
Dimas kembali bergabung dengan Dean, Robert, Arjun dan Putra
Mahkota di perbatasan Tanah tak bertuan.
“Dean, ternyata raja Penyihir itu adalah keturunan dari
bangsa kita. Seorang bangsa Cahaya, menikah dengan gadis bangsa penyihir dan
membentuk negara itu, hingga besar dan berkembang,” lapor Dimas.
“Berarti, Glenn dan Levyn masih punya garis darah bangsa
kita,” sahut Dean. Dimas mengangguk mengiyakan.
“Negara itu benar-benar kosong. Rakyatnya habis dibantai Orc.
Tersisa belasan, dan sekarang harus bahu-membahu menjaga perbatasan agar tidak
ditembus Orc saat kita menyerang ke sana,”lapor Dimas.
“Mungkin kita perlu membangun tembok tinggi, untuk
mengamankan negara itu,” gumam Dean.
“Apakah pertemuan dengan Pangeran Mahkota sudah dimulai?”
tanya Dimas.
“Belum. Mungkin sebentar lagi. Apakah ada yang penting?”
tanya Dean lagi.
“Glenn ingin kita mengupayakan pencarian putrinya,” jawab
Dimas.
“Itu sudah kusampaikan pada sang pangeran mahkota, tadi,”
kata Dean lagi.
Kemudian Jason datang ke tempat Dean dan bangsa Cahaya
beristirahat.
“Kakek, Pangeran Mahkota memintaku menyampaikan undangan
untuk mengikuti pertemuan dengan para jenderal Elf,” katanya.
“Baik, aku akan ke sana. Kau beristirahatlah sebentar di
sini. Nanti tenagamu akan sangat dibutuhkan!” pesan Dean.
“Baik, Kakek,” sahutnya patuh.
Dean pergi menemui Pangeran Mahkota di tendanya. Sudah ada
tiga jenderal yang berada di sana. “Apakah aku terlambat?” ujarnay berbasa-basi.
“Sama sekali tidak, Pemimpin Bangsa Cahaya. Pertemuan bahkan
belum dimulai,” jawab Pangeran Mahkota ramah.
“Baik, karena semua orang sudah berkumpul, maka lebih baik
kita mulai pembicaraan ini. Apa kalian bisa memberi saran, apa yang harus kita
lakukan untuk mencari Cristal di sana?” tanya sanga pangeran mahkota.
“Lebih baik utus beberpa orang yang mampu, untuk menyelinap
masuk ke negara itu. Jika kita putuskan serangan itu besok, maka lakukan hal
itu malam hari, agar tidak terdeteksi,”saran seorang jenderal.
“Jika kita melakukan penyerangan besok, maka keadaan di sini
akan terdengar oleh raja Orc. Dia pasti akan menyiapkan serangan balasan dan
menyiapkan prajuritnya. Kita kehilangan unsur kejutan yang bisa menguntungkan
kita!” bantah seorang jenderal yang lain.
“Jika serangan kita lakukan hari ini, maka kirimkan penyusup
saat operasi kita mulai! Itu akan melengahkan Orc dari pengawasannya,” jawab
jenderal pertama.
“Ke mana penyusup itu harus pergi? Sampai sekarang kita bahkan
belum tahu di mana tepatnya sang putri disembunyikan!” Jenderal yang sejak tadi
mendengarkan, akhirnya ikut bicara.
“Kemungkinan paling besar adalah di istana raja Orc! Jadi
penyusup itu harus mencapai istana itu dan mencari di setiap sudutnya, bahkan
ke penjara bawah tanah, jika perlu!” sahut jenderal lain.
“Putri Cristal sangat cantik. Kemungkinan raja Orc akan
menyimpannya di harem!” ujar jenderal lain.
“Masuk akal. Sekarang, siapa yang akan kita tunjuk untuk
mencari Putri Cristal?”
Orang-orang itu saling pandang dan menunduk lesu.
“Bagaimana jika putraku Eric yang menyusup ke sana?” Dean
__ADS_1
bersuara.
