
Sore itu Reifan menghabiskan waktu liburnya dengan duduk-duduk dan berjalan-jalan di sekitaran kebun milik warga, sesekali ia bercanda dengan penduduk yang ia temui. Tengah asyik menikmati pemandangan manik matanya menangkap seorang perempuan cantik sedang mengayuh sepedanya yang membawa beberapa jenis bunga dikeranjangnya. Yang tentu saja sosok itu langsung mengalihkan indera penglihatannya dari pada pemandangan sore itu.
Reifan terus memperhatikan perempuan itu. "GEBEDBRUAAAKK !!!" sepeda perempuan seketika jatuh tersungkur di badan jalan aspal saat tersenggol oleh sebuah motor yang di bawa tiga orang anak kecil. Tentu saja anak-anak itu langsung kabur ketakutan begitu melihat orang yang tidak sengaja disenggolnya jatuh. Beberapa orang buru-buru dan sigap menolong perempuan itu, begitu juga Reifan yang tidak ingin kehilangan moment tersebut. Menolong seorang perempuan cantik.
"Teteh teu nanaon?" (Teteh ngga apa-apa?") tanya Reifan sambil mengambil sepeda yang menindih paha perempuan itu. Hasya menoleh sekilas dan menggangguk.
"Bubar bubar,, si cantik mah milik si tampan" sindir seorang bapak-bapak yang juga ingin mengambil kesempatan untuk menolong Hasya. "The Power of goodlooking", "Hhuuuuuu" sahut orang-orang yang merasa tersindir oleh ucapan si bapak itu kebanyakannya memang para lelaki. Yang ternyata tujuan mereka menolong itu hanya agar bisa kenalan dengan perempuan cantik itu, mana tahu rezeki bisa berjodoh.
Selesai mereka bubar, tinggallah Reifan, Hasya dan seorang ibu-ibu yang terlihat sibuk membantu memunguti bunga-bunga yang berserakan lalu mengembalikan lagi pada keranjang sepeda yang sudah berdiri di sisi pinggir jalan agak jauh dari bahu jalan raya agar tidak mengganggu laju lalu lintas.
Reifan lantas mengulur tangan pada Hasya yang masih terduduk syok, Hasya melihat sekilas pada Reifan yang mengulur tangan sambil tersenyum padanya, kemudian ia mengambut uluran tangan Reifan " tangan yang halus" ungkap Reifan dengan suara lirih.
"Ya??" sahut Hasya karena mendengar Reifan mengatakan sesuatu namun kurang jelas apa yang dikataka pemuda itu karena deru kendaraan yang lalu lalang. Reifan yang gengsi jika ketahuan langsung menggeleng-geleng sambil terus mengulas senyum mengandung banyak arti dibibirnya.
Hasya lalu memeriksa dirinya sambil menepuk bagian belakang roknya yang mungkin kotor debu dan kriril jalanan, barulah ia merasakan ada sedikit perih dari lengan kirinya yang ternyata mengalami luka baret yang cukup luas dan mulai mengeluarkan darah.
"panangana getihan teh, kedah enggal diobatan." (Tangannya berdarah teh, harus cepat dioboti) kata Reifan sambil menyentuh lengan yang terluka. Si ibu yang masih di situ kemudian mendekati mereka berdua.
"Mampir di warung ibu we heula neng, istirahat sakedap supaya rada nenangkeun diri, da pasti rewas bieu teh, sakantenan eta luka na tiasa dibersihan hawatos bilih infeksi"(mampir di warung ibu aja dulu, istirahat sekedap supaya agak tenangin diri, kan pasti kaget barusan teh, sekalian itu lukanya bisa dibersihkan, khawatir takut nanti infeksi) tawar ibu tersebut, Hasya menggigit sedikit bibir bawahnya lalu melihat si ibu dan Reifan bergantian dengan ekspresi tidak enak hati.
"Ah teu sawios-wios lah bu, kin we di bumi, teu kedah ngerepotkeun "(ah ngga apa-apa lah bu, nanti di rumah aja, ngga perlu ngerepotin) tolak Hasya karena tidak ingin merepotkan.
"Eeh henteu atuh, hayu hiyap, tong kitu, eta tuh tinggali eta meni lega kitu bared na, mun di antep mah bisi tapakan, nyaah atuh kulit na"( Eh ngga dong, hayu sini, jangan begitu, itu tuh lihat baret lukanya luas begini, kalo dibiarin nanti ada bekasnya, sayang atuh kulitnya)
"Tapi bu.." Hasya masih berusaha menolak.
"Hayuk ah, tong isin-isin" ucap ibu itu sambil menyeret Hasya ke warungnya. Akhirnya mau tidak mau Hasya mengikuti langkah si ibu warung yang ramah itu diikuti oleh Reifan yang menuntun sepeda Hasya.
Si ibu warung keluar dari dalam warung, sambil membawa mangkuk berisi air hangat yang sudah diberi larutan det*l sebagai antiseptik kemudian duduk disamping Hasya yang duduk di bale-bale warung. Dengan hati-hati ibu warung mulai membersihkan darah yang mulai membeku dari luka di lengan Hasya dengan kapas yang sudah di celupkan dengan air hangat yang sudah di beri antiseptik.
"Aduuh duh." pekik Hasya mengaduh karena perih saat lukanya mulai dibersihkan. Seolah enggan mendengar aduhan Hasya ibu tersebut tetap membersihkan luka tersebut sambil sesekali meniupi luka tersebut, tiba-tiba saja Hasya jadi ingat mamanya disertai rasa bersalah karena sudah mengabaikan mamanya selama 7tahun hanya karena keegoisan dirinya yang kecewa pada Zehan.
