The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 59. Adu Ketangkasan


__ADS_3

Anggota tim Eric terbang ke arah timur hingga lewat tengah malam. Lalu mereka beristirahat di tengah gurun gersang, jauh dari mana pun juga. Anggota tim lain sibuk memasang tenda untuk menghindarkan diri dari sapuan pasir yang ditiup angin.


“Jika dengan berkuda bisa dua hari perjalanan, kuharap dengan cara kita ini, besok kita bisa melihat desa itu. Lalu lanjut ke desa berikutnya. Semoga orang-orang suku Beiduin itu masih berada di tempat yang sama.” Kata Robert.


“Bagaimana kalau besok kita tanya dulu di kota pertama. Apakah orang suku Beiduin itu masih di sana ataukah pindah lokasi,” saran Arjun.


“Saran yang bagus. Kita lakukan seperti itu, besok.” Robert setuju.


“Waktunya makan malam!” teriak Gerald.


Mereka pun berkumpul di tenda besar tempat para anggota tim itu beristirahat malam ini.


“Apakah masih jauh jalan ke negeri kami?” dua Elf itu amat sangat gelisah.


“Kita sedang mencarinya. Semoga besok ada titik terang!” Kakek Kang mencoba menenangkan dua orang itu.


“Apa kalian yakin jika dinding cahaya yang dimaksud tabib itu adalah jalan menuju negeri kami?” tanya Herdan.


“Kami tidak bisa memastikannya. Melewati dinding cahaya sama seperti berjudi dengan nasib. Entah dunia di sana baik atau buruk, tak ada yang tahu. Entah di seberangnya dunia Elf atau tempat lain, kita juga tidak tahu sebelum menyeberanginya!” terang Robert.


“Kalau memang belum pasti, kenapa kita tidak menempuh lautan saja, seperti yang kami lakukan waktu itu?” sela Khort.


“Apa kau ingin disambar petir dan diamuk ombak badai lagi?” Gerald membalikkan pertanyaan dengan heran.


“Bukan cuma itu alasan kami tidak memilih jalan yang sama.” Eric nimbrung.


“Apa alasannya?” desak Herdan.


“Karena, setiap kali kita melewati dinding cahaya, kita tak akan bisa melewatinya untuk kembali ke tempat semula!” jelas Eric.


“Benar. Dinding cahaya itu hanya jalan satu arah! Begitu kau memasukinya, kau tak bisa kembali lewat jalan yang sama lagi!” Robert mengangguk.


Dua Elf itu terdiam. “Jadi itu sebabnya kalian tidak pernah datang lagi ke negeri kami.”


“Sekarang kau mengerti kan. Itulah kenapa kami tidak pernah berusaha mencari jalan menuju tempat kalian lagi. Karena ada banyak dinding cahaya yang menuju dunia lain, yang kita tidak tahu akan seperti apa. Kami sudah menemukan banyak dunia asing yang sangat berbahaya sepanjang perjalanan.”


“Tapi, sekarang kami memiliki pintu teleportasi. Jadi, jika kita sudah menemukan dunia kalian, kami akan meninggalkan satu pintu teleportasi serta penjaganya, agar kita bisa saling mengunjungi kapan saja.” Kakek Kang kembali menimpali.


“Kakekku punya banyak pintu teleportasi. Dia naga tua penjelajah yang sudah melihat banyak tempat!” Gerald memuji.

__ADS_1


“Kalau begitu, apakah kau tidak pernah datang ke negeri kami?” tanya Khort penuh harap.


Kakek Kang menggeleng. “Sebelum berangkat, kami sudah berdiskusi. Robert sudah mengatakan seperti apa negeri kalian itu. Kota-kota indah dengan eri-eri kecil cantik beterbangan, serta pulau-pulau yang melayang. Aku tidak pernah mendatangi tempat itu. Aku bahkan memeriksa semua pintu teleportasiku, untuk kembali melihat dunia-dunia  yang pernah kukunjungi itu!”


“Apakah dunia kami begitu terpencilnya?” keluh Herdan.


“Kukira, pengaruh hutan sihir di dekat negara kalian itu, sangat kuat. Mungkin itu yang membuat tidak ada yang bisa datang tersasar ke sana lewat pintu teleportasi!” Robert mengutarakan pemikirannya.


“Ah … hutan dimana kalian tak sengaja ditemukan oleh Pangeran Glenn!” Herdan akhirnya mengangguk mengerti.


“Yah! Sihir di hutan itu sangat kuat!” Robert masih bergidik ngeri membayangkan, jika Glenn tidak sedang melintasi tempat itu. Maka dia dan timnya akan menjadi pupuk penyubur hutan!


“Aku mengertisekarang.” Herdan mengangguk dan hanya bisa berpasrah diri sekarang.


“Semoga besok ada titik terang. Setidaknya, kita bisa keluar dari tempat panas ini,” keluh Icye. Dia merasa tubuhnya meleleh selama di gurun.


“Ini sudah lewat tengah malam. Sebaiknya kita beristirahat. Jadi bisa melanjutkan perjalanan besok pagi!” saran Dimas.


Esok pagi.


“Itu arah matahari terbit. Mari kita ke sana!” Eric sudah terbang tinggi, diikuti yang lainnya. Mereka sengaja berangkat lebih pagi, agar bisa terbang dengan cepat dan menemukan kota itu saat matahari terang.


Tak butuh waktu lama, saat Kakek Kang mengatakan ada kota di arah pukul dua. Mereka semua turun dan melayang di atas permukaan pasir. Tak boleh ada orang yang melihat bahwa mereka bisa terbang. Sebagian besar anggota tim kembali ke dalam kalung penyimpanan.