“Masuk ke sarang monster buas raja Orc itu, sangat berbahaya!
Bagaimana kami bisa membahayakan calon penerus Anda?” Pangeran Mahkota tak
berani.
“Dia sangat mampu menyusup masuk ke sana tanpa diketahui. Dia
juga cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri!” ujar Dean.
“Setidaknya, harus ada seseorang yang menjaga punggungnya,
baru saya akan setujui,” kata Pangeran Mahkota.
“Tentu saja. Akan saya atur seorang yang lain untuk menemani
Eric menyusup dan mencari Putri Cristal. Seperti apakah wajah sang putri?” tanya
Dean lagi.
“Mirip seperti Putri Angel,” jawab seorang jenderal.
“Tidak! Sang putri perpaduan Pangeran Glenn dan Putri Angel!”
bantah yang lain.
“Baiklah. Akan saya katakan seperti itu.” Dean tersenyum
mendengar mereka berdebat. Sayang belum ada teknologi fotografi di negeri Elf.
Jadi tidak ada bukti visual tentang putri itu.
“Baik, sekarang, kita bahas rencana penyerangan.” Pangeran
Mahkota melanjutkan diskusi mereka.
Setelah beberapa waktu, pembicaraan itu selesai. Dean menempatkan
beberapa anggota suku cahaya dalam pasukan setiap jenderal. Robert, Arjun, dan
Kakek Kang akan menjadi eksekutor utama dan pembuka jalan.
“Eric, kemari!” panggil Dean.
“Baik, Ayah!”
Tak lama di tenda itu sudah muncul Eric. “Kau mendapat tugas
untuk mencari sang putri ke istana Orc. Menyusuplah dengan hati-hati saat
Pangeran Mahkota memulai serangan sore nanti!” kata Dean, tentang tugas
putranya. “Kau pergi dengan dibantu oleh Thorn!” tambahnya lagi.
Eric akhirnya menyadari kenapa pria itu juga ada di tenda
“Oke!” ujarnya cepat.
“Bagus. Kalian berdua, bersiaplah di perbatasan sana. Yang
lain sudah mendapatkan tugas masing-masing dan sedang bersiap untuk berangkat
ke perbatasan negara Orc!” jelas Dean.
“Baik, Ayah,” angguk Eric patuh. Lalu keduanya pergi ke
perbatasan, di mana Sofie masih setia duduk dan menjaga pos-nya.
Dean keluar dan melihat bahwa pasukan Pangeran Mahkota sudah
mulai bergerak. “Robert, aku pergi sebentar ke negara Penyihir. AKu percaya
kalian bisa mengatasi para Orc itu dengan mudah. Hati-hati dengan panah
tersembunyi milik mereka!” pesan Dean.
“Tentu!” angguk Robert.
Dean terbang cepat dan menemukan Pangeran Glenn masih duduk
di perbatasan negara Orc dan negara Penyihir. Dia menyampaikan hasil pertemuan
dengan Pangeran Mahkota. Glenn senang, mengetahui bahwa Eric yang pergi mencari
putrinya. Dia sudah mempercayai anak muda itu.
“Hakon, apakah Kau sudah mengetahui garis perbatasan negeri
ini?” tanya Dean pada Hakon yang masih pergi untuk mengawasi garis perbatasan.
“Sudah. Aku sudah memutari tempat ini hingga tiga kali. Belum
ada pergerakan di sini!” sahut Hakon.
“Tunjukkan padaku garis perbatasannya,” kata Dean lagi, lewat
pikiran.
“Baik, saya akan segera kembali!”
Dean bekerja cepat membuat benteng di sepanjang garis perbatasan
negara Orc dan negara penyihir. Dia menggali tanah negara Orc hingga dalam
menyerupai lubang panjang selebar lima puluh meter. Kemudian tanah itu ditumpuk
menjadi benteng tinggi di bagian negara Elf.
