The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)

The Adventure Of Eric (Penyelamatan Putri Elf)
Bab 49. Perselisihan di Kedai Teh


__ADS_3

Rombongan Erick terheran-heran di dalam kota. Pemandangannya sangat kontras dengan di luar tembok. Tempat itu sangat ramai. Banyak pedagang dan orang yang hilir mudik. Para penjual berteriak memanggil mereka yang lewat, untuk mampir dan melihat barang dagangan yang dipajang.


“Makanan itu terlihat lezat,” tunjuk Eric ke sebuah stand makanan. HArum aroma daging dipanggang, menguar di udara, menimbulkan gejolak di perut yang lapar.


“Kita tidak punya mata uang mereka.” Robert memperingatkan.


“Bisakah kita barter dengan sesuatu?” tanya Eric. Dia sangat penasaran dengan makanan yang ada di restoran itu.


“Jaman apa ini, masih barter,” celetuk Dimas.


“Lihatlah kota ini. Apa yang bisa kita barter lagi? Semua yang kita punya, mereka punya lebih banyak lagi variasinya.” Arjun menunjuk ke deretan toko pinggir jalan.


Hakon hanya mengiringi langkah Eric, tanpa banyak bicara. Dia sedang mengagumi keindahan unik kota di tempat tandus itu.


“Kalau kita mau ngapa-ngapain, untuk apa masuk ke sini?” sungut Eric tak senang.


“Kita kan mau bertanya tentang dinding cahaya menuju Dunia Fantasi.” Robert mengingatkan.


Eric berbalik menghadap Robert. “Bagaimana caranya bertanya? Apa kita langsung tanya mereka begitu saja?”


“Kenapa tidak?”


Robert malah bertanya balik dengan nada heran. Dia mulai menunjukkan bagaimana caranya bertanya pada orang. Dicegatnya seseorang dan bertanya.


“Apakah kalian pernah mendengar kabar tentang dinding cahaya?” tanya Robert.


“Dinding cahaya apa. Apa kau gila?” Orang itu pergi dengan bersungut-sungut.


“Itulah maksudku. Bertanya sembarangan di jalan, hanya akan berakhir menyedihkan!” Eric membalikkan badan dan meninggalkan Robert yang masih berusaha mencegat orang lain untuk ditanyai. Arjun menariknya pergi, mengikuti Eric.


“Itu ada kedai teh. Di sana adalah tempat strategis untuk mendapatkan informasi!” Eric melangkah dengan yakin ke dalam kedai.


“Bisakah membuatkan kami semua teh lezatmu?” tanya Eric dengan wajah berseri-seri.


“Silakan, Tuan. Pelayan kedai melayani dengan cepat. Membawa Eric dan rombongannya ke meja yang cukup besar, di tengah ruangan. Persis di depannya ada panggung kecil, dimana seorang penari cantik meliukkan tubuh mengikuti hentakan irama.


Eric bertepuk tangan mengikuti irama. Wajah sumringahnya jelas menunjukkan dia sangat senang. Sementara empat temannya yang lain memasang telinga untuk mencuri dengar, percakapan orang di sekitar.


Hingga berajak malam dan penari sudah berhenti, informasi yang mereka harapkan tidak kunjung datang. Pelayan toko datang ke meja.


“Tuan-tuan, kami harus menutup toko. Jadi, bisakah Anda pulang?”

__ADS_1


Eric melihat pelayan yang terlihat kesulitan mengatakan hal itu. “Tentu saja. Mari kita pergi.” Dikeluarkannya beberapa lembar uang kertas rupiah dan diberikan pada pelayan itu.


“Ini untuk teh dan hiburannya.”


Pelayan itu menatap lembaran kertas itu bingung. “Ini apa, Tuan?” tanyanya meyakinkan diri.


“Uang. Untuk membayar teh yang kami pesan.” Eric menunjukkan eksperi serius. Hakon juga tampak serius, hingga pelayan itu tidak yakin dengan dirinya sendiri.


“Sebaiknya Anda langsung bayar pada pemilik toko.” Pelayan itu segera pergi memanggil pemilik toko.


“Kurasa, mereka tak mau menerima uang kita,” bisik Dimas.


“Aku ada menyimpan koin di Kota Pelabuhan.” Hakon menunjukkan koin miliknya.


“Simpan koinmu. Aku juga punya beberapa,” cegah Robert.


“Mari kita ke sana saja,” ajak Dimas. Mereka berjalan menuju pintu keluar dan menunggu pemilik Toko yang masih berbicara dengan pelanggan lain.


“Apakah kalian sudah selesai?” wajah pemilik toko berseri-seri, membayangkan mendapat keuntungan lebih dari lima tamu yang terlihat gembira di tokonya.


“Ya, kami sudah selesai. Kami akan membayar,” Robert mendahului Eric bicara.


“Berapa semua teh yang kami minum?” tanya Dimas sopan.


“Dua ratus!” jawab pemilik toko, setelah menghitung semua minuman dan makanan kecil yang habis di meja kelima tamu.


