
Dean tersenyum. “Baiklah. Kita mari hentikan peperangan ini!”
Dean segera memberi instruksi pada Robert, Arjun, Sofie untuk memandu para tentara Elf untuk mundur.
“Ayo, mundur-mundur! Itu perintah Pemimpin Cahaya!” teriak Robert, Arjun dan suku Cahaya lain. Mereka melindungi seluruh pasukan Elf yang sedang ditarik mundur.
Sekarang, para bangsa Cahaya berdiri bersama menghadang Orc yang gembira, mengira bahwa para Elf itu sudah menyerah!
Arjun membuat dinding cahaya kemerahan yang tak bisa ditembus oleh para Orc, sekuat apa pun mereka berusaha. Hal itu membuat Orc frustasi.
Seorang pemimpin mereka memberi instruksi. “Kepung lokasi mereka dari semua sisi!” perintahnya marah.
“Baik!” Bawahannya segera membagi kelompok-kelompok kecil dan mulai menyebar. Peperangan itu terhenti sementara waktu.
“Apakah orang yang dikirim ke ibukota sudah kembali? Kita memerlukan pasukan tambahan. Entah dari mana para Elf ini mendapatkan sekutu. Yang jelas, kita harus membayar kekalahan besar ini!” teriak pimpinan itu.
“Sudah dua orang yang kukirim ke sana. Belum ada satupun yang kembali!” sahut bawahannya.
“Pergi ke kota terdekat saja dan minta tambahan tenaga! Atau pertahanan di sini akan jebol!” perintahnya lagi.
“Akan kulakukan!” Bawahan itu pergi mencari orang untuk diutus pergi.
Para Orc beristirahat sejenak dengan hati gemuruh dan pertanyaan di kepala. “Apakah pasukan mereka yang kemarin pergi ke Tanah tak bertuan sudah dikalahkan semua?”
Namun, pertanyaan itu tak pernah bisa terjawab. Mereka tak bisa maju untuk melihat situasi sebenarnya di Tanah tak bertuan. Tak ada juga kesempatan berunding, seperti yang biasa dilakukan oleh bangsa-bangsa yang ada di sana, jika berseteru dengan Orc.
“Apakah para jenderal yang kemarin berangkat ke Tanah tak bertuan tak ada yang bisa menandingi mereka?” tanya pimpinan itu pada seseorang yang berdiri dalam gelap, bersamanya.
“Aku yakin mereka sudah kalah. Dikalahkan oleh makhluk asing yang memiliki kekuatan cahaya itu!” Orang itu menanggapi.
“Anda lihat sendiri mereka bahkan mampu terbang dan membelah pasukan kita hanya dengan menebaskan tangan? Mereka tak butuh senjata seperti kita. Tubuh mereka sendiri sudah dilengkapi dengan senjata mematikan!” tambah orang itu lagi.
“Dari mana mereka berasal? Aku tidak pernah mengetahui ada bangsa yang seperti itu di sini!” Orc itu menjadi sakit kepala memikirkannya.
Sebelumnya dia hanyalah pimpinan pengawal perbatasan. Dia sendiri hanyalah seorang pimpinan penjaga perbatasan. Semua tentara reguler yang dikirim raja, berasal dari angkatan perang yang datang dari ibu kota dan kota-kota lain.
Dia menetap di kota terdekat bersama setengah pasukan perbatasan. Sementara setengah anggotanya yang berjaga di perbatasan sudah tak diketahui lagi keberadaannya.
“Aku benar-benar lengah!” ujarnya penuh penyesalan. “Harusnya aku tetap waspada di perbatasan dan menghadang pasukan mereka agar tetap di Tanah tak bertuan!”
“Kita tidak mengetahui situasi sebenarnya, karena jenderal perang enggan membagi informasi penting atas kekalahan mereka di negeri Elf, sehari sebelumnya. Ini bukan salah Anda.” Pria di balik kegelapan itu kembali bersuara.
