The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 109. Sekutu Negara Elf


__ADS_3

Dimas kembali bergabung dengan Dean, Robert, Arjun dan Putra


Mahkota di perbatasan Tanah tak bertuan.


“Dean, ternyata raja Penyihir itu adalah keturunan dari


bangsa kita. Seorang bangsa Cahaya, menikah dengan gadis bangsa penyihir dan


membentuk negara itu, hingga besar dan berkembang,” lapor Dimas.


“Berarti, Glenn dan Levyn masih punya garis darah bangsa


kita,” sahut Dean. Dimas mengangguk mengiyakan.


“Negara itu benar-benar kosong. Rakyatnya habis dibantai Orc.


Tersisa belasan, dan sekarang harus bahu-membahu menjaga perbatasan agar tidak


ditembus Orc saat kita menyerang ke sana,”lapor Dimas.


“Mungkin kita perlu membangun tembok tinggi, untuk


mengamankan negara itu,” gumam Dean.


“Apakah pertemuan dengan Pangeran Mahkota sudah dimulai?”


tanya Dimas.


“Belum. Mungkin sebentar lagi. Apakah ada yang penting?”


tanya Dean lagi.


“Glenn ingin kita mengupayakan pencarian putrinya,” jawab


Dimas.


“Itu sudah kusampaikan pada sang pangeran mahkota, tadi,”


kata Dean lagi.


Kemudian Jason datang ke tempat Dean dan bangsa Cahaya


beristirahat.


“Kakek, Pangeran Mahkota memintaku menyampaikan undangan


untuk mengikuti pertemuan dengan para jenderal Elf,” katanya.


“Baik, aku akan ke sana. Kau beristirahatlah sebentar di


sini. Nanti tenagamu akan sangat dibutuhkan!” pesan Dean.


“Baik, Kakek,” sahutnya patuh.


Dean pergi menemui Pangeran Mahkota di tendanya. Sudah ada


tiga jenderal yang berada di sana. “Apakah aku terlambat?” ujarnay berbasa-basi.


“Sama sekali tidak, Pemimpin Bangsa Cahaya. Pertemuan bahkan


belum dimulai,” jawab Pangeran Mahkota ramah.


“Baik, karena semua orang sudah berkumpul, maka lebih baik


kita mulai pembicaraan ini. Apa kalian bisa memberi saran, apa yang harus kita


lakukan untuk mencari Cristal di sana?” tanya sanga pangeran mahkota.


“Lebih baik utus beberpa orang yang mampu, untuk menyelinap


masuk ke negara itu. Jika kita putuskan serangan itu besok, maka lakukan hal


itu malam hari, agar tidak terdeteksi,”saran seorang jenderal.


“Jika kita melakukan penyerangan besok, maka keadaan di sini


akan terdengar oleh raja Orc. Dia pasti akan menyiapkan serangan balasan dan


menyiapkan prajuritnya. Kita kehilangan unsur kejutan yang bisa menguntungkan


kita!” bantah seorang jenderal yang lain.


“Jika serangan kita lakukan hari ini, maka kirimkan penyusup


saat operasi kita mulai! Itu akan melengahkan Orc dari pengawasannya,” jawab


jenderal pertama.


“Ke mana penyusup itu harus pergi? Sampai sekarang kita bahkan


belum tahu di mana tepatnya sang putri disembunyikan!” Jenderal yang sejak tadi


mendengarkan, akhirnya ikut bicara.


“Kemungkinan paling besar adalah di istana raja Orc! Jadi


penyusup itu harus mencapai istana itu dan mencari di setiap sudutnya, bahkan


ke penjara bawah tanah, jika perlu!” sahut jenderal lain.


“Putri Cristal sangat cantik. Kemungkinan raja Orc akan


menyimpannya di harem!” ujar jenderal lain.


“Masuk akal. Sekarang, siapa yang akan kita tunjuk untuk


mencari Putri Cristal?”


Orang-orang itu saling pandang dan menunduk lesu.


