The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 80. Negosiasi


__ADS_3

“Mereka adalah bangsa yang kaya dan penuh harga diri. MEreka tidak akan mau menerima bantuan secara gratis. Beri saja syarat yang tidak terlalu memberatkan. Tapi kurasa, lebih baik hal ini dibicarakan dulu dengan ayahmu. Biar dia yang memikirkannya,” saran Robert lewat pikirannya.


“Begini.” Kata Eric.


“Mengenai persyaratan, sebaiknya Yang Mulia bicarakan langsung dengan ayah saya,” ujar Eric cepat.


“Oh, tentu saja. Di manakah ayahmu sekarang? Apakah dia ada di kediaman Glenn?” tanya Raja Felix antusias.


“Tidak! Ayah masih ada di dunia kami,” jawab Eric.


“Lalu bagaimana kami bisa bertemu? Apakah dengan terbang ke negaramu?” tanya Raja Felix tersenyum. Dia ingat kata-kata Herdan tadi malam.


“Tidak perlu. Bahkan dengan terbang masih terlalu jauh,” geleng Eric. “Jika Anda bersedia, kita bisa pasang pintu teleportasi di istana ini menuju negaeri kami,” tambahnya.


“Teleportasi?” Sang raja dan dua bawahannya kembali terkejut. Eric dan Robert mengangguk membenarkan.


Raja kembali mengembuskan napas berat. “Aku tahu tentang teleportasi. Kami juga punya beberapa jalur teleportasi dari kota kerajaan ke istana-istana yang ada di pulau terapung. Yang paling jauh adalah teleportasi menuju negara-negara tetangga.”


“Bearti teknologi itu sudah sangat biasa bukan ….” Eric berseri-seri.


Raja mengangguk. “Memang hal biasa. Hanya saja, ahli teleportasi adalah orang dari negara penyihir. Merekalah yang membuka jalur teleportasi. Kami hanya bisa menggunakannya saja. Dan sekarang kami tidak tahu kemana semua orang-orang negara penyihir itu. Mereka hilang serentak sejak Orc menjatuhkan negara itu!”


“Oh, kalau hanya untuk membuat jalur teleportasi, Anda tidak perlu khawatir. Kami membawa seorang ahli ke sini. Dia bisa membuat jalur itu dengan mudah.” Eric berkata dengan bangga.


“Apa? Kalian bahkan membawa ahli teleportasi bersama utusan kalian?” Sang raja benar-benar tak percaya.


“Apa mereka sudah mengantisipasi semua kemungkinan?” pikirnya.


“Awalnya, ayahku berpikir akan mudah mengunjungi tempat ini jika kami punya pintu teleportasi di sini. Itu karena ibuku sangat iri pada Bibi Niken yang selalu menceritakan keindahan tempat ini. Dia juga sangat ingin bisa berkunjung. Ayah ingin menjalin hubungan persahabatan dengan negara Anda,” jelas Eric lancar.


“Kau benar. Ayahmu seorang pemimpin yang berpikir terbuka dan sangat maju. Baik. Buatlah jalur teleportasi dari sini ke negeri kalian. Jadi kita bisa saling berkunjung sebagai dua negara bersahabat,” sambut Sang Raja gembira.


Dua bawahannya mulai melihat titik terang dari semua kekalutan yang mereka hadapi. Harapan besar diarahkan pada negara asal Eric.

__ADS_1


“Panggilkan Ubbe ke sini, Paman,” kata Eric. Robert mengangguk dan keluar dari ruang kerja itu.


“Bolehkan saya tahu, di mana Anda ingin menempatkan pintu teleportasi itu? Tempatnya harus cukup aman. Selain itu, kami akan menempatkan petugas teleportasi sendiri beserta penjaganya. Bisakah?” tanya Eric.


Raja dan dua bawahannya kembali diskusi. Sedikit riskan bagi mereka menerima orang asing di dalam istana itu.


Eric melihat keraguan itu. Tempat teleportasi itu bisa di luar istana ini. DI halaman samping atau ruang terpisah. Asalkan tertutup dari pandangan luar, itu sudah bagus,” kata Eris lagi.


“Perlu saya jelaskan sedikit tentang jalur teleportasi yang kami bangun. Jalurnya mungkin akan berbeda dengan jalur teleportasi antar negara di dunia ini. Karena dunia kita jelas sangat berbeda. Kami Bangsa Cahaya yang berasal dari bintang!” Eric menunjuk ke atas. Maksudnya ke langit di luar istana.


“Astaga!” seru ketiga orang itu.


“Maksudmu, kalian benar-benar tinggal di bintang? Di langit sana?” tanya penasehat tak sabar.


