The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 84. Memeriksa Pulau Terapung


__ADS_3

“Aku hanya menyimpannya, seperti aku menyimpan bahan makanan,” jawab Eric. Robert sudah turun dan segera berdiri di sebelah Eric.


“Kenapa dia?” tanya Robert yang heran melihat pengawal itu duduk di lantai dengan takut..


“Dia terkejut melihat semua orang hilang,” kata Eric.  Lalu Eric menatap si pengawal serius. “Kurasa, kau harus lihat dulu tempat itu, agar tidak takut lagi.”


Eric mengibaskan tangannya dan si pengawal langsung menghilang.


“Kau semakin mahir melakukannya. Aku belum bisa seperti itu,” komentar Robert. Dia mencoba mengibaskan tangan agar bisa menarik masuk salah satu selimut. Namun, selimut itu tak bergerak sama sekali. Eric hanya tertawa kecil. Mereka turun ke baawah. Dan tangannya dikibaskan lagi.


Pengawal itu jatuh terduduk lagi di lantai. Matanya menatap takut pada Eric.


“Kenapa kau masih takut? Bukankah kau bisa kembali? Aku hanya ingin mereka aman di dalam sana. Kalau bukan kami membutuhkanmu untuk penunjuk jalan, maka kau juga lebih aman di dalam sana hingga kembali ke istana nanti!” ketus Eric mulai kesal.


Robert mendekat, mengulurkan tangan untuk membantu pengawal itu berdiri. “Jangan membuatnya kesal. Aku saja tidak berani membuatnya kesal. Di negeri kami, tak ada yang berani membuatnya kesal. Dan dia hanya takut pada ayah dan ibunya saja!” Robert memperingatkan pengawal itu.


Pengawal itu berdiri dengan wajah pucat pasi. Tapi tidak lagi berani memelototkan mata pada Eric. Dia memilih berada dekat dengan Robert.


Mereka berhasil menyelamatkan ratusan rakyat yang menderita, hingga sore menjelang.


“Kita sudah harus kembali. Raja menunggu di istana,” kata Eric.


“Ya. Pekerjaan hari ini cukup segini dulu. Besok kita lakukan lagi, hingga semua warga kita pindahkan,” kata Robert.


“Kenapa kalian ingin memindahkan rakyat ke pulau terapung?” tanya pengawal yang sudah tidak lagi setakut pertama kali.


“Agar mereka aman, jika kita berperang melawan Orc!” ujar Eric.


Pengawal itu tak menyangka itulah tujuan utama penyelamatan hari ini. Sekarang dia menyesal, karena ketidak-tahuannya membuat kerja hari itu tidak mendapat hasil maksimal. Dia akan memperbaiki itu besok. Harus bisa menyelamatkan lebih banyak orang lagi.


Tepat petang hari, Eric dan Robert kembali ke istana. Raja Felix sudah tak sabar. “Apakah kalian berhasil?’ tanyanya.


“Baru sebagian kecil yang bisa kami selamatkan. Tapi besok bisa dikerjakan lagi,” kata Eric.


“Bagus sekali.”


“Robert, Pangeran Mahkota minta diantar ke istana untuk bertemu Sang Raja!” Arjun mengirim pesan pikiran pad Robert. Robert menyampaikannya pada Eric. Dua orang itu berpandangan tanpa bicara.

__ADS_1


Raja Felix sedikit bingung. “Ada apa?” tanyanya.


Tapi Eric dan robert sedang bertukar pikiran. “Aku akan mengantar Raja bersama Gerald. Paman tunggu saja di sini,” kata Eric.


“Baik,” jawa Robert.


“Ada apa?” tanya raja lagi.


Eric akhirnya menoleh pada raja. “Kami sedang berkomunikasi dengan teman kami di tempat Pangeran Glenn.” Eric mengakui.


“Kalian bisa berkomunikasi dengan teman kalian yang ada di sana?” tanya sang raja tak percaya.


“Ya. Arjun mengatakan kalau Pangeran Mahkota minta diantar ke sini malam ini. Karena Yang Mulia hendak memeriksa pulau terapung, maka Eric putuskan saya menunggu Sang Pangeran Mahkota di sini.” Robert akhirnya mengatakan apa yang tadi mereka diskusikan.


“Oh, baiklah. Ini sangat mengejutkan. Tapi, biarkan dia menunggu sebentar hingga aku kembali. Mencari pulau terapung itu sangat penting sekarang,’ kata raja.


Saat gelap turun. Raja Felix pergi ke halaman. Bersamanya, ikut serta Kepala pengawal istana. Gerald sudah mengubah bentuk tubuhnya, agar sang raja bisa pergi dengan nyaman.


