
Gerald terkejut. “Bagaimana dengan putri Anda, jika dia ada di sana?”
“Kita harus mau mengambil keputusan. Atau akan terus seperti ini. Sementara di ibu kota, perang besar telah terjadi. Jangan sampai keraguanku membuat semua upaya kerajaan sia-sia!” ujar Glenn teguh.
Levyn tak bisa berkata-kata lagi. Yang dikatakan ayahnya benar. Ada banyak keluarga kerjaaan yang ditahan oleh Orc. Jika karena kakaknya semua usaha pangeran mahkota sia-sia, bukankah itu menjadi kerugian besar?”
Hakon membasahi tubuh Eric dengan air abadi. Entah bagaimana tubuh pria muda itu mengepulkan asap dan sinar putih lembut itu melemah.
“Apa yang terjadi?” Gerald mendekati keduanya dengan cemas.
“Aku tidak tahu. Eric memintaku menyiraminya dengan air abadi. Dan ini yang terjadi.” Hakon menggeleng tak mengerti.
Kemudian tangannya menarik tubuh Gerald menjauh. “Lindungi semua orang!” teriak Hakon sambil berlari dan semua orang negara Penyihir, hilang dalam penyimpanannya.
Gerald membawa Glenn naik ke punggungnya, sementara Hakon terus memasukkan semua pengawal Glenn. Tangannya menarik Levyn dan ikut terbang menyusu Gerald.
“Apa apa?” Levyn bertanya.
“Eric bilang, akan bahaya jika berada di dekatnya.
“Tapi dia bahkan masiih tertidur!” bantah Levyn.
“Bangsa kami bisa bicara lewat pikiran. Bahkan bangsa Naga juga bisa melakukan hal yang kurang lebih sama,” jelas Hakon.
“Jadi seperti itu sebabnya kalian tidak butuh burung pengirim pesan?” tanya Levyn. Hakon mengangguk mengiyakan.
Di bawah, tubuh Eric yang semula diselubungi asap tebal, sekarang mengeluarkan sinar berwarna-warni. Segala macam cahaya terpancar keluar dari tubuhnya. Dan sebagian besar cahaya dalam intensitas seperti itu, mampu melukai bahkan membunuh siapapun yang ada di dekatnya.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Glenn penuh ketakjuban.
Cahaya yang memancar itu sangat indah dan cemerlang. Gerald terbang menghindari satu cahaya yang melesat naik ke udara.
“Ya Tuhan, hampir saja!” katanya panik. Dilihatnya Hakon juga tak kalah repot menghindari beberapa cahaya yang datang ke arahnya.
Satu ketika, salah satu cahaya mengenai ujung sayap Gerald dan membuat naga itu menjerit marah.
“Cukup Eric! Jangan kira aku tak akan membalasmu karena ini!”
Gerald menyemburkan api ke arah pemuda di bawah itu karena jengkel. Sayangnya yang berharga, jadi terbakar dan rasanya panas sekali. Kemudian naga itu melesat mencari sungai untuk mematikan kobaran api yang membakar sebagian bulu di ujung sayapnya.
“Api-api itu bisa membakar?” Glenn memperhatikan sayap Gerald yang sekarang terlihat hangus di ujung.
__ADS_1
“Menyebalkan! Aku akan melaporkannya pada Paman Dean!” gerutu Gerald kesal.
“Apa dia menyadari yang dilakukannya?” tanay Glenn.
“Dia tak menyadarinya. Itu membuatku sulit untuk membalasnya!” kesal Gerald bertambah.
“Bagaimana dia bisa seperti itu?” tanya Glenn lagi.
“Aku tidak tahu. Dia tidak pernah begitu. Tapi kurasa, jiwa leluhur telah menguasainya. Dan ini berbahaya! Ayo kita kembali!” Gerald menurunkan tubuhnya sedikit agar Glenn bisa naik dengan mudah. Mereka naik perlahan ke atas pepohonan.
“Itu dia!” Glenn menunjuk satu tempat dimana cahaya warna-warni muncul ke segala arah dengan kuatnya.
Hakon menghindar menjauh dari lokasi Eric berbaring. Dia berkelit berkali-kali, menjauh mengindari segala cahaya yang memancar .
“Ke sini!” panggil Gerald ngeri.
Hakon melesat cepat ke tempat Gerald. Wajah Levyn sudah pucat pasi karena ngeri dengan kedahsyatan cahaya tubuh Eric.
“Aku tadi hampir kena. Cahaya birunya melewati pipiku tak sampai sejengkal. Tapi rasanya panas luar biasa!” :evyn menunjukkan pipinya yang tadi dirasanya kena panas.
Glenn melihat bagian pipi putranya sedikit merah seperti terbakar. Dia menggeleng. “Apa kalian tidak bisa menghentikannya?”
Hakon menyerahkan Levyn pada Gerald. “Aku harus menjaganya. Takutnya, ada Orc datang menyerang,” kata Hakon.
