
Pangeran Mahkota dan Pangeran Taksa terkejut melihat kubah
cahaya besar, mengurung kota perbatasan yang sebelumnya menjadi ajang
peperangan. Keduanya turun dari punggung Kakek Kang dan Gerald. Berjalan dengan
cepat ke tempat Dean, Eric, Robert dan Arjun berdiri. Sekarang semuanya sudah
berdiri tepat di depan dinding kubah cahaya, di mana Pangeran Oselin
dibaringkan.
“Siapa mereka?” tanya Pangeran Mahkota.
“Aku mendengar percakapan pemimpin penjaga perbatasan ini.
Dia menginginkan pengampunan bagi warga kota dan pria itu!” tunjuk Eric ke arah
dalam kubah.
Pangeran Mahkota itu menahan gemuruh rasa di dalam hatinya.
Begitu inginnya dia menghabisi semua Orc di negara itu, kalau bisa.
“Bagaimana kalau nanti mereka justru bergabung dengan tentara
kerajaan dan memerangi kita lagi? Bukankah itu artinya kita kerja dua kali!”
ujar sang pangeran yang jelas tak terlalu menyukai ide itu.
“Istana dan ibukota negara ini sudah kubumihanguskan!” jawab
Eric dengan ekspresi menyesal. Khawatir jika sang pangeran tak senang dengan langkahnya
yang melewati perintah semula.
“Benarkah?” Mata Pangeran Mahkota membeliak lebar, tak
menyangka. “Bagus!” ujarnya dengan wajah berseri-seri.
“Kau tidak marah?” tanya Eric heran.
“Kenapa harus marah. Bukankah itu hal yang sangat bagus? Berarti
kerajaan mereka sudah jatuh dan kita kuasai! Hebat!”
“Jadi, negara Orc sudah kalah?” tanya Pangeran Taksa.
“Jadi, bagaimana sekarang? Bagaimana dengan mereka?” tunjuk
Dean pada para Orc yang masih berlutut.
“Kalau begitu, beritahukan saja tentang kejatuhan istana dan
ibukota mereka. Biarkan rakyat sipilnya bebas. Kita tahan saja para penjaga
perbatasan itu. Berapa banyak mereka?” tanya Pangeran Mahkota.
“Hanya tinggal belasan orang di dalam sana!” kata Eric.
“Tadi kami dalam perjalanan ke sini, ada juga pasukan mereka
yang menunggu di sisi kiri dan kanan jalan menuju benteng perbatasan!” kata
Kakek Kang.
“Itu pastilah sisa pasukannya. Minta saja pemimpinnya
memanggil mereka semua untuk menyerahkan diri, jika memang ingin warga sipil
ini selamat!” usul Robert.
“Anda benar,” angguk Pangeran Mahkota setuju. Pandangannya dialihkan
pada orang-orang yang berlutut dalam kubah.
“Bagaimana cara kita membicarakan persyaratan ini?” tanya Pangeran
Mahkota.
“Akan kuurus!” Eric berjalan mendekati dinding kubah. Tangannya
diletakkan pada dinding lentur, tapi kuat itu.
“Siapa pemimpin militer yang bertanggung jawab di kota ini?”
tanyanya dengan suara lantang.
__ADS_1
Para Orc terkejut. Semua menoleh dan mengarahkan pandangan
pada pemimpin penjaga perbatasan. Pria itu juga terkejut mendengar suara dari
luar. Dia segera mendekat. Tangannya ikut menempel pada dinding kubah.
“Aku yang bertanggung jawab menjaga perbatasan dan kota kecil
ini!” jawabnya lantang.
“Apa yang kau inginkan dengan menyuruh mereka semua berlutut?”
tanya Eric.
“Aku meminta pengampunan untuk nyawa warga sipil, penduduk
kota ini!” jawabnya lagi.
“Kami sudah membawa Pangeran Mahkota Elf. Katanya, kalau kau
ingin sesuatu, maka harus membuat kesepakatan dulu dengannya!” Eric menjelaskan
permintaan Pangeran Elf.
Pemimpin perbatasan itu melihat keluar. Dia bisa lihat
seorang bangsa Elf dengan pakaian perang kebesaran, berdiri memperhatikan di
san.
“Baik. Bagaimana kami bisa membicarakannya?” tanya Orc itu.
“Pegang tanganku!” Kata Eric sambil menegaskan bayangan
tangannya di dinding kubah cahaya.
Pemimpin itu menoleh pada warga kota. “Aku harus
mendiskusikan pengampunan kalian lebih dulu dengan Pangeran Elf. Kalian tunggu
sebentar. Tetaplah berlutut!” perintahnya.
Warga kota itu mengangguk dan kembali berlutut di tanah. Emimpin
itu meletakkan tangannya di jejak tangan Eric yang kecil. Kemudian dia bisa
ditarik keluar dari selubung kubah itu.
tinggi yang dibangun sebelumnya sudah lenyap. Dia menoleh ke belakang.
