The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 48. Kerajaan Peri


__ADS_3

Jangan lupa dilike dan komen ya Kak.


*****


Istana Raja Peri juga tak kalah prihatin. Pera pejabat istana berkumpul setelah dipanggil oleh raja Mereka membahas kegentingan situasi di kerajaan Elf. Pangeran Taksa, adik sang raja yang merupakan menantu Raja Felix, ikut hadir dalam pertemuan.


“Jadi bagaimana menurut kalian? Raja Felix yang baru diangkat  dan putra mahkota telah mengirimkan surat mengatakan tentang kegentingan situasi mereka,” ujar raja.


“Kita bisa membantu menjaga perbatasan agar tidak dikuasai oleh Orc. Dan membiarkan para tentara Elf membuat perlindungan di seluruh tanah perbatasan kita,” ujar Mentri Pertahanan.


“Suplai kita cukup. Kita bisa bantu bahan makanan untuk para tentara ataupun rakyat yang mengungsi,” tambah menteri pertanian.


“Tak bisakah kita membantu tambahan tentara mereka? Mereka pasti sudah kehilangan banyak bala tentara!” kata Pangeran Taksa. Sebagai menantudari kerajaan Elf, dia sangat prihatin dengan kekacauan yang menimpa negara istrinya itu. Istrinya, Putri Valxina selalu menangis diam-diam memikirkan keadaan negaranya.


“Itu akan sangat berbahaya. Kita bisa kekurangan tentara juga,” tentang Menteri Pertahanan.


Pangeran Taksa emosi mendengar alasan seperti itu. “Jadi kau ingin kita melihat negara itu hancur begitu saja? Jangan lupa. Setelah Orc menguasai Kerajaan Elf, maka negara kita yang terjepit di tengah-tengah, juga akan mengalami nasib yang sama. Dikepung oleh Orc dari Kerajaan Penyihir dan Kerajaan Elf. Maka saat itu, kita hanya sendirian. Aku yakin, tak butuh waktu lama, negara ini akan ikut runtuh!” kecam Pangeran Taksa pedas.


“Untuk mengantisipasi hal itulah aku menahan para tentara untuk pergi berperang ke negara Elf. Agar tentara kita cukup kuat untuk menahan serangan!” Menteri Pertahanan membela diri.


“Kau bodoh atau apa? Bukankah kalau kita bantu mempertahankan kerajaan Elf, maka tak akan pernah ada serangan Orc dari perbatasan Barat? Kita hanya perlu menjaga perbatasan Timur!” sergah Pangeran Taksa emosi.


“Jaga kata-atamu, Pangeran!” Wajah Menteri Pertahanan merah padam, disebut bodoh di dalam sidang istana. Dia amat sangat emosi.


“Cukup!” ujar Raja menengahi.


“Yang dikatakan adikku ada benarnya. Tapi Menteri Pertahanan juga tidak salah, dia sangat protektif pada keselamatan dalam negri.” Raja mengambil jalan tengah untuk meredakan situasi panas antara keduanya.


“Pangeran Taksa, aku tahu kau prihatin dengan kerajaan mertuamu. Aku akan ijinkan kau membantu ke sana, dengan satu syarat,” ujar raja.


Pangeran Taksa terkejut. Diliihatnya sang kakak dengan penuh harap. “Apa syaratnya?”


“Syaratnya, kau hanya bisa membawa pasukanmu sendiri,” kata Raja. Para pejabat tersenyum sinis. Raja mereka sangat bijak. Tidak melarang, tapi juga tidak akan membantu secara langsung.


Pangeran Taksa terkejut. “Pasukanku sendiri? Aku tidak punya pasukan, selain pengawal yang menjaga kediamanku.”


“Kalau begitu, ya tidak perlu pergi!” ketus Menteri Pertahanan.

__ADS_1


Pangeran itu kembali lesu. Sebagai adik, dia merasa serba salah. Kakaknya yang menjadi raja itu tidak memiliki putera mahkota. Meski dia memiliki beberapa isteri, tak seorang pun dari mereka yang melahirkan putra mahkota. Sejak dia istrinya melahirkan seorang putra, kebencian dan ketakutan terselubung, menghinggapi kakaknya.


Entah siapa yang lebih dulu mengembuskan issu bahwa Pangeran Taksa pada akhirnya akan menjadi raja menggantikan kakaknya. Atau issu lain yang mengatakan kerajaan Peri suatu hari akan berada di bawah kendali Pangeran Karl, putera Pangeran Aksa.


Dia, istri dan putranya sudah berusaha untuk menunjukkan kesungguhan mendukung sang raja. Menepis gossip miring tentang perebutan kekuasaan, dengan membiarkan Karl bertugas jauh di hutan perbatasan. Pangeran Aksa hanya menunduk, tak bisa berbuat apa-apa lagi.


“Aku hanya mengingatkan. Jika kita salah mengambil kebijakan, maka negara kita juga akan mengalami nasib serupa dengan Kerajaan Elf dan Kerajaan Penyihir!”


“Jangan mengutuk negaramu sendiri!” kecam sang Raja berang. Matanya menyala marah, seperti ingin menelan adik kandungnya itu


Setelah itu, Pangeran Taksa diam saja, mendengarkan segala omong kosong para menteri yang menurutnya hanya menjilat dan memberi pengaruh buruk pada kakaknya.


***


“Bagaimana pertemuan di istana tadi?” tanya Puteri Valxina, saat suaminya kembali.


