
Glenn terdiam. Jika ibu kota sudah dikuasai, maka para Orc itu pasti berjumlah sangat banyak di sana. Ratusan? Ribuan? Kepalanya menggeleng tanpa sadar.
"Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, kalian harusnya bekerja sama dengan Putra Mahkota," ujarnya.
"Baik, kami akan berkomunikasi dengan Yang Mulia Putra Mahkota," jawab komandan pasukan itu segera.
"Lakukan dan istirahatlah sementara menunggu petunjuk putra mahkota," saran Glenn.
Hatinya sangat gelisah, antara ingin kembali atau terus mencari putrinya. Jika dia kembali, maka dikhawatirkan, Cristal akan dijadikan sebagai alat negosiasi. Jika dia melanjutkan pencarian, maka kemungkinan, ketidak hadirannya akan mengurangi kesolidan pasukan.
"Sial!" geramnya dengan marah. "Para Orc itu sudah mengkalkulaasi setiap langkah yang kita ambil!" katanya emosi.
Para komandan pasukan itu semakin tegang. "Berarti, apapun gerakan kita saat ini, mereka sudah punya cara untuk mengkounternya!" timpal satu komandan.
Glenn mengangguk."Cari cara yang tak diduga oleh para Orc!" sarannya.
Aku akan kirimkan pesan pada Putra Mahkota dan kecurigaan Anda tadi," kata salah seorang kpmadan pasukan.
"Hemm!" Hanya deheman yang keluar dari mulut Glenn. Dia juga sedang memikirkan bagaimana menemukan putrinya secepat mungkin, agar tidak menjadi alat negosiasi yang bisa melemahkan posisi kerajaan. Namun, mereka masih belum menemukan jejak gadis itu.
"Jika kita kembali dengan melewati tanah tak bertuan, ada kemungkinan mereka sudah memasang jebakan di sana," gumam salah seorang.
"Mungkin itu sebabnya saat kita melewati tempat itu, bisa lancar dan bebas hambatan. Mereka sengaja menjauhkan kita dari sana, agar mereka mudah menerobos masuk ke perbatasan kita dan terus lanjut ke ibu kota!" yang lain menyimpulkan. Mereka marah karena merasa telah dibodohi.
"Lalu kita mau kembali lewat mana?" tanya yang lain.
"Jalan satu-satunya adalah melewati perbatasan negeri Para Peri!" jawab yang lain.
"Menurutku, itu jalur terbaik!" Glenn mengangguk setuju. "Kalian bisa minta mereka menunjukkan jalur langsung ke arah ibu kota negara kita. Mungkin itu bisa jadi efek kejut bagi para Orc, saat kalian muncul tiba-tiba di depan mata, bukan dari perbatasaaan Tanah Tak Bertuan!"
"Bagus! Kita lakukan saja seperti itu. Sebab, jika mereka masuk lewat Tanah Tak bertuan, maka mereka pasti mengganti penjaga di. Perbatasan kita dengan orang-orang mereka!"
"Itulah yang terjadi dengan rombongan Putri Cristal. Pos perbatasan Para Penyihir, mereka tempati setelah mengalahkan pemiliknya." Yang lain menyimpulkan.
Mereka beristirahat dalam gelisah malam itu. Menunggu instruksi Putra Mahkota, agar dapat memasuki kota secara bersamaan untuk mengejutkan para Orc.
*
*
"Ada pesan Yang Mulia!" ujar suara pengawal di luar tenda.
__ADS_1
"Bawa masuk!" Putra Mahkota berkata tak sabar. Dia sedang membahas rencana dengan para komandan pasukan di tendanya.
Pengawal masuk dengan seekor burung yang membawa pesan. Asisten Putra Mahkota mengambil pesan dengan sigap dan mengembalikan burung itu pada pengawal untuk diberi makan dan minum.
Para komandan pasukan menunggu Putra Mahkota membaca pesan. Mereka tak sabar menunggu berita terbaru dari ibu kota.
"Ini pesan dari pasukan yang pergi mencari Putri Cristal."
Mereka mendengarkan dengan penuh perhatia, apa rencana Pangeran Glenn.
"Mereka mengatakan, Pangeran Glenn akan pergi dengan pengawal pribadnya saja untuk mencari Cristal. Yang lain diminta kembali ke ibu kota. Tapi harus berkoordinasi dengan kita agar bisa melakukan serangan bersama."
Sedikit kegaduhan terdengar di tenda. Ada yang setuju dengan rencana itu, ada punya yang kurang senang karena Pangeran Glenn lebih mementingkan putrinya ketimbang kegentingan ibu kota.
"Bisa kulanjutkan?" Putra Mahkota menatap tajam. Para komandan itu langsung diam dan mendengarkan.
