The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 118. Menyerah


__ADS_3

Pangeran Mahkota dan Pangeran Taksa terkejut melihat kubah


cahaya besar, mengurung kota perbatasan yang sebelumnya menjadi ajang


peperangan. Keduanya turun dari punggung Kakek Kang dan Gerald. Berjalan dengan


cepat ke tempat Dean, Eric, Robert dan Arjun berdiri. Sekarang semuanya sudah


berdiri tepat di depan dinding kubah cahaya, di mana Pangeran Oselin


dibaringkan.


“Siapa mereka?” tanya Pangeran Mahkota.


“Aku mendengar percakapan pemimpin penjaga perbatasan ini.


Dia menginginkan pengampunan bagi warga kota dan pria itu!” tunjuk Eric ke arah


dalam kubah.


Pangeran Mahkota itu menahan gemuruh rasa di dalam hatinya.


Begitu inginnya dia menghabisi semua Orc di negara itu, kalau bisa.


“Bagaimana kalau nanti mereka justru bergabung dengan tentara


kerajaan dan memerangi kita lagi? Bukankah itu artinya kita kerja dua kali!”


ujar sang pangeran yang jelas tak terlalu menyukai ide itu.


“Istana dan ibukota negara ini sudah kubumihanguskan!” jawab


Eric dengan ekspresi menyesal. Khawatir jika sang pangeran tak senang dengan langkahnya


yang melewati perintah semula.


“Benarkah?” Mata Pangeran Mahkota membeliak lebar, tak


menyangka. “Bagus!” ujarnya dengan wajah berseri-seri.


“Kau tidak marah?” tanya Eric heran.


“Kenapa harus marah. Bukankah itu hal yang sangat bagus? Berarti


kerajaan mereka sudah jatuh dan kita kuasai! Hebat!”


“Jadi, negara Orc sudah kalah?” tanya Pangeran Taksa.


“Jadi, bagaimana sekarang? Bagaimana dengan mereka?” tunjuk


Dean pada para Orc yang masih berlutut.


“Kalau begitu, beritahukan saja tentang kejatuhan istana dan


ibukota mereka. Biarkan rakyat sipilnya bebas. Kita tahan saja para penjaga


perbatasan itu. Berapa banyak mereka?” tanya Pangeran Mahkota.


“Hanya tinggal belasan orang di dalam sana!” kata Eric.


“Tadi kami dalam perjalanan ke sini, ada juga pasukan mereka


yang menunggu di sisi kiri dan kanan jalan menuju benteng perbatasan!” kata


Kakek Kang.


“Itu pastilah sisa pasukannya. Minta saja pemimpinnya


memanggil mereka semua untuk menyerahkan diri, jika memang ingin warga sipil


ini selamat!” usul Robert.


“Anda benar,” angguk Pangeran Mahkota setuju. Pandangannya dialihkan


pada orang-orang yang berlutut dalam kubah.


“Bagaimana cara kita membicarakan persyaratan ini?” tanya Pangeran


Mahkota.


“Akan kuurus!” Eric berjalan mendekati dinding kubah. Tangannya


diletakkan pada dinding lentur, tapi kuat itu.


“Siapa pemimpin militer yang bertanggung jawab di kota ini?”


tanyanya  dengan suara lantang.

__ADS_1


Para Orc terkejut. Semua menoleh dan mengarahkan pandangan


pada pemimpin penjaga perbatasan. Pria itu juga terkejut mendengar suara dari


luar. Dia segera mendekat. Tangannya ikut menempel pada dinding kubah.


“Aku yang bertanggung jawab menjaga perbatasan dan kota kecil


ini!” jawabnya lantang.


“Apa yang kau inginkan dengan menyuruh mereka semua berlutut?”


tanya Eric.


“Aku meminta pengampunan untuk nyawa warga sipil, penduduk


kota ini!” jawabnya lagi.


“Kami sudah membawa Pangeran Mahkota Elf. Katanya, kalau kau


ingin sesuatu, maka harus membuat kesepakatan dulu dengannya!” Eric menjelaskan


permintaan Pangeran Elf.


Pemimpin perbatasan itu melihat keluar. Dia bisa lihat


seorang bangsa Elf dengan pakaian perang kebesaran, berdiri memperhatikan di


san.


“Baik. Bagaimana kami bisa membicarakannya?” tanya Orc itu.


“Pegang tanganku!” Kata Eric sambil menegaskan bayangan


tangannya di dinding kubah cahaya.


Pemimpin itu menoleh pada warga kota. “Aku harus


mendiskusikan pengampunan kalian lebih dulu dengan Pangeran Elf. Kalian tunggu


sebentar. Tetaplah berlutut!” perintahnya.


Warga kota itu mengangguk dan kembali berlutut di tanah. Emimpin


itu meletakkan tangannya di jejak tangan Eric yang kecil. Kemudian dia bisa


ditarik keluar dari selubung kubah itu.


tinggi yang dibangun sebelumnya sudah lenyap. Dia menoleh ke belakang.


