The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 46. Kemenangan Sementara


__ADS_3

Terus dukung author dengan memberi Like, Komen, Gift, Vote dan rate 5 bintang ya. Terima kasih.


*****


Malam itu seluruh negeri Elf berkecamuk. Teriakan dan pekik serangan terus menggema diselingi jerit kematian. Hingga lewat tengah malam, Dua titik strategis sudah berhasil dikuasai. Itu adalah titik teleportasi menuju kediaman Raja Baru dan juga kediaman Pangeran Glenn. Masih ada tiga titik teleportasi lain yang belum berhasil mereka taklukkan. Yaitu titik teleportasi menuju kediaman Mantan Perdana Mentri, Kediaman Penasihat kerajaan dan Istana Utama yang sekarang diduduki Jenderal Perang pasukan Orc.


Wilayah perbatasan dengan negara Peri, dapat diamankan, dibantu oleh penjaga perbatasan Negara Peri dan dua Serigala putih. Sekarang, lebih dari setengah bagian kota menjadi daerah kekuasaan Putra Mahkota dan pasukannya.


Kedua pasukan mengalami kerugian yang besar. Prajurit Elf banyak yang gugur dan luka-luka. Para Orc tak kalah rugi. Mereka malah kehilangan dua pimpinan pasukan. Keduanya tewas dalam perjalanan kembali ke titik tugas masing-masing setelah pertemuan dengan Jenderal Perang Orc. Satu pimpinan Orc lagi, mengalami kritis. Dan sekarang ditawan oleh Putra Mahkota.


“Kita beristirahat bergantian. Jangan sampai titik yang sudah kita kuasai, direbut mereka lagi! Perintah Putra Mahkota.


“Baik, Yang Mulia,” jawab para pemimpin pasukan.


Sebagian kota lain masih butuh perjuangan untuk ditaklukkan. Mereka beristirahat menjelang pagi. Para peri pohon dengan cepat menyembunyikan tubuh para prajurit yang tewas dan meletakkan mereka di bawah pohon Dewa. Tetua Peri pohon kembali melakukan upacara kematian besar dini hari itu.


Sementara itu, prajurit yang terluka kembali dibawa pergi ke rumah-rumah penduduk yang daerahnya dikuasai Putra Mahkota.


Raja Felix sangat lega karena Putra Mahkota, Pangeran Levyn dan Angel selamat. Putra Mahkota akhirnya menempati kediaman Glenn sebagai titik pertahanan. Bawahannya segera memasang tenda besar di sana, sebab kediaman Pangeran Glen telah menjadi abu. Dia tinggal di sana bersama para pengawal pribadi dan pelayan setianya.


Sementara Angel beserta para pelayannya yang terluka, dievakuasi menuju kediaman Raja Felix untuk mendapatkan pengobatan. Pangeran Levyn sekarang menemani ibunya yang terluka dengan rasa bersalah.


“Maafkan aku, Ibu,” kata Levyn penuh sesal.


Dia tak sanggup melihat luka bakar besar yang dialami ibunya. Juga para pelayan wanita lain yang begitu setia melindungi ibunya.


“Rondha, terima kasih suah menyelamatkan nyawa ibuku,” katanya tulus.


“Itu tugas saya, Pangeran,” sahut Rondha tersipu.


Rasa sakit akibat luka bakar parah di punggung yang membuat dia hanya bisa menelungkup, tak lagi terasa terlalu sakit setelah mendapat perhatian dari pangeran paling tampan kerajaan itu. Yang lain ikut senang melihat pangeran kebanggaan mereka kembali dengan selamat.


Di tempat pertahanannya, Putra Mahkota mengadakan pertemuan dengan para pimpinan tim. Mereka ingin kembali merencanakan serangan besar kedua, untuk merebut istana.

__ADS_1


“Kita tak bisa lagi membuat kejutan seperti serangan petang tadi. Mereka pasti sudah mengantisipasi apapun yang kita pikirkan,” kata salah seorang dari mereka.


“Menurutku, kita justru harus memperkuat pertahanan atas apa yang sudah kita capai. Istana Yang Mulia Raja Felix harus jadi prioritas pengamanan. Jangan sampai lolos lagi, seperti mereka menghancurkan benteng bawah istana,” ujar yang lain.


“Aku tahu. Pengawal Levyn mengatakan bahwa saat benteng istana diserang, dia sedang mencari Levyn. Dia melihat dua bola raksasa berisi api yang langsung membakar dan melumpuhkan para pengawal benteng itu,” tambah Putra Mahkota.


“Dahsyat sekali. Bola api seperti apa yang mereka kirimkan itu?” timpal yang lain dengan ekspresi ngeri.


“Kita harus mengantisipasi serangan semacam itu kembali digunakan oleh Orc untuk melumpuhkan dua titik penting negara ini.” Yang lain kembali memberi pendapat.


