tersenyum pada Zesya yang kembali terdiam masih berusaha mengingat.
"Kalo emang ngga tau, diem aja" julid Judis.
"Tau, tapi aku lupa" tembak Zesya sinis. Hasya yang memejamkan matanya karena tau jika ia ikut bicara Zesya akan makin merasa tersudut.
"Makanya ngga usah sok-sok-an mau jawab " Judis makin meninggikan suaranya.
"Diam kamu kecil-kecil biang rusuh" Zesya tidak terima karena dibentak oleh Judis.
"Apa kamu bilang ?!!" Judis berdiri sambil bertolak pinggang.
" Sudah sudah,, jangan ribut,," lerai bibi Lyn.
"Sayang, tidak apa-apa kalo kamu lupa, kita ganti saja pertanya"
"Mansa Musa! Iya Mansa Musa ! benar kan, Nek?" jawab Zesya memotong kalimat neneknya.
"Wah? !!" bibi Lyn terkejut lalu tersenyum karena jawaban Zesya benar.
" Sok tau kamu !" bantah Judis.
"Bener kok, Mansa Musa dari Mali. kalo ngga percaya kamu bisa cek di google, atau di New world Encyclopedia atau dari sejarah-sejarah ekonomi" Judis yang tidak terima langsung mengambil laptopnya dan mereseach kebenaran jawaban Zesya mengenai Mansa Musa. Setelah mencari lalu membaca beberapa sumber Judis kemudian terdiam setelah mengetahui fakta sejarah tersebut.
"Bagaimana sayang? " tanya bibi Lyn pada Judis yang terlihat kesal.
"Jawaban dia benar, orang itu adalah Mansa Musa, atau Musa Keita 1, dia salah satu penguasa di Afrika" sungut Judis melipat tangan di dadanya saat menjawab neneknya.
"Wah,, bahkan aku saja tidak tau" sahut Zia terperangah takjub dengan pengetahuan Zesya.
"Terbuktikan putra ku ini sangat cerdas" Zehan makin bangga, Zia dan Judis sama sama mengernyih melihat tingkah jumawa besar kepala.
"Tapi kak, kenapa Zesya tetap mengikuti kurikulum, kalo kecerdasannya diatas anak-anak sebayanya. Hasya tersenyum saat mendengar pertanyaan Zia.
"Itu karena aku ngga mau Zesya merasa terbebani jika harus pindah sekolah atau loncat kelas. Aku hanya ingin dia menikmati masa kecilnya, bermain dan belajar dengan teman sebayanya. Toh pendidikan formal akan kalah dengan wawasan dan pengalaman. Biarkan saja dia mengisi masa kecilnya dengan riang dan ceria." Zia mengangguk, memahami apa yang dimaksudkan oleh Hasya.
Yang tidak mau jika Zesya pada akhirnya akan tertekan karena dipaksakan berada dilingkungan yang nantinya justru akan menekan mental anak itu, alih menjadi berkembang justru akan mendapat tekanan yang mengakibatkan stress dan depresi pada Zesya. Dan tentu saja itu sangat buruk untuk masa depan Zesya.Biarkan anak itu tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan minatnya, orang tua mengarahkan tanpa harus memaksa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1