“Apapun yang terjadi, maka biarkan raja yang memikirkannya. Tugas kita sekarang adalah menahan mereka melewati kota ini. Jika kita kalah di sini, maka tak ada lagi yang bisa menahan mereka memasuki negara ini!”
__ADS_1
Pimpinan itu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Dia sudah memenuhi dadanya dengan tekad, meskipun harus tewas dalam usahanya itu.
“Kau, bantu evakuasi para wanita dan anak-anak keluar dari kota ini!” perintahnya.
“Akan kukerjakan!”
Orang itu keluar dari kegelapan. Tampilannya sangat berbeda dengan para Orc yang tinggi besar dan berwajah sangar. Pria itu setinggi manusia biasa, pahatan wajahnya halus dan tampan serta berambut pirang. Dia berjalan melewati para Orc yang sibuk dan mereka sedikit menghormat padanya. Tampaknya mereka sudah sangat mengenalnya.
Pria itu beridiri di sebuah bangunan gelap tanpa cahaya. Diketuknya pintu dengan gagang pedang. Ketukan berirama yang dikenali oleh orang di dalam bangunan itu. Tak lama pintu dibuka dari dalam. Tempat itu remang-remang.
“Tuan Penasehat!” sapa Orc yang membuka pintu.
“Ya. Aku ditugaskan oleh Pimpinan untuk memerintahkan para wanita dan anak-anak keluar dari kota ini, sekarang!” ujarnya tegas.
“Tapi ... kita mau ke mana malam-malam begini?” tanya suara lembut seorang wanita. DI tangannya ada seornag bayi Orc yang tertidur lelap.
“Keluar yang jauh dari kota ini. Saranku, lebih baik kalian menunggu di hutan kaki bukit di timur. Semakin jauh, akan semakin aman!” ujarnya.
“Kapan kami bisa kembali lagi ke sini?” tanya yang lain.
“Tunggulah siang hari, jika memang ingin melihat keadaan. Namun jujur saja, kita akan kesulitan memenangkan perang ini, tanpa bantuan dari ibu kota! Jadi tunggulah beberapa waktu, jika memang ingin memastikan keadaan. Sekarang, sebaiknya kalian semua keluar dan pergi lewat jalan belakang!” perintahnya tegas.
“Baik!”
Pria itu berjalan ke bangunan lain dan memberi perintah yang sama. Penghuni tempat itu juga segera keluar untuk mengungsi di malam pekat.
Setelah menyelesaikan semua tugas menjelajah pelosok kota dan mengirim para wanita Orc serta anak-anak keluar dari kota, pria berambut pirang itu kembali ke tempat pimpinan berada.
“Bagus! Tunggu aba-abaku, sebelum mulai menyerang mereka! Kita harus melakukannya secara serentak, agar pertahanan mereka buyar!” katanya percaya diri.
“Baik. Aku kembali ke tempatku!” ujar orang yang bersamanya. Prajurit Orc itu pergi meninggalkan pimpinan dan pria berambut pirang itu berdua.
“Kau tau ... aku punya ide konyol di kepala, yang mungkin bisa mengulur waktumu untuk mempersiapkan serangan balik!” celetuk si rambut pirang.
“Ide apa?” Pimpinan itu menoleh padanya dengan serius. Dia memang sednag butuh ide segar.
“Biarkan aku menemui mereka di dekat dinding cahaya yang mereka buat,” usulnya.
“Apa rencanamu?” tanya pimpinan perbatasan itu dengan mata menyipit.
“Tidak ada. Hanya memberimu tambahan waktu saja,” jawabnya enteng.
“Kenapa Kau pikir mereka akan memberimu waktu?” tanya pimpinan itu keheranan. Bangsa Ors sendiri tidak pernah memberi bangsa lain waktu untuk bersiap, jika ingin berperang. Unsur kejutan adalah sebuah keuntungan dalam strategi perang!
__ADS_1
“Apa Anda lupa bentuk fisikku yang lebih mirip dengan mereka?” kata pria pirang itu sambil terkekeh geli.
