
Arjun dan Kakek Kang saling pandang. “Seharusnya bisa saja. Tapi lebih baik kami mengantar Anda di saat langit gelap. Agar para Orc yang mengawasi kedua tempat ini tidak melihat dan menebak rencana kita,” saran Kakek Kang.
“Anda benar. Kita tunggu hari gelap saja. Dengan begitu, Orc tetap berpikir bahwa mereka berhasil menekan kami di sini.” Pangeran mahkota menyetujui saran Kakek Kang.
Pertemuan itu pun usai.
Di istana, Eric dan Robert diajak untuk duduk di beranda oleh Raja Felix. “Baiklah, apa yang ingin kalian bicarakan?” tanya sang raja.
Eric mengirim pesan pada Robert lewat pikiran. “Paman saja yang katakan.”
“Begini Yang Mulia.” Robert memulai perkataannya. Raja mengangguk dan siap untuk mendengarkan.
“Berhubung perjalanan pergi dan pulang ke negeri kami mungkin bisa hingga dua hari. Bagaimana kalau selama menunggu itu, kami membantu para pengawal untuk memeriksa rakyat dan membawa mereka ke salah satu pulau terapung lain agar mereka aman.”
Raja Felix terkejut dengan ide itu. Dia berpikir cukup lama. “Kalian mau mengantar rakyat ke pulau terapung dengan terbang?” tanya raja.
Robert dan Eric mengangguk. Raja kembali berpikir.
“Kalian mau mengirim para rakyatku bolak-balik ke satu pulau terapung? Bukankah itu jadi makan waktu?” tanya raja lagi.
“Hemm .. sebenarnya kami punya tempat penyimpanan sendiri yang sangat besar. Seperti kami menyimpan semua bahan makanan itu. Kami bisa menyimpan orang-orang itu di sana, lalu memindahkannya sekaligus!” Kali ini Eric yang menjelaskan.
“Oh, aku lupa bertanya tentang bagaimana kalian membawa segitu banyak bahan makanan. Ternyata dengan penyimpanan super besar ya?” Raja kembali berpikir.
“Bagaimana dengan makanan mereka?” Jika kita menyingkirkan mereka ke pulau terapung, maka bahan makanan di sana harus cukup. Kita tak mungkin membiarkan mereka mati begitu saja kan!” ujar Raja.
“Apakah ada pulau terapung yang masih kosong dan alami? Kami akan mengajari mereka bercocok tanam untuk kehidupan mereka sendiri!” kata Robert.
“Oh!” Raja Felix kembali terkejut, kemudian mengangguk.
“Negara kami memang punya beberapa pulau terapung yang masih asli dan belum dijadikan tempat tinggal. Karena biaya membangun teleportasi sangat mahal. Jika bukan keluarga bangsawan dan sangat kaya, kau tidak bisa memiliki pulau terapung pribadi.” Raja diam sejenak.
“Ehem … bisakah kalian mengajakku terbang? Aku akan tunjukkan pulau-pulau terapung yang kosong, milik negeri ini!” Raja tersenyum lebar.
Eric dan Robert juga tersenyum. “Tentu saja bisa. Dengan begitu, kita bisa menilai apakah pulau itu cocok untuk ditinggali dan dijadikan lahan pertanian.” Eric mengangguk setuju.
“Bagus! Mari kita pergi!” Raja Felix sangat antusias. Dia langsung ingin berdiri dari kursi.
‘Yang Mulia, tidakkah akan berbahaya jika kita terlihat di siang hari? Orc akan menjadi waspada. Maka kejutan kita jadi terbongkar!” Robert mengingatkan.
“Ahh … aku terlalu bersemangat. Kau benar. Kita tunggu saja malam hari, baru memeriksa.” Raja Felix kembali duduk dengan kecewa.
“Alangkah senangnya bisa terbang sebebas burung …,” gumamnya.
“Jadi, ijinkan kami melihat-lihat suasana kota dan mengambil beberapa penduduk yang kami temui,” ujar Robert.
__ADS_1
“Baiklah. Tapi ingat, kembalilah sebelum sore. Atau aku akan sangat khawatir,” pesan Raja. Robert dan Eric mengangguk setuju.
Penasehat mengantar mereka ke jalur teleportasi dan meminta salah seorang pengawal untuk menemani mereka berkeliling kota dan menyelamatkan rakyat yang kesulitan.
“Apa kalian yakin mau mau ke kota? Di sana sangat berbahaya!” pengawal itu ingin memastikan sekali lagi.
Eric mengangguk. “Kau tunjukkan saja di mana orang-orang berkumpul dan butuh bantuan,” katanya.
“Bagaimana kalau bertemu Orc?” tanyanya lagi.
“Habisi saja!” geram Eric.
“Oh, baiklah.” Kata pengawal itu datar. “Seperti menghabisi Orc itu sangat mudah saja!” katanya dalam hati.
Tiga orang itu turun ke post teleportasi di pusat kota. Beberapa penjaga di situ bisa terlihat sangat lelah dan cemas. Tapi mereka tak beranjak dari tempatnya. Dua puluh meter dari post teleport, ada rintangan berupa tumpukan kayu dan duri-duri untuk menghadang Orc yang ingin menyerbu.
