
“Yang Mulia, saya menghadap,” kata Levyn dari luar tenda.
“Masuk!” panggil Putra Mahkota.
Levyn masuk dan menemukan empat pengawal berdiri di depan meja kerja kakak sepupunya. LEvyn berjalan mendekat.
“Mereka berempat yang akan pergi bersamamu. Sejauh yang kutahu, tak ada bahaya bianatang buas di hutan sihir. Yang harus dikhawatirkan adalah bahaya sihir yang kuat di sana. Apa kau sudah siap?” tanya Pangeran Mahkota.
“Siap! Nenek sudah mengirimkan pesan untukku, agar bisa melewati tempat itu dengan aman.” Kata Levyn jujur.
“Syukurlah …!”
Putra Mahkota merasa lega, karena ternyata ide ini sudah disetujui oleh Yang Mulia Ratu. Itu artinya Raja Felix, pamannya juga sudah setuju. Maka sang pangeran tidak ragu lagi melepaskan Levyn keluar dari wilayah mereka.
Pangeran Mahkota menyalami mereka semua sebelum pergi. Mereka menolak membawa ransum makanan, selain air bersih dan jernih yang ada di istana Glenn.
“Aku akan segera kembali. Bertahanlah.” Levyn memeluk kakaknya lagi, setelah semua orang keluar.
“Aku mempercayaimu!” Pangeran Mahkota mengangguk haru.
Kelima orang itu turun dengan alat teleportasi. Pengawal Levyn satu-satunya tak mau ditinggal. Akhirnya pria itu ikut juga. Enam kuda berlari menuju perbatasan negara Elf dengan hutan sihir.
Dalam setengah jam, mereka telah menemukan tembok perbatasan yang dibangun oleh negara Elf, agar tidak ada yang keluar masuk sembarangan dan hilang di hutan menyeramkan itu.
“Tempat ini amat sangat indah!” celetuk salah seorang anggota timnya.
“Tempat yang murni, jarang didatangi. Tentu saja keindahannya terjaga,” komentar yang lain. Mereka baru saja keluar dari terowongan kecil yang digenangi lairan air.
“Tapi jangan salah. Tempat ini juga sangat berbahaya. Hanya orang keturunan bangsa penyihir yang bisa melewati tempat ini dengan aman!” timpal yang lain. Mereka akhirnya menoleh pada Pangeran Levyn.
“Kami memepercayakan nyawa kami padamu, Pangeran,” kata mereka hormat.
“Kita hanya perlu saling menjaga satu sama lain. Itu tugas kita sebagai bawahan Yang Mulia,” kata Levyn.
Di dekat bongkahan batu tepi sungai kecil itu, Levyn berhenti, kemudian turun. Sepatunya jadi basah. Tapi dia tak mengindahkan. Pengawalnya ikut turun dan menjaga. Yang lain juga ikut berhenti dan turun dari kuda. Mereka mengamati apa yang dilakukan Levyn.
__ADS_1
“Apa yang Anda lakukan?” tanya pengawalnya heran.
Levyn tak menjawab. Dia sibuk dengan aktifitasnya, memetik beberapa bunga dan ditambahi dengan sedikit bahan rahasia yang sudah dikirim neneknya. “Lukai jariku,” pintanya ada pengawalnya.
“Pangeran?” Pengawal itu terkejut.
“Ini harus dilakukan karena aku baru pertama kali ke sini!” jelas Levyn.
“Oh, baiklah.”
Pengawal itu mengeluarkan pisau kecil yang terselip di pinggangnya. Dengan ujungnya yang tajam dan runcing, mengiris jari Levyn adalah hal yang mudah. Darah menetes seketika.
Dengan cepat pangeran muda itu meneteskan darahnya pada kumpulan bunga dan rempah rahasia. Kemudian membacakan mantera yang tertera di kertas.
Anggota tim lain bahkan bisa melihat bagaimana simbol-simbol mantera itu beterbangan di atas tangan Levyn, mengelilingi jarinya yang terluka darah berhenti menetes dan luka tertutup kembali. Kemudian simbol mantera itu berputar di atas tangan Levyn lain yang menampung aneka bunga serta bahan rahasia yang telah ditetesi dara.
Levyn masih terus membaca manteranya hingga selesai. Simbol-simbol itu juga sudah hilang lenyap di dalam tumpukan bunga. Pria muda itu menaburkan semua bunga di aliran air kecil dekat kakinya. Kemudian membersihkan tangannya sekaligue, dan meminum airnya.
“Sebaiknya kalian juga minum air sungai ini,” saran Levyn.
“Baik!”
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan, Melintasi anak sungai dan menggebah kuda di padang rumput hijau nan subur. Kuda-kuda itu berulang kali berhenti untuk menikmati kesegaran rumput di sana.
Setelah setengah jam mengalah pada keinginan kuda-kuda, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Pinggiran hutan sihir itu tak jauh lagi. Mereka harus bisa melewati setengah perjalanan agar besok bisa segera sampai.
Malam turun. Mereka berhenti untuk beristirahat, karena hutan itu amat sangat gelap ketika malam tiba. Mereka tidak punya makanan, jadi menghabiskan persediaan air minum sebagai penahan lapar sebelum tidur.
