The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 60. Hasheem Dari Suku Beiduin


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar teriakan gembira kubu Asad. Dan itu menyadarkan para supporter. Gara-gara sibuk mengancam Eric. Mereka lupa memperhatikan pertandingan. Lalu saling bertanya apa yang terjadi.


“Kalian tidak apa-apa? Bagaimana kalau pindah ke sini saja?” tanya Dimas.


“Apa yang terjadi tadi?” tanya Eric. Dia tak menggubris ajakan Dimas.


“Seperti teriakanmu tadi, Asad akhirnya menjegal kaki Ghazi. Itu sebabnya dia terkapar di gelanggang sekarang.


“Dia masih bisa bangun!” kata Hakon.


Sorak-sorai supporter Ghazi membahana. Kata-kata ‘balas’ diteriakkan berulang kali. Tapi pendukung Asad juga tak mau kalah. Setelah kejatuhan Ghazi tadi, mereka bisa melihat bahwa Asad masih punya peluang untuk menang. Dia harus menjatuhkan Ghazi di sesi ketiga dengan sangat keras, agar tidak bisa bangun tepat waktu.


Eric dan Hakon mengamati pertandingan dengan serius. Ini adalah sesi penentuan. Kesempatan terakhir untuk berbuat curang, jika merasa tak mungkin menang.


Ghazi agak terpincang-pincang setelah jatuh tadi. Tapi dia masih bisa menggunakan tangannya dengan baik. Beberapa kali Asad kena pukulan. Asad mencoba mencarikesempatan untuk mengait kaki Ghazi lagi. Tapi lawannya sudah lebih berhati-hati sekarang. Tiap kali Asad mendekat, Ghazi pasti akan melayangkan pukulan.


“Waktu pertandingan tinggal sedikit lagi. Keduanya sudah sama-sama tak sabar untuk saling menjatuhkan. Kalau Asad tak bisa menjatuhkan Ghazi, maka dia jelas akan kalah. Sebab dia telah menerima banyak pukulan di dua sesi sebelumnya.


DI detik-detik terakhir, Asad berhasil menangkap peluang. Dia kembali mengait kaki Ghazi. Lawannya berusaha menyeimbangkan posisi agar tidak sampai jatuh ke lantai. Tangannya bergerak cepat ke tubuh bagian bawah Asad. Eric melihat hal itu. Dengan geram, Eric menjentikkan sesuatu.


“Horeee …!” teriakan membahana.


“Asad menang!” kata supporternya gembira.


Di panggung, penduduk kota itu terdiam lesu. Perwakilan mereka jatuh telentang di lantai panggung. Mengaduh sambil memegangi punggungnya.


“Aku kira Ghazi yang akan menang. Tak disangka, di detik-detik terakhir dia jatuh dan tak bisa bangun tepat waktu,” sesal Hakon.


Dua orang itu berjalan mendekat ke tempat Dimas dan teman mereka yang lain.


“Bukankah mereka sangat hebat?” Arjun memuji kelompok Asad.


Eric menggeleng. “Asad itu, seperti pria yang tak berpengalaman dalam pertarungan. Tadi dia hampir dicurangi, saat mengairt kaki Ghazi,” kata Eric di pikiran Hakon.


“Hah … mengecewakan!” Hakon menggeleng kecewa.


“Bagaimana kalau kita tanya pada anggota kelompok Suku Beiduin itu, apa yang dikatakan Yasmeen,” ajak Robert.


“Ayo!” Eric mengangguk.

__ADS_1


“Mereka menghampiri kelompok suku yang sedang bersuka-cita, karena menang dan mendapatkan cukup banyak uang.


“Hai, kami dari Suku Cahaya. Siapakah yang menjadi ketua kafilah suku kalian?” tanya Arjun ramah.


“Ada perlu apa?”


“Mungkin mereka mau mengajak Asad bertanding!” kata yang lain.


Eric menggeleng cepat. “Tidak. Kami mau bertanya seuatu, jelanya”


“Tentang apa?” Seseorang masih menahan informasi tentang suku mereka.


“Apa kau ketua kelompok sukumu?” tanya Eric dengan gaya yang sama dengan pria yang menahan langkahnya.


“Hei! Kau harus sopan. Dia putra kepala suku kami!” beberapa orang terlihat marah melihat sikap Eric yang menantang pria di depannya.


“Aku hanya bertanya. Sesuatu yang hanya ketua kelompok ini yang pantas menjawabnya.” Eric tak mundur sedikitpun. Dia dan pria itu saling menatap tajam.


“Ya, aku ketua tim ini. Apa yang mau kau tanyakan?” Orang itu menyerah, menghadapi Eric yang tak takut apapun.