"Pangeran Glenn menganjurkan untuk mencari jalan tak terduga. Yang mungkin tidak akan diantisipasi oleh para Orc!" Putra Mahkota telah selesai membaca pesan itu. Dia memandang semua komandan yang ada.
"Apa kalian ada saran yang sedikit berbeda dari yang biasa?" tanyanya.
Sebaiknya kita berjalan sebelum pagi, agar bisa mengejutkan para Orc yang sedang tidur!" saran seseorang.
"Kita tak bisa pulang melewati jalur utama! Mereka pasti sudah mempersiapkan rintangan di sana!" sambung yang lain.
"Lalu, lewat mana? Ada saran?" Putra Mahkota mengejar.
"Mungkin bisa lewat desa saya. Itu bukan jalur jalan yang umum, karena sangat sulit pula untuk dilakukan!" komandana pasukan yang ditinggalkan Glenn memberi ide.
"Lewat mana?" tanya Puta Mahkota antusias.
"Lewat jalan setapak di tebing di balik air terjun, gunung sebelah hutan merah!" jelasnya.
"Bagaimana kau tau ada jalan di balik air terjun itu?" tanya salah satu komandan.
"Karena saya orang dari desa itu. Desa yang sangat terpencil hingga sering tidak terlihat oleh orang luar," jawabnya.
"Itu tembus langsung ke ibu kota?" tanya Putra mahkota.
Pria itu menggeleng. "Kami biasanya keluar lewat hutan kecil yang berbatasan dengan hutan sihir," jawabnya.
"Itu tak terlalu jauh dari kota. Dan kita tepat muncul dekat dengan kediaman Pangeran Glenn!" Seseorang menambahkan pertimbangan.
__ADS_1
"Berapa lama jarak tempuh ke sana?" Tanya Putra mahkota tertarik.
"Karena medan yang berat, maka jarak tempuh akan lebih lama. Anda tidak bisa menggunakan kereta. Bakan kuda juga harus kita tuntun untuk melewatinya." Komandan itu memberikan perkiraan situasi pada Putra Mahkota.
"Jika kita jalan pagi hari secara konstan, kita bisa tiba sore," ujarnya mengakhiri penjelasan.
"Berarti kita tak bisa memberi kejutan pada para Orc itu." bantah yang lain tidak terlalu setuju.
"Biar saya pikirkan." Putra Mahkota menenangkan bawahannya.
"Oh ya, tolong kabarkan dulu pada negeri Kucaci Biru, kondisi di sini. Minta mereka berhati-hati. Orc mungkin akan masuk ke sana lewat tempat ini jika kita meninggalkan camp!" Putra Mahkota memberi perintah pada aasistennya.
"Saya siapkan pesannya." Pria itu segera mengambil kertas dan menulis.
"Menurut pendapatku, kita lebih baik membagi dua pasukan. Sebagian lewat hutan merah, sebagian jalan dari desa kupu-kupu. Jadi, kita bisa mengejutkan mereka dari dua tempat. Dan satu tempat lagi, dieksekusi oleh pasukan pencari Putri Cristal. Aku yakin, itu akan jadi kejutan besar bagi Orc!"
Putra Mahkota membuat keputusannya. Para komandan itu mengangguk dan menyetujui. Mereka akan mempersiapkan pasukan untuk membereskan tempat itu, sebelum fajar tiba.
"Bagaimana dengan penduduk desa di sini?" tanya salah satu komandan dengan ragu.
Putra Mahkota diam sejenak. "Tinggalkan dua puluh orang untuk menjaga keamanan warga!" putusnya dengan berat hati.
"Kabari pasukan Pangeran Glenn tentang keputusan ini. Katakan, kita akan meledakkan suar cahaya sebagai penanda dimulainya serangan serempak besok sore!"
"Baik. Akan saya buat pesannya. Asisten itu menyerahkan pesan sebelumnya untuk dikoreksi.
"Pengawal! Kirimkan pesan ini ke negara Kurcaci biru!"
"Baik, Yang Mulia," jawab pengawal itu cepat.
"Kita harus bersiap dan mengumpulkan tenaga untuk perjalanan besok pagi!" ujar Putra Mahkota menutup pertemuan. Semua komandan pasukan membubarkan diri.
"Ini pesan Anda, Yang Mulia." Asistennya menyerahkan kertas pesan untuk dikoreksi.
"Kirimkan!" perintahnya.
"Baik!" jawab asisten itu sebelum keluar tenda.
"Semoga serangan besok bisa membalikkan keadaan!" harap Putra Mahkota. Dia sangat risau membayangkan orang tua, istri dan adik-adiknya di istana yang sekarang dikuasai para Orc.
******
__ADS_1