
“Apa dia menyobek sesuatu di depan matamu?” tanya Arjun santai. Dia ingin menyesap tehnya, tapi ternyata cangkir itu sudah kosong. Jadi Arjun meletakkannya lagi.
“Apakah hal seperti itu biasa di tempat kalian?” tanya Hasheem yang melihat tak ada satupun dari mereka yang terkejut.
“Yah, meskipun terlihat mengerikan, tapi kadang tindakan itu harus dilakukan untuk langsung membuang penyakit yang ada di dalam tubuh kita!” jelas Robert.
Hasheem mengangguk. Dia memang melihat beberapa bagian dari perut ayahnya dipotong dan dibuang. Kemudian sisanya dijahit kembali, seperti menjahit baju. Tengkuknya bergidik melihat tamu-tamu asingnya itu melihat dengan santai apa yang dilakukan Dimas.
“Satu hal yang aku heran, tabib itu menyimpan banyak peralatan di tangannya,” bisik Hasheem.
“Seperti ini?” Arjun mengeluarkan sebotol air abadi dari penyimpanannya.
Hasheem melompat mundur dengan terkejut. “Ba-bagai-mana kau melakukannya?” tanyanya terkejut.
“Tunggu Eric. Jika bersedia menjelaskan semuanya maka berarti dia mempercayaimu untuk menyimpan rahasianya,” Arjun menepuk pundak Hasheem.
“Dia benar-benar ketua tim kalian?” tanya Hasheem.
“Bangsa kami menghargai kekuatan dan kebijaksanaan. Dan Eric adalah yang terkuat diantara kami!” Robert berkata dengan serius.
“Tapi dia terlihat biasa saja.” Komentar Hasheem
“Sikapnya sederhana. Dia bergaul dengan siapa saja, bahkan anggota suku yang tidak punya kekuatan tetap bisa menjadi temannya,” Hakon menimpali.
“Dia masih muda. Kebijaksanaannya masih belum terasah. Itu sebabnya pemimpin kami, Ayahnya Eric, mengirimnya pergi untuk menjalankan misi. Kami hanya mendampinginya. Semoga dia bisa menjadi pemimpin bangsa yang cakap,” jelas Robert.
Jadi, kalian pergi ini untuk menjalankan misi membimbingnya?” pandangan Hasheem terlihat kagum.
“Misi utamanya dalah penyelamatan putri salah seorang teman kami yang diculik oleh bangsa lain!” jelas Robert.
“Hebat sekali. Dan sekarang kalian tersasar sampai ke sini?” dia tersenyum lebar, merasa sedikit lucu.
“Tempat teman kami itu, harus melintasi dinding cahaya. Meskipun saat itu kami merasa memasuki dinding cahaya yang benar, ternyata salah. Dan akhirnya kami melintasi dinding cahaya lainnya, hingga sampai ke sini.” Robert menggeleng.
“Benar-benar tidak pasti,” gumam Hasheem. “Bahkan meskipun kalian melintasi dinding cahaya yang diketahui oleh suku kami, kalian tetap tidak bisa memastikan bahwa itu adalah jalan yang benar.” Hasheem ikut prihatin.
“Beritahu Hasheem, ayahnya sudah sadar.” Robert mendapatkan pesan dari Eric.
“Coba lihat ke dalam. Mungkin ayahmu sudah sadar?” Robert mendorong Hasheem untuk melihat ke dalam tenda.
“Oh, baiklah.” Hasheem meninggalkan tiga tamunya yang masih duduk di depan tenda.
“Di mana Hasheem?” tanya Laila. Dia membawa wadah makanan di tangannya.
“Dia masuk dan melihat ke dalam.” Robert menunjuk ke tenda.
__ADS_1
Laila menjadi khawatir. Dia mendekat ke tenda. “Hasheem, bagaimana dengan ayah?” tanyanya dari luar.
“Ayah sudah sadar. Kau masuklah dan lihat!” sahut Hasheem dari dalam.
