
"Kuharap mereka sudah sembuh saat tim itu berangkat," ujar Dean.
"Akan kuusahakan," sahut Dimas.
Berikan air abadi untuk mempercepat proses penyembuhannya!" Dean menyerahkan dua botol air abadi pada Dimas.
"Baik!" Dimas menerima pemberian Dean dan mengawasinya keluar dari rumah sakit kecil itu.
Diperhatikannya botol air di tangan. "Sebenarnya, dengan air ini, mereka tak butuh dokter lagi." Dimas menggerutu. Keahliannya dikalahkan sebotol air abadi yang merupakan harta karun paling berharga Bangsa Cahaya.
Dimas kembali menemui pasien barunya. "Aku harus memeriksa apakah tulang kakimu sudah berada di tempatnya," katanya pada Khort yang baru dioperasi sehari sebelumnya.
"Bagaimana cara periksanya? Tanya pria Elf itu.
"Aku harus mengambil fotonya. Sebentar." Dimas keluar dan kembali tak lama kemudian.
Dua Elf itu memperhatikan kursi yang didorong ol Dimas.
"Bisakah kau pindah ke sini? Karena peralatan foto ada di ruangan lain." DImas menunjuk kusi roda yang dibawanya.
Herdan turun dari tempat duduknya dan membantu temannya untuk turun dari tempat tidur. Kemudian dia mengikuti dua orang itu pergi ke ruangan lain.
Bangunan yang dicat putih dan sedikit biru air, membuat bangunan itu terkesan luas, bersih dan sejuk. Lantai keramik putih bersih dan licin tampak asing oleh keduanya.
"Tempat ini sangat berbeda dengan tempat Tabib Calya," ujar Herdan. Di sana, keseluruhan bangunan dan lantai dibuat dari kayu tebal dan kuat. Berberda dengan bangunan ini yang dibuat dengan bahan yang tidak diketahuinya.
"Ya, ini namanya rumah sakit," sahut Dimas. Cara pengobatanku berbeda dengan Tabib Calya. Di sini aku disebut Dokter, bukan Tabib!" Dimas menjelaskan.
Sebutan berbeda untuk dua tabib di negara yang sama?" tanya Herdan.
"Tidak. Aku tinggal di Dunia Cahaya. Tempat tinggal Bangsa Cahaya. Pemimpinnya Dean, pria yang tadi membawa kalian ke sini. Sementara Calya, tinggal di Kota Pelabuhan. Pemimpinnya adalah Yabie, suami Calya." Dimas menjelaskan sambil tersenyum.
"Kukira, Tuan Yabie dan Tabib itu memanggil pemimpin kalian sebagai paman. Bukankah mereka punya hubungan keluarga?" tanya Herdan masih penasaran.
"Ya. Ibu Yabie dan kakaknya Yoshie adalah adik Dean. Akan tetapi, ayah mereka adalah seorang Fallen Angel. Jadi mereka keturunan campuran. Selain itu, ayah mereka adalah pemimpin pertama Kota pelabuhan itu. Jadi mereka meneruskannya, sebagai pewaris pendiri wilayah itu." Dimas menjelaskan dengan panjang lebar.
"Berapa jauh jarak dari sini ke sana?" tanya Khort tertarik.
"Kita tak bisa menempuhnya dengan kendaraan apapun, karena dimensinya berbeda. Kami bisa mudah berpindah karena ilmu teleportasi yang dimiliki Bangsa Cahaya," kata Dimas.
"Sekarang mari kita periksa kakimu. Tolong naik. Dan berbaring di meja ini." Sebuah meja ditunjuk Dimas pada Khort.
__ADS_1
Dengan bantuan Herdan, temannya bisa dengan mudah naik ke sana dan berbaring dengan tenang. Tidak mengerti sama sekali dengan cara pengobatan di dunia itu.
Herdan keluar dari ruangan setelah dipanggil Dimas. Dia meninggalkan Khort dengan sedikit khawatir. Dilihatnya Dimas berdiri di depan sebuah alat besar yang menggambarkan rangka tulang Khort. Herdan terbelalak. "Alat apa ini? Apa kau membunuhnya?" tuduh Herdan marah.
Dimas tersenyum lebar. "Dia dibutuhkan oleh Pemimpin Kami, Dean. Mana berani aku membunuh temanmu. Dean bisa membunuhku hanya dengan menjentikkan jarinya kalau marah!"
Mendengar itu, Herdan sedikit tenang. "Apakah Pemimpinmu sangat hebat?" tanyanya penuh harap. Dimas mengangguk.