Eric mengangguk yakin. “Bintang asal kami sudah hancur ribuan tahun lalu. Tapi leluhur kami berhasil menemukan satu bintang kecil di angkasa dan mendiaminya, mengumpulkan sebagian kecil rakyat yang selamat. Kemudian melanjutkan hidup di sana. Sampai sekarang.”


Tiga orang itu melongo mendengarkan penjelasan tak masuk akal itu. Raja Felix adalah seorang petualang di masa mudanya. Dia suka melewati pintu teleportasi ke negara-negara asing. Tapi dia tak pernah tahu ada yang bisa pergi ke bintang!


“Mungkinkah itu sebabnya mereka semua bisa terbang? Bangsa Cahaya? Apa mereka juga bisa bercahaya dalam gelap? Apa lagi kemampuan hebat mereka?”


“Katamu, kalian adalah Bangsa Cahaya. Apakah maksudmu, Kalian bisa bercahaya?” tanya Raja ingin tahu,


Eric tersenyum. Dia berdiri dan mengangkat kedua tangannya ke samping tubuh dan membentang lebar. “Tentu saja bisa. Lihat!”


Seberkas cahaya biru dan keemasan redup mulai mengelilingi tubuh Eric. Tiga orang di depannya benar-benar terkejut. Bukan Cuma tubuhnya yang bercahaya. Matanya juga berkilauan. Saat itu Robert masuk ke dalam ruangan dan terkejut.


“Eric! Hentikan!” serunya panik.


Robert langsung melompat dan menyambar Eric. Mengikat tubuhnya dengan lingkaran cahaya api neraka. Lalu hilang dari pandangan.


Ubbe yang semula di belakang Robert, mengkerut takut melihat apa yang tadi terjadi. Dia jatuh terduduk setelah Eric hilang dari pandangan.


“Apa? Apa yang terjadi? DI mana dia?” tanya sang raja keheranan.

__ADS_1


“Maafkan saya Yang Mulia. Tolong, jangan memintanya menunjukkan cahaya seperti itu lagi. Itu sangat berbahaya!” Robert membungkuk dalam, meminta maaf atas keteledoran Eric.


“Bahaya?”


Tiga tuan rumah itu saling berpandangan. Bahaya? Padahal mereka tadi melihat Eric dengan pandangan takjub. Betapa tidak, cahaya tubuhnya sangat indah berkilauan.


“Eric adalah yang terkuat dari bangsa kami. Kekuatannya meliputi semua kekuatan bangsa cahaya. Jika tadi saya terlambat kembali, istana ini hanya akan jadi debu dalam sedetik! Dia belum terlalu mahir mengontrol kekuatannya. Jika kekuatan itu dipancing dan keluar, Dia bisa menguasai Eric dan membuatnya lupa sisi kemanusiaannya,” jelas Robert.


“Mengerikan!” gumam Raja Felix.


“Lalu bagaimana sekarang? Di mana dia? Bagaimana dengan kelanjutan pembicaraan ini?” tanya Raja Felix bingung.


“Saya sedang menghukumnya. Tidak apa-apa. Rencana semula akan dilanjutkan. Kita harus membangun jalur teleportasi lebih dulu. Jadi Anda bisa langsung bicarakan dengan pemimpin kami,” tegas Robert.


Robert menoleh pada Ubbe yang sudah kembali berdiri di dekat pintu. “Ke sini!” panggilnya.  Ubbe mendekat.


“Ini ahli teleportasi kami. Mari kita ke tempat yang Anda pilih untuk dijadikan tempat penyimpanan pintu teleportasi  itu,” kata Robert.


“Baiklah kalau begitu.” Raja Felix bertanya pada dua bawahannya. Tempat mana yang cocok dijadikan tempat penyimpanan pintu teleportasi itu.


“Yang Mulia, gudang persediaan kita sekarang sedang kosong. Mungkin kita bisa gunakan itu untuk sementara,” kata Kepala Pengawal Istana.


“Lalu bagaimana kita menyimpan persediaan jika nanti mendapatkan bantuan?” tanya Raja.


“Masukkan saja dulu di gudang Obat yang isinya hanya tinggal sepertiga itu,” jawab pria tadi cepat.


“Baik. Atur saja seperti itu. Pergi bersihkan dulu tempat itu!” perintah sang raja.


“Baik!” pria itu sudah berdiri hendak keluar.


“Tidak apa-apa. Kita bisa langsung pergi  ke sana bersama. Biarkan Ubbe memeriksa koordinatnya dulu, sambil kita bersihkan,” tawar Robert.


“Begitu boleh juga. Jika sudah selesai dan memang bisa dibuat di sana, laporkan padaku.” Raja Felix memberi persetujuan.

__ADS_1


“Kalau begitu, kami permisi lebih dulu,” Robert berpamitan.


__ADS_2