The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 98. Menguasai Istana Sihir


__ADS_3

Bertiga mereka pergi ke menara yang dimaksud oleh guru penyihir. Glenn prihatin melihat keadaan mereka yang sudah payah, sebab kelaparan dan tidak memiliki sumber makanan atau minuman selain persediaan yang disiapkan buru-buru.


Hal pertama ang dilakukan Eric adalah memberi mereka air abadi. Dia tak mungkin terus menggunakan kekuatannya secara sembrono. Dia bisa saja justru tewas.


“Eric, apa yang terjadi sebenarnya?” terdengar panggilan Hakon di keplanya.


“Kenapa? Apa yang terjadi di sana?” tanya Eric balik.


“Para pengawal yang mengepung kami, semua tiba-tiba jatuh. Tapi setelah kuperiksa, mereka hanya pingsan. Hanya saja, wajah mereka mulai membiru!” jawab Hakon.


Eric memberi instruksi. “Lihat dada mereka. Kau akan menemukan alat beracun dipasang di dadanya. Beri mereka minum air abadi dan buang alat itu. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang!”


“Baik!” sahut Hakon.


Di menara, beberapa orang mulai sadar. Namun, keadaan mereka yang begitu lama kelaparan memang sangat lemah. Air abadi saja tidaklah cukup. Eric melihat bahwa semua setidaknya sudah tidak pingsan lagi.


“Mari kita pindahkan ke tempat yang lebih luas!” saran Eric.


“Ayo,” Glenn setuju.


Eric langsung menyapukan tangannya dan semua orang pun menghilang. Guru penyihir itu kembali terperanjat melihat pemuda asing yang bersama Glenn.


“Di mana sang raja dan permaisuri?” tanyanya marah dan siap untuk melontarkan sihir.


“Mereka aman, kakek guru. Sekarang tunjukkan di mana kita bisa membaringkan raja dan semua kerabatnya, agar mudah dirawat?” bujuk Glenn.


“Sang raja tidak apa-apa?” tanya guru sihir itu ragu.


“Semuanya aman, Eric melakukan cara seperti itu untuk memindahkan mereka sekaligus dengan aman.” Glenn meyakikan.


“Baik, ayo ikut ke kamar Yang Mulia. Aku menutupi kamar itu dengan sihir, agar tidak dikotori oleh monster jelek itu!” katanya penuh dendam.


Ketiganya turun dari menara dan menuju kamar raja di lantai dua. Benar saja. Koridor yang dulu tertata rapi, sekarang sudah tak beda dengan kandang kambing. Kotor dan jorok!”


Eric bahkan menutup hidung saat melewati begitu banyak kotoran yang berserakan. “Benar-benar tak beradap!” umpatnya jijik.


Tapi dua kamar raja dan permaisuri yang bersebelahan dan ditutupi sihir, benar-benar bersih seperti sedia kala. Di dua tempat itulah semuanya dibaringkan.


“Ini dua botol air.” Eric memberikan dua botol itu ke tangan Glenn. Lalu mengeluarkan satu pil yang kemudian dibaginya dua. Masing-masing potongan dimasukkan dalam botol lalu dikocoknya hingga larut.


“Beri mereka seteguk air ini setelah makan. Mereka lemah karena tidak makan begitu lama. Air ini akan segera memulihkan tenaga mereka, setelah makan,” pesannya.


“Baik!” Angguk Glenn.

__ADS_1


Eric mengeluarkan beberapa bahan makanan. “Aku tidak tahu di mana dan bagaimana memasak makanan ini. Tapi sebaiknya berikan sup untuk mereka, agar lebih cepat pulih!”


“Akan kulakukan!” sahut penyihir itu cepat. Eric membiarkan pria itu membawa bahan makanan untuk dimasak.


Eric, banyak yang pingsan!” kata Hakon.


“Hati-hati pada Orc yang masih berkeliaran!” Eric memperingatkan.


“Mulutmu sungguh bertuah. Dua Orc berdiri di depanku saat ini,” ujar Hakon.


“Apa kau bisa mengatasinya?” tanya Eric.


“Hah! Tak sulit sama sekali!” ujar Hakon bangga.


“Kumpulkan para Orc yang kau ringkus di halaman. Nanti kita bereskan!”  perintah Eric.


“Oke!”


“Kata temanku, masih banyak Orc berkeliaran. Aku akan membantu mereka dulu,” pamit Eric.


“Baiklah. Terima, kasih, Eric,” balas Glenn hormat.


Begitu keluar kamar, hidung Eric mencium bau tak sedap campur aduk di koridor yang harusnya indah. Dengan jengkel dia mengibaskan tangan untuk membuka semua jendela. Lalu menarik angin masuk untuk mendorong semua sampah dan kotorang yang berserakan, ke arah tangga.


Setelah seluruh oridor lantai dua bersih dari kotoran, maka anak tangga juga dibersihkan. Dan sekarang semua sampah menumpuk di lantai satu. Eric menggunakan tenaganya mengumpulkan semua kotoran yang dilihatnya menjadi bola yang lama kelamaan menjadi besar. Dibawanya semua itu ke halaman depan yang luas dan ditumpuk di situ.


