
Minggu pagi pun menyapa, tidak seperti hari minggu biasanya, Hasya sudah sibuk berkutat menyiapkan beberapa jenis makanan untuk bekal anak-anak yang akan pergi piknik ke taman ria. Padahal praktisnya mereka bisa membeli di foodcourt yang sudah pasti banyak tersedia di sana. Terlihat di counter table bahan sayuran segar sudah disiapkan untuk isian kimbap sesuai permintaan Deliza yang katanya ingin makanan ala-ala Korea. Lalu Hasya juga menyiapkan menu lain ayam kecap wijen, kentang goreng, beberapa macam buah-buahan : pisang, pear hijau, jeruk pontianak, dan anggur. serta air mineral yang sudah diberi irisan lemon, timun dan madu. Setelah semua hidangan dan minumannya jadi lalu semua ia masukan ke dalam 2 lunch box khusus, yang satu untuk makanan agar tetap hangat dan rapi, yang satu lagi berisi minuman dan buah-buhan agar teteap segar.
"Selamat pagi sayang," sapa Zehan sembari memeluk dan mencium istrinya dari belakang dengan mesra.
"Selamat pagi juga suamiku" sahut Hasya sambil berputar menghadap suaminya setelah ia selesai memasukan semua makanan dan minuman ke dalam masing-masing lunch box.
"Hari kamu cantik banget sih?" goda Zehan sembari menempelkan keningnya ke kening istrinya. Lalu mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Sayang, jangan begini. Nanti ada yang lihat." Hasya sedikit mendorong tubuh suaminya agar menghentikan pagutan selamat paginya.
"Aah sedikit aja, anak-anak juga masih belum bangun palingan" rayu Zehan makin erat memeluk pinggang istrinya serta makin gencar menciumi leher Hasya.
"Ya tetep aja, ada bi Ani tuh lagi atau pak Sapto mau ambil sarapan dan kopinya." Hasya masih berusaha menolak hasrat suaminya.
"Bentar doang sayang,"
"Eeegghh,," Hasya melengkuh pelan saat Zehan sentuhan bibir Zehan makin turun ke d**nya. Cup satu kecupan mendarat di antara belahan gumpalan lemak milik Hasya. Membuat alirsan darah Hasya makin berdesir dibuatnya.
"Mas... jangan begini,," tapi Zehan terus melancarkan aksinya. Hingga " Pluk!" terdengar sebuah benda jatuh berbenturan ke lantai, disusul suara jeritan.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa" Hasya dan Zehan yang sama terkejutnya kompak menoleh seraya mengerjap mata mereka ke arah sumber suara yang melengking. Ternyata itu adalah suara Tania yang kini terpaku mematung cengo. lengkingan Tania otomatis mengundang semua orang panik segera menuju TKP.
" Oh shitt, my eyes!!" pekik Deliza menutup matanya dengan tangannya sendiri, tangan Joon Woon sigap meraih tubuh gadis itu supaya berbalik ke arahnya. Begitupun Zesya segera menutup mata Tania yang masih terbengong menatap hal tidak terduga di pagi ini. Sementara Hasya dan Zehan yang juga sempat mematung beberapa detik dengan canggung saling menatap satu sama lain sambil menelan salivanya yang seakan terasa tercekat di tenggorakan mereka. MEMALUKAN !
"Papa dan mama ngapain sih,, pagi-pagi maen skidipapap. mana di dapur lagi?" tegur Zesya sambil terus menutupi mata Tania. Hasya buru-buru mendorong tubuh suaminya saat menyadari posisi Zesya masih belum beranjak darinya, lantas sambil meringis malu segera berbalik membenahi pakainya yang sedikit berantakan karena ulah suaminya barusan.
"Heui,, kirain ada apa. ternyata lagi ada yang mau siaran langsung delapan belas tahun ke atas plus plus" ucap Irma terkekeh tipis, menahan sekuat tenaga supaya ia tidak terbahak melihat kejadian itu.
Zehan dengan perasaan malu setengah mati menyugar rambutnya sambil melihat ke sembarang arah, kemudian berjalan tenang seolah tidak terjadi apa-apa, sedetik kemudian langsung terbirit kabur begitu mendekati anak tangga menuju ke kamarnya.
Perlahan Zesya menurunkan tangannya yang masih menghalangi panca indra Tania. Suasana canggung tidak bisa dielakan begitu saja padahal mereka sudah berusaha menetralkan suasana dengan saling memberi senyuman meski dipaksakan. Mereka sama-sama merasa malu juga bingung harus mengatakan apa dan bagaimana. Semua hanya bisa berkutat dalam benak masing-masing.
