The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
27. Pengumuman Dean


__ADS_3

"Arjun belum tiba!" Aslan memberi tahu.


Dean mengangguk mengerti. "Tidak apa. Selama dia sudah mendapatkan pemberitahuan, dia akan datang begitu pekerjaannya di sana selesai."


"Sekarang mari kita mulai pertemuan penting ini. Robert akan menjelaskannya," kata Dean.


Semua mengarahkan pandang pada Robert yang duduk di sebelah Dean. Mereka menunggu dengan tak sabar.


Robert berdiri, menghadap semua orang yang berkumpul di ruang pertemuan besar Bangsa Cahaya.


"Beberapa hari yang lalu, Yabie memberikan pesan dalam botol yang ditujukan untukku. Sebuah pesan permintaan bantuan dari teman lama kita Angel yang dulu juga adalah bagian dari para korban pesawat."


Beberapa orang yang belum mendengar kabar itu jadi kasak-kusuk.


"Permintaan bantuan apa? Apakah mereka sedang kelaparan?" tanya salah seorang Bangsa Cahaya yang tinggal di dunia Kakek Kang.


"Jika mereka butuh makanan, kita bisa kirimkan. Panen kita tahun lalu bahkan belum habis!" ujar yang lain setuju.


"Bukan bahan makanan," Robert menggeleng. "Negara mereka sedang diserang oleh Orc!"


"Orc? Bangsa apa itu? Kami baru pertama kali mendengar namanya." Suara riuh kembali memenuhi ruangan.


"Bangsa Orc adalah bangsa yang bertubuh lebih besar dari kita. Mereka berpenampilan kasar dan sikapnya begis," jelas Robert.


"Waah ...." Mereka saling pandang keheranan. "Lalu?"


"Angel mengatakan bahwa putrinya diculik dan salah satu teman kami juga hilang dalam kasus itu. Di lain hal, negaranya diserang dan dihancurkan oleh Orc. Dia mempertaruhkan nyawa dua bawahannya untuk bisa menyampaikan pesan permintaan bantuan ini." Robert mengeluarkan lembaran kertas yang dikeluarkannya dari botol.


"Mereka butuh bantuan tenaga kita!" Eric menimpali kata-kata Robert.


"Tenaga?" Para bangsa cahaya langsung berseri-seri.


"Ayo kita bantu! Sudah sangat lama sejak kita terakhir bertempur!" ujar mereka penuh semangat.


Eric tersenyum simpul melihatnya. Dia juga sangat bersemangat untuk pergi ke sana.


Robert menoleh pada Dean, melihat suasana yang menjadi riuh rendah. Dean mengangguk. Kemudian Robert kembali ke tempat duduknya.


"Apa kalian sudah selesai bicara?" tanya Dean ke pikiran semua orang. Ruangan menjadi hening seketika. Yang tidak bisa mendengar ucapan Dean, ikut diam juga. Mereka sudah tahu bahwa Dean pasti telah menegur beberapa orang lewat pikirannya.


"Sebagai teman dan karena aku percaya kita punya kemampuan, maka sudah kuputuskan untuk mengirim utusaan ke sana."

__ADS_1


"Yes!" kegembiraan kembali terdengar. Mereka sangat bersemangat untuk pergi.


"Hanya saja ...." Dean menjeda kalimatnya, menunggu orang-orang kembali memperhatikannya.


Para warga kembali diam mendengarkan.


"Hanya saja, kita tidak tahu caranya ke sana!"


Suasana menjadi makin riuh. Lebih ramai dari sebelumnya. Mereka yang sudah bersemangat jadi kecewa dan heran. Lalu melihat pada Aslan yang duduk di kursi sebelah Robert.


Dean memahami arti pandangan mereka. "Aslan sudah mencoba mencari kordinat teleportasi ke sana, namun tidak berhasil. Dunia itu sangat tertutup dari yang lainnya."


Wahh ...." wajah-wajah kecewa tak bisa ditutupi. "Kasihan sekali mereka jika kita tak bisa membantu."


"Ada satu cara untuk ke sana!" lanjut Dean tersenyum.


"Benarkah? Cara apa?" Semangat Bangsa Cahaya kembali bangkit.


"Melalui jalur yang dulu kami lewati. Dari gunung salju di hutan pinus! Namun, jalan ini sangat jauh. Butuh berhari-hari dan banyak sekali bahaya yang mengancam!"


Dean menjelaskan dengan sabar. Dilihatnya warganya itu tak ada lagi yang memotong kalimat tadi. Berarti mereka sedang menunggu kelanjutan penjelasannya.


