
Eric melayang di ketinggian. Jauh dari jangkauan bias cahaya yang diciptakannya sendiri. Pria muda itu mengamati area terdampak yang luasnya mencapai hingga lima kilometer dari pusat ledakan cahaya.
Dia menggeleng sendiri. “Mengerikan. Aku tak boleh melakukan hal seperti ini lagi,” katanya sendiri.
“Eric, keluarkan aku!” Hakon protes dari dalam sana. Meski dia ada di dalam penyimpanan, tapi pikiran mereka tetap terhubung.
Satu per satu mereka dikeluarkannya. Semua tercengang melihat akibat ledakan cahaya Eric.
“Kurasa tak ada yang selamat dalam ledakan sedahsyat ini!” Glenn membeku. Sekarang, terlambat untuk menyesal. Tadi dia sendiri yang memberi Eric ijin meledakkan ibu kota.
“Ibu kota porak poranda!” kata Levyn tercengang.
“Kurasa, tak akan ada seorang pun yang akan selamat dalam ledakan sedahsyat ini!” Gerald mengulangi kalimat Glenn dan terbang mengitari ibu kota, dengan Glenn dan
Levyn di punggungnya.
“Mari kita coba, apakah masih ada sihir penghalang di sini,” ujar Glenn.
Gerald terbang rendah untuk menurunkan Glenn dan Levyn ke tanah.
“Jangan dulu! Takutnya tanah itu masih menyisakan residu senjata cahaya yang bisa melukai kalian!” cegah Eric.
Mendengar itu, Gerald kembali menaikkan tubuhnya yang hampir menyentuh tanah. “Lain kali, berilah peringatan lebih dulu, sebelum aku terlanjur mendarat!” gerutunya kesal.
Eric tak menanggapi. Tangannya bergerak-gerak ke langit. Lalu datang segumpal awan hitam menyelubungi seluruh tempat itu.
“Apakah sekarang, dia juga memanggil hujan?” Mulut Levyn membuka tak percaya.
Namun semua keraguan dua Elf itu sirna saat air hujan deras turun membasahi mereka. Eric benar-benar memanggil awan hujan! Dan mereka sekarang basah kuyup, tanpa punya tempat berlindung.
“Lihat itu!” Hakon menunjuk ke permukaan tanah. Asap putih halus mengepul naik ke udara.
“Eric benar. Serangan cahayanya tadi memang panas membakar dan menghancurkan apapun menjadi debu.” Gerald makin takjub pada Eric. Rasanya hampir sama seperti ibunya yang takjub dan kagum pada temannya Alan dan Sunil yang sekarang sudah tiada.
Selama satu jam kelima orang itu menahan derasnya air hujan yang turun untuk mendinginkan tanah. Akhirnya sekarang asap putih yang mengepul seperti kabut itu hilang sama sekali. Tanah yang semula hitam gosong dan kering kerontang, sekarang mulai becek di sana sini.
__ADS_1
“Kurasa kau sudah cukup menyiraminya!” kata Gerald.
“Sedikit lagi,”
Eric melihat sisa awan di langit yang makin tipis. Mereka menunggu hingga langit cerah kembali terlihat. Di beberapa tempat rendah, terjadi genangan air. Tempat itu benar-benar basah.
Eric masih menggerakkan tangannya seperti tarian. Beberapa cahaya kecil seperti bintang beterbangan di udara dan jatuh ke tanah, menutupi semua tempat basah itu dengan kilauan cahaya indah.
“Apakah ini Cahaya Memperbaiki Alam?” tanya Hakon.
“Maksudmu?” tanya Glenn.
“Eric memiliki kemampuan untuk memperbaiki alam yang rusak agar segera subur lagi dan bisa dihuni.
“Jadi dia bisa mengembalikan keadaan seperti semula lagi?” Pangeran Glenn bertanya penuh harap.