“Berarti pengurung cahaya ini sangat kuat, hingga mereka tak
khawatir akan ada yang bisa meloloskan diri,” pikirnya.
Eric mengajaknya ke tempat Pangeran Mahkota dan yang lainnya
berada. “Ini Pngeran Mahkota Elf,” ujarnya memperkenalkan.
Orc itu menganggukkan kepala sedikit. Saya melihat kurungan
itu, jadi saya pikir, nasib kami sudah sangat jelas. Hanya saja, ada banyak
warga sipil penduduk kota yang tidak bersalah atas peperangan ini. Bisakah Anda
mengampuni dan membiarkan mereka hidup?” tanya pemimpin Orc itu.
“Apa yang kau tawarkan untuk pengampunan itu?” desak Pangeran
Mahkota.
Orc itu diam sejenak sebelum berkata. “Kami hanya prajurit
penjaga perbatasan dengan pangkat kecil. Tidak dianggap cukup bagus untuk ikut
berperang bersama angkatan perang. Tugas kami adalah menjaga perbatasan dan
kota ini. Tak ada yang bisa kutawarkan selain nyawa kami!” katanya tegas.
“Ketika tentara kalian memasuki negara-negara kami, semua
warga sipil tak ada yang luput dari pembantaian, selayaknya hewan! Bahkan
rakyat negara Penyihir hanya tinggal belasan orang saja yang masih hidup! Bagaimana
kau bisa sangat tidak tahu malu meminta pengampunan bagi mereka!” ujar Pangeran
Mahkota keras.
__ADS_1
“Sebagai prajurit, kami harus mematuhi perintah raja. Seperti
apapun bentuk perintahnya. Jika atasan menyuruh kami membunuh, meracun atau
lainnya, maka itulah yang terjadi. Kami tidak ditanya apakah setuju atau tidak
setuju dengan perintah itu.” Orc itu teguh dengan kepercayaannya pada sang
raja.
“Permintaan saya ini juuga mengharapkan belas kasihan Anda.
Anda boleh setuju ataupun tidak setuju. Saya tidak bisa mencampuri,” katanya
lagi.
Pangeran Mahkota menghempaskan napas kesal. “Apa kau tahu
kalau istana dan ibu kota kalian sudah runtuh? Dibumihanguskan, seperti
membumihanguskan para tentara kalian di Tanah tak bertuan!” kata sang pangeran
dengan nada dingin.
“Apa?” Orc itu benar-benar terkejut. Tubuhnya sedikit mundur
ke belakang. “Tak mungkin ... pasukanku sudah menjaga pintu belakang. Tak ada
yang lolos dari pintu belakang!” ujarnya tak percaya.
“Apa kau tak lihat kami bisa terbang?” Arjun naik melayang
dan sekarang posisinya sama tinggi dengan si Orc.
Mata Orc itu membesar. Dia melupakan hal itu sama sekali. Karena
mereka benar-benar berperang di atas tanah sebelumnya. Melawan prajurit Elf dan
beberapa orang asing yang bergerak lincah seringan kabut dan punya senjata
sangat mematikan.
“Berarti ada yang terbang ke ibu kota saat perang di sini berkecamuk!”
batinnya. Dia merasa kalah.
Pria itu jatuh dan berdiri dengan lututnya. “Kami sudah kalah
dan jatuh. Tak ada raja dan prajurit lagi. Tak heran semua utusan yang saya
kirim, tak ada yang kembali.” Orc itu menunduk sedih.
Pangeran Mahkota Elf sudah kehilangan kemarahannya melihat
prajurit itu jongkok tanda menyerah. Adalah terlarang bagi para Elf, memerangi
orang yang sudah menyerah.
“Kau panggil keluar semua bawahanmu yang masiih bersembunyi
di jalan menuju perbatasan! Kami hanya akan menahan para prajurit saja, jika
mereka menyerah!” kata sang pangeran mahkota.
“Baik. Akan saya minta mereka keluar dan menyerah,” katanya.
Orc itu bangkit dan hendak berjalan ke jalan penghubung menuju perbatasan Tanah
tak bertuan. Kakek Kang dan Arjun mengikuti dari belakang.
“Hei, kalian semua, turunlah. Aku ingin memberikan kabar
penting!” panggil pimpinan orc itu lantang.
Beberapa kepala Orc, muncul dari balik tebing. “Apa apa
pemimpin? Apakah kau mau menyerah pada mereka? Kami tidak mau!” seru
bawahannya.
Pria itu diam dam mendengarkan protes para bawahannya
sebentar. Setelah mereka akhirnya berhenti bicara, dia angkat bicara. “Kerajaan
kita sudah jatuh. Raja dan ibu kota sudah dibumihanguskan! Kita sudah tak punya
pemimpin!”
__ADS_1
“Aku tak percaya itu. Kami menjaga pintu perbatasan dan
sangat yakin, tak ada Elf yang lolos satupun!” bantah mereka keras kepala.