The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 88


__ADS_3

"BRAKK!! ugh!!" pekik seorang wanita terpental mundur setelah ia menabrak seseorang yang sedang mengobrol sambil berdiri dengan rekannya tepat di balik tembok saat ia berbelok ke gedung yang ia tuju dengan tidak sengaja. Wanita itu terjengkang dengan file berhamburan, dari balik kertas yang bertabur netranya memicing memastikan siapa yang ia tabrak itu, ia memperhatikan dengan seksama pemilik tubuh jangkung itu tentu dengan raut kesal dan mulut sewot komat kamit. Tapi begitu bisa melihat dengan awas matanya terbelalak melebar sempurna saat orang yang ditabraknya menoleh lalu ke arahnya, menyorot dengan tatapan sinis dan wajah yang dingin.


"Sial kenapa harus nabrak bigboss sih ?" rutuknya dalam hati.


"Kamu ngga apa-apa??" tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Melinda. Wanita itu hanya mengangguk cepat seraya menyembunyikan wajahnya.


"Ini bu berkasnya" kata seorang karyawati yang kebetulan di sana lalu sigap membantu Melinda memunguti kertas-kertas file yang berceceran.


"Oh makasih" kata Melinda tersenyum, lalu karyawati itu pun membalasnya dengan menggangguk sambil tersenyum ramah juga kepada Melinda baru setelahnya ia meninggalkan Melinda, Zehan dan Gibran di lorong itu. Setelah karyawati itu menghilang di balik tembok mungkin ruangannya netra Melindapun bergerak gerak dengan cepat karena ingat ia masih harus menghadap pria yang baru saja dia tabrak.


"Maaf pak, saya kurang hati-hati karena buru-buru" kata Melinda takut-takut.


"Tidak apa-apa, saya juga tidak terluka. Kamu yakin tidak ada yang sakit, tadi sepertinya kamu terbentur cukup keras dengan lantai " Kata Zehan bersikap tulus.


" Saya baik- baik saja pak," kata melinda sesekali mencuri pandang memeriksa keadaan raut wajah bossnya itu.


"Kamu yakin?" tanya Zehan sekali lagi, dengan cepat Melinda menjawabnya dengan anggukan beberapa kali.


"Kalo begitu saya permisi saya" pamit Melinda. Ia pun segera memberi hormat dengan sedikit membungkukan tubuhnya kepada Zehan dan Gibran, kemudia segera beranjak menuju ruang meeting.


"Sepertinya anak itu mau ke ruang meeting," kata Gibran sambil mengecek lalu menandatangangi file yang baru saja disodorkan oleh sekertarisnya.


"Kalo begitu mari kita ikut meeting tersebut, itung-itung inspeksi mendadak buat anak-anak tim kreatif."


"Sifat Tuan masih belum berubah ya, masih suka membuat orang lain sport jantung tiba-tiba"


"Pck !! sudahlah aku kan jarang-jarang bisa melihat anak-anak dari tim kreatif itu presentasi" Gibranpun hanya menghela nafas tersenyum banyak arti lantas mengikuti langkah Zehan menuju ruang meeting yang sedang digunakan oleh tim kreatiaf.


...----------------...

__ADS_1


"Cukup menarik, " kata Zehan setelah Melinda selesai mempresentasikan idenya untuk promosi produk baru perusahaan mereka. Seketika semua mata tertuju pada Zehan yang duduk di bangku pojokan dengan pintu masuk. Semua orang seolah membeku saat mendapati sosok Zehan sedang duduk bersilang kaki dengan anggun namun tetap memancarkan aura wibawanya. Dan jangan lupakan kehadiran Gibran yang tidak kalau menyilaukannya berdiri mendampingi Zehan.


Beberapa kali Melinda mengedipkan matanya, seolah tak percaya presentasinya barusan disaksikan langsung oleh bigboss, yang tentu saja itu adalah kejadian langka, karena itu hanya meeting kecil untuk timnya, karena biasanya bigboss memang jarang bahkan hampir tidak pernah ikut andil dalam meeting kecil seperti ini, sekalipun ada paling hanya sekertarisnya atau kepala tim dan kepala editor saja.


