
Jam sudah menunjukan jam 2.38 sore saat Zehan baru mengantarkan Zesya pulang ke rumahnya. Meski masuk ke dalam gang tapi mobil Zehan tetap bisa masuk ke dalam rumah Zesya yang letaknya sekitar 10 menit dari Toko bunga. Setelah ia memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah, lalu Zehan segera turun untuk membukakan pintu mobilnya untuk Zehan. Ia memperhatikan dengan seksama area rumah tersebut, sangat rapi bersih dan asri dengan berbagai tanaman dan bunga hias yang tertata cantik.
"Hati-hati."
Hap !! Zesya sedikit melompat turun dengan wajah gembira. Kemudian Zehan berjongkok dihadapan Zesya sambil menatap dan mengusap lembut kepala Zesya dengan penuh kasih lalu memeluknya beberapa saat dan Zesya pun membalasnya dengan hangat.
****************
Di sepanjang hari Hasya benar-benar merasa tidak tenang sama sekali, risau dan cemas terus menggelayuti perasaannya. Meski begitu ia masih berusaha berpikir positif putranya akan segera pulang, namun jika besok tetap tidak pulang baru ia akan melaporkannya kepada polisi setempat.
Jam dinding baru menunjukan pukul setengah tiga sore, akhirnya ia memutuskan untuk menutup tokonya, pikiran Hasya terlalu kacau hari ini. Sepanjang ia mengayuh sepedanya dari sekolah tadi berbagai pertanyaan pun memenuhi isi kepalanya.
Dengan gontai ia menapah sepedanya menuju rumahnya dengan pikiran yang sembrawut "Benarkah itu Zehan? Benarkah ia sudah bisa menemukan persembunyian ku?" belum selesai dengan segala pertanyaannya, tiba-tiba detak jantung Hasya berdetak lebih cepat saat melihat sebuah mobil Ranger rover hitam sudah terparkir di pekarangan rumahnya yang cukup luas. Buru-buru menstandarkan sepedanya. Lalu ia segera bergegas untuk memastikan semuanya.
Samar-samar ia mendengar suara Zesya sedang bercanda dengan seseorang. Dengan hati-hati Hasya melangkahkan kakinya, alangkah terkejutnya dengan pemandangan yang sedang dilihatnya saat ini.
Hasya menatap punggung seorang pria yang sedang berjongkok dihadapan putranya sambil mengelus lembut kepala bocah itu dengan mata yang terbelalak bulat. Karena masih tidak percaya jika pria itu benar-benar Zehan, suami sekaligus ayahnya Zesya.
"Tu.. Tuan Zehan? Sedang apa di sini?"
"Menurutmu??" sahut pria itu dengan wajah yang mengeras menahan perasaan yang siap membuncah saat itu juga.. Zesya menghela nafas jengah saat melihat ekspresi Hasya yang malah seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
"Bisa kalian jelaskan sesuatu pada Zesya?" Zehan dan Hasya menoleh pada Zesya yang melempar tatapan tajam dan dingin pada mereka berdua.
...****************...
Hasya duduk diujung sofa panjang diruang tamu berdampingan dengan Zehan yang duduk di ujung sebelehanya. Sedang Zesya duduk sofa single lainnya tepat menghadap pada orangtuanya dengan tatapan dingin mengintimidasi. Hasya menoleh ke arah bertolakan dengan Zehan, meski sesekali ia mencuri pandang ke arah pria itu. Begitupun dengan Zehan baru kali ini ia merasakan canggung dan gugup yang luar biasa saat didudukan oleh putranya. Padahal dulu saat menikahi Hasya tidak secanggung dan segugup ini.
"Sya, urusan kita masih belum selesai !" bisik Zehan saat putranya mengambil susu coklat di dalam kulkas. Hasya langsung melempar tatapan tajam begitu menangkap bisikan Zehan.
__ADS_1
"Heii yang seharusnya membuat perhitungan itu aku bukan kenapa malah dia yang jadi marah dasar laki-laki tidak peka !! ?? " batin Hasya.
" Mama.." Zesya menatap tajam pada mamanya.
"Ya..?" jawab Hasya terkejut lantas berusaha tersenyum meski dipaksakan pada Zesya yang menatapnya tajam, agak seram sebenarnya saat Hasya melihat putranya itu
"Ma, yang baru berusia 6tahun itu Zesya lho ma, bukan mama" Zehan mengekeh tipis lalu menutup bibirnya yang mengulum dengan tangan kanannya saat putranya menyindir perempuan disampingnya itu.
"Ekhemm..." Hasya berdehem seraya menatap tajam pada Zehan yang sedang mengulum bibirnya supaya tidak tertawa lepas. Suasana kembali hening.
"Mama tidak mau menjelaskan sesuatu?"
"Apa yang harus mama jelaskan?" sahut Hasya sewot.
"Ya misal menjelaskan apa lelaki di samping mama itu benar mantan suami mama sekaligus papaku?"
" Oh artinya aku bukan anak haram, baguslah!" ketus Zesya membuang nafas lega lantas kembali menyedot susu coklatnya.
