The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
16. Berita Istana


__ADS_3

Beberapa peri pohon yang kecil dan bersayap, keluar dari persembunyian di pinggir hutan. Mereka bisa melihat perjuangan Pangeran Levyn untuk membantu memadamkan kebakaran di kediamannya.


"Karena pintu teleportasi tak bisa digunakan untuk naik, bagaimana kalau kita terbang dan melihat apa yang bisa kita bantu di sana. Para Orc itu tak akan bisa melihat karena kita terlalu kecil." Salah satu peri bersayap memberi ide.


"Kau benar. Dengan pertempuran dan kebakaran, mungkin para Elf di sana butuh obat-obatan." Yang lain menimpali.


"Kita kumpulkan dulu obat-obatannya. Ayo!" para peri itu menyebar ke segala arah dan mulai mengumplulkan obat-obatan yang mereka ketahui.


Di kota, para peri kecil dan para kurcaci yang semula bersembunyi ketakutan, akhirnya ikut keluar rumah dan menolong para tentara yang terluka akibat pertarungan.


Satu demi satu tubuh prajurit yang tergeletak di jalan, menghilang semua. Yang tewas mereka kumpulkan di bawah sebatang pohon besar di hutan perbatasan. Yang terluka dirawat di setiap rumah pohon dan penduduk yang ada.


Kota itu kembali bersih dari para korban keganasan Orc. Kecuali yang berada di dekat tempat Orc berkumpul.


Tetua peri pohon melakukan upacara kematian besar malam itu. Semua peri pohon berkumpul di bawah pohon yang dianggap sebagai pohon dewa, tempat kembalinya semua makhluk yang telah tiada.


Sebagai seorang Elf, Levyn tidak memahami apa yang dipercaya oleh para peri pohon itu. Dia hanya melihat penuh rasa terima kasih, karena para prajurit, baik yang tewas maupun terluka, tidak diabaikan di jalan-jalan.


Upacara di bawah pohon berlangsung hikmat dan diiringi alunan nada haru. Pohon Dewa itu bahkan mengeluarkan cahaya redup dan titik air dari dedaunannya. Seperti ikut menangisi kehilangan besar negara itu.


Selanjutnya para peri pohon, peri bunga, bahkan kupu-kupu, terbang dalam balutan cahaya terang, menuju kediaman Pangeran Glenn.


"Tolong katakan pada ibuku, bahwa aku baik-baik saja di sini. Dia tak perlu khawatir!" Pangeran muda itu meneriakkan pesannya.


*


***


Dua prajurit berkuda terkejut ketika jalur teleportasi terputus di ketinggian dua puluh meter dari tanah.


Namun, dengan sigap mereka mengendalikan kuda dan mendarat di atap bangunan terdekat, untuk selanjutnya terus lari dari kejaran Orc yang juga tak mengira ada kuda jatuh dari angkasa.


Keduanya melarikan kuda tanpa henti, menuju perbatasan dengan negeri Kurcaci Biru. Itu adalah perjalanan yang amat sangat jauh.


"Kurasa kita bisa beristirahat sebentar. Kuda-kuda ini kelelahan," kata salah seorang.


Temannya melihat sekeliling yang ditumbuhi pepohonan. Mereka ada di jalur yang benar. Hutan perbatasan dengan Negeri Kurcaci Biru. Tempat itu sunyi. Jauh dari hingar-bingar pertempuran di kota.


"Baiklah. Kita istirahat satu jam." Prajurit itu setuju dengan usul kawannya. Mereka berhenti dan beristirahat sejenak di bawah pohon.


"Menurutmu, bagaimana keadaan kediaman itu sekarang?" salah seorang bicara, menghilangkan kesunyian.

__ADS_1


"Apa yang bisa kau harapkan? Jika tak ada bantuan, maka tempat itu akan jadi abu." Temannya mendesahkan napas berat dan sedih.


"Sudahlah ... tugas kita saat ini adalah melaksanakan perintah untuk mencari Tuan Robert dan Dokter Chandra," kata temannya.


"Kemana kita mencari mereka? Seingatku, dulu mereka pergi ke negeri Kurcaci Biru juga bukan untuk menetap." Salah seorang menerawang, mengingat hal-hal lama.


"Mereka menuju dinding cahaya di tengah laut negeri Kurcaci Biru!" timpal temannya mengingatkan.


"Betul! Berarti kita juga harus melewati dinding cahaya itu, baru bisa bertemu teman-teman sang putri?" temannya menoleh dengan pertanyaan besar di kepalanya.


"Siapa yanag bisa menjamin kita akan langsung bertemu mereka di balik dinding cahaya?" ujarnya kritis.


