
Keesokan harinya, lima belas menit sebelum temu janji dengan dokter ahli Obgyn di Mount Elizabeth Hospital di jam 9 pagi nanti, mereka sudah bersiap untuk meninggalkan lobi hotel menuju rumah sakit. Baik Hasya maupun Zehan adalah orang yang tepat waktu, mereka lebih memilih untuk datang duluan daripada harus terlambat ketika sudah dipastikan waktunya.
Zehan sedang berbicara dengan resepsionis untuk mengkonfirmasi ruangan rawat inap yang sudah ia reservasi sebelumnya. Kemudian seorang pegawai rumah sakit dan seorang perawat menghampiri mereka lalu mengantarkan mereka ke kamar Royal Suite VVIP. Begitu memasuki ruangan mereka, Zehan cukup terkesima dengan interior yang cukup mewah dengan di dukung fasilitas seperti di hotel mewah lainnya.
Perawat itu kemudian langsung memberikan Hasya pakaian seperti pijama khusus rumah sakit mereka, sebelum nantinya ia akan dibawa untuk memulai prosedur pengobatan di mulai dengan pemerikasaan general termasuk CT scan, lalu konsultasi lanjutan setelah semua observasi dilakukan.
"Tok.tok " seorang dokter wanita memasuki ruangan tersebut untuk memulai observasi awal, yaitu mengecek data riwayat kesehetan Hasya dari dokter rumah sakit sebelumnya.
"Selamat pagi pak bu" sapa dokter itu sambil bersalaman dengan dengan pasutri itu.
"Baik ibu, bagaimana perasaan ibu hari ini?" tanya dokter is ramah.
"Baik bu" jawab Hasya mencoba berusaha lebih tenang. Dokter itu tersenyum saat menangkap kegelisahan yang dirasakan oleh Hasya.
"Ibu tenang saja, kami akan melakukan tugas kami semaksimal mungkin. Menurut hasil pemeriksaan di awal ibu di diagnosa memiliki myom di dekat indung telur serta kista di area leher rahim. Dari data ini ukuran fibriodnya juga sudah cukup mengkhawatirkan bila tidak segera ditangani kemungkinan besar akan menjadi tumor yang beresiko menjadi kanker." jelas dokter tersebut. Setelah konsultasi selesai dan menetapkan kapan waktu operasi merekapun kembali ke ruang rawat inap Hasya. Dengan hati-hati Zehan mendorong kursi roda Hasya menuju litf.
Saat menunggu lift terbuka tanpa sengaja mereka bertemu seseorang yang tentu saja sama sekali tidak diharapkan oleh Zehan.
"Kevin!!." pekik Hasya setengah berteriak saat melihatnya.
__ADS_1
"Hasya.. lho kok di sini? Sama siapa?" tanya Kevin seolah Zehan tidak berada di sana. Hasya yang mendengarnya mengernyih lalu memberi isyarat melalui matanya. Kevin yang sempat bingung lalu mengikuti arah gerak mata Hasya, lalu tersenyum julid.
"Oh.. Maaf aku kita tadi petugas rumah sakit habisnya warna kemeja mu sama dengan para perawat di sini. Zehan yang mendengar hal itu tentu saja lalu melempar tatapan tajam pertanda ia tidak suka dengan candaan Kevin.
"Mau masuk tidak?" tanya Kevin sebelum ia melepaskan jarinya dari tomobol "open" pintu lift. Dengan terpaksa Zehanpun masuk karena dia masih punya harga diri, ia tidak ingin dicap kekanak-kanakan karena tidak mau satu lift dengan Kevin.
"Jadi akhirnya kamu bersedia dioperasi Sya?" tanya Kevin saat pintu lift tertutup.
"Iya Vin," jawab Hasya singkat. Kevin sebenarnya merasa terkejut saat melihat Hasya pertama kali tadi, namun ia tetap menahan diri tidak memeluk perempuan itu yang pada akhirnya tetap memilih menunggu Zehan dibanding memulai kehidupan baru bersama dirinya. Pria itu melihat-lihat ke arah cctv dan langit lift, ia sengaja memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya agar bisa sedikit menyembunyikan perasaan gugup dan ledakan emosinya saat kembali melihat wanita yang ia cintai setelah beberapa tahun tidak pernah bertemu lagi.
"Syukurlah kalo begitu aku senang mendengarnya" ungkap Kevin berusaha bersikap biasa saja.
"Seperti yang kamu lihat, kabarku sangat baik. Ya seperti yang kamu aku sudah menemukan Hasya dan kami akan hidup bahagia. Tenang saja." sahut Zehan menahan luapan emosinya.
"Oiya Vin, kamu ada urusan apa di sini?" tanya Hasya mengalihkan pembicaraan mereka, ia bukan perempuan yang bodoh hingga tidak peka dengan situasi saat itu.
"Aku? Aku sedang menjenguk salah satu partner bisnis ku. Aku kan sekarang bukan lagi pegawai bank tapi Direktur sebuah bank" ungkapnya sedikit berbangga diri dengan posisinya saat ini.
"Oiya? ah aku bukan orang bisnis jadi aku kurang update mengenai hal itu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, hmm kalo tidak salah perusahaan suami mu tengah mengajukan dana talang pada bank kami untuk pengembangan wisata lintas selatan. Mendengar hal itu tentu saja membuat Zehan terkejut, kedua alisnya saling bertautan pertanda ia tengah berpikir keras mengenai hal yang baru saja diungkapkan oleh Kevin.
"Ting " pintu lift terbuka di lanti yang menjadi tujuan Kevin, "Mari kita mengobrol lagi di lain waktu ya" kata Kevin sembari berjongkok di depan Hasya yang hanya mengangguk sambil tersenyum sebagai jawabannya. Kevin lalu melangkah keluar sambil melambaikan tangan kanannya dan tangan kirinya terkepal dibalik saku celananya.
Flashback on
"Jalannya pelan-pelan aja nak, jangan lari -lari begitu" seru Hasya ketika sedang mengejar Zesya berlarian di hamparan pasir pantai kala itu.
"Duk " tanpa sengaja Zesya menambrak sebuah kaki saat ia terus berlari tanpa melihat ke arah depan.
"Eh kamu ngga apa-apa dek?" tanya pria yang kakinya ditabrak bocah itu. Segara ia meraih tubuh mungil anak laki-laki itu, lalu dengan lembut iapun membantunya membersihkan pasir yang mengotori bajunya.
"Zesya, kan mama udah bilang jangan lari-lari, jatoh kan, mana yang sakit?" seru Hasya saat menemukan anaknya tengah dibantu seseorang."DEG" jantung dan waktu disekeliling pria itu seolah berhenti untuk beberapa detik saat mendengar pekikan seorang perempuan. Pria itu lantas berdiri saat perempuan itu langsung menghampiri bocah laki-laki yang baru saja menambraknya seolah perempuan itu tidak melihat keberadaannya di sana.
Ia memperhatikan dengan seksama wajah perempuan yang baru menyebut dirinya dengan sebutan "mama", ia sedikit memiringkan kepalanya sembari menyipitkan sepasang matanya, agar benar-benar bisa memastikan apa yang dilihatnya adalah benar-benar wanita yang ia cari selama ini. Meski ragu akhirnya ia memberanikan diri untuk memastikan perempuan itu adalah benar dia.
"Ha.. Hasya ??" ucapnya agak terbata, pun dengan perempuan itu tubuhnya terasa membeku beberapa saat saat melihat sosok pria yang tengah berdiri di depannya. saat ini. "Ke.. Kevin.." ucap Hasya terbata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1