“Hah … kau pasti sudah menduga apa yang akan mereka katakan, bukan?” keluh Pangeran Taksa.


Hatinya tersayat melihat wajah istrinya yang tenggelam dalam sedihnya.


“Bukan salahmu jika para istrinya tidak mampu melahirkan seorang putera!” ketus Pangeran Aksa. Dia juga sudah muak diintimidasi sejak Karl lahir. Tak kurang juga intimidasi yang dialami putra tampannya di dalam istana.


Ketidak sukaan sang Raja makin meningkat tatkala mengetahui bahwa Putri Cristal bertunangan dengan Pangeran negara Penyihir. Sang Raja menginginkan sang pangeran sebagai menantu bagi putri keduanya. Hanya saja dia kalah cepat. Semua alasan absurd itu meningkatkan rasa tidak suka mereka pada Kerajaan Elf.


“Raja bilang, aku bisa membantu ke sana, jika membawa pasukanku sendiri.” Pangeran Taksa mengatakan apa yang dikatakan Raja sebelumnya.


“Kita kan tidak punya pasukan? Hanya beberapa penjaga yang diberikan istana untuk menjaga kediaman,” bantah Putri Valxina.


“Nah, bukankah kau tau apa artinya itu?” Pangeran itu bertanya balik.


“Aku mengerti. Jika kau pergi dengan pasukanmu, Maka kecurigaan bahwa kita akan mengkudeta raja, jadi punya pembenaran. Kau akan segera ditangkap dengan tuduhan makar dan menyembunyikan pasukan gelap!”


Pangeran Taksa mengangguk lemah. Dia memeluk istrinya yang bersedih. “Saat ayah masih hidup, kedua negara kita berhubungan sangat baik. Berbeda dengan saat kakakku berkuasa. Sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang mengotori pikirannya hingga membenci kita dan kerajaan Elf.”


“Aku akan mengabari Karl kabar ini. Meski dia tinggal di tengah hutan, dia tetap harus tahu perkembangan di istana,” kata Putri Valxina.


“Lakukanlah yang menurutmu baik untuknya. Tetaplah berhati-hati menjaga darah mudanya yang masih bergolak. Aku tidak mau dia datang dengan marah dan membantah pamannya sendiri. Aku tidak yakin kakakku akan bermurah hati dengan nyawanya,” Pangeran  Taksa memperingatkan.

__ADS_1


“Akan kuperhatikan hal itu,” angguk sang putri.


***


“Ada pesan dari istana,” kata pengawal pribadi Pangeral Karl.


“Pasti kabar itu lagi, itu lagi,” Karl tidak terlalu senang mendengarnya. Saat ini dia menunggu di tempat tugasnya. “Bagaimana dengan pria dari Kerajaan Penyihir itu?” tanyanya.


“Tabib belum datang hari ini.” Pengawal pribadinya menyerahkan surat dari istana pada Karl.


“Istana Kerajaan Elf jatuh di serang Orc. Raja baru mereka adalah Kakekmu Raja Felix,” lapornya.


“Apa!” Sekarang pria muda itu duduk dan membaca pesan dengan serius. Pesan yang ditulis tangan oleh ibunya.


“Tempo hari, Paman Glenn tidak ikut kembali bersama pasukannya. Dan mereka tidak melewati tempat ini.” Ada sedikit rasa kecewa di hatinya tak bisa bertemu dengan pasukan Elf yang kembali ke tebing perbatasan. Dia ingin sekali pergi ke negara itu. Hanya sekali dia pernah bertemu dengan kakeknya Raja Felix. Itu saat dia masih sangat


kecil. Negara yang penduduknya sangat ramah. Kerajaan yang anggotanya saling mengasihi dan mendukung satu sama lain. Berbeda dengan istana Peri yang penuh kecurigaan.


“Kata ibu, ayah bisa pergi membantu kakek, tapi hanya dengan pasukannya sendiri!” Karl menggeleng tak senang.


“Kuharap ayah tidak begitu bodoh, mengumpulkan pasukan untuk pergi. Karena ini adalah jebakan sang raja!” kesalnya.


“Maka kau sangat tahu bahwa kau juga tidak bisa berbuat bodoh dengan pergi ke sana atas inisiatifmu sendiri!” Pengawal itu memperingatkan.


“Jika saat itu aku bertemu pasukan Elf yang menyeberangi perbatasan, aku akan ikut ke sana,” jawab Karl tak peduli.


“Maka Raja akan menuduhmu memberontak! Dan yang pertama menanggung akibatnya adalah ayah dan ibumu di istana!” pengawal itu mengingatkan.


“Ayah dan ibuku adalah pangeran dan putri yang terhormat. Mereka tinggal di istana, yang layaknya penjara! Aku tidak mengerti, kenapa mereka masih bertahan di sana,” kata Karl.


“Keduanya pasti punya pertimbangan yang tidak ingin mereka katakan pada siapa pun.” Pengawal menimpali.


“Menurutmu, apakah yang akan terjadi, jika aku pergi membantu ke kerajaan Elf?” tanya Karl meminta pendapat.


Pengawal pribadinya terkejut, kemudian menghembuskan napas berat. Ini adalah pertanda dari pangeran muda itu. “Menjaga perbatasan ini juga sama pentingnya. Kau akan kena hukuman saat kembali!”


*****

__ADS_1


__ADS_2