
Tepat ketika memasuki area Ciwidey, hujan sudah turun dengan derasnya, Hejun sempat terkejut ketika melihat hujan yang turun ternyata bukan hanya air saja tapi juga es baru berbagai ukuran, serta jarak pandang jalanan mungkin hanya satu atau dua meter saja terhalang derasnya hujan yang berkabut dengan terpaksa Hejun sedikit mengurangi kecepatan mobilnya meski bossnya terus saja mengomel saat ia mengurangi kecepatannya. biar bagaimana pun ia belum bertemu malaikat maut saat ini, ia masih ingin menikah dengan Melinda.
Dalam keadaan seperti itu sebuah mobil melesat menyalib mobil mereka begitu saja. Lalu menghilang dibalik kabut tebal dan hujan. Hejun berkali-kali menatap aneh pada langit, entah kenapa ia merasa hujan deras kali ini membuatnya merasa ngeri, sejak memasuki wilayah Ciwidey, tidak henti-hentinya bulu kuduknya meremang, merinding disko. Berkali-kali juga ia melihat ke bangku penumpang belakang yang kosong seakan-akan ada seseorang yang lain ikut menumpang pda mobil mereka.
Setengah jam kemudian mereka baru masuk ke gapura desa tempat tinggal Hasya, Tidak jauh dari sana Hejun melihat sebuah mobil terparkir sembarangan di dekat toko bunga sang nyonya. Hejun pun terpaksa turun dengan menggunakan payung karena setelah beberapa kali diberi tanda klakson namun sang pemilik mobil seperti tidak mengindahkan tandanya. Begitu sampai didekat mobil hitam itu ia segera mengetuk kaca jendela mobil tersebut. Perlahan kaca pintu mobil pun turun, Hejun tertegun terkejut begitu melihat Nayuwan yang menoleh kepadanya dengan tatapan yang menyipit tajam.
"Ibu.. Maaf bu, bisa ibu pinggirkan mobilnya sedikit, biar mobil Tuan saya bisa masuk," pinta Hejun sembari menu menahan perih tetesan air hujan yang menerpanya bertubi-tubi. Nayuwan mengdengus kasar namun menuruti permintaan Hejun agar sedikit meminggirkan posisi mobilnya agar mobil Zehan bisa lewat.
"Tuan masuk saja duluan baju saya basah semua" Zehan pun pindah ke kursi kemudi lalu melajukan mobilnya setelah memberikan payung pada Hejun yang kemudian mengikutinya dari belakang dengan berjalan kaki, beruntuk jarak dari tempat mereka berhenti tidak terlalu jauh dari toko bunga milik Hasya dan kebetulan Diana belum pulang padahal waktu sudah menunjukan jam 5 sore, mungkin karena hujan terlalu deras jadinya Diana lebih memilih untuk menunggu hujannya sedikit reda kemudian menutup toko dan pulang.
Sedang Nayuwan masih duduk sembari memegagi stir mobilnya dengan emosi, netranya mengedar liar ke sana kemar8 seakan-akan tengah mencari sesuatu.
"PENGECUT SIALAN !! MAU SAMPAI KAPAN KALIAN SEMBUNYI HAH !!" racau Nayuwan di dalam mobil.
Melihat mobil Zehan, Hasya yang sedang duduk di kursi teras rumahpun terlihat sedikit terheran karena biasanya paling cepat hari jumat malam suaminya itu baru akan tiba di rumah, kemudian berangkat lagi senis subuh selepas subuh.
"Lho ?? Mas kok udah pulang??" tanya Hasya bingung. Tanpa menjawab pertanyaan Hasya, Zehan segera berlari meraih tubuh wanita yang sedang mengandung anak keduanya itu.
"Mas, heh.. kenapa?" tanya Hasya lagi dengan leher sedikit terangkat karena bahu Zehan sedikit lebih tinggi darinya.
__ADS_1
"Sayang, maafin aku ya, Mana ? Mana yang sakit? perut kamu masih sakit? Bagian ini yang sakit?" Zehan malah balik bertanya pada Hasya tentang keadaannya yang justru makin membuat Hasya bingung. Zehan lantas berlutut menghadap ke perut buncit Hasya.
"Nak, papa mohon jangan buat mama kamu sakit ya nak, nanti pas kamu lahir juga jangan sakit berlebih ya sayang, kasian mama" ucap Zehan bicara pada perut Hasya, dan siapa sangka bayi dalam perut Hasya merespon dengan lembut meski agak sedikit geli dirasakan oleh Hasya.
