The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
31. Malam Keberangkatan


__ADS_3

"Kau mau ke mana?" Sofie melihat Eric terbang ke pantai setelah dipanggil ayahnya. Gadis itu langsung mengejar, meninggalkan teman-temannya yang keheranan.


Eric berenang dan menyelam di laut. Sambil memukul-mukul permukaan air laut. Sofie tak berani terlalu dekat, saat Eric sedang emosi seperti itu. Jadi dia hanya mengawasi pada jarak lima belas meter di atas permukaan laut. Cukup dekat untuk bisa mendengar teriakan dan umpatan kesal pria muda itu.


"Kau kenapa? Dimarahi ayahmu lagi? Bersabarlah ...," bujuk Sofie setelah melihat Eric membiarkan dirinya mengambang di atas permukaan air. Pria itu sudah tenang sekarang.


Eric tidak menyahuti. Matanya terpejam, namun otaknya sedang mencerna kata-kata para tetua Bangsa Cahaya itu.


"Aku tidak diijinkan ikut besok!" Eric sudah selesai dengan keheningannya.


"Hlo, kok bisa? Bukannya memang kau sedari awal disuruh untuk ikut serta?" Sofie tak mengerti.


"Karena aku menolak menjadi pemimpin tim besok!" sahut Eric enteng. Di terbang sambil memutar tubuhnya dengan cepat di atas permukaan air. Membuat pakaiannya yang basah, ikut berputar dan memercikkan air kian kemari.


"Hei! Jangan lakukan itu! Basah, tau!" kesal Sofie sambil menghindar dan menjauhi Eric.


Eric tidak mempedulikannya dia terus saja terbang di atas permukaan laut. Kadang kencag, kadang lambat dan melihat sekeliling. Sofie mengejarnya dengan penasaran. Apa yang dipikirkan pria muda itu hingga menolak penunjukannya.


"Eric! Tunggu!" kejarnya. Keduanya terbang tinggi di langit Dunia kecil Bangsa Cahaya. Dari laut, hingga ke kebun buah-buahan dan berkeliling lagi melintasi peternakan.


"Kenapa kau membuat wasiat seperti itu sebelum menutup mata?" Eric berjongkok di sisi makam Dokter Chandra.


"Menurut ayah, kau adalah titisan leluhur Bangsa Cahaya. Kau memang ditakdirkan untuk memimpin bangsa kita kembali ke jaman kegemilangan."


Sofie membantu membersihkan makan Dokter Chandra yang menjadi Penguasa Bangsa Cahaya Sebelum Dean.


"Tapi aku tidak ingin menjadi pemimpin Bangsa Cahaya. Aku lebih suka menjadi pendukung yang berada di belakang!" keluh Eric.


"Itu sudah takdirmu, sebelum dilahirkan. Kau hanya perlu menjalaninya. Akan ada banyak orang yang membantu, jika kau tidak sesempurna yang mereka harapkan," bujuk Sofie.

__ADS_1


"Coba kau ingat tentang Tetua Chandra? Dia sangat menyukai ilmu pengobatan. Namun, karena takdirnya menjadi pemimpin, maka dia pun mengambil tanggung jawab itu dengan berani. Lalu dia didukung oleh banyak orang, hingga Bangsa kita menjadi bangsa yang sangat maju!" Sofie masih mencoba memberi pengertian pada Eric.


"Lalu, masa kehancuran datang. Semua kegemilagan itu hilang lenyap tak berbekas!" Eric menambahi dengan sinis.


"Itu juga bagian dari takdir. Di luar kuasa kita atas apa yag terjadi!" Sofie sangat memahami tentang itu, karena jiwa Ivy yang kuat telah disadari dan diterimanya dengan sepenuh hati.


"Lantas, untuk apa lagi mencari kegemilangan, jika dengan begini saja kita bisa bahagia dan hidup tenteram?"


