
Kerajaan Elf sepeninggal pasukan dan Pangeran Glenn.
Siang itu Levyn mengatakan akan pergi ke kota untuk suatu urusan. Angel mengijinkan, dengan syarat segera kembali petang hari.
Untuk mengalihkan pikiran buruk dari kepalanya, Angel pergi ke halaman belakang dan menunggang kuda mengelilingi tanah mereka yang cukup luas. Hari sudah sore dan putranya masih juga belum kembali. Dia mulai menggerutu.
"Jika putraku kembali, katakan untuk langsung menemuiku di kamar!" pesannya pada pelayan.
"Baik, Nyonya." jawab pelayan itu sambil menunduk takzim.
Para pelayan kediaman mengerti bahwa Nyonya mereka sedang sangat sensitif, sejak putri Cristal diculik oleh Orc. Jadi mereka membiarkan apapun yang ingin dilakukan Angel, untuk menenangkan hati.
Angel pergi ke kamarnya setelah merasa bosan duduk di teras minum teh dan membaca buku. Dia ingin beristirahat sejenak. Masih ada waktu satu jam lagi, hingga petang. Dia akan menunggu Levyn kembali, dengan sabar.
Petang nan indah di kediaman mereka yang melayang di udara. Jauh dari kegemparan di daratan bawah.
Ibukota yang sangat indah, yang dihuni dengan harmonis oleh para elf, peri, penyihir dan juga kurcaci itu, petang itu mendadak kacau balau. Suara terompet peringatan membahana ke seisi kota.
"Orc masuk kota!" teriak orang-orang panik. Mendengar hal itu, dan disebabkan oleh ketengangan hubungan setelah kerusuhan serta penculikan Putri Cristal, maka berita itu seperti peringatan perang!
Pengunjung kota yang biasanya ramai, sekarang berlarian menyelamatkan diri dan pergi dari pasar. Yang terjebak di tengah kota dan terlalu jauh untuk menghindar, mereka masuk ke toko-toko di sepanjang jalan dan pintu segera ditutup rapat!
Pangeran Levyn dan dua pengawalnya baru saja kembali dari berkumpul dengan teman-temannya. Mereka sedang naik kereta menuju tempat teleportasi yang akan membawa mereka pulang.
"Orc! Mereka datang!" teriak seorang peri pohon mungil yang terbang melintas dekat dengan telinga Levyn.
Dengan cepat tangannya menangkap peri itu dan bertanya. "Apa maksudmu dengan Orc datang? Jangan memicu keributan di kota!" tegur Levyn.
Namun, pria itu segera menyadari bahwa peri pohon itu benar. Tanah di bawah kereta bergetar dan kereta mereka sedikit terguncang.
"Mereka datang!" peri pohon itu mengibaskan sayap mungilnya dan terbang secepat kilat diantara ranting dan dedaunan pohon cerry.
"Kita harus segera kembali!" pengawal sang pangeran memberi instruksi pada sais kereta untuk mempercepat laju kuda dan kereta mereka. Masalahnya, itu tak mudah lagi. Jalanan sudah penuh dengan orang yang berlarian tak tentu arah. Kacau sekali.
"Sebaiknya kita turun dan berlari menuju tempat teleportasi!" putus pengawal itu. Ditariknya tangan Levyn untuk turun.
"Kenapa kita lari seperti pengecut? Ini tanah kita! Ini negara kita! Kita harus mengusir mereka dengan berani! Bukannya melarikan diri!" Levyn membantah dengan marah.
"Itu tugas prajurit, pangeran." Pengawal itu berusaha memberi pengertian pada pangeran muda yang sedang dalam masa pemberontakan kecil di hatinya pada beberapa aturan yang dianggapnya sangat mengekang.
__ADS_1
"Bahkan seorang Pangeran Mahkota saja ditugaskan untuk menjaga perbatasan!" katanya ngotot.
"Itu sebabnya nyawa anda sangat berharga!" Dua pengawal itu sudah tak sabar. Mereka menarik pangeran muda itu dan mendukungnya di pundak, agar bisa segera menyelamatkan diri.
"Turunkan aku!" teriak Levyn marah. Belum pernah dia diperlakukan tidak hormat seperti itu.
"Kita harus segera kembali sebelum sambungan teleportasi ke atas ditutup, Pangeran!" Para pengawal itu lari secepat yang mereka bisa!
Ada aturan di kerajaan bahwa post teleportasi ke kediaman para bangsawan yang berada di pulau-pulau melayang di langit itu, akan diputuskan jika keadaan sangat genting.
"Bagaimana dengan kakek? Bagaimana dengan Paman Raja?" teriak Levyn panik.
"Kita harus ke istana!" ujarnya teringat sesuatu.
"Post menuju istana sangat jauh, Pangeran. Lagi pula Putri Angel menunggu Anda di kediaman!"
"Ibu ...." lirih Levyn bimbang. Kemudian dia menetak punggung pengawal dan bersalto di udara, sebelum mendarat di dahan pohon.
