The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 41


__ADS_3

4 bulan berlalu, namun percarian Hasya masih nihil. Ia benar-benar seperti di telan bumi, menghilang tanpa jejak. Tidak kurang 200 orang detektif profesional terlatih yang di sebarkan Zehan untuk mencari keberadaan Hasya namun tetap saja hasilnya nihil.


"Zi, ini tehnya.." kata Alexa sambil meletakan gelas yang berisi teh krisan di meja lalu berdiri di belakang samping kanan Zia.


"Hmm.." sahut Zia seolah tidak memperdulikan keberadaan Alexa.


"Zi,,.."


"ya...?" sahut Zia mengangkat kepalanya, sedikit menoleh,lalu ujung matanya mengarah ke arah Alexa.


"Apa kamu tidak merasa janggal?" kata Alexa hati-hati.


"Maksud mu??" Zia sedikit penasaran.


"Aku merasa kalau Hasya seperti disembunyikan orang lain" Zia sedikit menautkan kedua alisnya seperti baru saja menyadari sesuatu.


"Benar juga, kalau kak Hasya hanya kabur, anak buah kakak pasti sudah bisa menemukannya dengan mudah tapi ini sudah beberapa bulan, dan pencarian masih nihil " batin Zia


"Lalu apa kamu mencurigai seseorang?" tanya Zia menjadi sedikit serius.


"Apa kamu sudah menyelidiki semua orang-orang yang Hasya kenal?"


"Tentu saja. Bahkan Kevin juga sudah berada dalam pengawasan kakak ku sejak kak Hasya menghilang."


"Coba pikirkan lagi siapa orang yang mungkin luput dari pemikiran kita selain orang-orang itu." Zia terdiam sesaat lalu mengambil ponselnya.


"Kakak, sepertinya aku tau seseorang yang bisa menyembunyikan Kak Hasya dengan sangat rapi" ujar Zia menerawang jauh.


...****************...


Zia turun dari mobil kakaknya, lalu mengedarkan penglihatannya sejauh matanya memandang nampak halaman yang cukup luas dan asri, tidak terlalu banyak bunga namun banyak jenis sayuran dan buah-buahan tertanam di sana.



Sedang letak bangunan rumahnya mungkin berdiri di bagian


puncak bukitnya.

__ADS_1


"Hah hah hah..siapapun bisa tetap berolah raga jika tinggal di sini, tapi siapa yang akan menyangka bangunan sederhana na berpenghuni konglomareta paling berpengaruh di Indonesia. selera yang unik," gumam Zia sambil mengatur pernafasannya yang terengah-engah setelah meniti beberapa anak tangga yang menjadi akses satu-satunya menuju rumah utama, mungkin harus meniti sekitar 10 menit bagi yang belum terbiasa.


"Selamat datang di gubuk kami ini nona Zia, tuan Zehan" sambut Nayuwan. Namun entah kenapa aura Nayuwan terasa sedikit berbeda, bahkan Zia sedikit merasa merindung saat melihat senyum yang mengulas di bibir Nayuwan.


"Hah..hah... Apa ibu sengaja membuat rumah ini agar penghuninya tetapa sehat karena harus berolah raga setiap waktu sebelum beraktifitas normal? hah hah?" tanya Zia masih mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena dia sudah lama tidak melakukan olah raga. Mendengar hal itu Nayuwan hanya tersenyum.


"Sekali dayung 2-3 pulau terlampaui bukan? Hemat biaya, kan olahraga tidak selamanya harus ke tempat Gym?" sahut Nayuwan mengekeh.


"Ya ya.. orang kaya memang selalu berpikir bagaimana agar selalu berhemat saat menikmati uangnya" jawab Zia.


"Mari silahkan duduk dulu atau mau di dalam?" tawar Nayuwan pada Zia dan Zehan yang masih fokus pada hamparan tanah yang luas dan hijau di area rumah tersebut



"Di sini saja bu, adem liat pemandangannya" jawab Zia jujur.


"Baik, ayo- ayo nikmati pemandangannya sambil duduk dan minum dulu, pasti cape kan abis nanjak tangga hehhehe"


"I iiya bu, makasih," Jawab Zia sedikit menjadi sedikit sungkan.


"Iih kok panggil ibu, teteh aja, ngga usah formal-formal." kata Nayuwan sambil menghidangkan teh yang masih mengepul dan juga beberapa kudapan buatannya sendiri.



"Sayangnya, itu buatan ART saya, saya hanya bantu makan" jawab Nayuwan.


