The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 29


__ADS_3

"Aku tau, kami bersalah padamu Ze. Hiks.. aku minta maaf padamu. Aku mohon jangan buat anak ku menjadi seorang yatim karena dendam di masa lalu kita Ze.. hiks.. hikks.." tangis Alexa akhirnya pecah tak bisa ia bendung lagi. Tubuhnya menggigil dan tiba-tiba.. Bruk!! Alexa jatuh pingsan begitu saja di depan meja Zehan.


Zehan yang melihat hal itu segera menghampiri Alexa yang sudah tak sadarkan diri di lantai ruangannya.


"Widia!! Widiaaaaa!! Cepat kemari !!" teriak Zehan panik pada saluran interkomnya. Zehan meraih tubuh Alexa lalu menepuk nepuk pipi Alexa yang tengah pingsan.


"Lexa, Lexa bangun !! Lexa !! bangun !!" kata Zehan dengan panik.


"Ada apa pak ?! Ya Tuhan, ibu Alexa kenapa pak?" tanya Widia ikutan panik.


"Aku tidak tau dia tiba-tiba pingsan Wid, coba kamu cari sesuatu di kotak P3k itu." seru Zehan, dengan sigap Widia menuju kotak P3K yang tersedia di sana ia menyambil kayu putih untuk di gosokan pada Alexa, namun langkahnya terhenti begitu melihat cairan bercampur dar*h segar mengalir di antara kaki Alexa.


"Pak !! Ibu Alexa pendarahan pak !! " teriak Widia histeris sembari menunjuk bagian yang dibanjir dengan ketuban dan dar*h Alexa.


"SHITTT !!" umpat Zehan, segera ia mengangkat tubuh Alexa yang terkulai lemah lalu membopongnya keluar.


"Wid, kamu cepat hubungi pak Edy untuk menunggu saya di lobby sekarang!" seru Zehan lalu berlalu menuju lift tanpa menunggu jawaban dari Widia.


...---------------...

__ADS_1


Sudah hampir 1 jam Zehan mondar mandir dengan perasaan bercampur aduk di depan pintu operasi. Ia menunggu dengan cemas kabar dari ruangan tersebut. Bagaimana tidak ia merasa khawatir, ketika mereka tiba di rumah sakit tersebut, ternyata Alexa sudah masuk pada pembukaan delapan. Operasi caesar terpaksa Zehan setujui mengingat Alexa sudah mengalami pecah ketuban dan pendarahan hebat serta tekanan darah yang terus menurun. Di tambah lagi ia mendengar kabar, jika Deren tengah dalam keadaan koma karena kecelakaan tunggal yang di alaminya hari itu.


Netra Zehan menatap lantai rumah sakit dengan gusar, kedua tangannya meremas rambutnya dengan frustrasi, kemudian ia menyugarnya lalu menatap ke arah pintu ruang operasi. Tidak lama kemudian seorang perawat datang dengan membawa tempat tidur bayi lalu mendekatinya.


"Permisi pak, bayinya silahkan di adzani dulu, sebelum kami bawa ke ruang perawatan bayi." Zehan mendelik dengan alis yang saling bertautan. Tanpa menjawab seruan perawat itu Zehan lalu bangkit lantas menggendong bayi itu, ia menatap lama wajah bayi mungil tersebut, lalu melihat sekilas ke arah sang juru rawat.


"Allahu akbar, Allahu akbar ,Asyhadu Allaa ilaaha illa Allah Asyhadu Allaa ilaaha illa Allah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya'alash shalaah Hayya'alash shalaah, Allahu akbar Allahu akbar Laa ilaaha illa Allah ." setelah selesai Zehan meletakan kembali bayi Alexa itu ke tempat tidurnya.


"Bayinya mau di beri nama siapa pak?" tanya perawat itu kembali. Zehan mendengus lirih kemudian berpikir sejenak. "Dean Antonio Fayolla" ucap Zehan singkat. Perawat itu lalu mencatatnya kemudia pamit untuk ke ruang inap khusus bayi.


"Drrrttt..Drrtttttt" Zehan merogoh ponsel di saku celananya dan betapa terkejutnya setelah melihat puluhan panggilan tak terjawab dari istrinya.


"Mas kemana aja ? Dari tadi aku teleponin ngga di angkat-angkat." jawab Hasya langsung memberondong Zehan dengan sedikit omelan.