“Bagaimana jika putraku Eric yang menyusup ke sana?” Dean

__ADS_1


bersuara.


“Masuk ke sarang monster buas raja Orc itu, sangat berbahaya!


Bagaimana kami bisa membahayakan calon penerus Anda?” Pangeran Mahkota tak


berani.


“Dia sangat mampu menyusup masuk ke sana tanpa diketahui. Dia


juga cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri!” ujar Dean.


“Setidaknya, harus ada seseorang yang menjaga punggungnya,


baru saya akan setujui,” kata Pangeran Mahkota.


“Tentu saja. Akan saya atur seorang yang lain untuk menemani


Eric menyusup dan mencari Putri Cristal. Seperti apakah wajah sang putri?” tanya


Dean lagi.


“Mirip seperti Putri Angel,” jawab seorang jenderal.


“Tidak! Sang putri perpaduan Pangeran Glenn dan Putri Angel!”


bantah yang lain.


“Baiklah. Akan saya katakan seperti itu.” Dean tersenyum


mendengar mereka berdebat. Sayang belum ada teknologi fotografi di negeri Elf.


Jadi tidak ada bukti visual tentang putri itu.


“Baik, sekarang, kita bahas rencana penyerangan.” Pangeran


Mahkota melanjutkan diskusi mereka.


Setelah beberapa waktu, pembicaraan itu selesai. Dean menempatkan


beberapa anggota suku cahaya dalam pasukan setiap jenderal. Robert, Arjun, dan


Kakek Kang akan menjadi eksekutor utama dan pembuka jalan.


“Eric, kemari!” panggil Dean.


“Baik, Ayah!”


Tak lama di tenda itu sudah muncul Eric. “Kau mendapat tugas


untuk mencari sang putri ke istana Orc. Menyusuplah dengan hati-hati saat


Pangeran Mahkota memulai serangan sore nanti!” kata Dean, tentang tugas


putranya. “Kau pergi dengan dibantu oleh Thorn!” tambahnya lagi.


Eric akhirnya menyadari kenapa pria itu juga ada di tenda


“Oke!” ujarnya cepat.


“Bagus. Kalian berdua, bersiaplah di perbatasan sana. Yang


lain sudah mendapatkan tugas masing-masing dan sedang bersiap untuk berangkat


ke perbatasan negara Orc!” jelas Dean.


“Baik, Ayah,” angguk Eric patuh. Lalu keduanya pergi ke


perbatasan, di mana Sofie masih setia duduk dan menjaga pos-nya.


Dean keluar dan melihat bahwa pasukan Pangeran Mahkota sudah


mulai bergerak. “Robert, aku pergi sebentar ke negara Penyihir. AKu percaya


kalian bisa mengatasi para Orc itu dengan mudah. Hati-hati dengan panah


tersembunyi milik mereka!” pesan Dean.


“Tentu!” angguk Robert.


Dean terbang cepat dan menemukan Pangeran Glenn masih duduk


di perbatasan negara Orc dan negara Penyihir. Dia menyampaikan hasil pertemuan


dengan Pangeran Mahkota. Glenn senang, mengetahui bahwa Eric yang pergi mencari


putrinya. Dia sudah mempercayai anak muda itu.


“Hakon, apakah Kau sudah mengetahui garis perbatasan negeri


ini?” tanya Dean pada Hakon yang masih pergi untuk mengawasi garis perbatasan.


“Sudah. Aku sudah memutari tempat ini hingga tiga kali. Belum


ada pergerakan di sini!” sahut Hakon.


“Tunjukkan padaku garis perbatasannya,” kata Dean lagi, lewat


pikiran.


“Baik, saya akan segera kembali!”


Dean bekerja cepat membuat benteng di sepanjang garis perbatasan


negara Orc dan negara penyihir. Dia menggali tanah negara Orc hingga dalam


menyerupai lubang panjang selebar lima puluh meter. Kemudian tanah itu ditumpuk


menjadi benteng tinggi di bagian negara Elf.