“Dua ratus apa?” tanya Eric.  Tangannya masih menunjukkan uang kertas ratusan ribu rupiah miliknya.


Pelayan langsung menunjuk uang itu dan mengatakan sesautu yang tak dimengerti oleh mereka berlima.


“Apa kalian mau mencuri makanan di sini!” hardik pemilik toko marah.


“Hei, mencuri apa? Ini kami mau membayar!” Eric mengacungkan tangannya yang menggenggam lembaran uang.


“Sebentar, Tuan. Di tempat kami ada beberapa mata uang pembayaran. JIka Anda tidak bisa menerima uang itu, bagaimana kalau uang ini?” Robert menunjukkan koin tembaga yang biasa digunakan di Kota Pelabuhan dan sekitarnya.


Pemilik toko mengambil koin Robert dan mengamati. “Uang apa ini! Tidak berharga!” koin itu dilemparkan pemilik toko ke lantai. Hakon dengan cepat mencarinya di kolong-kolong meja. Itu alat tukar yang sangat berharga di tempat mereka.


“Kalau begitu, aku bayar pakai ini!” bentak Eric yang mulai kesal melihat sikap tidak sopan pemilik toko.


“Kalian ingin menipu di tokoku. Akan kulaporkan pada penjaga!” teriak orang itu marah. Dia menyuruh pelayan pergi mencari penjaga keamanan.

__ADS_1


“Siapa yang menipu? Ini adalah uang pembayar di tempat kami!” Eric masih ngotot.


Pemilik toko mulai tidak sabar dan memukul Eric. Tangannya bergerak cepat sekali, hingga nyaris tak terlihat. Dan Eric yang malang tak bisa menghindar.


Robert yang semula tercengang, segera sadar dan mendorong pria itu agar menjauhi Eric. “Lancang sekali kau memukulinya!”


Robert tak sesabar biasanya. Entah karena udara yang panas, atau pengaruh kafein dari teh yang sudah mereka telan beberapa gelas sesorean itu.


Pemilik toko jatuh terjerembab di lantai, dekat tempat dia biasa melayani pembayaran. Suara jeritannya yang keras, mengundang orang-orang di sekitar. Mereka makin ramai dan lebih mempercayai uacapan pemilik toko itu bahwa Eric dan kelompoknya sedang ingin mencuri makanan di tokonya, karena tidak mau bayar.


Hal itu tak ayal menimbulkan rasa solidaritas antara mereka. Dengan segera Eric dan rombongan kecilnya, tersudut. Jiwa muda Eric yang masih labil, dengan cepat membuat jiwa leluhur keluar. Dimas melihatnya.


“Jangan lakukan hal seperti itu. Kemarahanmu bisa mengubur seluruh kota!” Pandangan tajam dan cekalan tangan Dimas, melunakkan kemarahan Eric.


Kedua orang itu tidak mengetahui bahaya yang mendekat. Seorang pria yang entah siapa, mengangkat kursi dan ingin memukul kepala Dimas serta Eric yang tidak waspada.


“Tidak!” Robert melompat untuk melindungi kedua orang itu. Akibatnya, kursi itu pecah di punggung Robert, membuat dirinya jatuh ke lantai.


“Robert!” Teriak Arjun terkejut.


Sekarang dia mulai marah dan berdiri melindungi tiga orang yang ada di belakangnya. Hakon berdiri tak jauh dari sana, siap untuk menerima aba-aba dari Arjun, jika memang harus menyerang semua orang itu. Dan para orang-orang yang berkerumun memang terlihat takut melihat Arjun serta Hakon yang berdiri menghadang dengan percaya diri, seakan mereka hanya semut kecil.


“Paman Robert!” panggil Eric sambil berjongkok. Dokter Dimas segera memeriksa Robert.


“Dia pingsan!” Tangannya meneliti punggung Robert, memeriksa, jika ada yang luka ataupun tulang patah yang mungkin membahayakan nyawa Robert.


“Sejauh ini, punggungnya baik-baik saja,” jelas Dimas.


“Bagaimanacdengan kepalanya? Mungkinkah pukulan itu mengenai kepalanya?” Eric masih khawatir.


“Ada apa ini?” seorang pria berseragam, seperti seragam penjaga gerbang, datang membelah kerumunan. Di belakangnya muncul si pelayan. Pelayan itu menunjuk pada kelompok Arjun yang berdiri menantang di depan toko, hingga pemilik toko sendiri tidak berani mendekat.


“Apa kalian yang tidak mau membayar setelah makan?” tanya penjaga itu tajam.


“Kami bukan tidak mau membayar. Kami dari kota yang jauh. Kami coba bayar dengan uang yang kami punya. Tapi pemilik toko malah menuduh kami mencuri. Sekarang teman kami Robert pingsan karena dipukul salah seorang dari mereka!” lapor Arjun geram.


“Siapa yang kau katakan tadi?” Penjaga itu melihat ke dalam toko.


“Robert! Dia pingsan. Dokter Dimas sedang memeriksanya di sana!” tunjuk Arjun.


******

__ADS_1


__ADS_2