The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 64. Kembali ke Tepi Pantai


__ADS_3

Lima orang Bangsa Cahaya itu keluar di  lereng bukit berbatu. Semuanya terpana melihat sekitarnya. Semata-mata hanya ada batu cadas hitam seperti arang. Tak ada pepohonan bahkan rerumputan. Kuda-kuda mereka segera disimpan agar tidak tergelincir di tanah yang tak rata. Robert teringat sesuatu.


“Arjun, coba kau gali ingatan O. Apakah ini dunia tempat kalian dulu tinggal bersama A dan Z?”


Arjun terbang dan mengitasi bukit itu. Dia sangat hapal dengan dunia kecil pertanian yang dijaga A. Juga sisi lain gunung batu yang diledakkannya dengan cahaya biru dahsyat.


O mencari tanda-tanda yang mungkin bisa memberinya penjelasan tentang tempat itu. Dia tak menemukan air-air terjun yang sehausnya ada. Dia juga sudah memeriksa sekeliling gunung. Bahkan meski mereka tinggalkan puluhan tahun yang lalu, Seharusnya dinding batu yang dipotong oleh A, tetap terlihat nyata, karena tak ada tumbuhan yang menutupi, bahkan sekedar lumut tipis.


Arjun mendekati teman-temannya. “ini bukan dunia kecil pertanian yang kami tempati sebelumnya. Gunung tempat kami tinggal itu sangat dingin. Seperti ada sumber es di dalamnya. Tapi batu gunung ini hangat. Terlalu hangat, hingga lumut saja tak bisa tumbuh!” jelas Arjun.


“Hei, aku menemukan pantai di sini!” Sofie berteriak di kepala Arjun dan Robert. Dia pergi berdua dengan Eric untuk memeriksa.


“Jangan terlalu jauh. Nanti kalian bisa saja masuk ke dinding cahaya lain dan kita terpisah!” Robert mengingatkan. Bersama Hakon, mereka menyusul dua anak muda itu. Tapi, di tengah jalan Robert berhenti.


“Tunggu! Kenapa aku seperti familier dengan tempat ini?” katanya.


“Anda pernah ke sini?” tanya Hakon.


“Sebentar kuingat-ingat dulu!” Robert terbang berkeliling tempat itu.


Sofie, Eric, kembalilah. Robert mengenali tempat ini,” panggil Arjun.


Sepasang muda-mudi itu kembali dan berkumpul dengan Arjun dan Hakon. Mereka mengikuti langkah Robert untuk


terbang berkeliling dan memeriksa apa yang mungkin bisa ditemukan.


Kemudian tawa Robert membahana. Dia segera terbang ke satu arah. “Aku menemukannya! Hahahaa ….”


Mendengar itu, teman-temannya langsung menyusul. Mereka melintasi hamparan luas tanaman biji-nijian yang sedang menguning. Tapi itu bukan gandum. Kemudian menemukan hamparan rumput luas yang dipenuhi oleh kuda liar yang berlarian dengan bebas dan gembira.


“Ya Tuhan, Syukurlah ini masih ada, meskipun berantakan dan tinggal puing karena lapuk!” kata Robert di depan sebuah reruntuhan.

__ADS_1


“Apa dulu kalian pernah tinggal di sini?” tanya Arjun.


“Ya!” Ini rumah kedua yang kami bangun dengan susah payah!”


“Kalau begitu, berarti kita sudah ada di jalur yang tepat, bukan?” kata Arjun.


“Ya. Kita tinggal melewati lorong di dekat kolam air panas. Maka akan sampai di hutan sihir, yang berbatasan dengan negeri Elf.” Robert mengangguk.


“Kalau begitu, mari keluarkan semua orang dan berkumpul.”


Robert mengangguk. Mereka mengeluarkan anggota tim lain. Eric, Sofie dan Hakon yang baru tiba di sana, ikut mengeluarkan yang lainnya. Tempat itu menjadi ramai. Mendengar penjelasan Robert bahwa mereka sudah berada di dunia yang benar, semua menjadi gembira. Terutama dua orang Elf tersebut.


“Kenapa kita tidak segera melanjutkan perjalanan?” desak mereka tak sabar.


Robert menoleh ke arah Eric, meminta persetujuannya untuk menjelaskan. Eric mengangguk.


“Ada beberapa alasan kita tidak langsung melanjutkan perjalanan,” kata Robert. Semua menunggu apa yang


“Pertama, lihat matahari yang sudah meninggi. Seingatku, perjalanan kami melewati lorong maple itu, butuh waktu. Lorong itu sangat panjang. Hingga kami memutuskan beristirahat malam hari di lorong yang tak ada habisnya! Dan seperti yang kau tahu, apa artinya tidur di hutan sihir!” kata Robert.


