The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 119


__ADS_3

Ddrrrtt... Dddrrrtt...


Ponsel milik Zesya bergetar di dalam kantong celananya. Segera Zesya merogoh poneslnya, tertera nama mamanya di sana.


"Mama ? Tumben" ujarnya saat melihat nama yang tertera di layar ponesl pintarnya. Ia segera menggeser tombol hijau dilayar lalu menempelkannya ditelinga.


"Halo, kenapa ma?" tanya Zesya membuka percakapan.


"Zes, kamu udah sampe tempat latihan?" Hasya balik bertaya pada Zesya dengan suara terdengar seperti orang sedang panik.


"Aku baru aja sampe ma, kenapa emang?"


"Kamu sekarang juga ke rumahnya Tania,Zes !!"


"Lho kenapa mih?"


"Pokoknya kamu ke sana sekarang, mama juga lagi di jalan menuju rumahnya dia." perintah Hasya.,dan tanpa menunggu persetujuan anaknya Hasya langsung menutup sambungan teleponennya begitu saja.


"Pck ! Hah!! Ada-ada aja dah !" ungkap Zesya gusar sembari memakai kembali helm fullface-nya kembali.


"Wait ! Wait !!! Mau kemana boss? Ngga jadi ikut latihan??"tahan Jody tepat setelah ia memarkirkan motornya.


"Nah, kebetulan lu ada di sini, tolong absenin gua ya. Gua ada panggilan mendadak dari nyokap di suruh ke rumah Tania. Urgent banget kayaknya" sahut Zesya sembari memarkirkan motornya.


"Serius lu ?!" tanya Jody sekali lagi.


"Iya,, tolong ya."


"Urgent pake banget ?"

__ADS_1


"Kayaknya sih gitu. Barusan nyokap gue kayaknya panik gitu."


"Gue boleh ikut ngga?"


"Mau ngapain?"


"Ya siapa tau gue bisa jadi tenaga tambahan gitu, kalo ada apa-apa"


"Ya udah tinggal ikut aja. Tapi nanti yang bikin absen siapa?"


Alah gampang itu, tar gue bilang sama Tio." tanpa bertanya lagi Zesya segera menyalakan mesin motornya, lantas melajukan motornya membelah keramaian kendaraan ibu kota menuju rumah Tania.


Beberapa meter sebelum Zesya dan Jody memasuki kompleks perrumahan Tania, beberapa mobil pemadam kebakaran, mobil polisi juga ambulance lebih dulu menyalip kendaraan mereka. Zesya dan Jody berhenti sejenak saat mobil-mobil itu melewati mereka dengan tergesa-gesa. Netra Zesya mengikuti kemana arah tujuan rombongan mobil-mobil itu. Seketika bola mata Zesya terbelalak membulat saat ia bisa memastikan kepulan asap hitam berasal dari kompleks perumahan Tania.


"Jod, buruan kita susul mobil-mobil itu !!!" seru Zesya seraya memaut kencang gas motornya.


Begitu sampai mereka sudah disuguhi pemandangan yang cukup chaos. Nampak oleh mereka beberapa rumah yang jaraknya hampir berderetan berdekatan tengah dilalap si jago merah. Zesya segera turun dari motornya, tanpa melepas helmnya ia segera berlari menerobos ke arah orang-orang sedang berkerumun meski sudah di halau oleh para petugas yang berusaha mengaman tempat tersebut. Netra Zesya segera mengedar ke sekitar area tersebut beusaha mencari Tania. Begitu juga dengan Jody pun segera berbaur mencari ke sembarang arah mencari keberadaan gaddis itu. Beberapa saat ia mencari langkah Zesya terhenti ketika melihat sosok Tania yang sedang menangis dalam pelukan seorang polwan yang berusaha menenangkannya. Zesya segera menghampiri gadis itu dan mengambil alih Tania dalam pelukannya.


"Rumah ku Zes,, rumah Aku.. hikss..hiks hks.." racau Tania terbata-bata karena bercampur dengan isak tangis yang sepertinya sudah agak lama ia dalam keadaan itu.


"Kamu tenang dulu ya," ucap Zesya berusaha menenangkan Tania. Tiba-tiba dari belakang Jody menyodorkan air mineral yang langsung ia berikan pada Zesya untuk segera diminumkan pada Tania.


"Kamu minum dulu ya, biar agak tenang" bujuk Zesya, Tania pun perlahan meminum air tersebut meski ia masih belum bisa untuk duduk dengan baik tapi setidaknya ia sudah mulai bisa menenangkan isak tangisnya.


"Rumah aku Zes,.."


"Iya ngga apa-apa yang penting kamu selamet dulu Tan" ucap Jody ikut berusaha menenangkan Tania.


