The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 127


__ADS_3

Hasya menggeliat manja dalam pelukan suaminya, berkat latihan dan gym lengan Zehan masih tetap kokoh seperti dulu. Zehan yang merasakan gerakan halus tubuh istrinya malah makin merekatkan pelukannya. Cup. Zehan mencium puncak kepala Hasya mesra. Wanita itu pun mendongak lalu menyetuh wajah suaminya dengan ujung jarinya yang lentik.


"Sayang bagaimana kalau satu ronde lagi sebelum kita sholat subuh?" bisik Hasya. Mata ehan langsung terbuka lebar, dengan cepat Zehan langsung berubah poisis berada di atas istrinya begitu Hasya berbisik ditelinganya.


"Kamu yang minta lho sayang," ucap Zehan dengan semangat 45 langsung menyerang Hasya tanpa ingin memberi kesempatan untuk Hasya bisa kabur dari kungkungannya.


"Kyaaaaaaa"


...****************...


"Si masnya setia terus ya hampir ngga satu hari pun kelewatan jemput pacarnya. Saya sampai akrab sama masnya,, sini mas ngopi dulu, bel pulangnya masih sepuluh menit lagi" kata pak Min salah satu skuriti yang berjaga di muka gerbang sekolah. Joon Woon pun duduk di bangku panjang yang tersedia di sana, kemudia menerima secangkir kopi yang dibuatkan oleh Pak Min.


"Selurrrupppp" Pak Min menikmati kopi hitam cap kapal apinya.


"Diminum mas kopinya, ini ada bakwan jagung sama pisang goreng juga. Masih anget ini mas" tawar pak Min kepada Joon Woon.


"Iya pak makasih, wah saya selalu dijamu tiap saya ke sini"


"Alah kayak ke siapa aja, orang mas Joon-nya juga sering kasih kami makanan yang lebih enak-enak kok. Ini mah cuma panganan orang kampung"


"Kata siapa ini panganan kampung pak, ini tuh panganan paling mewah apa lagi pas belum gajian hehhehe" celoteh Joon Woon. Pak Min ikut terkekeh sambil duduk di samping Joon Woon. Joon Woon sebenarnya memang tidak sekaku seperti sedang bersama Zehan padahal Zehan juga sering menyuruhnya untuk bersikap lebih santai tapi mungkin karena rasa hormatnya yang terlampau besar tetap saja pemuda itu berakhir seperti kanebo kering.


"TEEEETTT TTEEEEETTTTT TEEEETTTTT!!!"


Bel tanda jam sekolah telah usai berbunyi beberapa kali. Satu persatu hingga bergerombol keluar dari gerbang sekolah. Beberapa siswi yang melewati pos jaga pun terdengar bergosip sambil mencuri pandang pada Joon Woon yang masih memperhatikan satu persatu murid yang keluar.


"Eh eh tuh liat,, gue walau udah sering liat tuh cowok tetep aja bawaannya pengen nyulik."

__ADS_1


"Huss tar pawangnya denger" hardik siswi yag satunya lagi, sambil melewati Joon Woon yang sudah beubah jadi mode kulkas 5 pintu. SEdang meperhatikan sekitar  tiba-tiba seorang siswi mendekati.


"H Halo Kak.." sapa siswi itu, wajahnya cantik, ramping hitamnya tergerai indah makin cantik dengan bando kecil berwarna merah sebagai aksesorisnya. Joon Woon pun mengalihkan perhatiannya sejenak pada gadis itu. Keningnya sedikit mengernyit seolah tidak mengerti padahal kejadian semacam ini sudah sering terjadi.


"Nama saya Sarah, kelas VIII D, boleh aku tau nama kakaknya?" ucap siswi bernama Sarah itu seraya mengulurkan tangannya untuk berkenalan, namun sabelum Joon Woon menyambut tangan lentik itu, Deliza sudah lebih dulu menjabat tangan Sarah.


" Kenalkan nama kakak Deliza Widi Akhilendra, kelas IX A" sebut Deliza saat menyambut tangan gadis itu. Joon Woon yang sudah terbiasa dengan pemandangan semacam itu yang bisa menghela nafas tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Senang bisa berkenalan dengan kak Deliza." ucap gadis itu terasa canggung.


"Sama-sama"


"Euuhhh,,, kalo begitu saya pamit duluan ya kak, sampai jumpa besok lagi" ucap gadis itu akhirnya segera pamit, bukan cuma karena merasa tidak enak kepada Joon Woon, tapi para siswa dan siswi yang melihat mereka seakan kepo dengan hal apa yang sedang terjadi. Ia benar-benar tidak menyangka jika menyapa pemuda yang kini berdiri tegap di belakang Deliza bisa membuat mereka menjadi pusat perhatian semua orang.


"Okeh,, kalo begitu sampe ketemu besok di kantin pada jam istirahat pertama ya" ucap Deliza sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya.


"Kamu ini ngga berubah ya?" tegur Joon Woon.


"Sayang,,, inget umur" bisik Joon Woon.


"Ciihhhh,, " Deliza hanya mendecih ketika Joon Woon mengingatkan usia asli Deliza. Lantas Joon Woon pun menarik lembut tangan Deliza menuju kuda besinya yang terparkir diparkiran khusus bagi mereka yang menjemput siswa/i sekolah tersebut.


