
Hasya berjalan gontay saat memasuki teras rumahnya, sedang Zesya sudah terlebih dahulu meninggalkannya setelah lagi-lagi ia membanting pintu mob dengan kesal, namun ketika sampai di depan pintu rumah ia hanya berdiri mematung saja karena kunci rumah Hasya yang pegang. Tanpa kata-kata Zesya langsung berlari berlari masuk ke dalam kamarnya saat pintu dibukakan oleh Hasya. Dan untuk kesekian kalinya Zesya kembali membanting pintu dengan keras, kali ini tentu saja pintu kamarnya. Hasya mendengus saja saat melihat putranya sedang marah-marah dan melampiaskannya pada pintu-pintu yang tidak bersalah itu. Dengan perasaan hampa ia menghempaskan bokongnya pada sofa di depan tivi, lalu menyandar punggung dan kepadala pada senderan sofa.
"Zes, makan dulu nak, nanti kamu sakit" serunya. Namun tidak ada jawaban apapun dari kamar putranya itu. Akhirnya mau tidak mau ia harus beranjak dari tempat duduknya untuk bisa merayu putranya agar mau makan. Ia mendekati pintu namun saat ia akan membuka pintunya, ternyata di kunci dari dalam.
"Nah, kamu harus tetap makan nak, nanti sakit" seru Hasya sekali. Merasa apa yang ia lakukan sia-sia, Hasyapun akhirnya masuk ke kamarnya sendiri.
Di dalam kamar,
"Maafin Zesya mah, hikss.. udah buat mama nangis, tapi kalo Zesya ngga ngambil kesempatan ini, hiikss mama dan papa pasti bakal marahan terus hikss.." ratap Zesya menangis sambil memakan sosis dan meminum susu coklat yang di beli oleh papanya tadi siang.
...----------------...
Hasya mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Zehan namun pria itu tidak juga mengangkat panggilannya. Lalu ia mencobanya sekali lagi tapi malah suara operator yang kini menjawab panggilannya. Hasya terduduk lemas lalu membenamkan wajahnya dalam rangkulannya sendiri. Malam ini ia merasa sangat lelah, kecewa, bingung tapi ego dalam dirinya juga masih terlalu gengsi jika menerima Zehan begitu saja. Tapi ia juga merasa bersalah serta kaget ketika Zesya mengomelinya sambil menangis tadi, yang artinya anak itu tahu jika orang tuanya masih belum berbaikan.
"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Hamba tidak ingin melihat anak hamba bersedih apalagi kecewa terhadap hamba, tapi untuk kembali menerima suami hamba seperti dulu itu sangat sulit" ungkapnya lirih.
Sekitar hampir setengah jam Zesya akhirnya keluar dari kamarnya dengan wajah kusut, cemberut disertai tatapan enggan saat melihat Hasya duduk di sofa dengan tivi yang ada di ruang keluarga. Hasya melihatnya sebentar lalu kembali menonton tivi. Ingin ia menegur putranya itu, tapi jika ia melakukan hal itu maka tentu saja ia harus mendengar kalimat-kalimat sarkas dari putranya itu.
Zesya terlihat mengambil sebuah gelas lalu mengisinya dengan air dari dispenser, kemudian kembali ke kamarnya sambil membawa gelas yang sudah ia isi air ke kamarnya tanpa bertegur sapa dengan ibunya.
"Fixx ni bocah benaran ngambek" oceh Hasya setelah mendengar pintu kamar Zesya tertutup kembali.
Keesokan paginya, suasana terasa lebih basah karena hujan yang turun entah dari jam berapa. Jika saja hari ini adalah hari minggu, siapapun pasti malas beranjak dari tempat tidurnya, betah meringkuk di dalam selimut mereka. Hasya terduduk sesaat setelah dia bangun beberapa menit yang lalu, netranya mengedar keseluruh ruangan lalu kemudian tertunduk lesu. Entah apa yang ia cari hingga akhirnya membuatnya kecewa begitu.
"Bi, Zesya udah bangun?"
"Sudah bu, sudah berangkat juga diantar bapak"
"Bapak?"
"Iya, papanya den Zesya."
__ADS_1
"Oh," Hasya mengangguk mengerti lantas duduk di sofa depan tivi dengan keadaan yang terlihat masih acak-acakan.
"Oiya bu, kalo ibu sudah bangun di suruh telepon bapak" tanpa menjawab, Hasya segera beranjak dari sofanya lalu masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya.
Di dalam kamar Hasya malah duduk merenung dibibir tempat tidurnya, pikirannya kusut dipenuhi dengan segala kemungkinan tentang semua yang sedang teejadi, namun yang paling membuatnya galau adalah Zesya. Ia takut jika pada akhirnya putranya malah menjadi kecewa karena ia masih keras kepala untuk menerima kembali Zehan seperti dulu, tapi satu sisi ia juga makin kesal karena soal semalam, meskipun ia tidak ambil pusing Zehan mau pergi dengan siapapun, karena ia tahu Zehan bukan pria yang mudah "jajan" sana sini.