Hakon melihat cara kerja Dean yang sangat cepat. Dia
__ADS_1
benar-benar kagum. Hingga pukul tiga sore, parit dalam dan benteng dari tanah
itu sudah selesai dibangun seluruhnya. Bahkan hingga ke perbatasan dengan Hutan
sihir.
Kepala pengawal istana benar-benar tak menyangka kalau
pekerjaan seperti itu bisa dilakukan oleh satu orang saja, hanya dalam beberapa
jam! Mereka mengawasi parit dalam di depan benteng dengan terpana. Sihir mereka
seakan tak ada apa-apanya di hadapan bangsa Cahaya.
“Baik. Sekarang kalian bisa lebih aman menjaga perbatasan di
atas benteng! Saya harus kembali. Sebentar lagi, peperangan besar akan terjadi
di Tanah tak bertuan.” Dean berpamitan.
“Terima kasih,” kata Kepala pengawal negara Penyihir itu menunduk
hormat.
Dean dan Hakon melesat pergi. “Kau, awasi tempat ini dari
ketinggian,” perintah Dean pada Hakon.
“Baik, Pemimpin!” jawab pria muda itu. Kekagumannya tak
pernah habis pada pemimpin mereka.
***
Di istana Raja Kurcaci Biru.
Sang raja langsung mengumpulkan para menterinya. Dia mendapat
kabar yang sangat mengejutkan dari jenderal yang berjaga di lapangan. Kabar bahwa negeri Elf
memiliki sekutu yang sangat hebat, sangat memengejutkan mereka.
“Tidakkah itu mengada-ada? Dua orang saja mampu menghabisi
bangsa Orc yang memenuhi Tanah tak bertuan? Itu terlalu musykil!” salah seorang
menteri menolak untuk mempercayai kabar itu.
“Kau mulai tidak mempercayai jenderal utama?” tuduh sang
raja.
“Bukan seperti itu, Yang Mulia.” Mentri itu tak dapat
menjelaskan rasa mustahil yang memenuhi kepalanya.
“Kalau berita yang dikirimkan tidak dapat kalian percayai,
bagaimana jika kukatakan bahwa Pangeran Mahkota dikirim puang dari tembok
perbatasan karena terluka oleh cahaya kuat yang mereka ledakkan di Tanah tak
bertuan!”
Para menteri yang berkumpul, sangat terkejut mendengarnya. “Bagaimana
sekarang keadaan sang pangeran?” tanya mereka mulai cemas. Tak ada lagi yang
mendebat tentang masuk akal atau tidak berita di perbatasan.
“Masih di perjalanan. Jenderal meminta untuk tabib istana
menyiapkan obat untuk cedera mata putraku!” Raja mengusap wajahnya dengan
khawatir. Cedera mata hanya akan berakhir buruk bagi mereka.
“Akan segera saya siapkan!” Tabib mengundurkan diri dan
buru-buru kembali ke tempat kerjanya.
“Sekarang, bagaimana menurut kalian? Apakah kita perlu
membantu negara Elf? Bagaimanapun juga, tentara mereka sudah berkurang sangat
banyak. Sementara di kabar kedua yang dikirim Jenderal utama, panji-panji
perang Pangeran Mahkota kerajaan Elf sudah memasuki Tanah tak bertuan yang
sebelumnya menjadi ladang pembataian Orc!” ujar raja.
“Berarti mereka akan masuk ke negara Orc untuk mencari Putri
Cristal!” seorang menteri menimpali.
“Jika kita tidak membantu sesuatu yang tepat di depan mata,
bagaimana kita akan menjalin hubungan dengan mereka di masa depan?” Raja merasa
kalut.
“Kita siapkan dapur umum untuk mereka!” usul salah seorang
mentri.
“Itu tak akan cukup! Aku tak ingin lagi kita bersikap seperti
pengecut! Tentara kita harus membantu membersihkan para Orc yang tertinggal dan
menjaga perbatasan itu, saat para Elf masuk ke dalam kota Orc!” tegas sang
raja.
__ADS_1