Pengawal yang terdorong akibat dijadikan tumpuan tadi, menatapnya dengan kengerian.
"Aku harus ke istana dan melindungi pamanku! Katakan pada ibu seperti itu!" Teriaknya sambil melompat antar dahan pohon dan kembali ke arah keributan di tengah kota.
"Aku akan mengikutinya, agar tidak berbuat sembrono! Kau kembali dan lindungi sang putri!" teriak salah satu pengawal yang sudah menyusul Levyn, melompati dahan demi dahan pohon.
"Di mana dia?" gumamnya sambil terus mencari-cari diantara keramaian para peri pohon yang terbang ke arah berlawanan.
"Hei! Apa kau bodoh, Kawan?" Seekor kupu-kupu indah terbang disamping pengawal itu.
"Di sana terjadi keributan besar! Sebaiknya kau melarikan diri seperti yang lain!" sarannya.
"Apa kau melihat Pangeran Levyn? Aku sedang mencarinya!" kata si pengawal.
"Pangeran itu? Aku tidak melihatnya. Apa dia kembali menyusahkan?" tanyanya kepo.
Pegawal itu tak menjawab, dia langsung melesat cepat ke arah seseorang di depan yang sedang berada dalam bahaya.
"Aahhhh ...!" teriakan nyaring terdengar saat seorang Elf cantik dibawa berayun ke dahan pohon besar, untuk menghindari lesatan anak panah yang terbang entah dari mana.
"Menjauhlah! Di sini berbahaya!" pesannya sebelum meninggalkan Elf wanita itu di atas pohon besar.
__ADS_1
Pengawal itu langsung pergi meninggalkan wanita Elf yang terkejut dan kemudian jerit ketakutannya terdengar.
"Dasar bodoh! Bagaimana aku turun? Pohon ini terlalu tinggi!"
Pengawal itu mengarahkan tujuannya menuju post teleportasi ke istana. Dia tiba di sana dengan cepat dan tanpa hambatan.
"Kenapa kau ke sini? Post ini sudah ditutup!" kata penjaganya.
"Apakah Pangeran Levyn sudah naik?" tanyanya dengan harapan besar.
"Tidak! Kami langsung menutup post teleportasi ini danl bersiaga begitu mendapat kabar kalau perbatasan kita dengan tanah tak bertuan telah jatuh!" jawab penjaga itu cepat.
"Jatuh? Kapan itu?" tanya pengawal itu kebingungan.
"Satu jam yang lalu!" jawab si penjaga yakin.
"Apa?"
Kepanikan terlihat di mata si pengawal. "Lalu di mana sang Pangeran? Dia barusan berlari di depanku dan bilang mau melindungi Yang Mulia Baginda Raja!"
"Tapi sang Pangeran belum sampai di sini!" Penjaga itu kini ikutan cemas. Alangkah merepotkan dan akan menjadi tanggung jawabnya jika pangeran muda itu hilang saat ingin ke tempat tugasnya.
"Biar kucari!" pengawal Levyn kembali lari dan melompat ke beberapa tempat tinggi untuk melihat area sekitar post yang kini sudah dijaga ketat oleh pasukan pengawal istana.
Akhirnya dia menemukan pohon rindang yang berada di tengah plaza, tempat biasanya warga berjalan-jalan ataupun sekedar berkumpul dan melihat keindahan kolam angsa.
"Awaaaasss!" teriak pengawal itu, saat matanya melihat benda merah bulat besar, terbang ke arah para pengawal istana bersiaga.
Sesuatu jatuh berdebum, melukai dan membakar banyak pengawal istana yang tak menduga serangan akan datang dari ketinggian. Jerit kengerian mengangkasa. Bahkan pengawal Pangeran Levyn juga bergidik ngeri melihat para pengawal istana yang berlarian ke sana kemari dalam balutan api menyala.
Saat satu lagi bulatan besar kemerahan itu terbang di angkasa. Dia kembali berteriak memperingatkan. "Menghindaarrr!" Serangan kedua tidak sefatal yang pertama, sebab para pengawal itu sudah mengetahui arah serangan musuh.
"Aku harus mencari sang pangeran. Kalian bertahanlah!" teriak pengawal itu sambil melompat dari satu tempat tinggi ke tempat tinggi lainnya. Dia khawatir Levyn terjebak dalam pertempuran dan celaka.
Dugaannya tidak keliru. Di bawah sana, pria muda yang sedang bersemangat itu, menghadapi seorang Orc dengan pedangnya.
Namun, bagaimana pun juga, pangeran itu memang masih kurang pengalaman. Dia sibuk menghadapi serangan di depan, tapi lupa bahwa di sekitarnya orang sedang bertarung. Dan senjata bisa melesat dari dan ke mana saja.
"Arah sampingmu, Pangeran!" pengawal itu berteriak memberi peringatan. Levyn mendengar dan segera mengelakkan anak panah yang terbang entah dari mana.
__ADS_1
*******