Hakon melihat cara kerja Dean yang sangat cepat. Dia

__ADS_1


benar-benar kagum. Hingga pukul tiga sore, parit dalam dan benteng dari tanah


itu sudah selesai dibangun seluruhnya. Bahkan hingga ke perbatasan dengan Hutan


sihir.


Kepala pengawal istana benar-benar tak menyangka kalau


pekerjaan seperti itu bisa dilakukan oleh satu orang saja, hanya dalam beberapa


jam! Mereka mengawasi parit dalam di depan benteng dengan terpana. Sihir mereka


seakan tak ada apa-apanya di hadapan bangsa Cahaya.


“Baik. Sekarang kalian bisa lebih aman menjaga perbatasan di


atas benteng! Saya harus kembali. Sebentar lagi, peperangan besar akan terjadi


di Tanah tak bertuan.” Dean berpamitan.


“Terima kasih,” kata Kepala pengawal negara Penyihir itu menunduk


hormat.


Dean dan Hakon melesat pergi. “Kau, awasi tempat ini dari


ketinggian,” perintah Dean pada Hakon.


“Baik, Pemimpin!” jawab pria muda itu. Kekagumannya tak


pernah habis pada pemimpin mereka.


***


Di istana Raja Kurcaci Biru.


Sang raja langsung mengumpulkan para menterinya. Dia mendapat


kabar yang sangat mengejutkan dari jenderal yang  berjaga di lapangan. Kabar bahwa negeri Elf


memiliki sekutu yang sangat hebat, sangat memengejutkan mereka.


“Tidakkah itu mengada-ada? Dua orang saja mampu menghabisi


bangsa Orc yang memenuhi Tanah tak bertuan? Itu terlalu musykil!” salah seorang


menteri menolak untuk mempercayai kabar itu.


“Kau mulai tidak mempercayai jenderal utama?” tuduh sang


raja.


“Bukan seperti itu, Yang Mulia.” Mentri itu tak dapat


menjelaskan rasa mustahil yang memenuhi kepalanya.


“Kalau berita yang dikirimkan tidak dapat kalian percayai,


bagaimana jika kukatakan bahwa Pangeran Mahkota dikirim puang dari tembok


perbatasan karena terluka oleh cahaya kuat yang mereka ledakkan di Tanah tak


bertuan!”


Para menteri yang berkumpul, sangat terkejut mendengarnya. “Bagaimana


sekarang keadaan sang pangeran?” tanya mereka mulai cemas. Tak ada lagi yang


mendebat tentang masuk akal atau tidak berita di perbatasan.


“Masih di perjalanan. Jenderal meminta untuk tabib istana


menyiapkan obat untuk cedera mata putraku!” Raja mengusap wajahnya dengan


khawatir. Cedera mata hanya akan berakhir buruk bagi mereka.


“Akan segera saya siapkan!” Tabib mengundurkan diri dan


buru-buru kembali ke tempat kerjanya.


“Sekarang, bagaimana menurut kalian? Apakah kita perlu


membantu negara Elf? Bagaimanapun juga, tentara mereka sudah berkurang sangat


banyak. Sementara di kabar kedua yang dikirim Jenderal utama, panji-panji


perang Pangeran Mahkota kerajaan Elf sudah memasuki Tanah tak bertuan yang


sebelumnya menjadi ladang pembataian Orc!” ujar raja.


“Berarti mereka akan masuk ke negara Orc untuk mencari Putri


Cristal!” seorang menteri menimpali.


“Jika kita tidak membantu sesuatu yang tepat di depan mata,


bagaimana kita akan menjalin hubungan dengan mereka di masa depan?” Raja merasa


kalut.


“Kita siapkan dapur umum untuk mereka!” usul salah seorang


mentri.


“Itu tak akan cukup! Aku tak ingin lagi kita bersikap seperti


pengecut! Tentara kita harus membantu membersihkan para Orc yang tertinggal dan


menjaga perbatasan itu, saat para Elf masuk ke dalam kota Orc!” tegas sang


raja.

__ADS_1


__ADS_2