Dan Raja Felix, menaiki tubuh Gerald yang besar itu dengan hati-hati. DI teras istana, Sang Ratu dan Putri Angel melihat dengan khawatir.


“Peluk saja leherku, Yang Mulia,” saran Gerald. Raja Felix memluk leher Gerald dengan kuat.


“Ini sudah lebih baik. Mari kita pergi!” kata Gerald.


“Ayo!”


Eric menyambar tangan Kepala pengawal istana dan membawanya terbang. Pria itu menjerit kencang. “Aaaaaa ….”


“Jangan menarik perhatian para Orc di bawah!” tegur Eric. Pria itu langsung diam. Dia menyadari bahayanya.


“Ke sana!” Raja menunjukkan jalan pada Gerald. Eric mengikuti dari belakang. Beberapa pulau terapung terlewati. Hingga mereka berhenti di depan sebuah pulau terapung yang karena malam hari, jadi tampak gelap gulita semata.


Dengan mata ajaibnya, Gerald mengamati pulau itu sangat teliti. “Ini pulau yang bagus, Eric. Ada air terjunnya juga,” kata Gerald.


“Kalau begitu, ada sumber air alami di sini. Bukankah sangat bagus?” Eric sangat senang.


“Kau bisa melihat air terjun di sana?’ tanya raja keheranan.

__ADS_1


“Mata seekor naga, berbeda dengan mata manusia, Yang Mulia,” jawab Gerald.


“Negeri kalian sangat ajaib. Ada berapa banyak bangsa di sana?’ tanya Raja, saat Eric dan Gerald sedang memutari pulau itu untuk memeriksa.


“Banyak bangsa. Salah satunya Jason. Dia adalah keturunan campuran Bangsa Cahaya dan The Fallen Angel. Dia punya sayap besar, putih dan indah di punggungnya,” kata Gerald.


“Benarkah? Kenapa aku tak melihatnya? Apakah itu hanya digunakan saat dia terbang saja?” tanya raja.


“Dia bisa terbang tanpa mengeluarkan sayap, karena dia adalah keturunan bangsa Cahaya. Tapi kata ibuku, jika hatinya tersentuh, sayap itu akan muncul dengan sendirinya dan tubuhnya akan bercahaya.” jelas Gerald.


“Kita turun di sini!” kata Eric. Gerald mengikutinya turun ke pulau terapung itu. Tempat itu sangat gelap. Raja dan pengawalnya turun dengan hati-hati.


“Jangan ke mana-mana, Yang Mulia. Biar saya buatkan pelita, lebih dulu,” kata Kepala pengawal istana. Pria itu menyalahkan diri sendiri, kenapa tadi tidak terpikir untuk membawa satu lampu. Jadi dia meraba-raba dalam gelap, mencari ranting kering.


Sementara dia mencari, Gerald sudah berhasil membuat satu api unggun. Dengan mata istimewa, keduanya mudah menemukan ranting dan dedaunan kering. Sekarang, tempat itu sudah mulai terlihat bentuk aslinya. Masih seperti hutan belantara.


“Harusnya kita membawa Jason ke sini,” celetuk Gerald.


“Kenapa” tanya raja.


“Ada banyak sekali tanaman obat yang bisa dimanfaatkannya!” ujar Gerald.


“Apakah tabib istana butuh tanaman obat juga?” tanya Eric pada sang raja.


“Ya. Dia sudah tak mendapatkan suplai bahan baku obat lagi. Karena para pencari obat tidak berani keluar dari rumah mereka,” angguk raja.


“Jason! Bisakah kau mengikuti suaraku dan datang ke sini?” tanya Eric lewat pikiran.


Tak berapa lama, Jason menjawab. “Bisa! Apakah ada yang kalian butuhkan?” tanyanya.


“Bawa tabib istana. Katakan itu perintah raja. Dan bawa juga beberapa pelita sebagai penerangan. Ada banyak tanaman obat di sini, yang aku tidak mengerti. Akan sangat sayang jika nanti mati karena kubangun rumah,” jelas Eric.


“Baik. Akan kucari tabib istana,” kata Jason cepat.


“Yang Mulia, sepertinya kita harus menunda memindahkan semua rakyat malam ini. Aku memanggil Jason untuk mengajak tabib istana ke sini. Biarkan mereka memetik tanaman obat yang ada di tempat ini dulu, sebelum kita membiarkan rakyat menempatinya,” lapor Eric.


“Kau sudah berpikir panjang. Baik. Lakukan seperti itu saja.” Raja mengangguk setuju.

__ADS_1


*****


__ADS_2