"Maaf ponsel mas tadi di silent" jawab Zehan singkat.


"Mas di mana?"


"Di rumah sakit, Alexa tadi ke kantor, eh malah pendarahan, sekarang mas udah mau pulang kok, nanti mas cerita di rumah ya" dari seberang sana terdengar helaan nafas panjang dari Hasya.

__ADS_1


"Baiklah tolong segera pulang" ucap Hasya terdengar serak dan lirih seperti sedang menahan sesuatu. Zehan memang tipikel suami yang cuek, dingin namun cukup peka untuk hal semacam ini, namun untuk harinya sudah terlalu buruk dan terlalu banyak kejutan hingga ia malas menjelas apalagi berdebat dengan Hasya.


...----------------...


Zehan berjalan memasuki mantionnya, tercium aroma masakan dan suara seorang wanita bernyanyi-nyanyi riang dari arah dapur. Zehan menyimpaikan Jasnya di sandaran kursi, dan meletakan tas laptopnya di atas meja makan. Lalu dengan perlahan ia merangkul perut ramping istrinya dan menaruh kepalanya di bahu Hasya. Hasya menoleh lalu tersenyum saat melihat suaminya memejamkan matanya di bahunya. Ia tidak terkejut saat Zehan melakukan hal itu karena sejak tadi ia sudah bisa mencium aroma khas dari tubuh suaminya itu.


"Kenapa mas?" tanya Hasya lembut sembari terus mengaduk-aduk masakannya yang hampir siap. Zehan mendengkus meletakkan segala masalahnya bersandar dibahu Hasya. "Nyaman dan lembut" ungkap Zehan saat mencium lembut tengkuk Hasya. Ada kedamaian direlung hatinya saat ia melakukan hal itu.


"Sayang, kalo Mas ada salah, mas minta maaf" ungkap Zehan tiba-tiba, mendengar hal itu Hasya yang merasa heran segera mematikan nyala api dikompornya karena kebetulan masakannya juga sudah matang tinggal disajikan saja. Lalu perempuan itu memutar tubuhnya menghadap pada suaminya yang terlihat lelah. Kemudian ia merangkul suaminya dengan lembut.


"Aku tidak tau apa yang terjadi hari ini pada mu Mas, tapi jika kamu lelah kamu masih ada aku yang bisa kamu jadikan sandaran saat kamu lelah. Kamu suami ku, sudah seharus saling berbagi segala hal dengan ku, jika kamu tidak bisa bercerita saat ini, tenang saja aku tidak akan menuntutnya." ungkap Hasya dalam pelukan suaminya.


...----------------...


Dua bulan berlalu setelah kejadian itu , Zehan akhirnya membawa Alexa dan bayinya ke Mantionnya. Meski pada awalnya Zia ngotot melarang Zehan melakukan hal itu tapi mau bagaimana lagi jika sang nyonya rumah mengizinkannya. Sebenarnya Hasya juga sangat terkejut dengan keputusan Zehan untuk membawa Alexa tinggal di mantion mereka, namun setelah mendengar jika Deren masih koma, sedang orang tua Alexa di luar negeri dan orang tua Deren tinggal luar seberang pulau Kalimantan meski mereka bisa sering mengunjungi Alexa namun tetap mereka tidak bisa tinggal lama-lama di Jakarta selain karena pertambagan juga karena mereka sebenarnya kurang setuju dengan pernikahan Deren dan Alexa jika bukan karena Alexa sudah hamil duluan mereka sangat menentang pernikahan tersebut.


Satu kamar tamu Zehan rubah untuk menjadi kamar Alexa dan bayinya. Ia nampak sibuk menyiapkan segala keperluan bayi Alexa. Tanpa ia sadari dibalik senyum istrinya yang selalu terlihat hangat ada kepedihan karena menyadari hingga saat ini ia belum juga bisa memberikan Zehan seorang anak meski pernikahan mereka belum ada satu tahun dan Zehan selalu mengatakan "nanti saja kita nikmati masa pacaran setelah menikah tanpa seorang anak dulu" namun saat ia melihat tingkahlaku yang kontradiktif saat ia menyiapkan segala hal untuk bayi Alexa hatinya terasa tersayat ditambah beberapa waktu ini Zehan sering mengabaikannya dengan alasan sibuk atau capek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2