The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 51. Silvia


__ADS_3

Jangan lupa di like ya kaka. Terima kasih.


*****


“Kau siapa?” Robert akhirnya bertanya.


Matanya mencoba melihat ke arah suara wanita yang tadi memanggil namanya. Namun dia tak bisa melihat, karena wanita itu berada di balik tirai pembatas dari kain yang cukup tebal.


Dokter Dimas, dengan kekuatan mata Penguasa Cahaya yang dimilikinya, melihat menembus tirai gelap yang membatasi mereka dengan wanita yang mencari Robert.


Dirinya terkejut melihat yang ada di balik tirai itu. “Robert, wanita itu berwajah cacat. Mungkin itu yang membuat dia tak ingin dilihat oleh siapapun!” Dimas menjelaskan pada Robert.


“Aku mengerti,” sahut Robert lewat pikirannya.


“Dulu, aku punya beberapa teman berkelana hingga ke negeri jauh. Lalu kami terpencar akibat kecerobohanku. Meskipun pada akhirnya aku berhasil menemukan mereka semua, kecuali seorang yang kudapat kabarnya dari Leon. Namanya Silvia, dia---”


“Robert ….” Suara itu bergetar. Kemudian isak tangis sayup pun terdengar di ruangan yang sunyi.


“Silvia, apakah itu kau? Apa yang kau alami? Maafkan aku tidak segera mencarimu, karena Leon mengatakan kau ingin menetap dan menikah dengan pria setempat.” Robert memberondong wanita di balik tirai yang diyakininya sebagai Silvia.


“Robert … aku---”


“Jangan ragu mengatakan apapun padaku. Kau ingat Dokter Chandra? Dia sudah tiada. Tapi putranya aku yakin bisa menyembuhkanmu!” kata Robert bersemangat.


“Putra?”


Suara Silvia yang keheranan membuat Robert ingat bahwa dia lupa menjelaskan. “Ah, aku lupa mengatakan padamu. Kami berhasil kembali ke Jakarta. Bukankah itu sangat hebat?” Nada suaranya riang.


“Jakarta ….”


“Apa kau rindu rumah?”


Tak ada jawaban. Dari balik tirai sana hanya terdengar isakan belaka. Dimas, Robert dan dua tabib itu saling pandang.


“Apa kau tidak senang bertemu denganku? Kau bisa ikut denganku, lalu berjumpa lagi dengan Dean, Widuri, dan Nastiti. Oh ya, putra Dean, putri Indra, Liam dan Laras, juga ikut dalam perjalanan kali ini.” Robert mencoba menggugah perasaan Silvia.


Tangisan terdengar makin keras dari balik tirai.


Robert terus menceritakan tentang rencana perjalanan mereka serta kenakalan anak-anak mereka, diiringi suara tangis dan kadang suara tawa Silvia.


Dua tabib itu saling berpandangan, lalu ikut tersenyum. Dimas menebak bahwa Silvia sudah lama bersembunyi seperti itu dan tidak bahagia. Dia mendekati kedua tabib wanita itu dan mengajak mereka menjauh untuk bicara.

__ADS_1


“Aku tidak tahu apa yang dialami ibumu, hingga wajahnya seperti itu. Tapi kalau di negara kami, dia sangat bisa disembuhkan dengan melakukan operasi plastik. Jadi tidak perlu bersembunyi seperti ini.”


“Anda bisa menyembuhkan ibu kami?” tanya dua tabib itu tertarik.


“Bukan aku. Tapi dokter lainnya. Ada banyak dokter hebat di negara kami,” jelas Dimas. Kalian bisa bujuk, agar dia bersedia ikut dengan kami,” bujuk Dimas.


Dua tabib itu meragu. Mereka hanya menunduk saja.


“Begini saja. Biarkan aku memeriksanya sebentar. Mungkin ada yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan luka dalamnya,” bujuk Dimas lagi.


Kali ini dua tabib itu terkejut. Mereka saling pandang sebentar sebelum mencecar pertanyaan pada Dimas.


“Bagaimana Kau tau ibu punya luka dalam?” desak mereka dengan pandangan tajam menusuk.


“Apakah kalian hanya pura-pura sebagai pendatang dan bersandiwara di depan kami, agar bisa mendapatkan uang?!” tuduhnya.


“Berpura-pura apa? Aku hanya menebak dari suara ibumu. Dia seperti menahan rasa sa---”


“Tutup mulutmu! Kau terlalu banyak alasan. Dari mana kau tahu kalau wajah ibu bermasalah!” seorang tabib menghunus pisau kecil dan mendesak Dimas hingga mepet ke tembok. Mereka mengancam, agar dokter itu mengatakan kejujuran yang dia sembunyikan.


“Dengar, aku tidak punya maksud apapun. Sebagai dokter, aku hanya mencoba menganalisa. Apa yang membuat seseorang bersembunyi di balik tirai."


