
Zehan dan Hasya sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta, beberapa orang pengawal Zehan sudah menunggu di sana dan dengan sigap membawakan seluruh barang bawaan Bossnya itu. Zehan merangkul bahu istrinya yang terlihat agak kecewa karena tidak menemukan Zesya, padahal ia ingin sekali melihat putranya begitu keluar dari gate.
"Aku yang menyuruh mama dan papa tidak membawa Zesya ke sini." Hasya menengadah ke arah suaminya yang jangkung.
"Iya tidak apa-apa lagi pula nanti juga kita akan bertemu dengan mereka semua di rumah" kata Hasya meski tetap aja ada rasa kecewa karena tidak bisa melihat wajah putranya. Tapi baru beberapa langkah mereka melangkah tubuh Hasya ditabrak oleh sesuatu, Hasya terkejut dan melihat sesosok anak sedang merangkul pahanya dengan erat.
"Mama Zesya kangen" ucap anak itu sambil kepalanya menengadah menatap ke arah Hasya dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca. Tentu saja perempuan itu langsung memeluk dan menciumi wajah anak itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Mama juga kangen nak" ungkap Hasya saat mendekap erat-erat tubuh mungil Zesya.
"Sama papa ngga kangen??" goda Zehan. Zesyapun beralih pada Zehan.
"Zesya kangen papa juga, tapi Zesya lebih kangen mama"
"Dasar pilih kasih"
"Ngga kok, Zesya sayang mama dan papa, sayang banget." ungkap anak itu kemudian dengan tangan dan tubuh mungilnya iamemeluk orangtuanya secara bersamaan. Bibi Lyn dan Zia yang melihatnya, ikut larut dalam keharuan pertemuan keluarga kecil Zehan.
"Mah, aku bahagia banget, melihat kakak akhirnya bisa melepaskan seluruh beban dan perasaannya."
"Mama juga bahagia sayang, melihat kalian bisa melewati berbagai ujian dalam runah tangga kalian dan tetap berkumpul seperti ini adalah harapan terbesar yang selalu dipanjatkan para orang tua seperti mama dan papa di manapun. Dan kamu Zi, mama harap kamu sudah bisa memaafkan Alexa dengan sepenuh hati. Kasian dia" Zia menyudutkan bolanya matanya ke sembarang arah, ah benar hampir saja ia melupakan perempuan yang sudah dua kali membuat kakaknya terjatuh.
__ADS_1
"Nak, mama tau kamu itu anak yang baik, dan selalu mencintai kakakmu. Mama juga mengerti kamu menjadikan Alexa sebagai asisten rumah tangga mu adalah sebagai bentuk hukuman dari mu, dan mama lihat anak itu sudah benar-benar berubah. Setau mama dulu Akexa adalah perempuan keji dan sombong, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi sekarang dia bisa hidup dengan cara biasa saja.Lebih sederhana, dan lebih berperasaan."
"Soal itu nanti kita bicarakan lagi ya ma," Bibi Lyn menoleh pada Zia yang sedang melihat kakaknya, wanita paruh baya itu lantas tersenyum seraya membelai lembut punggung Zia.
"Erlina kamu lihat kan dari sana, kedua anakmu ini pasti sangat membanggakan bukan?" gumam Bibi Lyn dalam hati.
Dari halaman sudah terlihat beberapa orang berdiri di depan teras. Bi Ani dan Pak Edi serta beberapa pembantu lainnya juga beberapa orang pengawal sudah berdiri dengan rapi untuk menyambut kedatangan Zehan dan Keluarga. Begitu turun dari mobil, Bi Ani sudah tidak bisa lagi membendung air mata dan kerinduannya kepada Hasya. Begitupun dengan Hasya yang juga berhambur memeluk bi Ani seolah Bi Ani adalah orang tuanya sendiri. Setelah puas mereka menumpahkan rasa rindu mereka, Hasya tertegun begitu melihat Alexa berdiri diantara para pembantu lainnya. Keadaan Alexa sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Make up tebalnya sudah hilang, meski ia tetap memakai riasan namun sekarang sekedar agar wajahnya yang putih bersih itu tidak terlihat pucat saja. Dan hei kemana pakaian glamor dan bermerknya. Kini perempuan itu nampak begitu sederhana dengan mengenakan Knee length skirt yang ukuran rok sedikit menutupi lututnya dipadu blus polos yang senada dengan roknya.
"Dia...??" tunjuk Hasya dengan raut heran pada Alexa.