“Dia akan memperbaiki lingkungan yang rusak tadi. Bukan mengembalikan keadaan seperti semula!” jelas Gerald.
“Biasanya pemimpin kami sebelum ini, akan menumbuhkan tanaman. Dengan cara itu, suatu tempat yang tanahnya mati, akan kembali subur. Dan dalam waktu tertentu, bisa kembali dihuni oleh manusia,” jelas Hakon.
Satu per satu rumput kecil mulai tumbuh tipis di mana-mana. Kemudian membesar menjadi semak belukar.
Gerald turun. Glenn dan Levyn menginjakkan kaki di atas hamparan rumput luas dan tebal. Tak ada lagi jejak kerajaan Penyihir yang sangat hebat sebelumnya.
Hakon ikut turun bersama Eric. Tangannya dengan segera mengeluarkan semua bangsa Elf dan penyihir yang disimpannya di penyimpanan.
Orang-orang itu semula terlihat marah. Tapi kemudian melihat sekeiling mereka dengan bingung. “Di mana kita?” tanya pria tua yang menjadi pemimpin para kelompok penyihir itu.
“Ini ibu kota negara Penyihir!” kata Gerald.
“Ibu kota? Apa yang terjadi di tanah ini? Kenapa rasanya berbeda sekali?” gumam salah seorang dari para penyihir.
“Kota itu sudah musnah. Sekarang mari bantu aku mencoba sihir pembuka selubung, kalau masih ada,” kata Glenn.
“Baik, Pangeran,” jawab mereka.
__ADS_1
Yang lain memperhatikan Para Penyihir itu bersama-sama membaca mantera pembuka selubung antar dunia itu dengan dunia lain yang sebelumnya ditutupi.
Perlahan-lahan tempat itu berubah. Mereka semua sekarang berada di dalam taman indah yang ditata dengan baik.
Tak lama, puluhan pengawal datang dan menghunuskan pedang serta sebagian lagi mengarahkan tangan, siap untuk melakukan sihir penyerangan.
“Siapa kalian! Bagaimana bisa sampai di sini!” Seorang pria yang berjalan ke depan, bertanya dengan suara keras.
Glenn langsung berdiri. “Aku Pangeran Glenn dari negeri Elf. Ini putraku Levyn.” Glenn menunjukkan telinganya yang panjang.
“Aku datang mencari putriku Cristal yang diculik Orc dalam perjalanan pernikahan, hingga ke pinggir ibukota. Bertemu dengan beberapa rakyat penyihir. Lalu kami membaca mantera pembuka selubung!” jawabnya jujur.
Orang itu terkejut. “Jaga mereka!” perintahnya pada bawahannya, sebelum pergi lagi.
Tak butuh waktu lama, seorang pria tua datang ke taman itu.
“Pangeran Glenn. Tak kusangka akan melihat Anda di sini,” ujarnya.
“Bagaimana keadaan Paman Raja Edric Linford?” tanya Glenn khawatir.
“Keadaannya tidak cukup bagus. Dia menggunakan banyak kekuatan yang diwarisinya dari leluhur dan mencoba melindungi istana ini,” jawab pria itu.
“Bawa aku untuk menemuinya,” ujar Glenn.
“Baik, mari lewat sini, Pangeran,” kata orang itu.
“Tunggu! Apakah Anda tidak khawatir kalau dia orang yang berbahaya?” kata Eric memperingatkan.
“Dia Ketua Pengawal istana. Aku mengenalnya karena sering mengawal calon menantuku setiap kali datang ke negeri Elf,” jelas Pangeran Glenn.
“Bagaimana keadaan Pangeran Juno?” tanya Glenn lagi pada pengawal itu.
“Juga dalam keadaan tidak baik. Dia terluka saat melawan Orc yang datang menyerang istana,” jawab pengawal itu lagi.
Eric terbang ke sisi Glenn dalam sekejap. “Aku tak akan membiarkan Pangeran Glenn pergi sendiri!”
__ADS_1