The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 93. Mantera Pembuka


__ADS_3

Hakon kebingungan. Dia menoleh pada Gerald, minta pendapat.


“Kalau kau tak mau membantu mereka ya sudah. Mari kembali saja. Jangan pedulikan lagi mereka yang butuh bantuanmu. Biarkan saja putri Elf itu hilang. Toh kita tidak kenal. Ayo kita kembali!” ajak Gerald.


“Apa maksudmu itu!” Hakon memukul Gerald dengan kesal. Naga muda itu sama sekali tidak membantu.


“Dia sulit dibujuk. Jadi dukung saja keinginanya.” Gerald berkelit.


“Ayo kita kembali, leluhur. Dan kau bisa jelaskan hal ini di depan pemimpin bangsa cahaya serta para tetua! Mereka pasti mengerti.” Gerald kembali mengajak Eric pulang.


“Aaaahhhhh ...!”


Eric mengarahkan kedua tangannya ke satu tempat. Selarik api biru yang sangat panas, melesat cepat ke satu arah di kejauhan. Gerald dan Hakon memperhatikan tempat itu yang langsung musnah jadi abu. Keduanya bergidik ngeri, andainya itu mengenai para Elf atau diri mereka sendiri.


Kemudian Eric kembali tenang dan sinar biru di seluruh tubuhnya mulai meredup. Lalu hilang sama sekali, digantikan oleh cahaya keemasan yang cemerlang. Dia lalu turun perlahan diikuti oleh Hakon dan Gerald yang merasa lega.


Eric berdiri cukup jauh dari kumpulan para Elf yang sekarang sudah tak berani bicara sembrono lagi.


“Aku tak akan mentoleransi siapapun lagi yang menghina bangsa kami. Tidak ada kata lain kali!” Eric memperingatkan dengan suara yang parau dan berat. Kali ini Hakon dan Gerald berdiri di belakang, untuk mendukung ucapannya.


“Mohon maafkan kami yang tidak tahu tentang kemampuan Anda. Kami belum pernah bertemu dengan bangsa Anda sebelumnya. Maafkan kami,” ujar Pangeran Glenn dengan rendah hati. Di belakangnya, para pengawalnya termasuk Randall menunduk penuh penyesalan.


Randal bisa lihat sinar biru yang sangat kuat dan besar dibuang serta melesat ke satu tempat. Tak bisa membayangkan akibat jika sinar biru itu dikirim ke tempat mereka berdiri. Sementara tadi dia berdiri di dekat permukaan tanah saja, sekitarnya sudah terasa hangat.


Perlahan sinar keemasan di tubuh Eric ikut memudar, diganti dengan sinar putih susu lembut. Hakon jelas terkejut. Itu cahaya baru yang mirip dengan cahaya milik Jason dan Aila.


“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya hati-hati. Dikeluarkannya sebotol air abadi untuk mengisi kembali tenaga pria itu.


“Aku merasa sedikit tidak enak badan,” kata Eric.


“Beristirahatlah kalau begitu,” saran Hakon lagi. Eric mengangguk. Dia duduk dan menyandarkan punggungnya ke sebatang pohon hutan.

__ADS_1


Gerald yang sudah kembali ke tubuh manusianya, mendekati Glenn yang langsung bertanya ingin tahu. “Apa yang terjadi padanya?”


“Dia sedang tidak enak badan. Jadi biarkan dia istirahat sejenak,” sahut Gerald.


“Baiklah. Mari kita bicarakan rencana selanjutnya, sembari memberinya waktu istirahat,” Glenn mengangguk. Diperhatikannya bagaimana Hakon mencoba melayani Eric dan membuatnya tetap nyaman.


“Apakah dia biasa seperti itu?” tanya Levyn pada Gerald.


“Seperti apa?” Tanya Gerald balik. Dia tak mengerti maksud pertanyaan Levyn.


“Jika sudah mengeluarkan kekuatan, jadi lemah seperti itu?” Levyn mengatakan pertanyaannya dengan lebih spesifik.


“Tidak.  Biasanya dia tidak seperti itu. Aku juga merasa sedikit aneh melihat cahaya putih susu itu muncul. Kurasa tubuhnya ada yang terluka, hingga cahaya pengobatan itu muncul dengan sendirinya.” Gerald memperhatikan Eric yang bersandar di pohon, dengan diselubungi cahaya putih susu yang lembut.


“Ah, aku ingat sekarang. Tabib wanita dari kelompok kalian juga memiliki cahaya seperti itu, saat memeriksa tubuh para prajurit!” kata Levyn. Matanya melihat ke arah Eric tak percaya.


“Ya, Aila dan Jason memiliki cahaya penyembuhan. Dan sekarang Eric juga mengeluarkan cahaya yang sama. Aku khawatir ada yang terluka di dalam tubuhnya.” Gerald ikut mengawasi Eric dari kejauhan.


“Apakah mereka biasa punya bermacam-macam cahaya?” tanya Glenn.


