
Beri Like dulu ya kak.
*****
“Biar aku lihat ke sana.” Penjaga keamananitu masuk ke toko.
Siapa yang bernama Robert?” Petugas itu bertanya.
“Dia pingsan!” Eric menunjuk Robert yang tertelungkup di lantai.
“Biar kupanggil tabib untuk memeriksa,” ujar penjaga.
“Tak perlu. Kami punya dokter sendiri di sini,” cegah Eric.
“Kalian punya dokter?” tanya penjaga itu heran. Dia terlihat sedikit berpikir. Kemudian mengeluarkan sebuah catatan. Apakah kalian mengenal nama-nama ini?” tunjuknya pada Eric.
Eric melihat tulisan di kertas. Dia menggeleng. Penjaga lalu menyodorkan catatannya pada Dimas. Sebelah alis Dimas naik. “Ini tulisan Arab. Kami tidak mengerti tulisannya. Bisakah kau bacakan saja?”
“Oh, baiklah. Akan kubacakan. Kami diminta untuk mencari orang-orang dari negeri jauh yang mungkin datang ke sini,” jelas petugas itu.
Dimas dan Eric saling pandang penuh kewaspadaan,
“Apa kalian mengenal Robert, Liam, Laras, Niken, Indra,Dokter Chandra?” tanya petugas itu.
Eric memberi tahu Arjun tentang pertanyaan penjaga keamanan itu. “Tanya dulu detailnya. Bagaimana pun juga, Menurut cerita Leon, dia bertemu Silvia di tanah gurun seperti ini,” pesan Arjun.
“Siapakah yang mencari mereka? Adakah orang dari negeri jauh lain yang datang ke sini? Bolehkah kami menemuinya?” tanya Eric.
Penjaga terlihat bimbang. “Bukankah nama dia Robert?” tunjuknya kepada Robert.
“Ya. Tapi nama Robert sangat banyak di negeri kami. Apakah dia Robert yang kalian cari? Sementara nama lain tidak ada di sini,” jelas Eric.
“Sebaiknya kami bertemu dulu dengan orang yang menyuruh mencari nama-nama ini, Mungkin kami bisa menjelaskan dengan lebih baik, jika memang kami berasal dari negeri yang sama.” Dimas menimpali.
“Kalau begitu, ayo ke tempat tabib. Orang yang menyuruh adalah tabi terkenal di sini,” kata penjaga.
“Tabib terkenal?” Dimas dan Eric saling pandang. Sepertinya yang memberi perintah mencari nama-nama itu bukanlah Silvia yang mereka kenal. Dia bukan tabib. Lalu siapa lagi yang mengetahui tentang tim kedua itu?
“Baik. Mari kita bawa dia periksa ke tabib!”
Keputusan Eric mengejutkan Dimas. “Tapi ….”
Eric memanggil Hakon, untuk membantu Dimas membawa tubuh Robert. Penjaga sedang bicara dengan pemilik kedai teh. “Apa yang kalian lakukan, membuat mereka butuh perawatan tabib. Kalian bisa menagih ke sana!” katanya.
Pemilik kedai itu tertegun. Dilihatnya orang-orang asing yang berjalan mengikuti penjaga sambil menggotong tubuh Robert. Kerumunan bubar setelah mendengar bahwa urusan dilanjutkan kepada tabib kota.
“Apakah tempat tabibnya jauh?” tanya Eric yang berjalan bersama penjaga. Di sebelahnya, Arjun mengawasi sekeliling dengan waspada. Dia tak ingin tiba-tiba ada yang datang memukul Eric di depan matanya.
“Tidak jauh lagi. Rumah tabib ada di ujung kota ini,” jelas penjaga. Jalannya mulai tergesa-gesa.
__ADS_1
Eric dan teman-temannya juga tergesa-gesa mengikuti. Dan memang tak lama kemudian, sebuah bangunan yang
sangat besar, terlihat di ujung jalan. Penjaga setengah berlari masuk ke pintu dan berteriak. “Ada yang sakit!”
Tepat saat Eric dan teman-temannya sampai di pintu masuk, dua wanita berpakaian putih bersih seperti tabib jaman dulu, datang menyambut Robert yang digotong oleh Dimas dan Hakon.
“Bawa ke sini!” saran seorang dari mereka sembari menunjuk meja besar.
Menurut Eric, itu lebih mirip meja, ketimbang bed rumah sakit. Kedua wanita itu langsung melakukan pemeriksaan sambil mendengarkan keterangan penjaga. Dokter Dimas, memperhatikan cara pemeriksaan dua orang wanita itu.
“Di mana tabibnya?” tanya dimas.
“Kami tabibnya,” jawab salah satu wanita.
“Kalian yang mencari orang bernama Robert?” tanya Dimas keheranan. Dua wanita di depannya ini tak mungkin Silvia. Mereka terlalu muda.
Keduanya mengangkat wajah terkejut. “Siapa yang bernama Robert?” tanya salah seorang tabib.
“Dia!” tunjuk Dimas ke atas meja.