"Kak Tania, misal nanti udah nikah jangan sampe melakukan hal aneh-aneh di dapur ya. Apalagi kalo udah punya anak, harus tau waktu dan tempat!" nasehat Deliza.
"Uhuk uhuk ,,," Tania terbatuk karena tersedak jus yang sedang ia minum ketika mendengar ucapan Deliza yang tujuannya bukan cuma sekedar menasehati tapi juga menyatir perbuatan orang tuanya.
"Kamu ngga apa-apa,,," dengan cepat Zesya membantu Tania dengan menepuk nepuk punggung gadis itu.
"minum minum ,, minum lagi pelan_pelan.." Tania segera mengambil gelas air putih yang disodorkan mamanya.
__ADS_1
"Lagian siapa juga yang nekat berbuat yang ngga-ngga di dapur begitu?" ucap Zesya sambil mengambil soptong roti tawar kepiringnya.
"Aku kan ngomongnya ke kak Tania, kok Aa yang nyahut sih?" ucap Deliza tersenyum jahil.
"Ya terus kalo Tania ngga nikah sama aku terus mau nikah sama siapa, sama Joon Woon?" Zesya sewot,
"ANDWAE !! Enak aja bilang Kak Joon nikah sama Kak Tania. Kak Joon Woon itu cuma bakal nikah sama aku. TITIK !!" Deliza tak kalah nyolot dengan kakaknya ketika sudah bersinggungan dengan Joon Woon. Zesya mengernyih seraya memasukan roti yang sudah di olesi selai kacang ke dalam mulutnya.
"Ya makanya.." namun kalimat Zesya terhenti ketika mendengar sebuah dentingan "klinting" kali ini sendok yang sedang di pedang Tania untuk menyuapkan nasi gorengnya ke mulutnya jatuh begitu saja. Serasa dejavu, ia kembali dibuat ternganga syok saat mendengar penuturan Zesya barusan. Begitupun yang lainnya langsung menghentikan kegiatan sarapan mereka dan fokus menatap serius pada Zesya.
"Lho,Kenapa? Kok pada diem gitu? Emang ada yang salah sama yang aku bilang barusan, kalo aku nanti bakal nikah sama Tan_ni_ A" "pluk"kini roti yang sedang dipegangnya jatuh ke piringnya. Dengan susah payah ia menelan roti yang belum terkunyah sempurna dengan dibantu dengan segelas s***, Setelah tandas "Drrrkkk" tanpa sepatah kata Zesya perlahan memundurkan kursi yang sedang ia duduki, lantas menyambar kunci mobil miliknya yang tergeletak di ats meja meja, lalu kabur dengan langkah cepat menuju garasi mobil.
"Wah jangan-jangan setelah lulus-lulusan bakal ada yang langsumg ijab qabul nih?" ucap Deliza santai melanjutkan sarapannya sambil tersnyum puas karena sudah membuat kakaknya malu.
"Aku ? Nikah sama Zesya?" ucap Tania dalam hati masih mencerna kalimat Zesya barusan.
Sementara Hasya tersenyum kegirangan karena tanpa perlu ia dijodohkanpun ternayata diam-diam anaknya sudah menyukai Tania duluan.
"Selamat ya Ir,, bentar lagi kamu dapat mantu yang ganteng walaupun rada aneh dikit.tapi tenang aja masih bisa dipermak." Irma ikut terkekeh saja mendengar celotehan sahabatnya itu. Kemudian ia menyentuh tangan putria yang terlihat masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Seolah memberi isyarat pada Tania agar tetap tenang, biar bagaimana pun ia tidak bisa langsung mengiyakan apa yang dikatakan Hasya atau menyuruh Tania untuk menyetujuinya, walaupun Irma juga akan merasa tenang jika Zesya benar-benar bisa jadi menantunya. Sedikit banyak ia mulai mengenali Zesya seperti apa, terlebih Hasya adalah temannya. Namun tetap saja semua keputusan ada pada pilihan keinginan Tania sendiri. Irma sebagai orang tua hanya mendukung saja selama jalan yang dijejaki anaknya adalah jalan yang baik. Karena yang ia harapkan sebagai orang tua tentu hanyalah kebahagiaan Tania dengan siapapun putrinya kelak akan berjodoh.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...