"Hanya ada beberapa kemungkinan. Matanya mungkin punya masalah hingga tidak bisa melihat cahaya. Atau … wajahnya cacat!” jawab Dimas.


 “Jika tubuhnya yang cacat, baju seperti ini sudah sangat cukup utk menutupi!” Dimas menunjuk jubah panjang kedua tabib tersebut.


“Namun, ada hal lain yang lebih penting untuk kalian pikirkan saat ini!” Dimas menatap keduanya serius.


“Apa?” tanya dua tabib itu serentak.


“Sudah berapa lama kalian tidak melihat wajahnya secara langsung? Tidakkah kalian khawatir kalau apa yang dialaminya mungkin sekarang sudah lebih parah dari sebelumnya?”


Dua tabib itu saling melihat dan akhirnya hanya bisa menunduk. “Ibu sudah mengurung diri sejak lima tahun terakhir. Sejak itu kami tidak tahu apa yang terjadi pada luka-luka di wajahnya itu,” ujar salah seorang dari mereka.


“Pernah kami mendesak dan masuk ke ruangan ini tanpa ijin, hanya agar bisa melihat perkembangan sakitnya. Tapi Ibu mengamuk dan membuat kami jera melanggar perintahnya lagi.” Tabib yang lain menambahkan.


Dimas melihat bahwa Robert sudah berhasil menenangkan Silvia. Kadang dia tertawa dengan suara serak mendengar kisah Robert.


“Robert, perkenalkan aku padanya!” kata Dimas lewat pikirannya.


“Silvia, aku ingin memperkenalkanmu pada Dimas, putra Dokter Chandra. Dia juga seorang dokter yang hebat,” ujar Robert.

__ADS_1


Dimas berjalan mendekati tirai. “Apa kau mengenal papaku?” tanya Dimas.


“Dokter Chandra adalah dokter yang sangat baik,” kata Silvia dengan suara seraknya.


“Apakah dulu dia juga punya suara serak?” tanya Dimas pada Robert lewat pikiran.


“Tidak!” jawab Robert cepat.


“Silvia, ijinkan aku memeriksamu, ya,” bujuk Dimas.


“Tidak perlu. Aku sudah cukup senang bisa mendengar suara Robert lagi dan mendengar kabar tentang kalian semua!” tolaknya.


“Aku dengar dari Robert, dulu kau adalah mahasiswa kedokteran. Aku rasa kau sangat tahu, bahwa penyakit tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Nanti justru bisa memperparah sakitmu,” bujuk Dimas lagi.


“Aku tidak apa-apa.”


“Ijinkan hanya aku saja sebagai dokter dan pasien. Biar Robert dan yang lain keluar. Aku akan menjaga rahasiamu. Aku hanya ingin menyembuhkanmu sebisaku, sebelum kami pergi lagi.” Dimas tidak mau menyerah begitu saja.


“Penyakitku sudah tak bisa diobati!”


“Sebelum kulihat dan mencoba mengobatinya, maka jangan katakan tidak bisa. Mungkin ini adalah campur tangan Tuhan membimbing kami ke sini. Agar aku bisa menyembuhkan sakitmu!” tegas Dimas.


Silvia diam.


“Hanya aku saja!” janji Dimas lagi. Kali ini suaranya lebih tegas dari sebelumnya.


“Biarkan Dimas memeriksa. Aku akan keluar sebentar dan mengatakan hal ini pada ketua tim kami.” Robert mendukung usaha Dimas. Dia langsung keluar tanpa menunggu ijin Silvia.


“Ayo kita keluar. Biarkan Dokter Dimas memeriksa ibumu sebentar.” Robert mengajak kedua tabib wanita itu keluar juga. Dan mereka ikut keluar dengan patuh. Ruangan itu kembali ditutup.


“Mereka sudah keluar. Bisakah aku mulai memeriksamu?” Dimas makin mendekat. Matanya bersinar bening secemerlang berlian.


“Tidak perlu!” Silvia masih menolak.


“Tak perlu membuka tirai ini jika kau tak mau. Tapi hadapkan wajahmu ke arah suaraku. Lalu ulurkan tanganmu untuk kuperiksa."


Dimas bisa melihat kalau Silvia patuh. Sekarang dia dapat melihat dengan jelas wajah Silvia yang rusak. Hatinya tersayat melihat itu. Namun, tangannya dengan cepat memeriksa denyut nadi Silvia saat tangannya terulur melewati tirai.


Dahi Dimas mengerut saat mendapati denyut nadi tak beraturan di tangan penuh jejak luka bakar wanita itu.


“Apa kau sudah menyadari bahwa kau sakit keras, makanya mengurung diri di sini?” tanya Dimas.

__ADS_1


*****


__ADS_2