“Ah ... aku memang tak pernah memandang fisikmu. Semua penduduk di kota ini juga tak pernah membedakanmu. Mereka justru sangat menghormatimu,” ujar pimpinan itu. Dia diam sejenak sebelum menyambung kembali kalimatnya.
“Kurasa, rencanamu itu bisa dicoba.” Pimpinan itu merasa bahwa ide itu cukup masuk akal.
“Siapa yang sangka jika fisik seperti ini yang membuatku diusir dari istana, bisa bermanfaat untuk mengulur waktu.” Pria pirang itu bergumam sambil tertawa. Dia berjalan pergi ke arah dinding cahaya yang dijaga oleh sepuluh Orc tinggi besar.
Pimpinan itu melihat pria itu pergi. Kepalanya menggeleng samar. “Sayang sekali, pangeran seperti Anda berakhir di tempat seperti ini,” batinnya.
***
“Lihat itu!” Arjun menunjuk seorang pria tampan, berjalan santai melewati para Orc yang sedang berbaris dengan kesiagaan tinggi.
“Mereka menghormatinya. Siapa pun dia, kurasa, dia adalah bagian dari bangsa Orc. Jangan terkecoh!” Robert memperingatkan.
Di ketinggian, Eric dan Dean mengamati hal itu juga. “Menurut ayah, apakah dia seorang manusia yang terjebak di negara Orc?” tanya Eric.
“Aku melihatnya berjalan ke sana-kemari tadi. Sepertinya dia bagian dari para Orc itu,” sahut Dean yakin.
“Fisiknya sangat berbeda dengan Orc lain,” komentar Eric lagi.
“Kau tahu sendiri, mereka suka menculik wanita bangsa lain. Mungkin saja dia keturunan campuran dari bangsa-bangsa yang ada di dunia ini,” simpul Dean.
“Ah, ya ... seperti mereka menculik putri Elf. Maka keturunan mereka mungkin saja memiliki fisik mirip bangsa lain. Aku mengerti.”
Eric meluncur cepat ke dinding cahaya dan berdiri tepat di atasnya. “Beri tahu aku jika semua Elf sudah tak ada di kota ini,” katanya pada Dean lewat pikiran.
“Siapa Kau?” tanya Eric dengan suara lantang.
“Aku hanya penduduk kota biasa. Kalian masuk menyerang kota tiba-tiba, membuat warga kami tak sempat mengungsi. Bisakah kalian memberi waktu pada para wanita dan anak-anak pergi mengungsi dengan aman sebelum melanjutkan peperangan dengan adil?” ujarnya setengah berteriak.
Eric menoleh pada Arjun dan Robert yang berdiri di sampingnya.
“Biar kulihat, apakah yang dikatakan olehnya benar,” Dean mengambil inisiatif untuk memeriksa.
Pimpinan Cahaya itu terbang melintasi kota. Dengan matanya yang sangat tajam, dia bisa melihat barisan para wanita dan anak-anak Orc yang mengular, keluar dari gerbang kota di sisi lain. Mereka berjalan cepat melintasi kebun dan ladang. Dean bisa melihat bahwa tujuan mereka adalah hutan di kaki bukit.
“Ya, tunggu sebentar. Para wanita dan anak-anak sedang keluar dari kota ini. Akan ku awasi di sini. Jika sudah keluar semua, kau bisa mengurung mereka semua!” perintah Dean.
“Baik, aku memberi waktu lima belas menit untukmu mengungsikan para wanita dan anak-anak!”
Eric mengangguk Dan melesat terbang lagi ke ketinggian. Dia akan bersiap untuk membuat kubah raksasa untuk kota perbatasan itu.
__ADS_1
Pria berambut pirang itu memandang Eric yang terbang ke langit dengan penuh kekaguman. “Tampan, kuat, dan masih sangat muda. Dia bahkan tidak merasa perlu berbasi-basi untuk mengetahui siapa aku sebenarnya. Sangat cerdas!”