__ADS_1
Dari bale-bale sebelahnya Reifan hanya memperhatikan dengan mimik seolah ia ikut merasakan perih dan ngilu dari luka di lengan Hasya.
"Didieu mah sering neng anu gebis teh, nyeta lah tos jalana rada nikung, tambah barudak pantaran SD SMP sing selebrung we nyandak motor na teh, giliran kieu mah kalabur teu daek tanggungjawab" Hasya tersenyum saat mendengar si ibu warung mengomel karena kejadian seperti ini sudah sering terjadi di daerah tersebut. Si ibu warung terus saja mengoceh hingga ia selesai membersihkan, mengobati serta membalut luka Hasya dengan kain kasa steril.
"Hatur nuhun bu"
"Sami-sami neng"
"Ari neng tos timana atanapi bade kamana atuh?" Reifan yang sejak tadi duduk di bale -bale di sebrang tempat duduk Hasya dan ibu warung mulai curi-curi dengar.
"Bade nganterkeun pesenan kembang bu, tapi kembang na rusak kitu mah ya paling enjing wae,"
"Oh neng icalan kembang kitu?"
"Muhun bu"
"Hmmm atuh rugi ari kitu mah"
"Tos resiko tukang icalan rugi mah"
"Nami neng saha, icalan kembang na di mana sugan kin atuh iraha-iraha ibu ka ameng ka toko neng milari kembang" Reifan makin menajamkan indra pendengaran.
"Nami abi Hasya bu, abi linggih di daerah Lebak Muncang bu, "
"Lumayan tebih atuh, kantenan kin uwihkeuna rada nanjak kin mah?"
"lumayan rada olahraga bu" Reifan masih menyimak lalu netranya tidak sengaja menoleh pada sepeda Hasya yang ternyata ban sepedanya agak bengkok. Sebelum ia akan angkat bicara tiba-tiba dering ponsel Hasya berbunyi. Reifanpun mengurungkan kalimatnya.
"Halo".. "Aku masih di jalan, tadi mau COD malah kesemrempet motor yang dibawa anak-anak bocil" ... " Ngga aku ngga apa-apa, cuma lecet doang," Hasya lalu melihat sepedanya yang terlihat agak aneh bentuknya. "Hmm kayanya aku harus ke bengkel sepeda dulu, ban sepedanya penyok"..."Ngga usah".... "Paling ganti ban doang ngga perlu beli baru"..." kamu mau jemput?.hmm.." ... " tapi kan mas lagi sibuk?" Reifan sedikit kecewa ketika Hasya menyebut kata "Mas" yanga artinya Hasya sudah ada yang memiliki, tapi wajar saja pikirnya wanita secantik itu tidak mungkin kalau belum memiliki pawang. "....."Ya udah kalo mau jemput aku mah nanti aku shareloc, gampamg kok posisi warungnya di pinggir jalan banget Mas" ... " Iya mas juga ati-ati, .." ..."Iya baweeell !!" ucap Hasya kemudian mematikan ponselnya.
"Pacarnya ya neng?" tanya si ibu warung menggoda Hasya yang wajahnya menjadi sumbringah setelah mendapatkan telpon barusan. Hasya menggeleng-geleng sambil tersipu malu.
"Ah ngga mungkin,, pasti pacarnya.. Iya kan?" si ibu warung makin meledek Hasya seolah mereka sudah kenal lama.
__ADS_1
"Iihh Bukan bu" sanggah Hasya malu-malu.
"Atuh, kalo bukan masa si neng jadi salahtingkah kieu? Atuh wios we, da ibu ge ngalaman ngora,, hheheehe"
Selang 30 menit, sebuah mobil hitam mendekati lalu parkir di dekat warung si ibu yang kebetulan memiliki pelataran yang cukup luas untuk tempat parkir kendaraan. Hasya menoleh begitupun Si ibu warung, dan Reifan yang melihat tampilan gahar mobil Zehan menunduk lemas hilang sudah kepercayaan dirinya.
" Tuit tuit" Zehan turun dari mobil dengan memakai celana pendek berwarna kakhi,kaos polo warna navi bergaris horizontal besar kecil, kaca mata hitam dan sandal jepit. Santai tapi tetap terlihat berwibawa.
Reifan menautkan kedua alisnya, ia seperti pernah melihat pria itu tapi entah di mana.
"Sayang kamu beneran ngga apa-apa, ngga perlu ke rumah sakit?" begitu Zehan mendapati Hasya dengan lengan sudah di balut kain kasa. perempuan itu hanya menggeleng.
"Tuh kan pacarnya.. hmm si neng mah"
"iih sanes bu.." sanggah Hasya namun dengan pipi merah merona.
"Eh Mas kenalin ini Ibu Heti, tadi beliau yang bantu ngambilin bunga dan ngobatin lengan aku, dan Aa yang di sana juga ikut bantuin aku bawain sepeda" Zehan mengangguk sambil tersenyum ramah pada Ibu Heti
"Zehan" ucapnya sambil menyalami Ibu Heti sopan
"Panggil saja ibu Heti"
Namun raut wajahnya seketika berubah ketika hendak bersalaman dengan Reifan. Tentu saja pemuda itu langsung peka dan paham dengan situasi semacam ini, seolah ia sedang bertemu musuh.
"Zehan,"
"Reifan"
"Terima kasih ya Mas, tadi sudah menolong dan membantu istri saya." ucap Zehan saat menjabat tangan Reifan, meski ia tersenyum namun sorot matanya tajam menatap pemuda itu, jelas ini bukan bersalaman atau sekadar berterima kasih biasa seperti dengan ibu Heti, tapi ini lebih ke sebuah peringatan agar Reifan mengurungkan niatnya untuk mendekati Hasya setelah hari ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Alasan bapak-bapak minggir dulu pas Dede Reifan nolongin teteh Hasya, 😅