The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 41. Gurun Pasir


__ADS_3

Sepanjang mata memandang, yang tampak hanya gundukan pasir. Tubuh mereka yang sebelumnya sangat kedinginan, seketika kepanasaran.


“Celah diding itu menuju gurun,” gumam Robert bingung.


“Apakah Anda dulu juga ke sini?” tanya salah seorang suku Cahaya.


Robert menggeleng. “Tidak!”


Robert berpikir sebentar. “Yang terdampar di gurun adalah Leon dan Silvia. Seperti itulah yang dikatakan Leon. Saat Leon mengajaknya pergi, Silvia menolak, karena dia jatuh cinta pada penduduk asli.”


“Kalau begitu mari kita cari Silvia,” Ujar Eric senang. Dia tak perlu terlalu repot lagi memimpin tim, jika bisa bertemu dengan anggota tim Robert sebelumnya. Mereka pasti bisa menunjukkan arah yang tepat.


“Tidak semudah itu. Kita tidak tahu apakah ini adalah gurun yang sama atau tidak. Jika pun sama, tak seorang pun dari kita yang tahu di mana dia tinggal.” Robert menggeleng.


“Kenapa kau bilang ini mungkin bukan gurun yang sama?” tanya Kakek Kang.


“Karena Leon dan Silvia sampai di gurun setelah menyeberangi lautan dengan dinding cahaya di negeri kurcaci biru. Sementara kita ….”


“Abaikan itu dulu. Pikirkanlah ke mana kita mau pergi. Kita bisa matang terpanggang di tengah-tengah gurun pasir seperti ini,” Dimas mengingatkan anggota tim itu.


“Kau benar”. Jason melesat naik untuk memeriksa daerah sekitar mereka. Sofie menyusul dengan penasaran. Dia sangat menyukai petualangan yang tak terduga seperti ini. Keduanya tercengang karena hingga pada horizon, mereka tak menemukan jejak satu kota pun.


“Kita ada di antah berantah,” keluh Jason lesu.


“Bukankah ini seru? Kita masih harus mencari lagi seperti kita mencari dinding cahaya di hutan salju!” Sofie tersenyum misterius.


Gadis itu melayang turun ke tempat teman satu ti berkumpul.


“Aku tidak terlalu menyukai teka-teki.” Jason cemberut. Dia menyusul Sofie turun. DI bawah, suasana mulai riuh karena Sofie sudah mengatakan apa yang dilihatnya.


“Apa kita akan membagi tim dalam grup kecil lagi seperti sebelumnya?” Hakon bertanya antusias.


“Lebih baik begitu. Jadi kita bisa segera mendapatkan petunjuk.” Kakek Kang mengangguk.


“Aku tidak yakin itu hal yang benar. Kondisi di sini sangat berbeda dengan hutan salju. Di sana, kehadiran kita tersamarkan di balik pepohonan hutan. Sementara di sini---” Robert melihat ke atas, lalu sekitarnya.

__ADS_1


“Tak ada tempat yang bisa menyamarkan keberadaan kita. Bayangkan jika ada penduduk asli yang melihat seseorang terbang di kejauhan?”


“Pasti akan terjadi kehebohan besar!” Eric terkekeh geli.


“Kita mungkin akan diburu oleh penduduk asli!” Kakek Kang menggeleng tak senang. Terutama mengingat bentuk tubuhnya yang kerap menakutkan bagi sebagian orang awam.


“Lalu bagaimana? Masa iya kita harus berjalan kaki?” Aku setress berada di tempat sepanas ini,” keluh Icye. Tubuhnya memang sudah dibasahi keringat.


“Kau akhirnya bisa meleleh juga!” Gerald tertawa terbahak. Icye yang kesal langsung menembakkan es dari tangannya lke arah Gerald.


“Bagaimana kau bisa membekukan api?” Gerald mengejek. Dia hanya perlu mengibaskan tangan untuk meluruhkan duri-duri es runcing yang terbang ke arahnya.


Icye makin kesal. Dia terbang ke tempat Gerald yang dengan cekatan langsung terbang tinggi. Ubbe yang ternyata masih berada di atas punggungnya, memeluknya ketakutan.


“Gerald, Kau tak bisa membeku. Tapi bagaimana denganku?” teriak Ubbe. Tangannya mencengkeram erat leher Gerald.


“Jangan mencekikku!” teriak Gerald gelagapan.


“Aku tidak mencekikmu. Aku hanya memelukmu!” Ubbe tak bisa melepaskan tangannya. Makin Gerald terbang tak jelas, maka Ubbe akan memeluk leher naga muda itu lebih kencang.


“Lihat! Keadaan Ubbe sangat mengkhawatirkan!” Evans menunjuk ke ketinggian, dimana ketiga temannya sedang terbang berkejaran di langit.


