The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
22. Berlayar


__ADS_3

"Beberapa tahun yang lalu aku memesan sebuah kapal bagus pada pembuat kapal. Kau tahu, orang-orang yang pergi ke sana itu memberi kami cukup uang sebagai penukar kapal."


Dua Elf mengikuti pria yang berjalan di depan. Mereka tak menanggapi sama sekali perkataan kurcaci itu.


Sekarang mereka sudah berdiri di depan bangunan kayu, persis di sisi pantai. Kurcaci tua itu langsung membuka kunci dan pintu langsung terbuka.


Sebuah kapal bagus dan kuat, tampak di depan mata keduanya. Wajah mereka sangat gembira. "Berapakah kau akan menjual kapal ini?" tanya satu Elf. Ekspresinya sedikit kecut. Mereka tidak dibekali uang sama sekali. Dan baru menyadarinya saat melihat kapal itu.


"Tak perlu. KArena kalian ingin pergi, pasti tidak butuh kedua kuda itu, bukan?" Kurcaci itu mengelilingi kuda dan menilainya.


"Kau mau menukar kapal dengan dua kuda ini?" tanya Elf tak percaya. Ini seperti mendapat durian runtuh.


"Ya, Aku mau dua kuda ini saja!" angguknya yakin.


"Baiklah kalau begitu." Dua Elf itu langsung setuju. Tali kekang kuda segera diserahkan pada pria kurcaci tua itu. "Mereka sudah menempuh jalan jauh. MUngkin butuh istirahat sedikit," Elf mengingatkan.


"Baik. Akan ku urus dia. Jangan khawatir!" Kurcaci itu menerima kuda dengan senang hati.


"Eh, tunggu dulu! Kami harus memeriksa, apakah kapal ini bagus atau ada kebocoran!" Satu Elf mendadak menahan tali kekang kudanya.


"Astaga, kalian tidak mempercayaiku?" kurcaci itu meggeleng kecewa. Dia melangkah ke samping kapal yang tak oleh dua Elf. Tak lama kurcaci itu pun sudah berdiri di atas geladak kapal.


"Tarik tuas di dekat kepalamu itu!" perintahnya pada dua Elf yang masih berdiri tak mengerti.


Setelah tuas ditarik, sebuah rel. kayu muncul dari bawah lantai hingga ke bawah kapal. Lalu kapal berjalan di atas rel menuju tepi pantai. Dua Elf melihat kapal yang berjalan dengan takjub.


"Kapalmu bisa berjalan di darat!" seru keduanya kagum.


"Apa maksudmu!" kurcaci tua merasa heran melihat Elf yang kelihatannya tidak pernah mengetahui tentang sistem di galangan kapal.


PErlahan tapi pasti, kapal itu menyentuh bibir pantai. Saat air laut membasahi bagian bawah kapal dua Elf berdecak kagum.


"Kalian pintar sekali!" pujinya tulus.


Kurcaci itu hanya bisa menghela napas menyadari dua orang di depannya baru pertama kali melihat kapal dan laut.


Setelah kapal berada sepenuhnya di laut. Kurcaci tua bergerak ke sana- kemari memeriksa seluruh bagian kapal.

__ADS_1


"Tak ada kerusakan ataupun kebocoran. Kapal ini sepenuhnya aman untuk berlayar!" katanya puas.


"Baik. Kalau begitu, ini kudamu. Satu Elf menyerahkan tali kekang dari dua kuda mereka.


"Apa kami bisa naik sekarang?" tanya mereka tak sabar.


"Tckk! Tampaknya kalian tidak pernah berlayar. Berbeda dengan orang yang sebelumnya!" Kurcaci itu menggeleng. Dia melompat turun dari kapal dengan lincah dan menambatkan tali pada tiang kayu di dermaga kecil.


"Apakah berlayar itu lebih sulit dari mengendarai kuda?" taya satu Elf serius.


"Jauhkan tampang nodohmu dariku!" Pria kurcaci itu mengibaskan tangan. Dia kembali ke bangunan kayu besar yang sudah kosong itu. Kemudian kembali dengan memegang pendayung.


"Perhatikan aku!" serunya keras. "Aku hanya akan mengajari sekali. Selebihnya, mengandalkan kemampuan kalian sendiri!"


"Baik!" Dua Elf itu menjadi serius. Mereka harus bisa mempelajari cara mengendarai kapal itu di laut,


Kurcaci tua menaiki sebuah sampan kecil yang talinya diikat di pantai berpasir. Tongkat pengayuh dipegangnya di kedua tangan.