"Uuluuh yang sayang papanya, langsung direspon ya nak ya" dan satu gerakan lagi timbul di perut Hasya.
"Kita ngobrolnya di dalem aja yuk mas, hujannya makin kenceng" ajak Hasya, namun saat akan beranjak Zehan malah menarik kembali tubuh Hasya lalu membopongnya ala-ala pengantin.
"Maasss.. " pekik Hasya
"Mas turunin aku mas, aku berat lho"
................
Dari kejauhan Hejun terus memperhatikan mobil Nayuwan yang masih berada di tempatnya. Ada rasa penasaran menggelitiknya, namun ketika ia mengingat sorot mata Nayuwan tadi Hejun akhirnya urung juga untuk kepo lebih lanjut. Baru kali ini ia merasakan tatapan setajam dan sedingin itu. Bahkan tatapan dingin Zehan pun masih kalah jauh dengan tatapan wanita itu. Iapun bergidik ngeri sendiri membayangkan bagaimana Gavin yang harus menghadapi tatapan sehoror itu setiap saat.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Nayuwan turun dari mobilnya tanpa menggunakan payung, guyuran hujan yang deras seketika membasahi sekujur tubuhnya. Namun bukan Nayuwan namanya jika ia tidak antisipasi akan kejadian itu. Nyatanya Nayuwan memakai dengan memakai topi breton Hat atau juga sering disebut topi nautical hat. Dimana dulunya memang sering digunakan oleh para nelayan ataupun pekerja pertanian di Brittany, Perancis, dengan bahan sintetis tahan air, begitu juga dengan jaket, dan celana yang ia gunakan, menggunakan bahan kulit sintetis premium yang juga tangan air. lengkao dengan sepatu boots kulit yang pastinya kedap air. Nayuwan berjalan dengan tegap berani seolah sedang menantang musuh-musuhnya. Tapi Hejun tidak melihat siapa-siapa di tempat yang Nayuwan tuju sekarang.
"Berani kau mengusik keluarga ku b3r3ngs3k !!" ucap Nayuwan lantang, lalu muncul lah sosok tinggi besar di luar nalar manusia dengan mata merah menyala. Netra Hejun terbelalak membulat sempura, segera ia mengucek kasar kedua matanya namun sosok itu malah makin terlihat nyata.
__ADS_1
"Hei perempuan sund4l !! Jangan ikut campur urusanku. aku hanya ingin mengambil sesuatu yang memang milik kami !!"
"Diana.. Diana!! " panggil Hejun dengan suara tertahan.
"Iya pak"
"Sini.." seru Hejun, Diana pun berjalan mendekati Hejun,
"Astaghfirullahaladzim.. !!" teriak Diana histeris begitu melihat sosok tinggi besar sedang berhadapan dengan Nayuwan, kemudian iapun pingsan.
"yeeeh malah pingsan ! Ck!! " Hejun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan frustasi. Ia pun segera memindahkan tubuh Diana ke sofa panjang yang ada di sana dan membiarkannya dulu karena ia merasa sangat penasaran dengan apa yang tengah terjadi.
Sementara di rumah Hasya, sedang dihebohkan dengan Deliza yang tiba-tiba pingsan, tubuh dan wajahnya pucat pasi,bibirnya sedikit membiru, serta suhu tubuhnya drop menjadi sangat dingin. Cepat-cepat Joon Woon memanggil dokter yang kebetulan sudah dua bulan ini tinggal dan membuka praktek di sana.
Begitu sampai dokter langsung memeriksa keadaan Deliza yang sedang tidak sadarkan dirinya, tubuhnya sedingin es namun keringat terus saja membanjirinya tanpa henti. Dokter pun segera memasangkan jarum infus pada tangan mungil Deliza. Kejadian itu tentu saja mengingatkan Hasya pada kejadian awal penemuan Deliza pertama kali. Ia yang dipangku oleh Joon Woon dalam keadaan mengenaskan lemah,rapuh dan tak berdaya. Hasya menangis dalam pelukan Zehan yang juga bersedih melihat keadaan putrinya itu, begitu pula seluruh anggota yang lain, tanpa terkecuali.
"Ini Deliza kenapa mah haa..aaaa??!!" Zesya bertanya sambil menangis histeris. Tentu saja ia juga terpukul baru beberapa saat yang lalu mereka masih bermain kucing-kucingan sebelum akhirnya adiknya itu tiba-tiba terdiam dan limbung pingsan tanpa sebab.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1