“Coba kau lihat bagaimana dahsyat cahaya yang dikeluarkannya. Orc mana yang bisa melewati segala macam cahaya itu?” Gerald mengingatkan. Hakon mematung dan menyadarinya. Dia mengangguk dan ikut berdiri dari jauh.
“Kapan dia akan berhenti?” tanya Levyn. Gerald dan Hakon hanya menggeleng.
“Kurasa ... kurasa semua bakatnya sudah muncul sekarang,” cetus Hakon.
“Luar biasa!” Gerald berkomentar.
Tak lama, beberapa tempat terlihat mengepulkan asap melewati pucuk pohon.
“Ada yang terbakar!” tunjuk Levyn ke kejauhan.
“Itu arah ke ibu kota Penyihir,” timpal Glenn.
“Mungkin para Orc yang berada di desa terdekat mencari cahaya yang muncul. Dan mereka musnah karenanya.” Gerald menyimpulkan dengan cepat.
“Lihat itu!” Levyn kembali menunjuk.
__ADS_1
Sebuah bila cahaya yang sangat kuat, naik melewati puncak pohon di hutan pinggir desa. “Aku kawatir ini akan lebih bahaya dari pada bola cahaya milik O!” Hakon bergidik.
“Apa artinya itu?” tanya Glenn dan Levyn bersamaan.
“Jika itu meledak, maka tak ada yang akan selamat!” tambah Gerald.
Dia ingat ibunya pernah menceritakan bagaimana Alan dan Sunil menghadapi kabut berbahaya di dunia kecil pertanian. Semua itu usai setelah Sunil meledakkan bola cahaya biru. Dan itu memusnahkan semua makhluk hidup di luar gua. Bahkan mereka tak akan selamat jika bukan Alan yang melindungi dengan kubah cahayanya.
“Apa kau bisa membuat kubah cahaya untuk melindungi kita?” tanya Gerald pada Hakon. Pria muda itu menggeleng sebagai jawaban.
“Itu bukan bola cahaya! Itu Eric!” tegas Glenn. Dia terus memperhatikan gumpalan cahaya warna-warni itu dengan cermat.
“Eric!” panggil Gerald untuk meyakinkan. Benar, makhluk bercahaya itu berbalik dan menoleh pada mereka.
“Leluhur!” panggil Hakon lebih hormat.
Bola cahaya itu datang ke dekat mereka. Tapi Gerald dan Hakon mundur menjauh. “Tubuhmu bercahaya, Eric. Tidakkah itu berbahaya bagi kami?” tanya Gerald khawatir.
Eric berhenti mendekat. Kemudian cahaya itu meredup perlahan. “Aku mencari kalian. Kukira kalian ditangkap para Orc itu!” tunjuk Eric ke bawah. Sekarang jelas bagi mereka bahwa asap mengepul itu adalah para Orc yang hangus.
“Cahayamu mengundang para Orc datang. Kita tak bisa di sini lagi,” kata Hakon.
“Jika kau memang mampu menghancurkan ibu kota negara Penyihir, lakukan saja!” kata Glenn.
“Apa kalian sudah mendiskusikannya?” tanya Eric.
“Tadi kami sedang mendiskusikannya saat cahayamu memancar ke mana-mana,” balas Gerald.
“Baik kalau begitu. Tapi terus terang saja, aku belum bisa menguasai kekuatan ini. Jadi aku tidak tahu seberapa kuat dampaknya nanti." Eric mengingatkan.
“Waktu kita sudah terbuang percuma. Sementara perang di negeri elf entah bagaimana sekarang. Jadi kita tak bisa menunda untuk mencari cara lain lagi!” ujar Glenn teguh.
“Baiklah. Mari kita ke sana!” Eric terbang mendahului. Gerald dan Hakon menyusul dari belakang.
Tak menunggu lama, gerbang ibu kota sudah terlihat. Banyak Orc yang keluar dari sana dan berkumpul di jalan-jalan. Mereka membentuk barisan.
“Kurasa, mereka sedang mencarimu!” kata Glenn.
Eric menggerakkan dua tangannya saling berputar membentuk bola cahaya. Semula hanya sebesar bola pingpong. Dan akhirnya jadi sebesar kepala Gerald. Pendaran cahaya yang dibuatnya menarik perhatian para Orc di bawah. Mereka menunjuk-nunjuk ke arah eric, Gerlad dan Hakon yang terbang melayang di depan pintu gerbang ibu kota.
Tanpa menggubris kepanikan para Orc, Eric terbang melintasi tembok kota. Dia melihat kota yang aneh itu dan tanpa basa-basi melemparkan bola cahayanya ke tengah kota. Lalu berbalik secepatnya dan langsung menyembunyikan teman-temannya dalam kalung penyimpanan miliknya.
__ADS_1
Bola cahaya yang indah itu meldakkan cahaya dahsyat. Segala apapun yang dilintasi percikan cahayanya langsung lenyap dari pandangan mata. Para Orc berlarian menyelamatkan diri. Tak ada lagi yang peduli dengan barisan yang tadi mereka buat. Semua memilih berlindung di balik segala benda yang terlihat.
Namun sayang, tak ada apapun yang tersisa di sana, kecuali tanah kematian!