Laila dengan cepat masuk dan membawa makanannya ke dalam tenda. Dua tamu asing yang disebut tabib itu, bersandar ke tumpukan barang. Mereka tampak letih. Makanan itu segera diletakkan di hadapan Eric dan Dimas.
Tanpa mengatakan apapun, Laila mendapatkan Hasheem dan ayahnya di pembaringan yang sudah dirapikan. Sebelum masuk tadi dia menilat tumpukan alas tidur yang kotor dan bernoda darah, diletakkan tak jauh dari pintu.
“Ayah,” sapa Laila dengan air mata bercucuran.
Ketika Laila ingin memeluk ayahnya, Hasheem mencegah. “Jangan menyentuh perutnya yang sakit!”
“Ah, aku lupa. Aku sangat senang melihat ayah bisa bangun lagi. Itu sudah cukup buatku.” Laila menyeka bekas air matanya.
“Makanan sudah kusiapkan. Uruslah tamu-tamu dan tabib itu. Mereka sangat kelelahan!” Laila mengingatkan Hasheem.
“Biar aku menjaga ayah!” tambah Laila.
Hasheem bangkit dan mengajak Robert, Arjun serta Hakon masuk ke tenda. Dia keluar lagi dan tak lama membawa wadah makanan lain. Dia menjamu tamunya sebagai ucapan terima kasih.
Siang hari, anggota suku itu mengetahui bahwa Kepala Suku mereka telah diobati. Hasheem menyuruh mereka menyembelih sepuluh ekor domba untuk merayakannya malam nanti. Seluruh anggota suku itu bersorak kegirangan. Mereka segera pergi ke ladang penggembalaan beramai-ramai.
Malam itu, di luar tenda cahaya api unggun menyebar di mana-mana. Mereka memanggang daging domba di banyak tempat agar semua ikut menikmati. Bahkan di bukit berbatu tempat para penggembala, juga dinyalakan api unggun untuk memanggang domba pemberian Hasheem.
“Kalian dari mana?’ tanya Kepala Suku yang sudah mulai menemukan kekuatannya lagi.
“Apa itu berarti kalian tidak tinggal di bintang lagi?” pria tua itu tersenyum.
“Tidak. Dunia kami mengalami kehancuran ratusan tahun yang lalu.” Robert menimpali.
“Jika begitu, tinggallah di sini saja, menjadi sahabat suku kami,” tawarnya.
“Terima kasih tawaran anda yang sangat murah hati. Tapi sejujurnya, setelah pencarian yang sulit, Pemimpin bangsa kami sebelumnya, berhasil menemukan dunia kecil lain yang bisa menjadi tempat hidup kami. Jadi di sanalah sedikit orang yang tersisa melanjutkan hidup.” Arjun ikut nimbrung dalam pembicaraan.
“Itu bagus sekali. Tapi, jika kalian melewati tempat ini lagi, singgahlah ke sini. Kalian adalah teman Suku Beiduin!” tegasnya.
“Terima kasih, Kepala Suku.” Eric memberi hormat.
“Kau siapa?” tanyanya Kepala suku lagi. Dibanding Robert, Arjun dan Dimas, Eric jelas lebih muda. Dia sebaya dengan Hakon yang lebih banyak diam mendengarkan.
“Dia Eric, ketua tim perjalanan ini!” Robert memperkenalkan Eric.
“Oh, kau pasti hebat. Masih muda sudah memimpin anggota tim yang sudah setua mereka.
“Mereka adalah para paman yang akan membimbingku.” Eric merendah.
__ADS_1
Perbincangan malam itu berlanjut hingga dicapai kesepakatan. Bahwa Kepala Suku maupun anggota sukunya tidak akan mendapat tuntutan dari Bangsa Cahaya jika terjadi sesuatu pada tim Eric setelah memasuki dinding cahaya itu.