"Halo mas"
"Halo,, Sya maaf bisa telepon 1 jam lagi aku masih ada meeting" sahut Zehan dari seberang sana.
"Baiklah" tutup Hasya sebal. Lalu dengan kasar ia membanting ponselnya ke kasur, juga sambil merebahkan dirinya yang makin kesal.
"Iiih !! maunya apa siiih?? katanya suruh telepon, tapi malah sibuk.. Mentang-mentang boss, sok sibuk!!" kata Hasya mencak-mencak mendumel sendiri.
"Eh.. Dia kan emang boss,.. Pck !! Ah au ah!! Bikin BT aja!!" ungkap Hasya uring-uringan di dalam kamar. Bi Rani dari ruang laudry mengintip dari balik tembok mengecek atau lebih ke kepo kenapa ibu bossnya marah marah ngga jelas, uring-uringan, dan mengomel sendiri.
"Aaish !! Pake acara datent bulan segala lagi !! Bi Biii..!!
"Tolong beliin saya pembalut sama k***nti"
"Oia ia bu, ayeuna?" Hasya langsung melempar tatapan tajam pada pembantunya itu. Bi Rani tersenyum getir dan langskung kabur dari ambang pintu kamar majikannya itu.
"Pantesan si ibu uring-uringan kucing pengen kawin ternyata lagi dateng bulan, ah aya-aya wae" gumam Bi Rani saat sedang berjalan menuju minimarket yang berada di pengkolan jalan.
Zehan selesai meeting sekitar jam 11, sudah terlambat 30 menit untuk menjemput Zesya dari sekolah. Zehan lalu mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi Hasya. Niatnya Zehan mau buat sedikit syok terapi dengan menggunakan Galuh, namun setelah obrolannya semalam Zehan akhirnya mengurungkan niatnya, terlebih gadis itu terlihat sangat lugu ditambah ia seorang anak yatim, rasanya terlalu kejam jika ia mempermainkan perasan gadis itu.
Flashback
"Makasih ya kak, udah terakhir dan ngajak aku jalan-jalan" ucap Galuh tersipu malu dengan rona merah diwajahnya yang tak kunjung pudar sejak ia bertemu dengan Zehan.
"Sama-sama, aku juga terima kasih banget sama kamu karena udah mau anterin dompet aku, padahal harusnya aku ambil sendiri ke toko, jadi ngga perlu ngerepotin kamu."
__ADS_1
"Ngga kok, aku ngga ngerasa repot kok kak, aku malah seneng, jadinya kan bisa ngobrol sama kakak" ucap Galuh salah tingkah.
"Luh, eeuh .. Gimana ya.. eeuh" Zehan sedikit ragu untuk mengatakannnya tapi jik tidak ia katakan sekarang juga maka akan menjadi masalah besar untuk dirinya terutama Galuh pasti akan terluka.
"Ya..? Kenapa kak?" tegur Galuh menautkan kedua alisnya. Zehan menarik nafasnya lalu membuangnya.
"Eeuh.. Gini.. Aku ini pria yang sudah cukup dewasa, mungkin usia ku dengan mun juga berselisih belasan tahun."
"Lalu?"
"Saya mau minta maaf sama kamu Luh"
"DEG !!" entah kenapa Galuh merasa kecewa saat Zehan kembali menyebut dirinya dengan formal.
"Maaf untuk apa kak?" tanya Galuh dengan ekspresi bingung.
"Saya mau kita tetap berteman, namun hanya sebatas kakak adik saja. Awalnya saya cuma ingin membuat istri saya cemburu dengan mengajak jalan kamu, dan bersikap seolah-olah saya punya yang wanita lain dibelakangnya. Saya tau, saya sangat jahat, tapi akan lebih jahat lagi jika benar-benar membuatmu jatuh cinta kepada saya. Kamu gadis baik Luh, tidak pantas jika saya permainkan perasaan kamu seperti itu. Makanya saya minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu"
"Oh kirain ada apa? Santai aja kak, lagian mana ada sih lelaki mapan seperti kakak ini masih single." kata Galuh meski matanya sudah mulai terasa perih.
"Kamu ngga marah?" tanya Zehan dengan raut tidak percaya.
"Aku malah seneng kakak mau jujur, karena semisal kakak ngga jujur begini lalu kita menjadi akrab lagi, aku pasti benar-benar jatuh cinta pada kakak" kata Galuh
"Makasih Luh, karena kamu ngga marah sama saya. Kalo begitu, mulai hari ini kamu adalah adik saya setelah Zia. Mau kan kamu jadi adik saya?" Galuh menatap Zehan bingung. Tapi kemudian ia mengangguk sambil tetap mengulas senyum manis dibibirnya. Dan tanpa diduga Zehan refleks memeluk gadis itu tanpa aba-aba, bersamaan hujan yang mulai turun.
"Ya udah kamu masuk sana, hujannya makin deres"
"Iya kak, aku masuk ya.. bye" Galuh pun berbalik memunggungi Zehan yang juga segera masuk ke dalam mobilnya dan segera berlalu dari halaman rumah Galuh. Sedang gadis itu sedang mengisak di bawah guyuran air hujan yang makin deras.
Flashback off
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...