Levyn mengajak pengawalnya mencoba cara yang dikatakan ibunya untuk mendapatkan air yang bisa menambah energi di hutan sihir. Dengan ujung pisau kecil, mereka menusuk batang pohon yang berwarna terang keperakan di antara sinar kunang-kunang.
“Lihat! Air benar-benar keluar dari batang pohon ini!” ujar pengawalnya senang. Mereka mengikat tempat penampungan air di bagian bawahnya agar bisa kembali mengisi penuh persediaan air mereka.
Empat anggota tim lain mengikuti cara itu dan menampung air minum mereka juga. Di bawah keremangan cahaya kunang-kunang dan belaian angin dingin serta lembut, anggota tim itu tertidur dengan cepat.
Suara kicauan burung yang ramai, menjadi lagu pemanggil hari. Tapi dinginnya udara membuat semua anggota tim itu lebih memilih meringkuk dan melanjutkan mimpi. Apa lagi hari masih remang-remang.
__ADS_1
Dalam kabut mimpinya, Levyn melihat bayangan tubuh seseornag yang membangunkannya dengan lembut. “Bangunlah sayang … sambut hari baru dan lakukan tanggung jawabmu!”
Tiba-tiba mereka semua terbangun dengan kalang kabut, karena angin yang bertiup kuat, menyibakkan ranting-ranting. Menjatuhkan semua tetes embun yang dipeluknya erat semalaman.
Levyn duduk termangu. Dia ingat suara yang memanggilnya tadi, sebelum seluruh embun membasahi anggota timnya. “Penguasa hutan ini menerimaku dan membangunkanku,” batin Levyn.
Levyn mengeluarkan surat neneknya. Ada pesan khusus yang dibuat nenek. Dia harus membacakan syair yang ditulis neneknya itu sebagai ucapan terima kasih karena Penguasa Hutan telah menjaganya.
Anggota tim yang lain, memperhatikan Levyn yang duduk dengan tenang dan membaca isi surat secara berirama, seperti sedang menyanyikan sesuatu. Mereka tidak mengerti, tapi juga tidak mengganggu. Setidaknya, dengan adanya Levyn, pagi ini mereka telah bangun dengan selamat di hutan yang masih berkabut.
Tepat saat Levyn selesai menyanyikan lagu yang dipesankan neneknya, beberapa ranting menjalar mengantarkan banyak buah-buahan segar ke hadapannya. Levyn tertegun. Tapi neneknya bilang, jangan tolak apa yang mereka berikan padamu.
“Ini sarapan kita dari Penguasa Hutan Sihir,” kata Levyn. Dia mengambil satu buah yang tergeletak di atas dedaunan dan segera menggigit tanpa ragu. Wajahnya langsung berseri-seri.
Yang lainnya mengambil buah dengan ragu. Setelah melihat Levyn tidak mati, maka berarti buah itu tidak beracun. Mereka akhirnya ikut makan dengan semangat.
“Buah yang sangat lezat!” kata mereka memuji. Beberapa hari tidak cukup makan, maka mendapatkan buah matang sempurna dan segar seperti itu, membuat mereka sangat bahagia.
Hari mulai terang ketika mereka bersiap-sia untuk pergi. Sisa buah dibawa untuk bekal perjalanan. Kuda-kuda juga sudah kembali segar setelah mendapatkan rumput-rumput penuh gizi di hutan yang murni.
“Terima kasih untuk sambutannya, Leluhur,” kata Levyn sambil membungkukkan badan sebelum menaiki kuda. Anggota timnya ikut membungkuk juga sebelum naik ke atas kuda dan berlalu dari sana.
Kuda berlari cepat ke satu arah. Levyn seperti sudah diarahkan ke sana. Jadi dia tak ragu sedikitpun untuk berlari dengan cepat. Yang lain mengikuti saja. Mereka sudah melihat sendiri bahwa pangeran muda itu sudah diterima oleh Penguasa Hutan Sihir.
“Pangeran, kuda sudah lelah dan hari sudah tinggi. Sebaiknya kita beristirahat dulu. Bagaimanapun juga kita akan tetap menginap dua malam di hutan ini. Baiknya mengumpulkan tenaga,” saran pengawalnya.
“Baik, cari tempat yang agak teduh. Pepohonan di sini lumayan jarang, jadi matahari terik bisa menjangkau permukaan tanahnya.” Levyn mengangguk setuju.
“Cari tempat istirahat yang teduh!” teriak penmgawalnya, agar yang lain bisa mendengar instruksi Levyn.
“Ya!” sahut mereka. Kecepatan kuda sudah dikurangi. Mereka sedang mencari tempat yang agak terlindung. Karena matahari benar-benar terik.
“Hei, lihat disana!” Salah seorang dari mereka melihat sesuatu tak jauh dari tempat kudanya berhenti. Semua ikut mengamati.
Levyn menjalankan kudanya hati-hati dan memperhatikan temuan itu dengan mengelilinginya. Kemudian dia terkejut saat mengenali dua orang yang sedang tertidur pulas di bawah cahaya matahari yang memanggang.
__ADS_1
“Ini Herdan dan Khort!” serunya tak percaya.
*****