"ah.. Maaf sudah mengejutkan kalian. Hmmm jadi jangan pasang wajah tertekan begitu, santai saja, saya hanya melihat-lihat saja. Silahkan kalian lanjutkan kembali." ujar Zehan sembari beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah keluar ruangan diikuti Gibran.


Beberapa saat setelah Zehan keluar barulah mereka semua tersadar dengan apa yang baru saja terjadi.


"Waah.. aku tidak percaya ini, tim kita, dikunjungi Bigboss.." ungkap Daniel seraya meminum air putih di depannya.


"Apa tim kita akan baik-baik saja? Tadi boss ngga komentar apa-apa lagi kan?" tanya Haru sambil menggigiti kukunya.


"Aku harap tadi aku tidak melakukan kesalahan saat presentasi" ungkap Melinda sambil memijat kepalanya karena merasa frustasi. Sedang begitu seseorang tiba-tiba kembali mengetuk pintu. Mereka semua langsung terdiam dan menoleh ke arah pintu. Gibran mengerutkan dahinya saat melihat reaksi anak-anak tim kreatif yang langsung diam persis anak-anak sekolah yang ketika ribut langsung terdiam saat gurunya masuk ke kelas.


"Ekhem.. Kalian masih sibuk?" tanya Gibran.


"Kalo begitu, haru ini kalian diundang makan siang sama pak Zehan di restoran Saung urang" ungkap Gibran


"Hari ini pak?" tanya Verla polos.


"Kemarin" kekeh Gibran.


"Ah si bapak mah"


"Kan tadi saya bilang hari ini Verla" gadis imut itu mengerucutkan bibirnya.


"Hmmm maaf pak, tapi untuk acara apa ya? kan tim Kita bulan ini baru akan mengerjakan projeknya?" tanya Melinda.


"hmm anggap saja DP bonus agar kalian lebih semangat kerjanya. Ayo cepet bersiap sepuluh menit lagi jam makan siang, jangan buat bigboss nunggu lama" setelah mengatakan itu Gibran pun melangkah keluar ruangan meninggal Melinda dan kawan-kawannya yang masih kebingungan.

__ADS_1


......................


"Mama, kapan debayinya lahir?" teriak Deliza polos saat memeluk Hasya sekembalinya dari sekolah.


"Masih beberapa bulan lagi sayang" jawab Hasya membelai lembut puncak kepala Deliza.


"Yah masih lama" Hasya tersenyum saat melihat raut kecewa dari putrinya itu. Sedang Zesya langsung duduk di sofa dengan keadaan lunglai lemas dan melempar tasnya sembarang tempat.


"Eehh Aa kok nyimpen tasnya dilempar-lempar gitu?" hardik Hasya. Zesya hanya menolah tanpa bergeming.


"Ayo teteh simpen dulu tasnya sekalian taruh bajunya di keranjang cucian, bau acem" titah Hasya dengan lembut, Deliza pun segera ke kamarnya tanpa menunggu disuruh dua kali. Sedang Zesya tetap di sofa malah memejamkan matanya di sana.


"Aa,,kenapa? Ada yang terasa sakit?" tanya Hasya kemudian setelah memperhatikan tingkah Zesya yang tidak biasanya.


"Cuma agak pusing aja ma" sahut Zesya kembali memejamkan kelopak matanya.


"Kalo ngga enak badan, sana.. istirahatnya di kamar, ganti baju dulu, nanti mama suruh Bi Rani siapin makan siang Aa di kamar sama obat pusingnya" seru Hasya sedikit cemas.


"Aa jangan sakit, maafin Deliza ya A" kata Deliza tiba-tiba dari kamarnya setelah ia berganti pakaian.


"Bukan salah kamu kok de, emang si Sultannya nya aja ngga punya otak, masih kecil udah kurang ajar sama perempuan, gimana dewasa nanti" Hasya merengut bingung dengan maksud obrolan kakak-beradik itu.


"Lho lho.. Aa berantem?" tanya Hasya dengan alis bertaut. Deliza menggangguk takut-takut.


"hiks..hiks.. " Deliza mulai menangis sambil menunduk ketakutan.


"Eeh.. Kok teteh nangis.. cup cup.. sini sini,, cerita sama mama sebenarnya ada apa tadi di sekolah?" Hasya duduk di samping Zesya dengan raut lebih serius.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2