“Kota ini jadi sangat sunyi. Seperti kota mati!” komentar Robert. Dia pernah melihat bagaimana ramai dan indahnya ibu kota negara Elf. Dan kondisi sekarang ini, membuatnya sedih.
“Seperti inilah negara kami sekarang,” kata salah satu penjaga sedih.
“Sekarang, bawa kami ke tempat di mana kalian mengumpulkan rakyat,” ujar Eric.
“Ikuti aku. Hati-hati. Banyak Orc berkeliaran di siang dan malam hari.” Pengawal yang bersama mereka, memberi instruksi.
Mereka berjalan mengendap-endap. Menyelinap dari satu bangunan ke bangunan lain.
“Katakan saja di mana tempatnya. Kita terlalu lama di jalan, kalau seperti ini,” kesal Eric.
“Itu … bangunan ke empat di blok sana adalah tempat sebagian besar rakyat yang mengalami sakit.” Pengawal itu menunjuk blok pertokoan yang dia maksud.
“Oke. Kau jangan berisik. Tutup mata saja,” perintah Eric.
Pengawal itu tutup mata dengan patuh. Dia ingin tahu apa yang dilakukan dua ornag asing itu. Tapi dia juga takut. Jadi hanya bisa patuh, agar tugasnya segera selesai.
Eric memegang tangan penjaga dan melesat cepat. Robert menyusul. Dalam sedetik, mereka sudah berdiri di depan bangunan toko yang dimaksud.
“Buka matamu. Apakah ini tempatnya?” tanya Eric.
Penjaga itu terkejut dan melihat ke tempat mereka berdiri sebelumnya. Memang tidak terlalu jauh. Tapi rasanya tak mungkin secepat itu juga.
“Benar tidak?” tanya Robert lagi.
“Iya, ini tempatnya. Kemarin aku membagikan bahan makanan ke sini,” jawabnya. Tangannya langsung mengetuk pintu dengan berirama. Tak lama pintu dibuka. Seorang Elf tua mengintip khawatir di balik pintu yang dibuka sedikit.
“Oh, pengawal. Cepat masuk!” katanya. Pintu dibuka lebar dan mereka masuk dengan cepat. Lalu menutup pintu lagi.
__ADS_1
“Siapa mereka?’ tanya Elf tua itu.
“Tamu yang Mulia Raja. Mereka juga yang membawa bahan makanan kemarin,” jelas pengawal.
“Terima kasih bantuannya. Tapi, sekarang kami sudah harus menghadapi kesulitan lagi. Kami tidak berani keluar rumah, sejak para Orc membunuhi siapapun tanpa alasan.
“Ada berapa orang di sini?” tanya Robert.
“Ada dua puluh orang. Dan semua sedang dalam keadaan lemah karena sakit yang tak diobati,” kata Elf itu sedih.
“Kenapa mereka dikumpulkan di sini?” tanya Eric.
“Aku dulu adalah pemilik toko ramuan. Tapi sekarang aku bahkan tak bisa mencari ramuan di hutan, untuk mengobati mereka,” keluhnya.
“Mari kita lihat!” perintah Eric. Pengawal itu mengangguk, meminta Elf tua untuk menunjukkan pasien-pasiennya.
“Mereka ada di lantai atas. Mari kuantar.” Pak tua itu melangkah lebih dulu, untuk menunjukkan jalan.
Di lantai dua, sepuluh orang dibaringkan di lantai beralas kain tebal. Kondisi mereka memprihatinkan.
“Yang lain di mana?” tanya Robert.
“Di lantai paling atas.” Pria tua itu menunjukk ke atas.
“Antar aku ke atas!” Robert mengajak si Elf tua pergi dan meninggalkan Eric memeriksa yang ada di sana.
“Aku tidak punya banyak obat. Dan ini bukan obat yang spesifik. Hanya menambah tenaga saja, agar kalian tidak lemah.” Eric menunjukkan satu botol obat di tangannya.
“Tolong bagikan dengan gelas-gelas kecil.” Botol itu diserahkan pada pengawal yang bergerak cepat membantu.
“Ayo minum. Yang Mulia Raja juga meminum ini untuk menyegarkannya,” bujuk pengawal saat para pasien itu melihat ragu.
Seseorang mencoba meminumnya setelah didesak oleh pengawal itu. Melihat temannya baik-baik saj, yang lain mengikuti. Masing-masing mendapatkan seteguk air obat. Karena mereka memikirkan teman mereka yang lain di atas sana.
“Apakah masih ada tempat pengungsian lain?” tanya Eric pada pengawal.
“Masih banyak. Apa kita akan melihat satu per satu?” tanya pengawal itu.
“Ya. Kita lakukan sebisanya hingga sore. Karena Raja memberi waktu hingga sore,” angguk Eric.
“Baik!” Pengawal itu mengangguk patuh.
“Aku sudah selesai di sini,” kata Robert lewat pikiran.
“Semuanya, maaf, saya ingin memindahkan kalian. Jadi, mohon tenang,” kata Eric sambil menyapukan tangan. Semua orang yang terbaring itu hilang dari pandangan.
__ADS_1
Pengawal itu terkejut hingga jatuh terkejut. Dia mundur ketakutan dan menjauhi Eric. “A-appa yang kau lakukan!” Matanya melotot ngeri.
*****