"Banyak Bangsa Cahaya yang sangat hebat di sini," ujar Dimas sambil mengambil foto yang dibutuhkannya.
"Aku sudah selesai. Kau bisa bantu dia turun, lalu kembali ke ruangan dan istirahat. AKu harus memeriksa ini sebelum membua kesimpulan."
"Terima kasih." Herdan masuk ruangan dan membantu Khort turun. Kemudian keduanya kembali ke ruangan.
"Ah, kalian dari mana? Aku mencari-cari tadi." Jason menyapa kedua Elf itu.
Baru diperiksa oleh dokter di sana." Khort menunjuk ruangan yang tadi ditinggalkannya.
"Oh, baiklah. Aku sudah siapkan obat yang diresepkan ibu. Kalian harus makan obat itu setelah makan siang.
"Kami belum makan siang!" kata Herdan.
"Kurasa, ilmu kesehatan mereka sudah sangat maju," kata Khort.
"Aku ingat kisah operasi pertama di negara kita. Juga dilakukan oleh temannya Nyonya Angel!" Herdan menimpali. Mereka kagum dengan ilmu medis yang unggul di tempat itu.
*
*
"Jason, apa kau mencari ayah?" tanya Eric.
"Tidak, Paman. Aku mencari makanan untuk dua pasien yang dipindahkan kakek ke rumah sakit." JAson langsung ke dapur dan mengambil piring.
"Pasien? Apakah itu orang-orang Elf?" tanya Eric tertarik.
"Hu um." Jason hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Biar kubantu bawa makanan ke sana." Eric senang bisa melihat dua Elf itu. Jadi dia berinisiatif untuk membantu Jason.
"Kalian mau ke mana?" Widuri tiba-tiba muncul dari lantai atas.
__ADS_1
"Pasien Elf itu dipindahkan ayah ke rumah sakit Dokter Dimas. Aku mau melihatnya!" ujar Eric sambil terbang secepatnya, diikuti Jason.
Dua pasien Elf itu terkejut saat tiba-tiba berdiri dua orang pria tampan di tengah kamar.
"Ini pamanku, Eric. Putra Kakek Dean." Jason langsung memperkenalkan Eric pada keduanya. Dilihatnya Eric memperhatikan kedua Elf tanpa sungkan. Dia bahkan memeriksa telinga mereka yang berbentuk aneh.
"Kalian sangat tampan. Apakah semua Elf setampan kalian?" tanya Eric terus terang. Wajahnya dipenuhi senyum cerah.
Kedua Elf itu tercengang mendengar pujian yang dikeluarkan tanpa ragu. Mereka saling pandang. Tak tahu mesti menjawab apa.
"Ini makanan. Kalian bisa makan dengan tenang. Abaikan pertanyaannya. Dia akan selalu merasa terancam jika ada yang menyaingi ketampanannya!" ujar Jason sebal. Dua Elf itu tersenyum mendengarnya.
"Apa maksudmu!" Eric menjitak Jason jengkel.
"Aduhh!" ringis Jason sambil mengelus kepalanya. Lehernya sudah dikepit Eric dan dibawa keluar ruangan.
"Jangan membuliku. Nanti aku panggil Kakek dan nenek!" ancam Jason.
"Kau sudah setua ini, masih saja mengadu!" omel Eric sambil terap membawa Jason keluar dari rumah sakit.
"Hai, apa yang terjadi?"
Arumi putri Dimas muncul. Dia adalah gadis yang menjadi perawat di rumah sakit. Di sebelahnya berdiri Zoella adik Eric yang baru setahun lulus kedokteran dan bekerja di rumah sakit itu.
"Bantu aku, Paman," Jason menunjukkan wajah memelas pada Zoella.
Dengan pandangan tajam, Zoella menatap Eric. Pemuda itu akhirnya melepaskan kepitannya di leher Jason. Pria itu segera lari berdiri di belakang tubuh Zoella dan Arumi. Dijulurkannya lidah untuk mengejek Eric yang kesal.
"Awas kau!" Eric pergi meninggalkan tiga orang itu.
"Ada apa dari dalam? Apa mencari papa?" tanya Arumi.
"Bukan. Kakek memindahkan pasien dari tempat ibu ke sini. AKu baru mengantarkan makan siang mereka," jawab Jason.
"Apa mereka pria Elf itu?" Arumi tertarik untuk melihat seperti apa bentuk Elf.
Melihat tampang Zoella yang cemberut, Jason ragu untuk mengangguk.
"Aku pergi dulu. Ada yang harus kukerjakan!" Dia segera mengelak dan pergi meninggalkan sepasang kekasih itu dalam suasana canggung.
******
__ADS_1