"Siapa yang bilang kamu anak haram hah? Siapa bilang sama mama Zes?!!" Hasya seketika naik pitam begitu mengetahui anaknya ada yang membully dengan sebutan anak haram.
"Sejak TK Zesya sudah terbiasa dengan bully-an tersebut, makanya selama ini Zesya jarang memiliki teman karena malas dengan ejekan mereka" Hasya berhambur memeluk erat putranya saat baru menyadari seberapa berat beban yang ditanggung anaknya selama ini.
"hikss.. Kenapa Zesya ngga pernah cerita sama mama kalo selama ini suka ada yang jahatin kamu nak hikss?"
"Untuk apa ma, toh Zesya tetap ngga bisa membuktikan kalo Zesya punya papa"ungkap Zesya sambil menghapus air matanya.
"Ya Allah nak, maafin mama ya hikss.."sesal Hasya.
"Ini semua gara-gara papa nak, papa yang terlambat mengetahui keberadaan kalian, hiks.. maafin papa.." untuk sesaat mereka saling berpelukan bersama.
__ADS_1
"Jadi papa dan mama udah bisa baikan belum?" tiba-tiba pertanyaan Zesya merusak moment haru tersebut. Buru-buru Hasya melepaskan diri dari pelukan itu.
"Iiissh kenapa sih perasaan orang dewasa itu begitu rumit. Padahal hanya butuh satu kata untuk menyelesaikannya. benar kan Om Zehan?" kembali Zehan mendelik tajam saat Zesya memanggilnya dengan sebutan om bukan papa seperti tadi di restauran. Zehan berpikir sejenak mencerna apa yang dikatakan putranya itu. Lalu ia menegapkan tubuhnya membuang nafas untuk mengurai rasa gugupnya.
"Papa minta maaf karena baru bisa menemukan kalian setelah 7 tahun berlalu" ungkap Zehan sambil berlutut di antara Hasya dan Zesya. Hasya segera memalingkan wajahnya, agar menyembunyikan lelehan air matanya. Ada perasaan bahagia tapi ia juga tetap merasa kecewa atas sikap Zehan selama ini, terlebih lagi 7 tahun lalu Zehan seolah menjadikannya pelarian semata atas kekecewaannya pada Alexa. Hasya berusaha keras menahan semua gejolak emosinya agar tidak meledak saat itu juga.
" Papa bersalah nak, karena lebih percaya pada orang lain dibanding mempercayai mama mu itu lah yang membuat mama mu menjadi marah hingga meninggalkan papa saat itu" Zehan berusaha menjelaskan duduk permasalahannya.
"Tapi mama mu juga salah, sudah tau papa mu cemburuan masih juga pergi bersama pria lain diam-diam dibelakang papa" rajuk Zehan.
"TUAN ZEHAN,, !! SAYA KAN SUDAH BILANG PADA ANDA WAKTU ITU ! SAYA DAN KEVIN TIDAK SENGAJA BERTEMU, heran susah banget dibilanginnya heran ? !! " bentak Hasya sewot, ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Zesya mengbuang nafas percuma begitu mendengar kedua orang tuanya mulai bertengkar.
"Ahhh.... sungguh harmonis sekali keluarga ini, kalo begitu kenapa mama ngga minta cerai aja sama suami mama itu, kan jadinya Zesya bisa punya papa baru"
"Zesya !" geram Zehan melotot pada Zesya.
"Daripada kalian bertengkar seperti ini, bukankah lebih baik kalian bercerai saja!?" ucap Zesya dingin lengkap dengan gesture tubuhnya yang seolah mengece kedua orangnya dengan kaki kanan menyilang, juga kedua tangannya yang mungil saling menyilang di dadanya.
"Sya sebenarnya kamu mengajarkan apa pada anak kita, hingga dia bisa memiliki lidah yang tajam dan sadis serta sikap yang seangker seperti ini" tanya Zehan pada Hasya yang masing mengerucutkan bibirnya makin kesal dengan kelakuan anak dan bapak ini.
"Tuan pikir dari mana datangnya semua sifat itu menurun, bahkan parasnya saja semuanya menjiplak pada anda !" sewot Hasya lebih ketus. Lagi-lagi Zesya menghela nafas ketika mendengar kedua orang tuanya mulai berdebat meski suara mereka dibuat lirih .
" Hahhhh.... " Zesya kembali menghela nafas 😑"Sudahlah !!Melihat kalian berdua seperti ini, Zesya sekarang makin yakin kalo Zesya memang adalah anak kalian berdua" Hasya mengernyih dengan ucapan Zesya yang menohok, "kalian lanjutkan aja bertengkarnya, Zesya capek," Hasya kembali mendelik heran kemudian memutar matanya malas saat mendengar ucapan Zesya barusan.
Setelah Zesya benar-benar masuk ke kamarnya, kini giliran Zehan yang melempar tatapan tajam pada Hasya. Merasakan hal itu Hasya berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
"Sya, bukankah kita perlu membicarakan banyak hal, terutama mengenai Zesya." ungkap Zehan dengan nada menekan. Netra Hasya berlari kesana kemari menghindari tatapan Zehan yang menatapnya dengan tatapa seperti akan menelannya bulat-bulat. "Glek ! Celaka aku" ucap Hasya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1