
"Menyingkir!" perintah Dimas.
Arjun, Robert dan Hakon menjauh. Mereka mengerti bahwa Dimas memiliki kekuatan Penguasa Cahaya yang sebelumnya menempati tubuh Dokter Chandra.
Tempat itu segera kosong. Dimas harus berlomba dengan waktu. Air yang semula ditahannya akan kembali mengalir deras, jika dia melepaskan tangannya dari posisi menahan.
Tiga temannya mengawasi Dimas yang bersiap untuk melakukan hal yang direncanakannya.
Dengan kosentrasi penuh, pria itu mengerahkan kemampuannya untuk mengendalikan tanaman rambat yang saling menjalin dan menahan lumpur kering di dasar sungai.
"Hiaat!"
Sebelah tangan Dimas kini diarahkan pada tempat dimana Eric ditemukan, tapi tak bisa dikeluarkan. Satu tangannya yang lain masih di posisi menahan aliran air sungai dari hulu. Sedikit air mulai merembes masuk sebab sudah sangat melimpah.
Perlahan tangan Dimas terangkat. Bersamaan dengan itu tumbuhan yang saling membelit di dasar sungai ikut terangkat tanpa daya. Lumpur kering akibat api Arjun pun ikut terbongkar ke atas.
"Keluarkan Eric!" perintah Dimas lagi.
Hakon dengan cepat melesat dan menarik tubuh Eric yang penuh lumpur dan tidak bergerak sama sekali.
Setelah itu, bendungan air dilepaskan oleh Dimas. Dia bergabung dengan yang lain dan langsung memeriksa keadaan Eric.
Tak ada yang bertanya. Mereka hanya memperhatikan Dimas yang sibuk membersihkan tubuh Eric dengan air sungai yang dijatuhkan seperti air pancuran. Mulutnya dipenuhi air kehitaman dan berlumpur.
"Sepertinya dia berjuang keras untuk melepaskan diri dari lilitan tanaman air itu," komentar Hakon.
"Tanaman air saja bisa memangsa manusia. Alangkah buasnya! Kita harus berhati-hati di tempat ini." Robert mengingatkan.
"Tempat ini sangat misterius!" celetuk Arjun. Kepalanya kembali mengamati sekitarnya. Dia mulai waspada.
"Uhuk!" Eric akhirnya terbatuk-batuk dan kembali sadar setelah pertolongan yang dilakukan Dimas. DIa meludahkan sedikit lumpur dari mulutnya dan berulang kali berkumur untuk membersihkan sisa lumpur
Kemudian dia berbaring lemas di pinggir sungai yang sudah kembali mengalir tenang.
"Minum ini." Hakon menyodorkan botol air yang berisi air abadi pada Eric. Pemuda itu menelannya perlahan. Sesekali dia masih terbatuk dan memuntahkan cairan kotor. Namun Hakon tak bosan untuk memintanya kembali minum agar bisa membilas lambungnya yang mungkin masih menyimpan lumpur.
"Kita tak mengenal dunia ini," kata Robert. Bersama Arjun dia telah memeriksa sekitar. Sekarang mereka tak lagi berani abai dan berjalan sendiri.
"Sangat berbeda dengan dunia yang dikenal O," timpal Arjun.
__ADS_1
Robert mengangguk. "Juga bukan yang pernah kulalui," tambahnya lagi.
"Dinding dimensi itu sama sekali tidak mengarah pada tempat di mana kami dulu jatuh!"
"Berarti ada dinding dimensi lain yang masih terbuka. Hanya saja, kita tak bisa keluar lagi dari celah dimensi itu," ujar Arjun.
Hei, kalian di mana?" suara Dimas terdengar di pikiran keduanya. Mereka segera kembali ke tempat Eric berbaring.
"Kami mencoba memeriksa di sekitar," kata Robert.
"Hasilnya?" tanya Dimas.
Robert dan Arjun menggeleng sebagai jawaban. "Menurutmu, seberapa besar kemungkinan tanaman lain disini bisa jadi pemangsa juga, seperti tanaman air itu?" Arjun tak bisa menghilangkan kekhawatirannya.
Dimas menoleh ke sungai yang airnya jernih dan tenang. Siapa yang akan menduga jika tanaman air di dalamnya bisa menarik tubuh besar Eric ke dalam lumpur?"
"Dunia ini sangat misterius. Melihat apa yang dialami Eric, sebaiknya kita waspada. Entah tumbuhan apa lagi yang mungkin bisa menelan kita, nanti."