Mereka kembali melihat-lihat kota yang ramai dengan para pedagang. Sepertinya hari itu adalah hari pasaran. Penjual dan pembeli tumpah ruah. Hingga mereka harus berhati-hati untuk melewati padatnya manusia.


Lalu suara ribut menarik perhatian Eric. “Kita lihat di sana, ada apa.”


Melihat Eric yang sudah bergerak menuju keramaian, Robert, Arjun, Dimas, dan Hakon terpaksa mengikuti.


“Ada apa?” tanya Eric pada seorang pria yang berdiri melihat ke satu tempat yang tertutup rapat oleh banyaknya orang.


“Hari ini duel final ketangkasan antar wakil kota ini dengan kota Beiduin. Mereka memperebutkan uang lima ribu dinar!” jawab orang yang ditanya.


Mendengar kata Beiduin, mata Eric berbinar. Dia ingin melihat pertandingan itu secara langsung. Tapi penonton sudah sangat padat. Tak mungkin dia terbang ke atas agar bisa melihat pertandingan.


“Kita cari tempat menonton yang sedikit kosong!” Yang bertanding adalah orang dari Beiduin dan wakil kota ini,” jelas Eric.


Mereka pun akhirnya menyebar, mencari celah dari lingkaran orang yang berkerumun. Eric ditemani Hakon, menyelinap sambil menunduk di antar kaki-kaki penonton. Akhirnya mereka berdua berhasil sampai di depan arena.

__ADS_1


Dua pria muda berdiri di dekat pelataran batu. Penyelenggara menjelaskan aturan. Pertandingan hanya tiga sesi. Jika terkena sepuluh kali pukulan, artinya kalah. Jika dipukul dan tidak bisa bangun di hitungan ke lima, kalah. Jika keluar dari pelataran, dianggap kalah. Jika memukul area ********, akan dianggap kalah juga dan tidak boleh bermain ketangkasan selamanya!


“Wah, aturan yang sangat adil!” komentar Eric. Hakon mengangguk.


“Apa kalian sudah dapat tempat menonton?” tanya Dimas.


“Tentu saja!” kata Eric bangga. “Kami berada di barisan paling depan!” tambahnya menyombongkan diri.


“Kenapa aku tak bisa melihat kalian?” Dimas tak mau dibohongi. Sebelum Eric menjawab, DImas menemukan alasannya.


“Ahh , rasanya aku sudah melihat kalian berjongkok di bawah kaki orang-orang! Pfftt!” Dimas menahan tawanya.


“Yang penting bisa nonton!” Eric membela diri.


Dia kesal karena ternyata di bagian seberang sana, masih sangat renggang. Robert, Arjun dan Dimas bisa berdiri paling depan di tempat itu. Yang lebih menjengkelkan lagi, saat tangan Dimas menunjuk ke arahnya, untuk memberi tahukan posisinya pada Robert dan Arjun. Dua pria itu tersenyum lebar hingga kelihatan giginya.


“Bagaimana kalau kita pindah ke sana saja?” tawar Hakon.


“Tidak. Fokus pada pertandingan saja. Sudah akan dimulai!” Eric mengabaikan hal lain dan memperhatikan wasit yang naik, lalu memanggil dua peserta.


“Mari kita panggil petarung kota kita, Ghazi!”


Suara sorakan gegap gempita, terdengar. Pria itu punya banyak pendukung. Tidak terlalu heran juga, karena dia adalah petarung di kota tersebut.


“Kita panggil petarung kota Beiduin, Asad!”


Yang bertepuk tangan dan menyoraki hanya segelintir orang yang berdiri di dekat Robert, Arjun dan Dimas. Sekarang Eric mengerti bahwa posisi supporter dipisahkan, agar tidak terjadi keributan antar mereka.


Wasit mengatakan sesuatu pada kedua petarung seblum memulai pertandingan. Tak lama, ronde pertama dimulai. Tempat itu gegap gempita dengan suara teriakan, cacian serta ungkapan kasar, jika melihat jagoan mereka melakukan hal buruk atau terkena pukulan.


Eric melihat bahwa kedua petarung sama kuat dan bermain sesuai aturan. Beberapa orang kena pukul dan tendangan bergantian. Jatuh bangun silih berganti. Dalam sekejap, sesi kedua sudah hampir habis.


“Menurutku, si Asad bisa saja mengait kaki Ghazi. Dia punya banyak kesempatan untuk itu. Tapi kenapa tidak dilakukannya?” komentar Hakon heran.


Eric juga memperhatikan. DIa bisa lihat jelas bahwa Asad punya kesempatan besar untuk menjegal kaki Ghazi, tapi tidak dilakukannya. Dan hal itu bikin dia menjadi gemas sendiri melihat Asad yang seperti membiiarkan dirinya dipukuli dan dikalahkan.


“Hei! Kau mau bertanding atau tidak? Kakinya terbuka berulang kali, tapi tidak kau jegal!” teriak Eric emosi.


Seketika suara teriakan di sekitarnya terhent. Hakon yang cepat menyadari situasi. Mereka berdua berdiri di kubu pendukung Ghazi. Dan barusan Eric menyuruh Asad menjegal Ghazi. Para supporter itu menatap tajam dan marah. Mereka melupakan sepenuhnya pertandingan di atas panggung batu itu!

__ADS_1


“Kita berada di sarang macan!” ujar Hakon di pikiran Eric.


*****


__ADS_2