"Mari-mari di coba dulu, sambil ngilangin capeknya. Baru kita ngobrol serius." kata Nayuwan ramah, dan lagi-lagi tiap kata yang diucapkan Nayuwan seperti sengatan listrik yang menjalar di tubuh kakak-beradik itu yang membuat mereka merasa makin tertekan padahal saat dulu jika mereka berkunjung bersama Hasya mereka tidak pernah merasakan perasaan sehoror ini. Mereka hanya menduga-duga mungkin karena suasana di rumah tersebut saja yang berbeda auranya.


Setelah bercengkrama ngalor ngidul hampir 10 menit, barulah Nayuwan benar-benar menatap mereka dengan tatapan yang lebih mengintimidasi dari sebelumnya.


"Jadi.. Kenapa kalian baru datang pada ku setelah hampir 4 bulan?" tanya Nayuwan sambil meletakan gelas tehnya dengan perlahan dan anggun. "DEG! " kedua kakak-beradik itu saling menatap satu sama lain, dan perasaan merinding yang sejak awal mereka rasakan makin menekan bulu kuduk mereka.


"Jadi sejak awal teteh sebenarnya sudah tau?" selidik Zia dengan alis saling menaut. Nayuwan membuang nafasnya terlebih dahulu lalu ia beranjak dari tempat duduknya sambil berpangku tangan diikuti tatap mata Zia dan Zehan lalu berdiri membelakangi mereka


"Ekheemm.. Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dalam masalah kalian, tapi karena Hasya datang kepada dan meminta bantuanku, ya mau tidak mau aku akhirnya membantunya karena satu alasan."


"Alasan?" Zehan mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Ya sebuah alasan yang menurutku cukup menarik"


"Jadi benar, jika selama ini Hasya berada dalam perlindungan teteh?"


"Perlindungan.. memang kalian lagi perang?"


"Ya sebenarnya tidak perang 100% tapi bisa di anggap seperti itu, tapi sekarang semua masalahnya sudah selesai." terang Zehan.


"Perang kalian sebagai manusia mungkin sudah selesai, tapi bagaimana dengan trauma anda pak Zehan, bukankah anda masih terkurung di sana? Anda bahkan memiliki krisis kepercayaan. Padahal harusnya sebelum anda memutuskan memiliki hubungan baru, anda sudah menyimpan rapat semua itu?"


"Saya tau, saya salah bu" kata Zehan tertunduk pasrah. Nayuwan hanya melihat dari ujung ekor matanya.


"haaahhhh... kaku banget ya kalo harus berbicara bahasa formal. Jadi terlalu serius. Sudahlah toh itu memang masalah kalian aku hanya membantu sesuai permintaannya saja."


"Maksud ibu.." tanya Zehan bingung.


"Iish, jangan panggil aku ibu, aku belum setua ibu mu." kata Nayuwan tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


"Ah...jadi apa teteh bisa memberitahu kami di mana keberadaan Hasya sekarang"


"Ahmm... sayangnya tidak,.." Zehan menatap Nayuwan dengam raut memelas pasrah.


"Tapi.."


"Tapi apa bu.. eh.. teh" ucap Zehan meralat kalimatnya.


"Tapi aku bisa memberi kalian clue agar kalian bisa menemukannya."


"Kenapa tidak langsung alamat pastinya saja teh" ungkap Zia mulai gusar. Nayuwan menggeleng sambil tersenyum.


"Pck ! Masih untung aku tempatkan dia masih di dunia manusia ! Coba misal aku tempatnya dia bersama Yusuf, sampai kiamat kalian tidak akan menemukannya" batin Nayuwan julid sendiri.


"Ini bentuk hukuman untuk mu dari Hasya, Mas Zehan. Dia ingin kamu lebih menyadari pentingnya keberadaan dirinya untuk mu. Agar kamu juga bisa lebih menghargainya. Dan juga bisa belajar lebih mempercayainya. Ingat sebuah hubungan jika terus dikaitkan atau selalu dibandingkan dengan masa lalu itu malah akan berujung kehancuran. Pada akhirnya penyeselan terbesarmu adalah ketika kamu menyadari bahwa perasaanmu ternyata terlalu dalam dan dia lah yang paling tulus mencintaimu. Jika kamu terus terombang ambing dengan masa lalu bukankah memang lebih baik dia pergi, demi menjaga dirinya sendiri, supaya ia tidak terluka makin dalam."


"Aku menyesal karena dibutakan oleh cemburu."


"Cemburu seorang suami adalah kebaikan bagi istri, tapi.. tetap saja kamu harus lebih bijak dan harus bisa mendengarkan istri mu bukan malah mendengarkan orang lain. Karena ia akan makin berpikir artinya ia selama ini memang tidak layak berada disisi mu, dia merasa jika dalam hubungan ini hanya dialah yang berjuang dan bertahan, sedang mas Zehan masih terombang ambing, seperti anak SMA yang masih labil. Terlihat sangat tidak keren bukan?" ucap Nayuwan dengan nada julid.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2