“Icye, hentikan! Kau membahayakan nyawa Ubbe!” Hakon mengirim pesan pada Icye yang sudah siap untuk mengirim serangan pada Gerald.


Icye terkejut mendapat peringatan itu. Hanya saja, itu sudah terlambat. Dia sudah melepaskan serangannya. “Ubbeeee!” teriaknya panik.


Eric melesat secepat kilat untuk melindungi Ubbe dari serangan jarum es Icye yang bisa membekukan siapapun yang tidak punya kekuatan api.


“Aduh!” Eric menatap tajam pada Icye. Kakinya masih tersambar jarum es gadis itu.


Icye terkejut. “Gawat!” batinnya ketakutan. Dia langsung berbalik dan lari menuju anggota tim yang masih menunggu.


“Seranganku mengenai Eric. Tolong!” Gadis itu langsung berlindung di balik tubuh Robert.


“Eric, Icye tidak sengaja ….” Robert mengirim pesan ke pikiran Eric.

__ADS_1


“Gerald, menjauh dari sana!” teriak Kakek Kang. Dia khawatir sekarang. Jika Eric yang terkena serangan tiba-tiba mengamuk, maka bukan hanya Ubbe yang berada dalam bahaya, tapi juga Gerald.


“Apa yang terjadi?” Dua Elf itu tidak mengerti bagaimana suasana ceria dan candaan bisa berubah tegang secepat itu.


Jason dan Aila segera melesat naik. Berdiri tepat di depan Eric yang matanya bersinar biru keemasan. Pria itu menatap tajam pada Icye yang bersembunyi di balik tubuh Robert.


“Paman, Ini aku, Jason dan Aila. Kau tidak akan menyakiti keponakanmu, bukan?” bujuk Jason hati-hati. Tangan Eric merentang ke kiri dan kanan. Angin di sekitarnya mulai berputar, mengangkat debu dan pasir naik, mengitari tubuhnya yang kini sudah memancarkan cahaya biru dan keemasan.


“Leluhur, tolong tenangkan dirimu. Kami tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Icye tidak sengaja. Dia hanya bermain dengan Gerald,” Dokter Dimas ikut naik dan membujuk Eric yang mulai dikuasai oleh jiwa leluhur mereka.


“Hakon, bawa semua anggota tim ini menjauh. Lindungi yang lemah,” perintah Robert.


Hakon mengangguk dengan cepat dia menyembunyikan para Elf, Ubbe dan Evan dalam penyimpanan. Lalu mereka menyingkir lebih jauh dari tempat itu. Eric belum terlalu bisa menguasai jiwa leluhur. Akan sangat berbahaya jika jiwa yang memiliki kekuatan mutlak itu mengamuk dan menghancurkan anak keturunannya sendiri. Kakek Kang menjaga anggota tim itu bersama Gerald


“Kalian berdua akan mendapat hukuman setelah semua ini selesai!” kata Kakek Kang. Gerald dan Icye menunduk penuh penyesalan.


Di sekita Eric, Robert, Arjun, Dimas serta Jason dan Aila, masih saja mencoba membujuk jiwa leluhur yang sudah menampakkan diri.


“Eric, kau harus mampu menguasai jiwa leluhur. Kau lah pemilik tubuh sebenarnya. Jangan biarkan penumpang itu menguasai dan menghancurkan anggota keluarga kita!” Arjun berkata pedas. Tangannya sudah terangkat, untuk mengantisipasi segala hal. Cahaya biru pada matanya, dikenali oleh jiwa leluhur.


“Heh! Dengan kemampuan itu, kau hanya bisa menjadi penjaga! Bagaimana kau berani berkata tidak hormat padaku!”


“Aku memang seorang penjaga. Dan selamanya akan menjadi penjaga. Menjaga Bangsa Cahaya yang tersisa setelah kau tinggalkan secara tidak bertanggung jawab!” balas Arjun berani.


“Bagaimana denganku?” Robert maju. Tubuhnya diselubungi cahaya oranye.


“Kau … memiliki kekuatan api neraka!” desis Eric.


“Apa kau ingin merasakannya?” Robert bertanya sinis.


“Apa kau kira kemampuan rendah kalian itu mampu melawanku?” tantang jiwa leluhur.


“Bagaimana denganku, leluhur? Aku adalah cucu langsungmu.” Dokter Dimas membentang tangannya lebar. Seberkas cahaya putih berkilau seperti permata, langsung menyelubunginya.


Mulut Eric sedikit terbuka. Tapi jiwa leluhur tidak mengatakan apapun. Tangannya yang keemasan diulurkan ke arah Dimas dan diletakkan di atas kepala dokter muda itu.

__ADS_1


__ADS_2