Dua Elf itu mengangguk. “Bisa saja bahwa itu sebenarnya bukan malam hari. Hutan itu memiliki sihir yang sangat kuat. Semula itu adalah bagian dari tanah negara sihir, hingga mereka tak bisa lagi mentoleransi kekuatan sihir gelap di sana yang memakan banyak korban bahkan dari Bangsa penyihir!” kata Herdan.


“Mengerikan!” komentar Bangsa Cahaya lainnya.


Robert mengangguk. “Kami saat itu tidak mengetahui tentang hal-hal seperti itu. Hingga bisa tidur kelelahan untuk kali kedua setelah berputar-putar mencoba keluar dari hutan itu. Saat itulah Glenn dan rombongannya menemukan dan menyelamatkan kami!” jelas Robert.


“Aku mengerti. Berarti kalian melewati dua malam di sana. Beruntung sekali. Biasanya, bahkan satu malam, tidak ada yang bisa lolos jika sudah tertidur di hutan sihir,” timpal Khort.


“Nah, alasan kedua adalah ….” Robert menjeda kalimatnya, menunggu semua orang mendengarkan.


“Karena tempat ini kosong tak berpenghuni. Sangat indah dan subur. Saat itu, jika bukan karena ingin mencari jalan pulang dan menemukan Marieanne dan Michael yang diculik Viking, Ibu dan ayahmu sudah ingin tinggal di sini saja!” kata Robert pada Sofie. Gadis itu melebarkan bola matanya.

__ADS_1


“Apakah mereka memang sudah sangat genit waktu itu?” gerutu Sofie sebal.


“Hahahaa ….” Yang lain tertawa mendengarnya.


Robert tersenyum. "Mereka saling mencintai. Dan ayahmu pernah sangat rela mengalami luka-luka demi bisa menangkap dan menaklukkan kuda liar di ladang bunga sebelah sana!” Robert menunjuk ke satu arah yang belum mereka lihat.


“Hah … dan mereka masih saja bersikap mesra di depan semua orang tanpa malu!” Sofie mencibir sebal, disambut tawa kecil yang lain. Mereka sangat mengetahui bahwa Indra dan Niken memang selalu tampak mesra satu sama lain.


“Eric, kita sudah berjanji pada Hasheem jika menemukan pamannya akan membawanya serta. Waktu kita tidak panjang di sini. Bagaimana kalau kita tempatkan pintu teleportasi ke tempat ini? Jadi biar ayahmu yang mengatur anggota suku lain untuk mencari dan membawa paman Hasheem pulang dan mengembalikan dia ke sukunya.” Robert meminta pendapat Eric.


Setelah berpikir sebentar, Eric akhirnya mengangguk. “Baiklah. Ubbe, coba kau siapkan koordinat tempat ini dan hubungkan dengan rumah kita. Pergi ke sana dan minta ayah untuk menempatkan penjaga dan pengatur pintu teleportasi serta beberapa orang pencari di sini!” perintah Eric.


“Akan kulakukan!” sahut Ubbe cepat. Dia seera memisahkan diri dan mengeluarkan peralatan kerjanya.


“Nah, Alasan terakhir dan sangat penting adalah. Mengumpulkan semua bahan makanan yang ada di sini. Kita tidak tahu apa yang terjadi di negeri Elf setelah sekian lama waktu berlalu. Terlebih lagi, karena tempat ini seperti bagian dari masa lalu. Masih ada perompak yang mengarungi lautan dengan kapal layar besar!”


“Berarti, saat masuk ke sini, kemungkinan kita berjalan mundur memasuki masa lalu?” celetuk Gerald.


“Ya. Perbedaannya seperti Kota pelabuhan dengan Indonesia. Marieanne ditemukan di kota itu setelah diculik di sini. O, apa kau bisa ingat bagaimana kota itu pertama kali kalian temukan?” tanya Robert.


“Sangat kuno. Kalau Istilah ayahku, peradaban abad pertengahan.” Arjun mengangguk setelah menggali ingatan O.


Semua orang akhirnya mengerti. Bahwa melewati dinding cahaya juga bisa membuat mereka masuk ke masa lampau. Mereka mengangguk setuju dengan pemikiran Robert untuk membuat pintu teleportasi di sana.


“Apa sekarang semua sudah mengerti?” tanya Eric.


“Ya!” jawab anggota tim lain.


“Baik. Sambil menunggu waktu kita berangkat, maka seperti yang dikatakan paman Robert. Mari kita panen dulu bahan makanan yang ada di sini, untuk bekal di negara Elf!”


“Baik!!” jawab yang lain penuh semangat.

__ADS_1


*****


__ADS_2