“Eric mendekat. “Apa kalian suku Beiduin yang tinggal sejauh satu malam dari sini?” bisik Eric.


“Itu bukan hal yang rahasia. Kami memang tinggal di sana!” jawabnya.


Eric menggeleng. “Yang rahasia adalah pertanyaan ini.” Kepalanya kembali dicondongkan pada pria di depannya.


“Apa?” orang itu ikut-ikutan berbisik juga.


Eric menahan senyum sebelum bertanya. “Apa kalian masih ingat cerita tentang diding cahaya itu?” bisik Eric lagi.


Mendengar itu, tubuh si pria langsung tegak. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!” Dia langsung berbalik dan menemui Asad serta memberinya selamat. Mereka bergembira setelahnya.


“Apa dia mengetahuinya?” tanya Robert.


“Dia bilang tidak tahu.” Eric memperhatikan orang-orang suku Beiduin itu.


Robert berjalan cepat ke arah pria yang tadi bicara dengan Eric. “Apa kau tahu sesuatu tentang hal itu? Jika tidak, maka kami tak punya pilihan, selain menanyai semua orang di pasar tentang keberadaan dinding cahaya itu di desa kalian!”


Orang-orang itu terkejut. Dengan serempak mereka memandang Robert marah. “Apa mau kalian sebenarnya?” pria sebelumnya, bertanya pada Robert.

__ADS_1


“Kami mendapat informasi ini dari seseorang yang sangat bisa dipegang ucapannya. Kami hanya ingin bertanya, apakah dinding cahaya itu masih ada di sana?” tanya Robert.


“Kalau tidak, mau apa? Kalau ada mau apa!” tantang pria tadi sombong.


“Kalau tidak ada, maka kami akan mencari di tempat lain. Kalau ada, maka tolong tunjukkan lokasinya. Kami harus pergi ke sana!” tegas Arjun, mencoba meyakinkan pria di  depan mereka.


“Yang pergi ke sana tidak pernah kembali!” ujarnya getir.


“Apa kau kehilangan anggota keluargamu di sana?” tanya Eric. Pria itu mengangguk.


“Dinding itu memang hanya satu arah. Yang pergi tak bisa kembali. Seperti kami yang masuk dari dinding cahaya dan terdampar di sini. Kami sedang mencari jalan untuk pulang!” bisik Eric serius.


Orang itu terkejut mendengar kejujuran Eric. “Bagaimana kami tahu kau tidak berbohong?” tanyanya.


“Kau bisa ajak kami ke kotamu itu. Maka kami akan dengan senang hati menceritakan semuanya!” Dimas nimbrung.


Pria itu mencari kejujuran dalam sinar mata Eric dan empat pria asing di depannya itu.


“Kami masih harus membeli kerbagai kebutuhan di sini. Setelah itu baru kembali ke kota kami,” ujarnya.


“Tak apa. Kmai juga ingin melihat-lihat kota ini.” Eric mengangguk setuju dengan pria di depannya. Tangannya terulur. “Namaku, Eric!”


“Aku Hasheem!” keduanya saling berjabat tangan. Kemudian rombongan suku itu menyebar dan mengerjakan tugas masing-masing. Sementara ketua tim mereka berjalan-jalan bersama Asad, diikuti oleh Eric dan timnya.


“Mari kita minum teh dulu. Teh di sini terkenal sangat enak!” kata Hasheem.


Eric tertegun. Dia menyadari sesuatu. Mereka tak punya uang. Pengalaman buruk sebelumnya sangat membekas dalam ingatannya. Dia tak ingin membuat keributan lagi hari ini. “Kami tak punya uang kalian. Uang kami sangat berbeda. Biar kami tunggu di sini saja.”


Hasheem awalnya terkejut. Tapi kemudian dia jadi makin tertarik. “Kau bisa bayar padaku dengan uang dari tempatmu. Nanti aku yang membayar teh ke kedai." Dengan cepat dia menemukan solusinya.


“Mata Eric berbinar. Sungguh bisa seperti itu? Kami sudah mencoba menukarnya di kota lain, tapi tidak ada yang mau menerimanya.”


“Ayo!” ajak Hasheem lagi. Dia masuk ke kedai diikuti Asad.


Eric memandang teman-temannya, minta pertimbangan. “Ikuti saja. Dia pasti hanya ingin tahu kita berbohong atau tidak tentang asal usul kita dari balik dinding cahaya itu!” Dimas mengutarakan pemikirannya.


“Kurasa apa yang dikatakan Dimas ada benarnya.” Arjun ikut mendukung.


“Jangan khawatir. Jika segala sesuatu berubah buruk, aku akan melindungimu!” timpal Hakon.

__ADS_1


*****


__ADS_2