"Jika kalian ingin kapal maju, maka kayuh bersamaan kanan dan kiri," ujarnya memulai pelajaran dasar menjalankan perahu.


"Bagus! Sekarang, jika ingin mengarahkan kapal ke kanan, maka kayuh yang kiri!" ujarnya lagi.


Dua Elf itu belajar dengan serius. Bahkan meskipun satu dua kali mendengar suara ketus kurcaci itu, mereka tidak patah semangat.


"Nah, sekarang kalian sudah bisa teorinya. Coba lakukan di atan sampan ini dulu!" perintah kurcaci itu.


Satu Elf menaikin sampan kecil yang dinaiki kurcaci tadi. Dia melakukan dengan kaku gerakan mendayung yang baru saja dipelajari.


"Masih sangat kaku. Tapi tak apa. Kalian akan baik-baik saja dengan itu," ujarnya. Para Elf senang bahwa pelajaran mereka tidak mengecewakan.


"Sekarang, untuk mengantisipasi rasa haus dan lapar seama perjalanan ke sana, sebaiknya kalian membawa beberapa buah kelapa dan roti. Kita tak tahu akan berapa lama kalian di kapal sampai menemukan orang-orang itu!" ujarnya menasehati.


"Anda benar sekali. Mari kita kembali ke toko penjual makanan di pinggir desa tadi." Elf mengangguk setuju.


"Itu terlalu jauh. Di sana ada yang menjual kebutuhan untuk melaut!" kurcaci itu menunjuk ke arah rerimbunan pohon kelapa di pinggir pantai.


"Uang kami tak seberapa. Tuan Putri lupa memberi kami bekal. Kami juga tak tahu jika akan seperti ini di lapangannya." Dua Elf itu mencoba memberi pengertian, bahwa mereka tidak membawa cukup uang untuk membeli banyak barang.

__ADS_1


KUrcaci berbicara denga seorang pria. Kurcaci lain. Tak lama kurcaci itu menghilang dari sana.


"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Elf ingin tahu.


"Tunggu saja!" kata kurcaci itu santai.


"Perhatikan instruksiku. Jangan sampai kalian salah berlayar. Nanti tidak bisa menemukan dinding cahaya itu!" kurcaci tua mengingatkan.


"Baik. Kami akan mendengarkan dan mengingatnya. Mereka memperhatikan dan menghafalkan dengan hati-hati petunjuk arah yang diberikan si kurcaci tua.


"Kurcaci lain yang tadi pergi, datang dengan membawa gerobak. Geroba itu ditarik oleh seekor kuda kecil yang umum di sana.


"Ayo kita ke sana!" ajak kurcaci tua. Tapi salah seorang Elf mengambil sesuatu di balik bajunya, saat melihat gerobak penuh makanan yang dibawa si kurcaci.


"Ini untuk pengganti semua ini," ujarnya halus. Kurcaci yang membawa gerobak, sangat senang. Matanya berkilat dalam senyuman.


"Ayo!" pria tua itu tak sabaran. Ketiganya kembali ke galangan kapal di sisi lain pantai. Semua perbekalan harus dimuat ke atas kapal itu sebelum berangkat.


"Maaf jika aku terkesaan mendesak kalian untuk berangkat secepatnya. Itu karena sebentar lagi angin akan membantu laju kapal ke laut, tanpa kalian bersusah payah!" ujarnya.


"Oh, kami mengerti. KAmi juga memang tak bisa berlama-lama di sini." Elf menengahi perasaan tak enak si kurcaci.


"Aku sudaha menurunkan layar. Selama dia menampung angin, maka kapal ini dapat melaju tanpa tenaga berat sama sekali," ujarnya.


"Baik, terima kasih bantuannya." Pengawal Elf menyalami dengan tulus.


"Jangan lupakan petunjuka arah yang kukatakan!" pesannya.


"Ya. Terima kasih. Doakan kami berhasil dan kembali ke mari utuk membawa cerita tentang dunia di balik dinding cahaya!" teriak satu Elf.


Kapal kecil itu menjauh ke tengah laut. Mereka sudah berlayar sekarang. Memang benar bahwa angin sedang bertiup dan membuat kapal melaju tanpa membutuhkan terlalu banyak tenaga. Mereka hanya perlu menjaga arah sesuai dengan petunjuk pria kurcaci tua.


"Apa menurutmu kita akan berhasil melewati dinding cahaya itu?" tanya satu Elf pada temannya.


"Aku tak mau berpikir. Aku hanya akan menjalani tugasku dengan keyakinan!" jawab temannya.


*******

__ADS_1


__ADS_2