"Sebaiknya kita tidak pergi sendiri di tempat asing," tambah Hakon.
"Maafkan aku," Eric merasa bersalah.
"Tidak apa. Jika tak terjadi hal seperti ini, kita tak akan tahu tentang keanehan tempat ini dan mungkin tidak akan waspada, hingga terlambat!" Robert menenangkannya.
"Kita lanjutkan saja! Toh hari masih cukup terang," jawab Dimas cepat.
"Baiklah." Arjun mengangguk setuju. Kemudian bertanya pada Eric. "Bagaimana denganmu" Apakah mau ikut di luar atau, beristirahat bersama yang lain?"
"Aku sudah baik-baik saja. Aku ikut dengan kalian." Eric memutuskan dengan cepat.
"Ayo kalau begitu!" Dimas lebih dulu mengambang naik, diikuti Hakon. Mereka bersiap untuk pergi.
"Tadi aku melihat bukit batu yang lain di sebelah sana," tunjuk Robert.
"Sebaiknya kita naik ke tempat tinggi untuk melihat keseluruhan situasi di sini," saran Dimas.
"Kau benar. Mari ke sana!" Eric mengangguk dengan semangat.
Kelima manusia cahaya itu melanjutkan perjalanan mereka ke bukit batu yang dimaksud oleh Robert. Mereka terbang dengan cepat ke sana.
__ADS_1
Dalam lima menit, sudah berada di kaki bukit itu. "Cukup besar dan mungkin bisa kita sebut sebagai gunung," komentar Hakon.
"Kau benar. Ayo kita naik ke atasnya." Dimas langsung melesat naik, disusul oleh teman-temannya. Udara di bagian atas bukit berbatu itu, makin lama makin dingin.
"Wow!" seru kelimanya dengan mulut terbuka, karena takjub setelah mencapai puncak.
"Apakah di situ hutan pinus penuh salju yang dulu kalian datangi?" celetuk Hakon.
Di hadapan mereka kini terhampar salju sepanjang mata memanjang. Dan pohon pinus raksasa di mana-mana.
Robert sampai tak bisa berkata-kata. Dia baru menyadari bahwa memandangi hutan pinus bersalju dari ketinggian akan berbeda rasanya dengan menjalani kehidupan di bawah sana, seperti yang dulu mereka alami.
"Robert, apakah itu hujan pinus yang kalian ceritakan?" desak Dimas.
"Aku tidak dapat meyakini apapun sekarang. Karena tempat kita masuk sangat berbeda dengan lokasi kami jatuh dulu. Kita harus menemukan sedikit pertanda dulu, baru bisa menyimpulkannya!" jawab Robert.
"Tanda apa yang kau mau lihat?" tanya Arjun.
"Mungkin puing pesawat. Itu benda terbesar dan paling mudah dilihat dari ketinggian!" sahut Robert cepat.
"Kalau begitu, ayo kita periksa saja!" Eric kembali tak sabaran.
"Tunggu! Kau tak boleh lagi berbuat semaumu seperti tadi. Berangkatlah bersama-sama!" tegur Dimas tegas.
"Biar Kakek Kang yang menemaninya." Arjun mengeluarkan Kakek Kang dari kalung penyimpanannya.
"Woaa ... apakah kita sudah sampai di tempat kalian dulu jatuh?" Kakek Kang terpukau dengan hamparan salju yang luas di hadapannya.
"Kami belum dapat memastikan jika ini adalah tempat yang sama. Jadi kita harus memeriksanya lebih dulu." Robert menjelaskan dengan cepat.
"Baik. Aku mengerti. Apakah aku harus menjaga anak badung ini?" Pandangannya mengarah pada Eric yang cemberut.
"Kakek Kang memang sangat pengertian," Hakon mengangguk sambil mengulas senyum tipis.
"Baik, mari kita memeriksa ke bawah sana!" Robert memberi komando. Kelima orang itu melesat cepat. Seekor naga besar, terbang di samping Eric, untuk menjaganya.
Hingga sepuluh menit mereka terbang memeriksa, namun belum melihat pertanda apapun. Hutan pinus bersalju itu amat sangat luas.
"Aku mulai merasa kedinginan," celetuk Hakon.
__ADS_1
"Hari masih terang, mari kita periksa sedikit lagi. Jika masih belum bisa menemukan apapun dalam sepuluh menit, maka kita beristirahat dan menghangatkan diri," kata Robert. Hakon mengangguk mengerti.
********