"Dia bekerja menjadi asisten rumah tangga di bawah pengawasanku kak" jawab Zia dengan cepat. Hasya hanya meliriknya sekilas lantas masuk ke dalam mantion. Hasya mengedarkan pandangannya, melihat sekelilingnya,, dan setelah sekian tahun ternyata Zehan tidak merubah apapun benda-benda yang ada di rumah tersebut, bahkan kebun sayuran di taman belakang juga tetap terawat dengan baik meski sudah beberapa kali panen dan hasilnya Zehan bagikan untuk para pekerja di mantion atau terkadang Zehan menyuruh tukang kebunnya untuk membagikannya pada orang-orang di sekitar sana jika hasil panennya terlalu banyak.
Hasya duduk bibir tempat tidur, dia masih tidak menyangka ia akhirnya bisa kembali ke mantion itu, dan kembali masuk ke kamarnya dengan Zehan. Hasya menyentuh dan menyibak lembut sprei tempat tidurnya dengan lembut, ia seolah sedang mengumpulkan berbagai kenangannya di kamar tersebut.
"Makasih ya sayang, kamu udah mau kembali ke rumah ini. Dan memberikanku kesempatan untuk bersama kalian" sekali lagi Zehan mencium punggung tangan Hasya dengan lembut seraya menikmati aroma wangi dari tubuh sang istri. Kini beralih Hasya yang meraih wajah suaminya dengan kedua tangannya lalu mengecup kening Zehan dengan penuh kehangatan, tidak berhenti di sana ia melanjutkan mencium kelopak mata Zehan bergantian. Zehan masih terpaku. Hasya lalu melanjutkan mencium pipi kiri dan kanan suaminya lalu berakhir di dagu.
"Yang ini ngga sayang??" goda Zehan menunjukan bibirnya yang sedikit mengerut. Hasya menggelengkan kepalanya dengan wajah bersemu merona.
"Nanti ngambek lho, yang lain kena cium masa bibirnya ngga ?"
"Udah ah, masih sore" tolak Hasya pura-pura memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
"Iish kok gitu, kan cium doang" kata Zehan bertingkah seperti Zehan yang ngambek saat Hasya seakan menolak keinginannya. Sekali lagi bibir Hasya merekah ketika sekilas bayangan Zesya seolah ada di samping Zehan.
"Kalian ini benar-benar papa dan anak ya, bukan hanya bentuk wajah, sikap cuek, bahkan tingkah kalian yang inipun benar-benar mirip.
"Ya kan Zesya anak ku Sya, masa ia dia mirip si Kevin" gerutu Zehan.
"Iya, dia memang anak mu, seratus 100% anak kita, hasil perbuatan kita" timpal Hasya tertawa.
"Sayang, besok malam kan sudah hari ke 60 pasca operasi, luka kamu juga sudah kering, hmmm boleh tidak kita menghabiskan malam bersama?" tanya Zehan dengan tatap puppy eye yang benar-benar terlihat seperti tatapan anak anjing yang menggemaskan.
"Boleh tidak ya..?" goda Hasya.
"Tapi kalo kamu masih takut, ngga apa- apa kok aku tunggu sampe kamu siap aja" kata Zehan lagi karena ia juga sebenarnya masih agak takut untuk melakukannya meski kata dokter sudah boleh, namun tetap saja sedikit meninggalkan trauma pada Zehan.
"Kalo aku bilang boleh?" Zehan sedikit terkejut namun wajahnya seketika menjadi cerah, karena artinya malam ini ia boleh menyentuh istrinya lagi.
"Tapi pelan-pelan ya, aku masih agak takut dengan bekas operasiannya" ucap Hasya sambil menangkup wajah Zehan sambil menatap manik mata Zehan, Zehan hanya mengangguk cepat, tanda mengerti apa yang dimaksudkan oleh istrinya tersebut. Selepas Zehan lalu berdiri kemudian membungkukan tubuhnya saat mencium kening Hasya.
"Makasih ya sayang, sekarang kamu istirahat dulu, aku mau ke ruang kerja, soal ada yang harus aku periksa" Hasya mengangguk saja, "cup" secepat kilat Zehan mencuri ciuman dari bibir istrinya yang tentunya membuat Hasya mengerucutkan bibirnya.
"Itu untuk dp nanti malam"
__ADS_1
"iih dasar genit" Zehan pun hanya tersenyum penuh kemenangan kemudian iapun segera bangkit dan berjalan menuju pintu dengan hati riang gembira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...