Teman seperjalanannya menggeleng. "Tak ada yang bisa memberi jaminan. Bahkan Sang Putri juga tidak tahu. Dia hanya ingin menjaga harapan itu tetap menyala di hati kita."


"Kalau ternyata di seberang dinding cahaya itu adalah keburukan, bagaimana?"


Temannya mengedikkan bahu dan mendesah. "Aku hanya tahu sedang menjalankan tugas untuk melindungi negara kita. Selebihnya akan kuanggap sebagai bagian dari rintangan dan resiko tugas!"


Melihat temannya termenung, prajurit itu tersenyum dan menepuk pundaknya. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Kuharap kita bisa tiba di sana pagi hari dan istirahat di tempat yang lebih aman," ajaknya.


Dua kuda itu kembali melanjutkan perjalanan. Digebah cepat seperti terbang.


*


*


"Masuk!" sahut suara di dalam.


Pengawal itu masuk dengan membawa seekor burung yang di kakinya dikaitkan kertas pesan.


Pangeran Mahkota bisa mengenali bahwa itu adalah burung milik istana. "Bawa dia kemari!" serunya.


Burung yang lelah itu diserahkan pada Putra Mahkota untuk diperiksa.


"Beri dia minum dan makanan." Pria itu mengembalikan burung ke tangan pengawal setelah mengambil kertas pesan yang diselipkan.


"Baik, Yang Mulia." Pengawal itu keluar.


Nyala lampu tenda yang redup dibesarkan agar pesan yang ditulis bisa dibaca dengan jelas.


"Apa!"

__ADS_1


Teriakan di dalam tenda, mengagetkan pengawal lainnya. Dua orang buru-buru masuk, untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa Yang Mulia?" tanya mereka keheranan, karena tidak melihat satu keanehan pun.


"Panggilkan semua komandan pasukan untuk pertemuan darurat! Sekarang!" perintahnya.


"Baik, laksanakan!" kedua pengawal langsung berlari keluar tenda dan melaksanakan perintah.


Putra Mahkota berjalan mondar-mandir di dalam tenda dengan gelisah. Tak disangkanya hal seperti ini akan terjadi di negara mereka.


*


*


Di waktu yang hampir bersamaan, Pangeran Glenn mendapatkan kabar mengejutkan pertama yang dikirim oleh istrinya, Angel. Dia marah dan khawatir dengan nasib semua pelayan dan penjaga yang terjebak di kediaman.


Selang beberapa waktu, sebelum dia membuat keputusan, pesan dari istana kembali datang. Hal itu jauh lebih mengejutkan. Tidak menyangka jika istana akan jatuh hanya dengan satu kali serangan.


Akhirnya para komandan yang dibawanya, dikumpulkan untuk membahas hal itu.


"Istana jatuh dan dikuasai Orc. Kediamanku juga dimusnahkan oleh Orc. Aku yakin, mereka sudah merencanakan hal ini dengan cermat. Membagi-bagi pasukan kita agar kerajaan menjadi lemah. Sebaiknya kalian kembali ke ibukota. Biar aku pergi mencari putriku dengan pengawal yang kubawa saja," putusnya.


Para komandan itu terkejut. Ibukota baru mereka tinggalkan sehari sebelumnya, tak disangka akan langsung jatuh dalam satu kali serangan.


"Sebaiknya kita membagi tugas. Harus ada yang memberi tahu negara-negara lain tentang ini. Tak mungkin Orc menguasai negara kita tanpa rencana besar. Sementara dia melakukan aksi ini sudah dengan perencanaan matang!" kata salah seorang komandan.


"Kami dari pasukan Pangeran Felix akan mengikuti Anda, Pangeran. Anda bisa menggunakan sebagian dari kami untuk mencari kelompok Bangsa Penyihir yang bersembunyi dan mengabarkan hal ini," ujar salah satu komandan pasukan.


"Pilih sepuluh orang saja, untuk mengikutiku. Yang lain sebaiknya kembali. Bantu pengamanan post teleportasi menuju kediaman ayah. Karena dirinya adalah Raja Sementara Kerajaan Elf!" jelas Pangeran Glenn.


"Baik!" jawab komandan itu.


Bagaimana dengan negara para peri? Siapa yang akan mengebarkan pada mereka?" tanya salah satu komandan.


"Kurasa, ayah pasti sudah mengabari adikku tentang apa yang terjadi di kerajaan," duga Glenn.


"Negara Kurcaci Biru bagaimana?" tanya yang lain.


"Posisi Putra Mahkota lebih dekat ke sana. Dia harusnya mengabarkan kegentingan itu ke sana!" Glenn menjawab cepat, sesuai dengan kebiasaan Putra Mahkota yang dikenalnya selama ini.


"Baik. Berarti kami hanya harus kembali dan mengepung kota?" tanya komandan.

__ADS_1


********


__ADS_2