Eric meyakinkan bahwa semua adalah tanggung jawab mereka sendiri. Dan bahwa mereka sudah kerap melewati berbagai dinding cahaya. Eric justru mengingatkan Kepala Suku itu untuk melarang siapapun memasuki dinding cahaya, karena di sana memang sangat berbahaya.
“Baiklah. Karena kalian bersikeras, tak apa. Kalian bisa pergi besok, setelah beristirahat!” pesannya.
“Terima kasih!” Robert mengucapkan terima kasih sebelum mereka keluar dari tenda dan membangun tenda sendiri tak jauh dari tempat Kepala Suku.
Hasheem memperhatikan dari jauh. Dia bisa melihat bahwa tenda Eric dan timnya terbuat dari bahan yang baru pertama dilihatnya. Dia percaya bahwa teman-teman barunya itu memang dari dunia lain di balik dinding cahaya. Dunia yang memiliki banyak misteri dan rahasia yang dia tak ingin menggalinya karena terlalu berbahaya.
Pagi hari, Dimas dan Eric sudah datang untuk memeriksa hasil dari operasi sebelumnya. Kali ini, Kepala Suku itu sendiri dapat melihat alat-alat pengobatan aneh yang ditunjukkan padanya.
“Sudah cukup bagus. Apakah Anda ada keluhan sakit yang lain selain di perut ini?” tanya Dimas sambil menggantungkan stetoskop di lehernya. Di tangannya muncul alat suntik yang mengejutkan Kepala Suku. Tapi Hasheem sudah pernah melihat alat itu sebelumnya.
“Tidak ada yang sakit lagi. Hanya saja, di sini masih terlalu sakit,” kata Kepala Suku, menunjuk perutnya.
Dimas meletakkan telapak tangan di atas perut. Tiba-tiba muncul Sofie di sana dan tak pelak, itu membuat Kepala Suku terpekik kaget. “Siapa dia?” tanyanya gugup.
“Dia teman saya. DIpanggil untuk membantu menyembuhkan luka di dalam,” jelas Eric.
“Lakukan, Ivy!” perintah Eric.
Sofie meletakkan tangannya di atas luka dan mulai memancarkan cahaya pengobatannya yang perlahan menelusup masuk, memberi rasa nyaman pada Kepala Suku yang kesakitan.
“Ini air obat. Berikan pada ayahmu. Harus diminum hingga habis. Sehari satu botol!” Dimas memberikan tiga botol air abadi yang sudah dicampur obat pada Hasheem.
“Baik, Terima kasih.” Hasheem sangat senang. Itu botol-botol obat yang besar. Berbeda jika berobat pada tabib, maka obat cair hanya bisa didapat sangat sedikit.
Dimas melepaskan jarum infus yang dia pasang sejak kemarin. Lagi-lagi, semua peralatan itu tiba-tiba menghilang dari pandangan Hasheem.
Sambil menunggu Ivy selesai dengan pengobatannya, Dima memberi nasehat, makanan apa saja yang bisa dimakan oleh Ketua Suku selama sebulan pengobatannya. Agar luka di dalam perutnya tidak sobek lagi.
“Kalian harus makan dulu sebelum pergi,” kata Hasheem memaksa.
Eric mengangguk. Dia ingin semua fit saat memulai perjalanan nanti, karena mereka tidak tahu apa yang harus dihadapi dibalik dinding cahaya itu.
Hasheem sendiri yang mengantar ke atas bukit penggembalaan. “Jika kalian menemukan pamanku, bisakah kalian membawanya serta, agar dia tidak sendirian di sana?” harapnmya.
“Jika dia bersedia, tentu saja!” Eric mengucapkan janjinya saat menyalami Hasheem.
“Oke! Apa kalian sudah siap untuk menemukan dunia baru lainnya?”
Pertanyaan Eric dijawab anggukan kepala yang lainnya. “Ya!”
Mereka berpegangan tangan dan melangkah masuk. Kemudian menghilang di depan Hasheem.
__ADS_1
*****