Dua tabib wanita itu terkejut dan memperhatikan wajah Robert. Lalu mereka mulai serius dengan tindakannya. Memeriksa lebih teliti dari sebelumnya.
“Apakah guru kalian yang mencari Robert?” Arjun datang menghampiri.
“Nanti kita bicarakan.Kami harus mnyelamatkannya lebih dulu,” kata tabib itu.
“Memangnya apa yang terjadi pada Robert?” tanya Arjun.
“Itu namanya pingsan!” Dokter Dimas meluruskan.
“Ah, ya. Sekarang aku ingat istilahnya. Pingsan! Bukan mati suri.” Salah seorang tabib itu langsung mengambil bukunya dan mencatat di sana.
Dimas menggeleng. Dia maju dan menghentikan apa yang dilakukan dua tabib itu pada Robert. “Saya Dokter Dimas. Saya sudah memeriksanya tadi. Apakah kalian punya sesuatu yang berbau tajam, seperti parfum yang kuat?” tanya Dimas.
“Anda seorang dokter?” mereka tak percaya.
“Ya! Saya tanya sekali lagi, apakah kalian punya parfum dengan aroma tajam?” tanya Dimas lagi.
Melihat dua tabib itu tidak melakukan apapun, akhirnya Hakon mengeluarkan sesuatu dari penyimpanan. “Apakah
ini bisa membantu, Dok?”
“Dimas melihat botol kecil dan tulisan di situ. “Botol merica?” tanya Dimas tak percaya.
“Aku tak punya parfum. Hanya ada itu, untuk penambah rasa dalam makananku.” Hakon menunduk malu melihat Eric yang menahan tawa.
“Jika memang tidak ada yang salah dengan tubuhnya, harusnya disiram air juga bisa membangunkannya!” Arjun
mengatakan itu telat pikirannya.
__ADS_1
Dimas memasukkan tangan ke balik bajunya dan mengeluarkan sebotol air. Lalu sedikit air abadi dituangkan ke wajah Robert. “Bangun, Robert. Atau kau kami tinggalkan di tangan dua tabib wanita yang tidak tahu apa-apa ini,” kata Dimas pada pikiran Robert.
“Aku menikmati diangkat oleh kalian berdua!” balas Robert lewat pikirannya.
Tanpa disadari, Dimas memukul pundak Robert dengan kesal. “Bangun!”
“Aduh!” Robert akhirnya benar-benar bangun.
Dua tabib wanita itu terkejut melihat Robert yang bangun setelah dipukul Dimas. Pandangan mereka pada Dimas
akhirnya berubah. “Ajari kami cara membangunkan orang mati suri seperti itu,” ujar mereka.
“Itu pingsan!” Ralat Dimas lagi.
“Oh iya pingsan,” ralat tabib wanita itu.
“Sekarang katakan siapa yang mencari Robert. Kami ingin bertemu dengannya,” tegas Dimas.
Kedua tabib saling pandang beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk. “Ayo ikut kami.”
Dua tabib melangkah menuju pintu yang mengarah ke dalam. Lima orang asing itu mengikuti. Mereka terus berjalan, hingga berhenti di depan sebuah pintu.
“Ibu, kami ijin masuk,” ujar salah seorang tabib wanita.
Tak ada jawaban sama sekali. Kemudian mereka memanggil lagi. “Bu, kami menemukan seseorang bernama Robert. Tidak tahu apakah dia orang yang ibu maksud,” jelas seorang tabib di balik pintu.
“Ya.” Hanya jawaban lemah itu yang terdengar.
Dua tabib itu mengajak Robert masuk, tapi Dimas keberatan. Dia mendesak untuk ikut serta ke dalam ruangan, dengan alasan bahwa Robert baru saja sadar dari pingsan. Belum sepenuhnya sehat.
Dua tabib itu tak punya pilihan selain mengijinkan. Namun, yang lain harus menunggu di luar ruangan. Eric tak keberatan. Dia percaya bahwa Dimas dan Robert mampu mengatasi keadaan di dalam jika memang itu sebuah jebakan.
Robert dan Dimas mengikuti dua tabib wanita itu masuk. Ruangan itu remang-remang, tanpa lampu. Tak ada apapun yang bisa dilihat dengan jelas.
“Kenapa tempat ini sangat gelap?” tanya Dimas.
“Ibu tidak menyukai cahaya,” sahut seorang tabib.
“Apakah ibumu sakit?” tanya Dimas. Dia menggunakan mata ajaibnya mencari orang yang dipanggil ibu oleh dua tabib. Harusnya diaseorang wanita, bukan?
“Ya, ibu kami sedang sakit,” jawab dua tabib itu.
“Bukankah ada kalian yang bisa mengobatinya?” tanya Robert heran.
“Robert.” Sebuah suara lirih berasal dari pojok ruangan, terdengar.
“Apakah dia orang yang ibu cari?” tanya seorang tabib. Ibunya tidak menjawab.
“Kau siapa?” Robert akhirnya bertanya.
__ADS_1
*****