Eric menatap Sofie tajam. Membuat gadis itu sedikit terkejut melihat tatapan yang terasa asing baginya. Dia seperti melihat mata Eric berkilat biru keemasan sekejap tadi, lalu menghilang.


"Kalau kau berpendapat begitu, justru kau benar-benar harus menjadi pemimpin bangsa kita," kata Sofie setelah berhasil menguasai diri.


"Kenapa begitu?" Eric heran.


"Karena, dengan menjadi pemimpinlah, baru keinginanmu itu bisa tercapai. Sebagai pemimpin, kau boleh dan berhak untuk membuat keputusan. Dan semua orang akan menurutimu!" jawab Sofie sambil tersenyum miring.


"Kau sangat pintar!" puji Eric.


Namun tanpa diduga, Eric memukul kepalanya dengan batang alang-alang. Gadis itu terkejut. Sebelum dia bertanya, Eric berkata, "Apa kau kira aku tidak tahu kalau kau menggiringku untuk menuruti keinginan ayah?"


"Huh!" Eric pergi meninggalkan Sofie. "Jangan mengikutiku!" teriaknya kesal di kepala Sofie.


"Kau itu sangat cerdas. Dan aku bisa melihat cahaya jiwa leluhur muncul tadi. Kenapa kau meredam dan menolak menerimanya?" Sofie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Eric.


*****


Malam hari, persiapan makin dipercepat, agar semua selesai tepat waktu.


Kakek Kang menyerahkan dua pintu teleportasi yang menjadi koleksinya, untuk dibawa oleh Ubbe, murid Aslan.

__ADS_1


"Jika kalian sudah mencapai tempat yang menurut Robert tepat, kalian bisa memasang pintu teleportasi. Kau harus kembali ke sini lebih dulu, untuk memngkonfirmasi kordinatnya dengan kami." Aslan mengingatkan murid pertamanya itu.


"Baik, Guru," jawab pria itu.


Ubbe adalah keturunan campuran Suku Cahaya. Dia tidak punya kemampuan khusus seperti keturunan asli. Akan tetapi, dia memiliki kecerdasan yang diturunkan dari ayahnya. Dia salah satu murid kebanggan Aslan, dan dianggap mampun mengemban misi untuk membuat jalur teleportasi ke Dunia Dongeng.


"Satu pintu lagi, kau pasang setelah keadaan aman di sana. Itulah jalur kalian kembali nanti. Harus setelah semua aman teratasi! Kau pasti tak akan mau jika bangsa raksasa itu datang ke sini lewat pintu teleportasi dan menghancurkan dunia ini!" Dean menekankan pentingnya hal itu.


"Mengerti, Pemimpin!" jawab pria itu lagi.


"Kau sebaiknya bergabung bersama tim Dokter Dimas. Karena dialah yang akan menyimpan pintu teleportasi itu."


"Baik, Guru." Pria itu kembali mengangguk. Dia memang tidak punya kalung penyimpanan seperti umumnya Bangsa Cahaya. Bukan karena dia tidak punya, namun, karena dia tidak mampu mengaksesnya, akibat tidak punya kemampuan khusus.


"Lalu, pasien itu bagaimana?" tanya Dean pada Dimas.


"Yang satu sudah bisa berjalan, yang seorang belum dianjurkan untuk jalan!" geleng Dimas.


"Kalau begitu, kau atur saja bagaimana baiknya untuk perjalanan besok.


"Akan kulakukan!" Dimas mengangguk.


Dean sudah memeriksa perbekalan yang disiapkan oleh Indra dan Niken. Semua sudah sesuai dengan harapannya.


"Kalian bisa istirahat sekarang. Besok akan lebih melelahkan lagi," katanya sebelum pulang.


Dean berdiri di bawah cahaya bulan, di depan air terjun samping kediamannya. Rumahnya sudah sepi. Suara Widuri dan putrinya terdengar sayup dari lantai atas rumah.


Suara Eric terdengar. "Ayah, aku mau bicara!"

__ADS_1


*******


__ADS_2