Kakek Kang mengangkat tangan ingin bicara.


"Silakan, Kakek Kang," ujar Dean sopan. Naga tua itu adalah yang tertua diantara mereka semua. Dan semua orang sangat menghormatinya.


"Jika yang pergi hanya yang muda-muda saja, tidakkah itu akan berbahaya? Bagaimana kalau aku ikut dalam tim dan menjadi pengawas mereka," ujarnya menawarkan diri.


"Kakek Buyut!" seru Leyman keberatan.


Dean tersenyum. "Aku akan senang sekali jika Kakek Kang bersedia membantu. Disamping itu, Robert jga akan ikut ke sana sebagai penunjuk jalan."


Dean terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya. Kakek Kang menunggu dengan tak sabar.


"Lihatlah Leyman yang keberatan. Jadi, sebaiknya diskusikan dulu dengan keluarga," saran Dean.


"Yang lain juga sama. Diskusikan dulu dengan keluarga, jika memang ingin ikut dalam tim ini."


Para warga itu saling pandang dengan keluarga masing-masing.


"Dua hari lagi, mendaftarlah pada Eric siapa-siapa yang ingin pergi. Kalian akan berangkat ke medan perang bangsa lain, jadi. tidak ada paksaan sama sekali!" Dean menegaskan hal itu.

__ADS_1


"Apakah aku boleh ikut, Ayah?" tanya Eric setelah pertemuan selesai.


"Ya! Kalau kau, memang harus ikut! Itu ujianmu sebagai calon pemimpin Bangsa Cahaya di masa depan!" tegas Dean.


"Yeayy ... asik." Anak muda itu melompat kegirangan. Dia langsung membuat iri teman-teman sebayanya.


"Ayah! Eric saja pergi, Masa aku enggak?" tanya Sofie, putri Indra. Dia satu-satunya teman sebaya yang berani menantang Eric adu ketangkasan. Dengan kemampuan Marianne (Ivy) yang dimilikinya, hanya Eric saja yang bisa mengalahkan gadis itu.


Niken sudah cemberut. Dia tahu, bahwa Indra sudah menetapkan putri kembarnya yang tomboy itu untuk ikut serta dalam tim.


"Tentu saja kau harus ikut. Kalau kau tidak mendampinginya, maka gadis-gadis Elf yang secantik peri itu bisa merebut Ericmu!" bisik Indra dengan suara halus.


"Ayah! Apa maksudmu!" Wajah Sofie memerah digoda ayahnya. Sementara Indra hanya tertawa keras melihat putrinya malu, ketahuan diam-diam menyukai Eric.


"Jadi, dia ikut? Aku bagaimana?" tanya Sonny kesal. Dia kalah lagi dari Sofie.


"Ilmumu lebih dibutuhkan di sini!" Niken menenangkan putranya. Dia akan khawatir jika Sonny juga pergi ke medan perang yang sangat bahaya tanpa punya kemampuan khusus seperti Sofie.


"Tidak! Aku selalu saja tidak diajak untuk melakukan hal-hal seru. Kalian tidak adil!" Sonny pergi meninggal keluarganya. Sofie langsung mengejarnya untuk membujuk.


Dunia Cahaya itu kembali sunyi setelah semua orang pulang ke rumah masing-masing. "Yabie, aku ingin melihat dua orang yang dirawat istrimu. Jika sudah memungkinkan, lebih baik mereka dibawa ke sini."


"Ayo, Paman," Yabie dan Yoshie kembali ke Kota Pelabuhan.


Dalam lorong teleportasi Dean melihat Yoshie yang hanya diam seribu bahasa. "Apakah cucuku ada yang sakit?" tanyanya.


Yoshi sedikit terkejut ditanyai saat dia sedang memikirkan hal lain. "Tidak ada," jawabnya singkat.


"Lalu kenapa kau diam saja sejak tadi?" Dean mendesak.


"Aku sedang memikirkan kata apa yang bisa kuucapkan, agar suamiku mengijinkanku ikut serta dalam tim," jawab Yoshie jujur.


"Kakak ... tenagamu tidak terlalu bagus jika bermaksud untuk menolong para korban perang. Lebih baik aku saja yang pergi!" Yabie melarang Yoshie.


"Kau tak bisa pergi. Seperti juga Paman Dean, kau adalah pemimpin di Kota Pelabuhan!" geleng Yoshie.


"Kakek Kang saja tetap ingin pergi!" Yabie mencari contoh.


"Belum tentu akan mendapat ijin dari Kang dan Nastiti!" Geleng Yoshie yakin.


*****

__ADS_1


__ADS_2