The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
20. Gerbang Tujuh Serigala


__ADS_3

Putra Mahkota mengambil jalan sulit lewat aur terjun dan hutan merah. Setengah pasukan lain, melewati desa kupu-kupu. Mereka sudah berjalan sejak sebelum matahari terbit.


"Hati-hati, Yang Mulia! Jalannya sangat licin!" Pengawal pribadi Puta Mahkota mencari jalan aman untuknya melewati tebing air mancur. Jalan rahasia itu tepat berada di balik tirai air yang jatuh dari atas tebing.


Batu-batu besar yang mereka injak, tidak terkena matahari. Sementara air selalu membasahi. Itu membuat lumut tumbuh dengan subur.


Namun, meski sangat sulit, jalan di situ relatif aman. Jangankan Orc. Bahkan para Elf saja tidak tahu bahwa ada jalan tembus di sana.


Tak lama mereka melewati desa kecil pertanian. "Dari desa ini saya berasal, Yang Mulia." Komandan Pasukan Pangeran Glenn memberi tahu.


Pria itu berhenti sebentar di sebuah rumah kecil. Seorang wanita keluar dan terkejut. Kemudian memeluk dan melambaikan tangan pada pasukan pangeran yang melintasi desa.


Di sebuah ceruk tebing, pasukan itu berhenti untuk beristirahat.


"Berapa jauh lagi baru kita bisa sampai ke perbatasan?" tanya Putra Mahkota.


"Sekitar dua jam perjalanan, Yang Mulia," jawab komandan itu.


"Bagus. Mari kita istirahat dan mengumpulkan tenaga dulu," perintah Putra Mahkota.


*


*


Setengah pasukan Putra Mahkota lainnya, melintasi desa kupu-kupu. Perjalanan di desa itu sangat bagus. Meskipun itu desa pinggir kota, namun kerap dijadikan jalan pintas oleh para pejabat yang menuju tempat perburuan. Jadi, itulah sebabnya jalanan di sana dibangun dengan baik.


Pasukan Putra Mahkota melintasi kebun bunga yag sangat luas dan berwarna-warni. Di atas hamparan bunga itu, para kupu-kupu dan kumbang beterbangan, mengumpulkan madu.


Kupu-kupu yang menjadi penduduk desa itu, terkejut melihat begitu banyaknya pasukan istana yang melintasi desa.

__ADS_1


"Kalian mau ke mana?" tanya seekor kupu-kupu ke telinga seorang prajurit Elf.


"Mau kembali ke ibukota!" jawab prajurit itu.


"Bukankah biasanya kalian tidak akan lewat sini?" tanya kupu-kupu itu ingin tahu.


"Di kota ada Orc yang datang menyerang. Apakah kalian tidak mendengar kabar?" tanya prajurit itu balik.


"Desa ini sangat terpencil dan kecil. Tidak ada berita apapun yang kami terima di sini. Bagaimana kami bisa membantu?" tanyanya.


"Perang besar akan dimulai sore nanti. Siapkan saja obat-obatan dan makanan untuk kami," rayu prajurit itu.


"Akan kukatakan pada yang lain dan menyiapkan yang bisa!" Kupu-kupu itu terbang menjauh. Tak lama, semua kupu-kupu di padang bunga itu lenyap secara bersamaan, entah ke mana.


Merekalah yang menjadi sumber berita pertama tentang kedatangan prajurit Putra Mahkota dan rencana pembalasan sore nanti. Membuat seisi kota langsung hening dan mempersiapkan perbekalan di rumah masing-masing.


*


*


Mendengarkan cerita para Elf yang baru memasuki sedikit bagian Kerajaan Penyihir dan harus kembali pulang.


"Kami akan mengabarkan hal ini ke istana. Jadi, Pangeran Glenn meneruskan perjalanan mencari Putri Cristal. Dan kalian kembali untuk mengikuti perang pembalasan yang dikomandoi Putra Mahkota?"


"Betul. Putra Mahkota mengatakan akan menyerang sermpak sore nanti. Bisakah memberi tahu kami, jalan mana yang harus kami tempuh, agar bisa mencapai perbatasan Kerajaan Elf sore nanti?" tanya komandan pasukan.


"Baik!" Pimpinan penjaga perbatasan itu segera memanggil seseorang.


"Ya, Komandan!" jawab prajurit itu.

__ADS_1


"Antarkan mereka melewati gerbang tujuh serigala, agar bisa mencapai perbatasan Kerajaan Elf dengan cepat!" perintahnya.


"Baik!" Prajurit Peri itu mengangguk.


Setelah beristirahat dan menerima keramahan para peri, pasukan Elf itu melanjutkan perjalanan. Seorang penunjuk jalan, memudahkan perjalanan mereka di negara asing.


"Apakah gerbang tujuh serigala itu?" tanya komandan pada penunjuk jalan.


"Gerbang yang dijaga oleh tujuh serigala putih," jawabnya,


"Tidakkah itu berbahaya?" tanya komandan itu.


"Asalkan tidak melakukan hal yang tidak disukainya, Asalkan tidak melanggar aturannya. Asalkan dia tidak sedang dalam suasana hati yang buruk, maka semua akan baik-baik saja," jawab peri penunjuk jalan enteng.


Para komandan pasukan itu saling pandang. Peringatan yang sangat umum, tanpa menjelaskan detail apa saja yang tidak disukai oleh tujuh serigala putih penjaga gerbang itu. Sungguh absurd.


Peri itu kemudian berhenti dan menunjuk gerbang aneh yang tak jauh di depan.


"Apakah itu gerbangnya?" tanya satu komandan pasukan.


"Ya. Kita harus turun ke bawah sana,untuk melewatinya." peri itu membuka jalan, menuruni tebing setinggi lima meter.


Para prajurit berkuda turun dengan hati-hati. Semua waspada. Khawatir jika berbuat salah dan menyinggung serigala putih yang menjadi penjaga tempat itu.


Tak berapa lama setelah mereka menjejakkan kaki di depan gerbang aneh yang entah terbuat dari tulang apa. Geraman serigala terdengar.


Semua prajurit waspada. Mereka tidak merasa melakukan kesalahan. Jika Para serigala itu masih tidak senang dan berniat menghalangi jalan, maka tak ada pilihan selain melawan.


"Ggrrhhhh!" Tujuh serigala berbulu seputih salju dan mata biru, berjejer menghalangi gerbang. Gigi-gigi runcing dan tajam ditunjukkan, membuat bergidik siapapun yang melihat.

__ADS_1


*******


__ADS_2