“Berarti pengurung cahaya ini sangat kuat, hingga mereka tak


khawatir akan ada yang bisa meloloskan diri,” pikirnya.


Eric mengajaknya ke tempat Pangeran Mahkota dan yang lainnya


berada. “Ini Pngeran Mahkota Elf,” ujarnya memperkenalkan.


Orc itu menganggukkan kepala sedikit. Saya melihat kurungan


itu, jadi saya pikir, nasib kami sudah sangat jelas. Hanya saja, ada banyak


warga sipil penduduk kota yang tidak bersalah atas peperangan ini. Bisakah Anda


mengampuni dan membiarkan mereka hidup?” tanya pemimpin Orc itu.


“Apa yang kau tawarkan untuk pengampunan itu?” desak Pangeran


Mahkota.


Orc itu diam sejenak sebelum berkata. “Kami hanya prajurit


penjaga perbatasan dengan pangkat kecil. Tidak dianggap cukup bagus untuk ikut


berperang bersama angkatan perang. Tugas kami adalah menjaga perbatasan dan


kota ini. Tak ada yang bisa kutawarkan selain nyawa kami!” katanya tegas.


“Ketika tentara kalian memasuki negara-negara kami, semua


warga sipil tak ada yang luput dari pembantaian, selayaknya hewan! Bahkan


rakyat negara Penyihir hanya tinggal belasan orang saja yang masih hidup! Bagaimana


kau bisa sangat tidak tahu malu meminta pengampunan bagi mereka!” ujar Pangeran


Mahkota keras.

__ADS_1


“Sebagai prajurit, kami harus mematuhi perintah raja. Seperti


apapun bentuk perintahnya. Jika atasan menyuruh kami membunuh, meracun atau


lainnya, maka itulah yang terjadi. Kami tidak ditanya apakah setuju atau tidak


setuju dengan perintah itu.” Orc itu teguh dengan kepercayaannya pada sang


raja.


“Permintaan saya ini juuga mengharapkan belas kasihan Anda.


Anda boleh setuju ataupun tidak setuju. Saya tidak bisa mencampuri,” katanya


lagi.


Pangeran Mahkota menghempaskan napas kesal. “Apa kau tahu


kalau istana dan ibu kota kalian sudah runtuh? Dibumihanguskan, seperti


membumihanguskan para tentara kalian di Tanah tak bertuan!” kata sang pangeran


dengan nada dingin.


“Apa?” Orc itu benar-benar terkejut. Tubuhnya sedikit mundur


ke belakang. “Tak mungkin ... pasukanku sudah menjaga pintu belakang. Tak ada


yang lolos dari pintu belakang!” ujarnya tak percaya.


“Apa kau tak lihat kami bisa terbang?” Arjun naik melayang


dan sekarang posisinya sama tinggi dengan si Orc.


Mata Orc itu membesar. Dia melupakan hal itu sama sekali. Karena


mereka benar-benar berperang di atas tanah sebelumnya. Melawan prajurit Elf dan


beberapa orang asing yang bergerak lincah seringan kabut dan punya senjata


sangat mematikan.


“Berarti ada yang terbang ke ibu kota saat perang di sini berkecamuk!”


batinnya. Dia merasa kalah.


Pria itu jatuh dan berdiri dengan lututnya. “Kami sudah kalah


dan jatuh. Tak ada raja dan prajurit lagi. Tak heran semua utusan yang saya


kirim, tak ada yang kembali.” Orc itu menunduk sedih.


Pangeran Mahkota Elf sudah kehilangan kemarahannya melihat


prajurit itu jongkok tanda menyerah. Adalah terlarang bagi para Elf, memerangi


orang yang sudah menyerah.


“Kau panggil keluar semua bawahanmu yang masiih bersembunyi


di jalan menuju perbatasan! Kami hanya akan menahan para prajurit saja, jika


mereka menyerah!” kata sang pangeran mahkota.


“Baik. Akan saya minta mereka keluar dan menyerah,” katanya.


Orc itu bangkit dan hendak berjalan ke jalan penghubung menuju perbatasan Tanah


tak bertuan. Kakek Kang dan Arjun mengikuti dari belakang.


“Hei, kalian semua, turunlah. Aku ingin memberikan kabar


penting!” panggil pimpinan orc itu lantang.


Beberapa kepala Orc, muncul dari balik tebing. “Apa apa


pemimpin? Apakah kau mau menyerah pada mereka? Kami tidak mau!” seru


bawahannya.


Pria itu diam dam mendengarkan protes para bawahannya


sebentar. Setelah mereka akhirnya berhenti bicara, dia angkat bicara. “Kerajaan


kita sudah jatuh. Raja dan ibu kota sudah dibumihanguskan! Kita sudah tak punya


pemimpin!”

__ADS_1


“Aku tak percaya itu. Kami menjaga pintu perbatasan dan


sangat yakin, tak ada Elf yang lolos satupun!” bantah mereka keras kepala.


__ADS_2