Joon Woon yang memiliki tinggi 187cm sedang Deliza dengan tubuh normal anak SMP pada umumnya yang hanya 153cm tentu harus sedikit membungkuk ketika dengan hati-hati memasangkan helm kepada Deliza,


"Aku bisa pasang sendiri kak" terlihat jelas jika ternyata Deliza masih kesal dengan teguran Joon Woon tadi.


"Sayang, udah jangan begitu, kan ngga lucu kalo anak SMP tapi udah banyak kerutan halusnya.

__ADS_1


"Iiiihhh kakak nyebelin" ucap Deliza makin kesal seraya menghentakan kakinya ke aspal.


"Udah betenya lanjutin lagi nanti. soalnya ada hal yang mau aku bicarakan. Dan sepertinya akan makin membuatmu kesal. Jadi simpan dulu energinya. sekarang kita pergi dulu ke tempat yang lebih nyaman buat ngobrolnya. Hmmm tadi aku udah ijin Tuan Zehan kalo kita bakal pulang telat" terang Joon Woon. Seketika dahi Deliza mengeryit saat Joon Woon tengah bersiap-siap, ia  berusaha mencoba menerka-nerka hal apa yang akan dibahas oleh Joon Woon, hingga pemuda itu bisa memastikan dirinya akan makin kesal dengan hal yang akan dibicarakan nanti. "Ah jangan-jangan ini soal masa laluku?" tebak Deliza. Melihat ekspresi Joon Woon yang sedikit terhenyak sepertinya dugaan Deliza benar. Tapi memang seburuk apa hingga akan membuatnya geram. Joon Woon terlihat sudah nangkring diatas kuda besinya, Deliza pun akhirnya hanya menghela nafas lalu mengambil tangan Joon Woon untuk berpegangan, baru setelah kakinya menginjak pada footstep belakang gadis itu mengalihkan pegangannya pada bahu Joon Woon sebagai tumpuannya.



Lebih dari dua jam lamanya Joon Woon memacu kendaraanyake arah Bogor menuju ke kebun teh yang sangat populer dan indah yaitu Kebun Teh Gunung mas. Joon Woon sengaja memilih tempat itu karena memang termasuk daerah wisata favorite Deliza. Selain hmaparan kebun tehny luas, latar Gunung Pangrangpun pun menambah keindahan tempat tersebut. Jadi sangat wajar jika tempat itu termasuk ke dalam list destinasi favoritenya Deliza. Di sana juga terdapat area camping dan outbond, selain pemandangannya yang indah  dan fasilitas di sana juga terbilang cukup lengkap adanya jembatan yang terbuat dari kayu, yang mengelilingi kebun teh yang menjadi daya tari sendiri bagi wisatawan yang gemar berswa foto. Udaranya yang sejuk serta pemandangannya yang indah adalah pilihan tepat jika ingin melepas stress untuk sejenak.


Deliza menatap luas ke arah hamparan hijau perkebunan teh saat ia baru saja turun dari motor. Sambil memejamkan matanya, ia mengehirup banyak-banyak dengan rakus oksigen yang pasti lebih berlimpah di sana. Udaranya yang sejuk, dingin menerpa wajah gadis itu.


"Gimana kamu seneng bisa datang lagi ke tempat ini ?" tanya Joon Woon sambil membantu Deliza melepaskan pengait helm Deliza.


"Hummm" Deliza mengangguk dengan senyum yang terkembang di bibir mungilnya. Terlihat manis dan menggemaskan.


"Awas aja kalo kamu berani tersenyum seperti itu pada lelaki asing" gerutu Joon Woon.


"Mana ada yang begitu, ada juga kakak. Tiap hari ada aja yang mengajak kakak untuk berkenalan. Mana cantik-cantik lagi." delik Deliza.


"Secantik apapun tetap saja kamu pemenangnya kan?" Deliza sedikit mengurai kembali senyumnya setelah sempat beberapa detik yang lalu menghilang.


"Hmm jadi mau jalan-jalan dulu, atau mau rehat dulu di Tea cafe?" tanya Joon Woon. Delliza menghela nafas. Kebetulannya gerimis malah mulai turun.


"Kayaknya alam pengen kita rehat dulu kak, buktinya mulai turun gerimis" ucap Deliza meski sedikit enggan. Ya sudah lah toh waktu mereka juga masih sangat cukup untuk nanti berjalan-jalan di jembatan kayu pikir Deliza.


Bentuk Tea cafe yang seperti rumah panggung terasa memberi khas tersendiri. Belum lagi dengan poster menu dan banner panjang yang bertuliskan " RESTORAN KAMI SELALU MENJAGA KEAMANAN PANGAN" menjadinya lebih unik lagi. Kursi dan mejanya terbuat dari  kayu, di sana juga terdapat etalase kecil yang terisi kotak kotak kecil berisi teh.


Setelah mencuci tangan, Deliza segera memesan dua bandrek,tahu goreng isi, tempe mendoan, serta pisang goreng. Tidak lama kemudian pesanan merekapun tiba. Pertama-tama ia mencoba bandreknya terlebih dahulu. Sangat pas dan cocok di cuaca dingin seperti sekarang, lalu ia mengambil  tahu goreng isi yang rasanya juga cukup enak ditambah dengan sensasi agak pedas dari isianya makin menambah nikmat cita rasanya.

__ADS_1


"Jadi ada hal apa saja yang mau kakak bhas, hingga kakak mambawaku sampai ke tempat ini. Aku rasa pasti ini sangat membag*ongkan kalo sampai bisa membuatku kesal" ucap Deliza setelah menghabiskan tahu isi dan tempe mendoannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2