
Pagi itu Galuh sudah bisa kembali bekerja, terlihat ia tengah sibuk merapikan dan mengecek stok barang yang ada di rak etalase. Gadis itu berusaha fokus saja dengan apa yang tengah ia kerjakan. Meskipun sesekali ia melihat ke arah luar, tidak bisa dipungkiri ia masih berharap Zehan datang ke minimarket kemudian kembali menjelaskan bahwa apa yang Zehan katakan padanya tempo hari itu cuma alasan semata karena melihat dirinya terlalu bersemangat untuk mengejar pria itu.
Sayangnya ia harus berkali-kali kecewa karena hingga hampir 2 minggu berlalu pria itu tidak juga pernah sekalipun datang ke toko. Terkadang ada dorongan kuat dalam dirinya ingin menghubungi pria itu untuk sekedar bertanya kabar atau hanya sekadar mendengar suaranya saja. Namun pada akhirnya Galuh urungkan keinginannya karena ia juga tidak ingin melukai dirinya lebih dalam lagi.
"Luh, kamu ada masalah apa? Perasaan dari sejak kejadian kamu janjian sama pemilik dompet itu kamu murung terus? kenapa?" Galuh mendelik sekilas sahabatnya itu namun malah ia abaikan pemuda itu, dia beranjak dari tempatnya dan kembali fokus pada pekerjaannya memerikasa stok barang-barang di rak dengan raut wajah yang tidak berubah. Tetap mendung dan murung.
...----------------...
"Pah, Mah tolong jaga Zesya ya?" pinta Hasya pada orangtuanya.
"Kamu tenang saja Sya, mama dan papa pasti jagain Zesya dengan baik, sudah kalian cepat berangkat nanti malah kena macet" seru mama Vera. Hasya lalu memeluk dan mecium tangan kedua orang tuanya bergiliran, lalu ia beralih pada Zesya anak semata wayangnya, dia lalu berlutut dan memeluk anaknya itu karena selama ini Hasya hampir tidak pernah meninggalkan Zesya, sekalipun dia ada event di luar kota ia akan tetap membawa putranya itu meski harus sedikit kerepotan dengan segala keperluan putranya itu. Hasya lalu menangkup pipi Zesya dengan lembut.
"A,, harus nurut sama kakek dan nenek ya, selama mama dan papa pergi jangan main ke rumah teman dulu, kalo mau ajak teman Aa ke rumah aja ya" kata Hasya dengan raut kesedihan.
"Aa janji, Aa ngga nakal. Aa nurut sama kakek nenek. Mama harus sembuh biar Aa cepet punya dede bayi" jawab Zesya sambil mengulas senyum manis untuk mamanya.
__ADS_1
"Kamu ini adek bayi terus" gerutu Hasya. Lantas Zehan pun berpamitan pada kedua orang tua Hasya,
"Kami berangkat ya ma pah" pamit Zehan, kedua orang tua itu hanya mengangguk dan tersenyum pada menantu mereka itu. kemudian Zehan memeluk putranya dengan gemas lantas mengacak-acak rambut Zesya.
Setelah di dalam mobil Hasya dan Zehan melambaikan tangan mereka terlebih dahulu lalu Zehan mulai menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan Ciwidey menuju Singapura, untuk pengobatan Hasya selanjut. Menurut hasil observasi yang dilakukan oleh klinik di sana, Hasya didiagnosa memiliki miom di dekat indung telur. serta kista di area leher rahimnya. Hasya bukan tidak bukan tidak penyebab kenapa selama ini, setiap masa menstruasi lebih lama dan banyak, sering buang air kecil, bahkan terkadang tidak bisa menahan buang air kecil, kesulitan buang air besar, dan rasa nyeri yang sangat amat pada saat menstruasi hingga sering menyebabkan Hasya pingsan. Ia hanya sedikit trauma jika harus menjalani semuanya sendirian di rumah sakit seperti dulu ia melahirkan Zesya. Dan karena itulah ia lebih memilih menahan semua kesakitannya daripada harus menjalani pengobatan lanjutan, yaitu operasi.
"Ayo A, kita masuk" ajak Mama Vera.
"Nek, hiikkss. mama pasti pulang kan Nek hiikss " akhirnya tangis anak itu pecah setelah mobil orangtuanya benar-benar sudah meninggalkan area rumah. Mama Vera menatap iba cucu lelakinya itu. Lantas ia bersimpuh agar bisa mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi anak itu.
"Mama kamu adalah orang kuat A, jadi tolong percayakan semuanya ya"bujuk Pak Yeon-Ji yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya akhirnya ia pun ikut ikut bicara, kemudian tanpa menunggu jawaban dari cucunya itu ia meraih tubuh kecil anak itu dan memangkunya masuk ke dalam rumah.
...----------------...
Hasya dan Zehan sudah sampai di Ascott Orchard, yang berjarak sekitar 300m ke Mount Elizabeth Hospital, mereka hanya mennginap semalam saja di sana, karena sebelumnya Zehan sudah terlebih dahulu mereservasi Royal Suite room untuk tempat tinggal mereka selama Hasya menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut. Ia sengaja tidak langsung menuju rumah sakit agar perasaan Hasya tidak terlalu tegang selama berobat nanti.
__ADS_1
Begitu memasuki kamar Hasya segera meletakan slingbag-nya di single sofa yang tersedia di sana. Di sepanjang perjalanan tadi Hasya lebih banyak diam meski sesekali Zehan berusaha untuk mencairkan suasana diantara mereka berdua. Hasya lalu berdiri di dekat kaca jendela menerawang ke arah luar kawasan hotel itu, wajahnya nampak masih pucat, serta selalu murung. Entah apa yang sedang memenuhi pikirannya saat ini.
Zehan yang sudah meletakan barang-barang mereka, segera mendekati Hasya, perlahan tangannya yang kokoh melingkar di pinggang Hasya yang ramping, lalu memeluk Hasya dari belakang dengan lembut sambil menikmati wangi rambut istrinya itu. Hasya sedikit terkejut dengan perlakuan suaminya tersebut namun juga ia tidak berusaha untuk menolaknya.
"Sayang, kamu ngga capek?" tanya Zehan sesaat setelah mencium bahu istrinya itu. Hasya hanya menggeleng tanpa memperdulikan suaminya.
"Kamu masih marah karena tempo hari aku makan malam dengan gadis itu?" ekor mata Hasya sedikit tajam saat melirik ke arah sumber suara di mana kepala Zehan bertengger di bahu kanannya dengan raut manja. Ia merasa terusik saat Zehan mulai membahas gadis itu. Cemburu? sudah pasti. Tapi kemudian hanya penghela nafas panjang tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Yang, aku bersumpah, aku mengajak malam gadis itu cuma sebagai ungkapan terima kasih ku karena sudah jujur mengembalikan dompetku" jelas Zehan lagi
"Aku tau, kamu sudah menjelaskannya berulang mas"
"Tapi kamu masih marah kan sama mas?"
"Aku bukan marah mas, cuma.. ah sudahlah.. aku capek ingin mandi dan istirahat" jawab Hasya ketus melepaskan tangan Zehan yang melingkar diperutnya lantas menuju kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti. Di saat yang bersamaab Zehan membuang nafasnya, frustasi. Ia makin merasa bersalah pada Hasya, niatnya hanya ingin membuat wanita itu cemburu, namun bukan hanya sekedar cemburu yang Zehan dapatkan adalah lebih pada perasaan kecewa yang makin membuat jarak mereka makin menjauh.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...