“Bagaimana kalau kita bekerja sama dengan Negara Peri? Kami sangat terbantu saat melewati perbatasan, saat bertarung dan sekarang, para penjaga perbatasan negara Peri-lah yang menjaga post perbatasan ke sana,” saran pemimpin pasukan yang sebelumnya mengikuti Pangeran Glenn.


“Saran bagus. AKu akan mengirim pesan pada bibi dan pamanku di sana. Hanya saja, harus diingat. Kita hanya meminta bantuan. Hasilnya terserah pada pertimbangan mereka. Jadi jangan terlalu diandalkan!” Putra Mahkota mengangguk.


“Bagaimana kalau kita juga meminta bantuan Negara Kurcaci Biru, untuk menjaga perbatasan di bagian barat? Bukankah tempat itu juga merupakan perbatasan negara mereka? Setidaknya ikut serta lah, atau memberi bantuan. Bukankah kita sudah berbulan-bulan mengamankan tempat itu hingga negara mereka aman dari serangan Orc!” seorang pimpinan pasukan yang sebelumnya berjaga di perbatasan barat, tampak sedikit kesal.


“Akan kukirimkan pesan juga ke sana.” Putra Mahkota mengangguk setuju.


Pertemuan singkat itu berakhir. Semua pemimpin pasukan kembali ke post masing-masing. Menjaganya jangan sampai lepas dan kembali dikuasai Orc.


***


Pangeran Glenn bersama pasukan pribadinya meneruskan langkah mencari jejak Cristal. Mereka melintasi tiga desa hingga petang itu. Namun, keberadaan sang Putri tak diketahui rimbanya. Yang mereka temukan adalah kondisi memprihatikan desa-desa kecil yang dilewati oleh para Orc. Tiga desa itu telah menjadi desa mati. Karena seluruh penduduknya sudah tewas diracun di dada.


“Mereka keji sekali!” geram Pangeran Glenn. Mereka baru saja membakar desa terkahir yang mereka temui hari itu.


“Bukan Orc kalau punya hati nurani,” ketus yang lain.


“Kita beristirahat di sini, malam ini,” putus Glenn.


Mereka berhasil mengamankan beberapa bahan makanan dari tiga desa yang telah ditinggal mati penduduknya. Dengan itulah mereka mengisi perut. Sederhana dan penuh kegetiran.


“Menurut kalian, kemana mereka membawa putriku?” tanya Pangeran Glenn.

__ADS_1


“Jika melihat begini banyak desa yang berhasil mereka taklukkan, maka kemungkinan sang Putri diantar kepada pimpinan tim yang besar kemungkinan ada di wilayah Kerajaan Penyihir,” jawab salah seorang bawahannya.


Glenn menoleh padanya. “Jadi, arah kita ini sudah benar?”


“Bagaimana jika para Orc itu justru pulang ke negaranya lewat perbatasan negara Penyihir?” seseorang memotong ucapan temannya sebelum sempat menjawab pertanyaan Glenn.


Glenn mengangguk. “Hemm … kau juga ada benarnya. Dua kemungkina ini seimbang. Hanya saja kita tak punyawaktu untuk memeriksa keduanya. Kita hanya bisa memikirkan tujuan satu per satu.”


“Iyah. Pasukan kita hanya sedikit.” Pengawalnya yang lain, menimpali.


“Baiklah, kita beristirahat dulu. Semoga besok kita bisa mendapat titik terang,”


Glenn memberi tanda bahwa diskusi itu usai.


***


Di negara kurcaci biru, kehebohan mulai terasa. Berita panas tentang jatuhnya negara Elf, telah menjadi topik hangat dan dibahas di mana-mana.


“Bayangkan! Bagaimana para Elf itu justru pergi meminta bantuan ke tengah laut. Seputus asa apa mereka!” kata yang lain.


“Kabarnya istana dan rajanya sudah jatuh. Apa kau percaya itu?” tanya yang lain.


“Kenapa raja kita tidak mengirim bantuan ke sana? Bukankah selama ini kita sering dibantu?” tanya yang lain heran.


“Kau benar. Kalau tidak ada pasukan Pangeran Mahkota di perbatasan itu, maka para Orc pasti sudah lama menguasai dan membuat kerusuhan di daerah perbatasan itu!” kecam yang lain.


“Jangan seperti itu. Sang Raja mungkin sedang mempertimbangkan bantuan apa yang bisa diberikan kepada rakyat bangsa Elf!” penjaga kios makanan membela rajanya.


“Hendaknya beliau tidak berikir terlalu lama. Karena kalau pasukan Elf benar-benar jatuh, maka negara kita akan menjadi sasaran berikutnya!” ujarnya memberi tau.


“Hah! Lagii-lagi kau benar!”


*****

__ADS_1


__ADS_2