“Apakah itu biasa terjadi?” tanya Levyn lagi.


 “Baru kali ini. Sejak lahir, cahaya yang muncul di tubuhnya hanya dua. Biru dan kuning keemasan.” Gerald prihatin dengan keadaan Eric. Tanpa dia, maka rencana pencarian dan penyelamatan putri Elf mungkin tertunda.


Glenn, Levyn dan Gerald akhirnya berdiskusi tanpa kehadiran Eric. Gerald banyak membantu dengan memberi masukan tentang kemampuan mereka bertiga, yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh Pangeran Glenn dalam mencari petunjuk Putri Cristal.


“Jadi, lebih baik kalian mengawasi ibukota malam nanti, agar tidak terlihat oleh para Orc penjaga,” kata Glenn.


“Kami bisa saja melakukannya. Hanya saja, saat ini di ibukota Elf sendiri sedang terjadi perang. Jika di sini kita tak bergerak cepat, maka bisa jadi para Orc itu kembali atau mengirim kabar tentang peperangan di sana, ke sini atau ke negaranya. Maka tak mustahil mereka mengirim pasukan tambahan ataupun menjadikan putri Anda sebagai alat tawar menawar dalam perang!” kata Gerald.


Glenn diam dan berpikir lagi. Memang harusnya dia ikut bergerak cepat di sini, seiring pergerakan di negaranya. Tapi dia bahkan belum menemukan petunjuk tentang keberadaan putrinya. Cristal seperti hilang ditelan bumi.

__ADS_1


“Bisakah kalian menahan informasi yang mungkin dikirim lewat burung pengirim pesan di perbatasan?” tanya Glenn.


“Bisa saja. Tapi itu tetap tidak efektif. Karena rencana serangan di negara Elf adalah mendorong para Orc itu kembali ke negaranya!” kata Gerald.


Kedua tangan Glenn memegang kepalanya. Alangkah rumitnya kalau seperti ini. Bangsa Cahaya itu bisa saja menghancurkan ibukota negara Penyihir. Tapi mereka khawatir masih ada rakyat penyihir yang hidup di sana. Dan yang lebih gawat, kalau ada putrinya di sana. Yang paling penting adalah mencari keberadaan putrinya.


“Kurasa kakak berada dalam pengaruh sihir. Saat pertama aku menerima berita kehilangannya, aku masih mengirimkan mantera pencari lewat udara. Aku masih menemukannya di negara penyihir. Namun tak lama, mantera itu tak berfungsi lagi. Hilang begitu saja,” kata Levyn.


“Kau harus ceritakan juga tentang sihir yang menutupi udara di langit negara ini,” kata Gerald pada Levyn.


“Sihir yang menutupi udara?” tanya Glenn pada putranya.


“Iya. Bagian atas negara ini ditutupi dengan sihir. Kami tidak menemukan negara ini setelah melewati udara perbatasan negeri Peri. Sampai aku membaca mantera, barulah terlihat perbatasan negara ini dari atas sana!” jelas Levyn.


“Dari mana kau pelajari mantera itu?” tanya Glenn heran. Dia sama sekali tidak mengetahuinya.


“Dari nenek. Menurutku, nenek pasti tahu bahwa negara ini dilindungi oleh semacam sihir yang membuat orang tak bisa melihatnya. Dan nenek tahu cara membuka tabirnya!” Levyn menjelaskan.


Glenn membelalakkan mata. “Jadi maksudmu, Cristal mungkin ditutupi oleh mantera sihir, hingga kita tak bisa menemukan petunjuk apapun?”


“Kurasa, seperti itu yang terjadi.” Gerald sependapat.


“Kalau begitu, bukankah akan lebih mudah. Karena kau memiliki mantera penyingkap tabirnya,” kata Glenn pada putranya.


“Persoalanannya, kita tak menemukan jejaknya sedikitpun, yang mungkin bisa jadi acuan untuk membaca mantera pembuka tabir di situ,” kata Levyn.


“Ajari ayah mantera itu, agar bisa melakukannya juga,” kata Glenn. Levyn mengangguk.


Gerald membiarkan ayah dan anak itu belajar mantera, sementara dia mengawasi Eric yang tertidur. Di sebelahnya, Hakon duduk dengan cemas.


Tiba-tiba suasana di tempat itu berubah. Dari pinggir hutan dekat desa, berubah jadi hutan lebat. Gerald dan beberapa Elf, berdiri dengan sikap siaga. Termasuk Hakon yang tubuhnya langsung bercahaya keunguan seluruhnya. Pria muda itu tidak membangunkan Eric yang sedang menyembuhkan diri dalam selubung cahaya putih susu yang lembut.

__ADS_1


Lalu beberapa orang asing dengan pedang, panah, tombak bahkan pisau dapur, menghunuskan senjata mereka pada kelompok Glenn dan Eric.


“Pangeran Glenn, bisakah kalian berhenti membaca mantera? Lihat hasilnya di sini!” kata Gerald.


__ADS_2