The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 56. Pesan Eric


__ADS_3

Robert sudah menyimpan Silvia dan Ameera dalam penyimpanannya. Sementara Dimas langsung menyimpan Ubbe begitu piintu teleportasi siap untuk dilewati. “Kami berangkat!” ujarnya.


“Besok kalian harus sudah kembali ke sini!” Eric mengingatkan.


Robert dan Dimas mengangguk, lalu melompat masuk ke dalam pintu teleportasi yang bercahaya, Yasmeen terbelalak melihat kedua orang itu tiba-tiba hilang dari pandangan. Dia mendekat dan melihat ke sekeliling pintu itu.


“Jangan sentuh apapun di pintu  itu. Kalau kode yang dibuat Ubbe berubah, mereka bisa tidak sampai ke dunia kami, dan lebih celaka lagi, kalau tak bisa juga pulang ke sini!”


“Oh!” Yasmeen mengangkat kedua tangannya menjauhi pintu ajaib di depannya.


“Bagaimana jika ada orang lain yang masuk ke sana?” tanya Yasmee.


“Jalur jalan di dalma sana sangat berbeda dengan jalan di dunia ini. Di dalam sana kita akan menemukan banyak halangan, tekanan, kadang tarikan yang bisa membuat kita tersasar. Kami pernah melewati jalur teleportasi yang rusak. Akibatnya, bencana yang menunggu. Salah seorang dari kelompok pertama, tewas ditabrak meteor yang melintas kencang!” Arjun mengatakan pengalaman O yang diingatnya.


“Astaga!” Sekarang Yasmeen benar-benar menjauh dari pintu itu. “Bukankah meteor itu berada di langit?” tanyanya kebingunan.


“Ya. Orang tua kami pernah menjelajah langit. Bangsa Cahaya adalah bangsa yang tinggal di bintang. Itu sebabnya kami bisa terbang!” bisik Sofie.


“Benarkah?” Mata Yasmeen membesar. Dia terpana, tak mengira ada makhluk hidup lain di atas bintang-bintang.


“Sebaiknya tutupi pintu itu dengan kain, agar cahayanya tidak menarik perhatian orang lain,” saran Eric.


“Baik.” Yasmeen mencari kain yang cukup lebar untuk dipakai menutupi pintu.


“Gunakan ini saja.” Diserahkannya kain beludru halus pada Eric.


Bersama Sofie, Eric menutupi seluruh bagian pintu teleportasi. Kemudian mereka keluar dari kamar Yasmee. Tabib wnaita itu langsung mengunci kamarnya agar aman.


“Tabib, ada pasien.” Seorang pelayan datang mengabarkan.


“Kalian istirahatlah dulu. Aku harus memeriksa pasienku.” Yasmeen berpamitan.


“Tak ada yang bisa kita lakukan. Sebaiknay istirahat saja,” kata Eric.


“Bagaimana kalau kita ke kota?” tanya Sofie.


“Kita tak punya uang seperti milik mereka. Kemarin saja Robert jadi dipukuli karena kita tak bisa bayar teh dan makanan yang dipesan!” Arjun menolak untuk keluar lagi. Hakon mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Arjun.


Sofie, Jason dan Aila kecewa karena tak bisa melihat kota yang berada di tanah gersang itu.


“Bagaimana kalau kita pergi melihat-liihat saja? Tapi tak usah membeli apapun. Jika haus, minum saja air abadi. Kalau lapar, kita bisa pulang atau memakan snack yang disiapkan ibu untukku.” Aila menunjukkan makanan yang dibuat Yoshie.

__ADS_1


“Sebaiknya minta ijin dulu pada Eric, agar mereka tidak mencari-cari nanti,” saran Hakon.


Aila mendekati Eric. “Paman, bolehkan kami melihat-lihat kota sebentar?”


“Sebaiknya kalian tetap di rumah ini saja,” Eric sepertinya keberatan.


“Sebentar saja, Paman,” bujuk Aila lagi.


“Satu jam saja. Selepas itu, aku tidak bertanggung jawab pada kalian yang tak mematuhiku!”


Aila memandang Jason, Hakon dan Sofie, meminta pendapat mereka. Ketiga orang lainnya mengangguk setuju dengan syarat Eric.


“Oke. Kami keluar satu jam saja,” janji Aila.


“Tidak keluar dari tembok kota!” tegas Eric.


“Tidak keluar dari tembok kota.” Empat anak muda itu mengulangi syarat Eric.


“Sana pergi! Waktu kalian sudah terpakai lima menit.” Eric memejamkan mata, bersiap untuk tidur.