“Gerald, bakar semua kotoran itu! Atau istana ini akan menjadi sarang penyakit!”


“Oke!” Gerald berubah menjadi naga dan membuat semua pengawal yang baru disadarkan, terkejut.


Api yang merah membara keluar dari mulutnya dan membakar semua gunungan sampah yang berhasil dikumpulkan Eric.


Di sisi lain halaman,beberpaa Orc yang telah diikat Hakon dengan tali tak terlihat, terperanjat melihat makhluk buas seperti Gerald.


Eric mendekati mereka. “Siapa yang mengatakan padaku di mana Putri Cristal berada, akan kubebasakan!”


Para Orc itu saling pandang, lalu membuang muka.


“Baiklah.” Eric mengambil alat beracun yan gsebelumnya dipakaikan di dada para penyihir. Denagn paksa, alat itu dia tempelkan ke dada para Orc.


“Aku punya penawarnya. Yang bicara, akan selamat!”


Eric pergi dan kembali ke lantai dua. Dia ingin membersihkan temat itu sedikit lagi. Setelah meminum sebotol air abadi untuk memulihkan tenaganya, Eric memanggil awan-awan kecil dan mengambang di sepanjang koridor. Dalam sekejap, turun air membasahi seluruh tempat itu dan Eric bermain air sambil membersihkan seluruh kotoran dengan gerakan tangannya.

__ADS_1


Hakon yang melihat air turun lewat tangga, terbang menyusul Eric ke atas. Dibantunya membuk semua pintu kamar dan jendela untuk membersihkan udara di semua tempat.


Dalam satu jam, seluruh ruangan di lantai dua sudah bersih dan basah kuyup. Tak ada yang lolos dari guyuran hujan, selain kamar Raja dan permaisuri.


Levyn ditugaskan membantu guru sihir itu menyiapkan makanan. Para prajurit yang sudah pulih, bersama-sama membantu membersihkan istana yang super kotor.


Setelah semua tugasnya memanggil awan selesai, Eric mendatangi lagi para Orc yang kini mulai gemetar terkeba racun yang bekerja lebih cepat akibat kebocoran setelah ditarik pertama kali.


“Apa tidak ada yang ingin hidup?” tanya Eric. Tangannya memancarkan cahaya biru yang teramat panas di dekat para orc dikumpulkan.


“Aku orang yang tidak sabaran dan tidak suka memelihara musuh yang tidak bersedia menyerah.


Eric melayang ke atas dan mulai melingkari semua orc dengan api biru. Api sangat panas sudah mengepung mereka, membuat mereka hanya menghirup udara panas semata, mengakibatkan organ dalam mereka terbakar secara perlahan.


“Akan kukatakan!” jerit salah seorang yang sudah tak tahan lagi.


“Katakan di mana!” Eric mengangkat orang itu tinggi dari atas tanah. Dia bisa menghirup udara segara, tapi apai dari bawah masih memanasi pantatnya.


“Putri Elf itu dibawa ke kerajaan kami untuk dipersembahkan pada Raja!” ujarnya cepat.


“Baik! Terima kasiih untuk informasinya. Aku akan menghentikan penderitaanmu!”


Tangan Eric diletakkan di dadanya. Lalu cahaya biru tembus di punggungnya. Orc itu terkulai dan nyawanya melayang. Kemudian dilempar ke tengah kawanannya.


“Kalian sudah tak berguna lagi!” Eric meninggalkan mereka.


“Gerald, bakar saja mereka!” perintahnya.


“Oke!” Gerald melesat cepat mengitari para Orc sambil menyemburkan api dari mulutnya. Yang terdengar hanya jerit kengerian sebelum sunyi senyap.


Hingga petang, istana itu sudah bersiih kembali dan semua Orc disitu habis dimusnahkan. Eric benar-benar tidak berbelas kasihan.


Mereka menunggu raja pulih dengan beristirahat sejenak. Makanan dibagikan untuk semuanya.


“Setelah ini bagaimana?” tanya Hakon. Dia masih menyimpan kecemasan. Bagaimanapun, para Orc yang didororng mundur oleh tentara Elf mungkin akan datang lagi ke negara penyihir, selain pulang ke negara mereka.


“Sudah seperti ini. Jadi mari lakukan yang terbaik saja. Jika mereka datang ke sini, mari kita sambut. Jika mereka kembali ke negaranya, maka kita hanya bisa menerima akibatnya.


“Bagaimana kalau kita hadang mereka di tanah tak bertuan?” usul Randal.


“Itu hanya bisa dilakukan kalau memang belum ada yang lolos diantara mereka!” kata Eric.


“Tapi, kalau kita bisa musnahkan sebagian besar tentara mereka, bukankah lebih baik?” tanya Randal.

__ADS_1


“Sebaiknya bicarakan dengan Pangeran Glenn lebih dulu,” kata Eric. Karena Glenn mungkin akan menerima akibat paling berat jika mereka bertindak gegabah.


__ADS_2