"Kalo kamu udah rada tenang baru nanti kamu cerita kronologi yang kamu tau, ya" ucap Zesya sambil terus memeluk tubuh Tania yang masih bergetar karena syok. Melihat hal itu tentu saja sedikit menarik perhatian Jody, sahabat karib Zesya , sejak Zesya tinggal di Jakarta. Meski mereka berbeda sekolah tapi di beberapa komunitas mereka selalu bersama. Dan meski status sosial mereka cukup mencolok tapi tidak membuat persahabatan mereka menjadi tidak tulus. Didikan keluarga mereka lah yang bisa menciptakan kerukunan diantara keduanya. Setelah satu tahun tinggal menetap di Jakarta Hasya lalu meminta Zehan untuk pindah rumah ke lingkugan sosialnya lebih terbuka, lebih dekat dengan tetangga dan warga sekitar. Sebagai suami yang sangat mencintai istrinya, hanya berjeda satu bulan dari permintaan Hasya kepadanya mereka pun pindah ke perumahan yang cukup hangat dan ramah lingkungannya. Selain itu rumah tersebut memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dari kantor Zehan dan sekolah anak-anak mereka. Alasan Hasya meminta pindah dari lingkungan mantion tentu saja karena ruang lingkung mansion yang ruang lingkungannya cukup tertutup. Tapi karena itulah Hasya yang sudah terbiasa tinggal berbaur dengan warga sekitar sewaktu ia tinggal di Ciwidey membuatnya tidak betah dengan lingkungan yang terlalu sunyi.

__ADS_1


"Bug!" Hasya membanting pintu mobilnya cukup keras, setelah menguncinya ia segera menghampiri Tania yang sudah ditenangkan oleh Zehan dan Jody.


"Sayang kamu ngga apa-apa nak?" tanya Hasya langsung meraih Tania kedalam pelukannya. Zesya pun berdiri disamping Jody. Tania hanya menggelegkan kepalanya.


"Yakin? Mending kita ke rumah sakit dulu yuk. Biar bisa di cek. Takutnya kamu kenapa-napa lho" ucap Hasya sambil memeriksa tiap bagian tubuh Tania.


"Aku ngga apa-apa tante. Aku cuma rada syok aja tadi, tapi udah ngga apa-apa kok,"


"Beneran?" Hasya bertanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya juga Tania.


"Beneran kok tante, aku ngga apa-apa. Lagian Zesya dan Jody tadi udah banyak bantu buat tenangin aku" ucap Tania berusaha meyakinkan Hasya yang terlihat masih mencemaskan keadaan dirinya saat ini.


"Ya udah, kalo gitu kamu ikut tante ya, soalnya mama kamu tadi bilang paling cepet baru bisa pulang besok pagi"


"Terus rumah aku gimana tante?" ucap Tania menunduk murung.


"Udah itu mah, biarin jadi urusannya petugas, nanti misal ada apa-apa biar Om Zehan yang urus"


Setelah berbicara dan mendapat izin pamit dari petugas kepolisian  yang menangani kebakaran tersebut Tania pun ikut pulang bersama Hasya ke kediaman Hasya dan keluarga. Zesya dan Jody pun mengikuti mobil yang dikendari Hasya dari belakang.


Begitu sampai di teras rumah Zefanya sudah terlebih dahulu menyambut mereka dengan teriakan khasnya memanggil Hasya.Tania tertegun memperhatikan rumah keluarga Hasya yang terlihat terlalu sederhana untuk ukuran keluarga pengusaha nomor tiga paling berpengaruh di indonesia. Rumah minimalis berlantai dua dengan dominasi warna putih, abu dan khaki. Yang menimbulkan kesan lega namun hangat.


"Ngapain bengong? Ayo masuk" ajak Zesya seraya melepaskan helm fullface-nya.


"Santai aja, anggap rumah sendiri" susul Jody yang rupanya sudah berdiri tepat dibelakang Tania yang masih memindai keadaan rumah Zesya. Dengan sungkan Tania mengikuti langkah Jody.



Hasya yang menangkap raut kebingungan dari Tania segera menurunkan Zefannya dari gendongannya, dan membiarkan anak itu bermain kembali dengan pengasuhnya.

__ADS_1


"Sini duduk sayang, anggap aja rumah sendiri" ajak Hasya sambil menarik lembut lengan Tania dan mengajaknya duduk dengan nyaman di sofa panjang yang ada di sana. Sekali lagi Tania hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Hasya. Selain ia masih merasa syok karena kejadian kebakaran rumahnya yang menurut kabar terbaru dari orang-orang suruhan Zehan hingga saat ini kebakaran masih belum bisa  dipadamkan seluruhnya oleh petugas damkar. Begitu ia sampai di rumah Zesya kembali ia dibuat terkejut dengan kesederhanaan keluarga tersebut. Dan entah kenapa justru membuatnya merasa lebih tenang dan nyaman untuk berada di sekitaran Zesya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2