“Apa?” Aila terkejut mendengar Eric memotong waktu yang diberikannya.


“Sudah, lupakan saja. Semakain kau bertanya, waktumu akan semakin habis. Ayo kita keluar dan berkeliling kota.” Sofie melangkah dengan penuh semangat.


“Lihat itu!” Aila menunjuk keramaian. Beberapa orang terlihat mengelilingi lapak penjual entah apa. Benda-benda yang diletakkan di tengah alas jualan itu, tak pernah dilihat oleh keempat anak muda itu.


“Benda ini bisa menebak jodoh kalian di masa depan,” teriak penjualnya.


“Caranya bagaimana?” tanya seorang pengunjung.


“Caranya mudah. Kalian tinggal memasukkan jari ke dalam alat ini,” jawab penjualnya sambil menunjukkan kotak dengan bentuk aneh.


“Apakah mencobanya harus bayar?” tanya seorang gadis di pinggir kerumunan.


“Tentu saja harus bayar,” jawab penjual. “Hanya satu dinar saja. Investasi untuk masa depan, tidaklah mahal,” rayu penjual itu.


“Hai, gadis cantik, apakah itu suamimu?’ tanya penjual itu pada Aila.


“Bukan! Dia kakakku,” jawab Aila.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kau mencoba mencari tahu siapa calon suami di masa depanmu?” bujuknya.

__ADS_1


Aila, Jason, Sofie dan Hakon menggeleng. “Kami tidak punya uang,” tolak Aila.


 “Kalau begitu menyingkirlah sana! Tidak punya uang, tapi menonton paling depan!” kesal penjual itu kasar. Jason sudah emosi mendengar Aila dikasari.


“Sudah, mari kita melihat yang lain saja,” Hakon menarik tangan Jason iuntuk mengikuti Aila dan Sofie yang sudah berbalik pergi.


“Bagaimana orang berjualan bisa sangat kasar seperti itu?” Jason masih kesal.


“Biarkan saja. Lagi pula kita hanya punya waktu beberapa menit lagi. Jika terlambat, Eric pasti akan marah besar.”


“Kau benar. Ayo susul keduanya.” Jason menarik tangan Hakon agar mereka berlari mengejar Aila dan Sofie. Mereka kembali berkeliling di kota yang sangat ramai.


Tiba-tiba!


“Aduh!” Aila terjatuh akibat ditabrak seorang anak yang kurus kering dan kumal. Anak itu ikut jatuh berguling di tanah keras, panas dan berpasir.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Aila. Gadis itu merasa kasihan melihat betapa kurusnya anak lelaki itu. “Apa kau sudah makan?” tanya Aila lagi. Kali ini dia mendekat. Jason dan Hakon yang selalu ketinggalan, akhirnya tiba di tempat itu juga.


“Hei!” teriakan Aila yang tiba-tiba, mengejutkan ketiga temannya. Yang mereka lihat, anak lelaki tadi sudah lari kencang dan menghilang di antara kerumunan orang di pasar.


“Ada apa?” tanya Jason.


“Jam tangan yang dibelikan nenek, dicurinya!” mata Aila berkaca-kaca.


“Anak sialan!” geram Jason. Dia langsung lari mengejar ke arah anak kecil itu tadi menghilang. Hakon mengikutinya, bermaksud membantu.


“Hei, jangan lama-lama. Waktu kita tinggal sepuluh menit lagi!” Sofie berteriak memperingatkan.


Hakon dan Jason tidak mendengar apa dikatakan Sofie. Mereka tengah sibuk berkeliling pasar yang ramai. Mencari ke sudut-sudut bangunan, bahkan di balik beberapa barang yang dipajang di pinggir jalan.


“Hei, kalian harus kembali sekarang. Lupakan saja jam tangan itu. Waktu kita tinggal lima menit lagi!” Sofie memperingatkan dua temannya lewat pikiran.


Tak ada balasan dari Jason maupun Hakon. Sofie maupun Aila mulai cemas. Eric jika memberi hukuman tidak pernah tanggung-tanggung. Sekarang Jason dan Hakon entah ada di mana, karena tidak membalas pesan mereka.


“Kakak! Kalian di mana? Kita harus kembali! Lupakan saja jam itu!” panggil Aila.


Dua gadis itu kebingungan dan cemas. Kenapa Jason dan Hakon tidak membalas pesan pikiran mereka?


“Apa kau bisa dengar aku?” tanya Sofie pada Aila, melalui pikirannya.


“Dengar!” angguk Aila.

__ADS_1


“Aku khawatir mereka berdua tidak bisa mendengar kita!” kata Sofie.


*****


__ADS_2